Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Mengikat
Jam 9 lebih 30 yang menegangkan.
Setelah segala persyaratan dipenuhi dalam waktu singkat, seorang penghulu datang ke rumah Harto dengan tergesa. Seharusnya mereka tidak bisa langsung menikah karena harus menunggu antrian. Dan disinilah pengaruh Aditama bekerja, pria itu dengan segala kekuasaannya sangat mudah mengatur pertemuan dengan pihak KUA. Uang bekerja dengan cepat.
Harto tidak mempermasalahkan tindakan besannya, toh yang akan menikahkan tetap dirinya serta ustadz di lingkungannya yg menjadi wali, menemani penghulu yang nantinya akan membantu mengurus akta nikah, didaftarkan agar diakui negara.
Laras menatap rumahnya yang masih sama seperti biasa, tidak ada dekorasi mewah ataupun tamu. Bedanya hanya terlihat lebih rapi dan bersih. Beberapa makanan yang dipersiapkan khusus oleh Sari memenuhi meja ruang makan. Gadis itu menatap lekat-lekat seakan merekam suasana di rumah, membawanya dalam ingatan karena dia tahu waktunya di rumah ini tidak akan lama lagi. Belum apa-apa rasa rindu mulai menelusup, entah setelah statusnya berubah dirinya masih bisa bersantai dan menikmati hidup atau malah sebaliknya. Dan inilah hari yang tidak pernah Laras bayangkan, hari terakhir menjadi perempuan bebas serta hari kemenangan untuk Aditya.
Aditya, cowok itu rapi dengan setelah semi formal yang sialnya cocok sekali dipasangkan dengan busana yang Laras pakai. Cowok itu membawa Tommy sebagai saksi kisahnya yang paling serius, tekad yang paling kuat dan bukan main-main. Merangkap sebagai fotografer dadakan untuk mengabadikan kisah manis yang semu. Bagi Aditya inilah bentuk kesuksesan, tapi bagi Laras ini adalah mimpi buruk. Pernikahan paksa oleh cowok yang umurnya lebih muda, menjebak gadis yang lebih tua beberapa tahun lewat foto tidak beradab.
Semua proses berjalan lancar, terlalu lancar karena acara dimulai langsung pada intinya. Aditya mengucap ijab dengan lancar dan percaya diri. Ada kelegaan di hati setiap orang kecuali Laras.
Pukul 10 pas, datang mobil pengangkut berisi makanan yang akan dibagikan ke masjid terdekat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pemberitahuan. Ini bagian dari rencana Sari karena penting untuk orang tau kalau anaknya sudah menikah, agar tidak menimbulkan fitnah dikemudian hari.
Awalnya Laras menolak, gadis itu enggan mendengar bisik-bisik tetangga sebab pernikahannya yang terlalu dadakan. Tapi Sari mengatakan agar Laras tidak perlu risau, Melani setuju dengan inisiatif besan. Toh Laras tidak akan pernah mendengarnya karena setelah ini gadis itu pasti tidak akan bisa lepas dari Aditya yang sejak tadi terus menatap Laras dengan senyum merekah.
Rara yang biasanya aktif kini lebih pendiam selama proses berlangsung. Gadis kecil itu tidak pernah sekalipun memalingkan pandangan dari kakaknya. Jujur hatinya sedih karena harus berpisah dari Laras, rumahnya akan sepi karena tidak ada yang bisa diributkan. Rara tidak bisa menganggu kakaknya lagi.
Setetes air mata jatuh, Rara dengan cepat mengelapnya. Gengsi, dirinya tidak akan membiarkan semua orang tahu dirinya sedih, takut ditertawakan.
Sari menyuruh Laras menyalami tangan mertuanya begitu sadar jika mereka belum pernah berjabat tangan sebelumnya. Pertemuan yang kurang baik membuat mereka semua melupakan hal penting seperti itu.
"Maafkan anak mamih, ya nakk," ucap Melani saat Laras mencium tangannya. Wanita itu mengecup puncak kepala Laras seakan menyalurkan energi. Sekaligus tanda dirinya diterima oleh Melani.
Kemudian bergantian dengan Aditama. "Mengadulah jika Aditya tidak merawatmu dengan baik."
