NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

“Nyonya, bukankah Tuan Herman sudah keterlaluan kali ini? Mengabaikan Nona Muda Luna hanya demi merayakan kemenangan tendernya?” tanya Pak Roni sembari melirik Ningsih dari kaca spion tengah mobil. “Apakah itu tidak sangat berlebihan, Nyonya? Sementara tender itu sebenarnya anda yang sudah—”

“Tidak apa-apa, Pak Roni,” potong Ningsih cepat. Ia menyandarkan kepalanya di kursi mobil, tangannya tak sedetik pun lepas dari mendekap Luna yang mulai tertidur pulas karena kelelahan menangis.

“Kali ini aku ingin fokus dulu pada Luna. Biarkan saja mas Herman bersenang-senang dulu malam ini. Toh, aku masih penasaran dengan wanita bernama Arumi itu.”

Pak Roni mengangguk patuh, meski rahangnya masih mengeras menahan geram pada kelakuan suami bosnya.

“Baiklah, Nyonya. Saya paham maksud anda.”

Mobil hitam itu melaju membelah keheningan malam kota Jakarta dan segera menuju ke rumah mewah mereka.

Sesampainya di rumah, Ningsih langsung menggendong Luna yang terkulai lemas menuju kamar tidur sang anak di lantai dua.

Dengan penuh ketelatenan dan kasih sayang, Ningsih membersihkan wajah kotor putrinya. Ia mengambil sebaskom air hangat, lalu mulai mengompres kening dan melulur tubuh putri kecilnya yang sempat gemetar kedinginan di lorong sepi tadi.

Setelah memastikan Luna tertidur dengan tenang, Ningsih melangkah turun ke dapur bawah untuk membuatkan sup hangat, berjaga-jaga jika Luna terbangun karena lapar tengah malam nanti.

Tepat saat jam dinding besar di ruang tengah menunjukkan pukul satu malam, pintu utama rumah terbuka.

Hendra melangkah masuk. Penampilannya tampak sangat lelah dan berantakan. Jasnya sudah tidak terkancing, dasinya melonggar miring, dan aroma alkohol jenis wine menguar tajam dari sekujur tubuhnya. Jalannya bahkan agak sempoyongan saat melihat Ningsih sedang berdiri di dekat meja makan.

Ningsih menatap suaminya dengan nada dan pandangan mata yang teramat dingin.

“Baru pulang, Mas?”

Hendra mendengus, lalu melempar tas kerjanya ke atas sofa dengan asal. “Acara tadi itu melelahkan, Ningsih! Jangan mulai menginterogasiku dengan wajah menyebalkan begitu!” ketusnya, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun tentang janjinya pada Luna.

Pria itu berjalan ke meja makan, lalu memijat pangkal hidungnya.

“Kepalaku pusing sekali, rasanya mau pecah karena terlalu banyak minum wine saat menjamu investor tadi. Itu di dalam panci ada sup, kan? Ambilkan aku semangkuk, cepat!”

Ningsih menatap suaminya datar. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia berbalik, menyendok sup ayam hangat ke dalam mangkuk, lalu meletakkannya di depan Hendra.

Hendra yang setengah mabuk tidak menyadari perubahan drastis pada istrinya. Ia langsung menyantap sup itu dengan lahap.

“Aku ke kamar dulu,” ucap Hendra.

Seusai membersihkan sisa mangkuk, Ningsih memilih naik ke atas menuju kamar utama.

Saat ia membuka pintu kamar, ia mendapati Hendra sudah telentang di atas ranjang king size mereka. Pria itu tertidur pulas tanpa mengganti pakaiannya, masih lengkap dengan setelan kerja yang kusut dan bau alkohol.

Biasanya, jika dalam situasi normal, Ningsih akan menjadi istri yang paling berbakti. Ia akan buru-buru mendekat, berlutut di tepi ranjang dengan sabar untuk melepaskan sepatu pantofel Hendra, membuka kaus kakinya, memijat kakinya yang lelah, dan menggantikan pakaian suaminya dengan baju tidur yang nyaman.

Namun untuk kali ini? Ningsih mendengus jijik. Rasa malas yang amat sangat seketika bergolak di dalam dadanya. Baginya, menyentuh seujung kuku Hendra malam ini rasanya sama dengan menyentuh tumpukan sampah yang kotor.

Ningsih melangkah mendekati lemari pakaian dengan gerakan seringan mungkin. Bukannya mendekati Hendra, ia justru menyambar sebuah selimut tebal dan satu bantal empuk dari dalam lemari.

Sebelum keluar dari kamar, Ningsih berdiri di samping ranjang sejenak, menatap wajah Hendra yang mendengkur halus. Tatapan mata Ningsih kini dipenuhi oleh kebencian yang mendalam dan dingin.

“Tidurlah yang nyenyak dengan kesombonganmu, Mas. Nikmati ranjang empuk ini. Karena nanti, aku sendiri yang akan memastikan hidupmu tidak akan pernah bisa tenang lagi.”

Dengan langkah tegap dan tanpa penyesalan, Ningsih membalikkan badan. Ia melangkah keluar dari kamar utama, menutup pintunya rapat-rapat, lalu berjalan menuju kamar Luna.

Malam ini, ia memilih tidur memeluk putrinya yang jauh lebih berharga daripada bersama suaminya.

*

*

Keesokan harinya, seberkas sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari kamar utama yang terasa lengang. Hendra melenguh panjang, memegangi kepalanya yang masih berdenyut nyeri akibat sisa wine semalam.

“Ningsih! Ningsih!” teriak Hendra dengan suara parau khas orang bangun tidur.

Ia meraba sisi ranjang di sebelahnya.

Kosong.

