NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Sang Jagal

Udara di dalam sel isolasi Blok Z terasa seperti logam berkarat yang menempel di bagian belakang tenggorokan. Dingin, lembap, dan mati.

Tidak ada cahaya matahari yang pernah menyentuh tempat ini. Di Dunia Lama, sebuah benua yang dikuasai oleh tirani Otoritas Agung, sel ini adalah ujung dari segalanya.

Tempat di mana nama-nama dihapus dari sejarah dan jiwa-jiwa dibiarkan membusuk.

Namun bagi pria yang duduk bersila di tengah ruangan itu, kegelapan adalah selimut yang nyaman. Identitas aslinya telah lama hilang, digantikan oleh julukan yang membuat para kaisar dan jenderal gemetar di ranjang mereka: "Nomor Nol". Seorang narapidana, seorang dalang yang mengorkestrasi kejatuhan tiga kerajaan, kelaparan massal, dan perang saudara hanya melalui bisikan dan surat-surat selundupan dari balik dinding batu setebal dua meter.

Langkah kaki sepatu bot berat bergema di lorong batu. Nomor Nol tidak menoleh. Ia tetap diam, merasakan sisa-sisa udara pengap yang seolah enggan masuk ke paru-parunya. Pintu besi berderit terbuka dengan suara melolong yang memilukan.

Berdiri di ambang pintu adalah Jarek, seorang kepala sipir veteran yang wajahnya dipenuhi bekas luka pertempuran.

Meski memegang tongkat baja dan mengenakan zirah pelindung, tangan Jarek gemetar hebat hingga terdengar bunyi gemerincing dari rantai yang dibawanya. Jarek menelan ludah, matanya memancarkan teror yang telanjang. Di rumah, Jarek memiliki seorang putri kecil yang sedang sakit keras. Ia menerima tugas mengeksekusi Nomor Nol malam ini demi bonus koin emas yang bisa membeli obat untuk putrinya.

Namun, menatap mata hitam kelam sang tahanan, Jarek merasa seolah-olah ia sedang menukar jiwanya sendiri dengan koin-koin itu.

"Waktunya," suara Jarek serak dan pecah. "Berdiri, Nomor Nol."

Nomor Nol bangkit. Tubuhnya kurus kering, dipenuhi bekas luka cambukan dan racun, namun posturnya tegak lurus bagai menara baja yang tak tertembus. Ia mengulurkan tangannya tanpa melawan. Saat borgol berduri itu mengunci pergelangannya, rasa sakit menusuk kulitnya, tetapi wajahnya tetap datar bak pahatan marmer es.

"Kau takut, Jarek," bisik Nomor Nol. Suaranya pelan, namun menggema di dalam tengkorak sang sipir. "Denyut nadimu terlalu cepat. Keringat dingin di lehermu. Kau memikirkan anak perempuanmu, bukan? Kau berharap kematianku akan membawa kedamaian. Tapi ingatlah ini... uang darah yang kau terima malam ini tidak akan menyembuhkan putrimu. Itu hanya akan memperpanjang penderitaannya."

Jarek tersentak mundur, wajahnya pucat pasi. "Diam! Berjalanlah, Iblis!" bentaknya dengan suara bergetar, mencoba menutupi kepanikan yang merobek dadanya. Bagaimana monster ini bisa tahu?

Mereka berjalan menyusuri lorong panjang menuju Ruang Penebusan. Di sana, sebuah kursi eksekusi yang terbuat dari besi hitam kuno telah menanti. Kursi itu diukir dengan rune pembakar jiwa—metode eksekusi paling kejam yang dirancang untuk menghancurkan fisik dan mental terpidana secara bersamaan, memastikan jiwa mereka hancur menjadi debu tanpa kesempatan untuk bereinkarnasi.

Para pejabat tinggi dari Otoritas Agung duduk di balkon yang aman di balik tirai kaca kristal pelindung. Wajah-wajah mereka berkeringat.

Mereka tidak mengeksekusi Nomor Nol atas nama keadilan; mereka mengeksekusinya karena ketakutan yang mengakar hingga ke tulang sumsum. Pria ini terlalu berbahaya untuk dibiarkan bernapas, bahkan di dalam sel terdalam sekalipun.

Saat Nomor Nol didudukkan di kursi besi itu, rune-rune mulai menyala dengan warna merah darah. Pengikat logam mengunci pergelangan tangan, kaki, dan lehernya.

Seorang pendeta gemuk berjubah putih melangkah maju dengan gemetar, menyodorkan sebuah kitab suci yang ujungnya sudah usang.