Laras hanya mampu mengangguk. Mulutnya seakan terkunci bahkan untuk sekedar berkata 'ya'
Para besan juga ikut bersalaman. Mereka bersalaman dan saling bermaafan.
"Maafkan kami karena tiba-tiba mengganggu ketenangan kalian." Aditama kembali meminta maaf. Harto mengangguk, hatinya sudah mulai ikhlas. Pikirannya, semua yang terjadi pasti sudah menjadi garis takdir Tuhan. Harto mulai menerima jika itulah jalan kehidupan yang harus putrinya tapaki.
Semua yang sudah terjadi tidak bisa disesali, marah terlalu lama pun percuma karena keadaan tidak diputar ulang. Yang ada hanya membuang-buang tenaga.
"Enggak nyangka sih bakal dapet kakak ipar seorang Aditya, sekarang aku harus memanggilnya kakak ipar." ceplosan Rara merubah suasana tegang jadi sedikit santai.
Gadis itu menyalami tangan Aditya dengan sopan. "Setelah ini aku akan memantau kakak ipar lewat sosial media, kalau kakak ipar berbuat curang aku akan mengadu ke kak Laras." Gadis itu mendelik sejenak, memperingatkan Aditya untuk berhati-hati.
"Mamih mendukungmu." Melani menepuk pundak Rara. Respon gadis itu hanya meringis karena malu.
"Ayo foto dulu, buat kenang-kenangan." Perlahan Rara mulai menguasai keadaan, gadis itu menjadi dirinya sendiri setelah sekian lama lelah menjaga sikap.
Beberapa foto yang diambil secara formal dan non formal tersimpan di galeri ponsel Rara, gadis itu juga merekam video pendek. Rara tidak puas jika hanya berfoto dengan kamera digital milik Tommy, menurutnya tidak praktis. Belum sempat Rara membuat story, Laras memperingatkan untuk tidak membuat kegaduhan di jagat Maya. Cukup orang sekitarnya saja yang tahu, fans Aditya bisa heboh jika tahu gadis seperti dirinya yang menjadi pasangan Aditya. Laras tidak siap hidupnya dipenuhi hujatan, tidak mau pula banyak orang yang semakin kenal dengan dirinya.
Aditya sedikit kesal karena Laras berusaha menyembunyikan pernikahan mereka. Tapi bukan Aditya jika menurut begitu saja.
Selesai foto, Sari membawa semuanya ke meja makan. Beberapa kursi tambahan sudah di siapkan, Tommy awalnya sungkan karena merasa bukan bagian dari keluarga itu. Tapi orang tua Aditya dan Laras sangat terbuka. Mereka hangat pada Tommy.
Makan bersama juga berguna sebagai kegiatan untuk mencarikan suasana. Menciptakan jalinan kekeluargaan yang lebih erat.
Sari memberi kode pada Laras untuk mengambilkan Aditya makan. "Tugas pertama sebagai seorang istri." Sari tersenyum samar.
Awalnya Laras menolak, tapi saat netranya menangkap orang-orang yang sedang menunggu moment itu, Laras terpaksa mengambilkan Aditya makanan.
"Mau apa?" suara Laras bahkan masih dingin. Tapi Aditya tidak masalah. Cowok itu malah tersenyum, hatinya hampir ingin meledak karena euforia yang tercipta.
Pengalaman pertama sebagai seorang suami. "Aku makan semuanya." Aditya bahkan tidak sadar dari kapan dirinya mulai menggunakan aku-kamu saat berbicara dengan Laras.
Laras mengangguk, gadis itu mengambil sayur dan lauk kesukaannya karena tidak mau pusing-pusing memikirkan makanan yang kira-kira disukai Aditya.
Begitu Laras selesai mengambil makanan untuknya dan Aditya, baru anggota keluarga yang lain menyusul.
Tommy diam-diam memperhatikan Aditya dan Laras bergantian. Melihat pasangan aneh yang terlalu dipaksakan. Cowok itu tidak bisa membayangkan akan seperti apa nasib pengantin itu dikemudian hari. Tommy hanya bisa berdoa yang terbaik, terutama untuk Laras agar diberi kesabaran seluas samudra.
"Jangan sungkan untuk nambah yaa?" Sari berbicara di sela-sela kegiatan makannya.