Tidak ada tanda-tanda istrinya tidur di sana semalam.

Hendra perlahan duduk di tepi ranjang, lalu menunduk melihat dirinya sendiri. Ia mendecak kesal saat menyadari tubuhnya masih berbalut kemeja kerja dan celana kain yang sudah kusut masai. Sepatu pantofelnya pun masih melekat erat di kedua kakinya.

“Kemana sih dia pergi? Biasanya jam sepatuku sudah dilepas dan baju ganti sudah siap,” gumam Hendra dengan dahi berkerut dalam. Rasa kesal mulai menyelimuti hatinya.

“Benar-benar tidak becus jadi istri!”

Ia berjalan sempoyongan menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah shower air dingin untuk meredakan rasa pusing di kepalanya, lalu segera membersihkan diri.

Setelah berpakaian rapi dengan setelan jas baru, Hendra melangkah turun ke lantai bawah. Perutnya sudah keroncongan, meminta untuk segera diisi.

Namun, begitu langkah kakinya menapak di ruang makan, matanya melotot sempurna.

Di atas meja makan yang panjang dan mewah itu, tidak ada apa-apa. Kosong melompong. Tidak ada nasi goreng, tidak ada kopi hangat, bahkan segelas air putih pun tidak tersedia.

“Ningsih! Kamu di mana?!” teriak Hendra lagi, suaranya bergema di rumah yang mendadak terasa sepi seperti kuburan.

Hendra menghentakkan kakinya kesal, lalu melangkah cepat menaiki tangga menuju kamar anaknya. Ia membuka pintu kamar itu dengan kasar. Kosong. Kamar tidur Luna sudah rapi, dan putrinya juga tidak ada di sana.

“Kurang ajar! Mereka kemana sih pagi-pagi begini?!” umpat Hendra, emosinya mulai tersulut. Sambil merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel, Hendra melirik jam tangan emas yang melingkar di pergelangan tangannya.

Mata Hendra seketika membelalak. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh tepat.

“Sial!” pikirnya panik.

Hari ini ada rapat lanjutan dengan investor asing pasca kemenangan tendernya kemarin, dan ia sudah terlambat ke kantor. Ditambah perut lapar dan rumah yang berantakan tanpa istri, hari Hendra dimulai dengan kekacauan yang membuatnya naik pitam.

“Aku akan buat perhitungan nanti setelah pulang kerja!” gumam Hendra.

1
Sri Rahayu
Luna ga tau aja kl papa mu uda ditendang oleh si tante genit Arumi /Facepalm//Facepalm//Facepalm/...tp skrg papa mu uda dpt tante genit baru adik tiri mu🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
Yeni..Nawang...ketemu Hendra kyknya bakal seru nih...lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
kamu mau memanfaatkan Hendra 😇😇😇...yg ada kamu yg akan dimanfaatkan Hendra🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ hei sawang sinawang lu gak tahu ajj kelakuan Hendra .... bukan nya cek latar belakang dulu
Nice1808
🤣🤣🤣luna pinter ya bilng arumi tante genit kyk ulat bulu menempel pd papanya👍👍👍
Nice1808
nawang sat set bbgt mau menikah dgn hendra demi aset dr adiwangsa🤣
Nice1808
parah yudha melihara ular juga😃bego bngt😃😃😃
Nice1808
nawang milih hendra kyk apa ntar anknya bersaudara dgn luna kandung🤣🤣
Susma Wati
hendra dan nawang sama-sama ular, yang akan saling mematuk dan akan hancur bersama
tinie
hendraq jangan sombong dulu
ingat ya Luna sangat cerdas ,,

ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
tinie
intinya sama sama memanfaatkan
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
tinie
makanya kalo gak bisa cari harta sendiri ya jangan mancing emosi orang
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
tinie
bener sebentar lgi akan dikuras sama hendra
tinie
eeh kamu salah
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut
Susma Wati
nawang kalau memilih hendra bakalan nyesel gak yah, soalnya hendra tuh sampah yang di buang ningsih, Kalau hendra menikahi nawang dan dia merasa sudah kaya lagi pasti dia buat ulah lagi, ehh tuh si pelakor tahu hendra kaya lagi pasti dia rayu si hendra, kalau hendra kena rayu lagi sama sia arumi, memang hendra goblok, masuk ke ĺbang yang sama, mungkin nawang sebenarnya baik, tapi kena pengaruh ibunya yang gila kuasa, jadi kalau nawang salah dengan pilihan nya mungkin dia menendang hendra ke jalanan, kalau belum terlambat, tapi tetap kalah kalau sudah berhadapan dengan ningsih pasti dibikin busuk di penjara kalau dia menguasai kekayaan pak yudha, ningsih pasti rebutan lagi, walau mungkin yeni dan nawang juga merasakan sengsara, tapi itu buah yang di petik mereka karena serakah 🤣🤣
Senja: Hehehe kita lihat coba nanti kak🤭
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sampah di buang Ningsih mau di pungut Nawang ???gi dah ambil sana 🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
lah amsyong🤣
Susma Wati
nawang anaknya yeni, ketemu hendra, bersatu melawan ningsih, kata kebetulan orang 2 yang membuat ningsih sakit hati bersatu, dan ningsih menghadapi mereka dan kehancuran yang mereka dapatkan karena ningsih benar-benar membalas semua sakit hatinya pada orang-orang ang pantas mendapatkan kehancuran
vj'z tri
eh dodo eeee kirain mah dah insaf 🤣🤣🤣🤣🤣
Nice1808
yeni manusia gila harta dia lupa ningsih ank yudha yg skrg kaya hidup sendiri 🤣🤣harta yudha juga akn di wariskn ke ningsih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!