"Apakah ada kata-kata terakhir untuk memohon ampun pada Yang Maha Suci, Anakku?" tanya sang pendeta. Mata pendeta itu memancarkan rasa jijik dan superioritas palsu, berusaha menunjukkan otoritas moral di depan sang pendosa.

Nomor Nol menatap lurus ke dalam pupil mata pendeta itu, mengupas habis lapisan kemunafikannya. Ia melihat seorang pria yang menggunakan jubah suci untuk menutupi keserakahan dan korupsi di balik dinding kuil.

"Jika Tuhanmu ingin aku memohon, Dia tidak akan menciptakan aku sebagai pemangsa di antara domba-domba bodoh seperti kalian," ucap Nomor Nol, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang membekukan darah siapa pun yang melihatnya. "Katakan pada-Nya, aku tidak datang ke neraka untuk berlutut. Aku datang untuk melihat apakah takhta-Nya lebih nyaman dari kursi rongsokan ini."

Sang pendeta mundur terhuyung-huyung, ketakutan oleh aura gelap yang menguar dari pria itu. Ia memberi isyarat dengan tangannya yang gemetar. Jarek menarik tuas eksekusi.

BZZZZZZZZT!

Rune-rune besi meledak dalam cahaya merah yang menyilaukan. Api jiwa berwarna biru menyambar setiap inci tubuh Nomor Nol. Rasa sakitnya melampaui batas bahasa manusia.

Dagingnya mendidih, darahnya menguap dari dalam nadinya, dan saraf-sarafnya menjerit dalam agoni yang absolut. Namun, di tengah siksaan yang seharusnya menghancurkan pikiran itu, kesadaran Nomor Nol justru menajam. Ia tidak berteriak.

Ia menolak memberikan kepuasan itu kepada mereka yang menontonnya. Ia membiarkan rasa sakit itu mencabik-cabiknya, menyimpannya sebagai memori terakhir dari dunia yang fana ini.

Tepat saat pandangannya mulai menjadi hitam, dan jantungnya berhenti berdetak, sebuah suara mekanis yang tak beremosi—dingin dan kuno—bergema di ruang hampa pikirannya.

[Mendeteksi Kematian Entitas Fisik...]

[Memindai Jiwa... Peringatan: Tingkat Dosa Melampaui Batas Kalkulasi.]

[Kriteria Terpenuhi: Individu dengan Kekejaman dan Dosa Terberat di Dunia Asal.]

[Inisialisasi Sistem 'Penyulut Kiamat' Dimulai...]

[Sinkronisasi Jiwa: 10%... 50%... 100%] [Proses Transmigrasi Dimulai. Tujuan: Benua Aethelgard.]

Gelombang energi yang sangat besar menarik jiwanya keluar dari tubuhnya yang hangus, melemparnya melewati terowongan dimensi yang dipenuhi oleh bintang-bintang mati dan suara jeritan jutaan makhluk.

Bau pertama yang menyapa indranya bukanlah udara steril penjara atau bau daging terbakar, melainkan aroma tembaga yang manis dan pekat dari darah segar. Tanah di bawahnya terasa basah dan lengket.

Nomor Nol membuka matanya. Langit di atasnya tidak berwarna hitam atau biru, melainkan ungu gelap yang memuakkan. Dua buah bulan purnama bersinar kembar, memancarkan cahaya perak pucat yang menyinari lanskap mimpi buruk di sekelilingnya.

Ia perlahan bangkit, duduk di antara tumpukan potongan tubuh manusia dan bangkai monster yang tidak bisa dikenali. Rasa sakit di kepalanya berdenyut hebat seiring dengan masuknya ribuan ingatan asing yang membanjiri otaknya seperti air bah.

Nama tubuh ini adalah Valerius van Draken. Usianya baru sembilan belas tahun. Dia adalah putra kedua dari Keluarga Duke Draken, sebuah keluarga bangsawan militer yang kuat di Kerajaan Aethelgard.

Namun, Valerius yang asli adalah seorang pemuda naif, baik hati, dan lemah lembut—sifat yang merupakan racun mematikan dalam keluarga yang memuja kekuatan absolut. Ingatan terakhir pemuda itu adalah pengkhianatan yang menyayat hati.

Kakak kandungnya sendiri, pewaris takhta keluarga, meracuni minumannya dengan senyuman hangat, lalu memerintahkan para ksatria untuk membuang tubuh Valerius yang sekarat ke "Lembah Tengkorak", zona perbatasan wilayah Iblis yang dipenuhi oleh monster kelaparan, dengan tuduhan palsu sebagai pengkhianat kerajaan.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!