Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Fitnah 18 Tahun Lalu
Jika malam ini Dira bisa senyum saat Nimas menyebut namanya. Serta Faza terhibur karena kemenangan beruntun bermain catur atas sosok Kakek Wirawan. Hal berbeda Sisil dapatkan malam ini.
“Cara mainnya tidak seperti itu, Sisil,” geram Wilona saat tahu Sisil ingin mencelakai Dira dengan cara kampungan.
“Terus aku harus bagaimana? Nunggu Mama bertindak, gitu? Keburu Fazaku dimiliki perempuan rendah itu, Ma.”
“Mama bilang padamu untuk sabar. Kamu tahu kata sabar, Tidak?”
Sisil memilih diam mendapat amukan dari Wilona. Kejadian tadi siang saat Sisil sengaja membayar orang untuk mencelakai Dira, tercium oleh Wilona.
“Mama tidak melarang kamu bayar seseorang untuk mencelakai perempuan haram itu. Tapi, yang jadi masalah. Kenapa kamu mengikuti perempuan haram itu mulai dari komplek tempat tinggal Panda?” geram Wilona.
“Bagaimana kalau sampai si Panda itu tahu? Makin sulit kita untuk menyingkirkan perempuan rendah itu,” lanjut Wilona kembali.
Wilona jelas kebakaran jenggot dengan tindakan Sisil tanpa koordinasi terlebih dahulu. Masalah keberadaan Nimas yang tiba-tiba muncul sudah membuat Wilona kesulitan bernafas.
Ditambah lagi orang bayaran Sisil mendekati kompleks kediaman Miss Panda. Benar-benar membuat masalah menjadi runyam. Hingga kepala terasa ingin pecah.
“Jangan sampai masalah ini diketahui papamu! Kalau sampai papamu tahu masalah ini. Maka, habis kita berdua,” ucap penuh peringatan.
“Iya,” jawab Sisil malas.
“Untuk saat ini biarkan Mama yang bertindak. Sekarang lebih baik kamu tidur. Jangan sampai esok pagi kamu kena masalah lagi dengan si Panda sialan itu.”
Setelah kepergian Sisil ke kamarnya. Wilona langsung menghubungi seseorang yang bisa membantu masalahnya. Saat melihat perempuan yang diyakini sebagai Nimas, benar-benar mengganggu pikiran Wilona.
“Tunggu dulu, bukankah Nimas keluar dari kediaman perempuan kurang ajar itu? Apa hubungan diantara keduanya? Jangan-jangan perempuan sialan itu putri dari…”
Wilona tidak melanjutkan ucapannya saat pikirannya kembali berkecamuk. Tangannya dingin hingga dadanya terasa sesak dengan pemikiran liar yang ada di kepalanya.
Sebutan perempuan kampungan, rendahan, kurang ajar, sialan, keturunan haram maupun yang lainnya. Sengaja Wilona sempatkan ke Dira. Karena menganggap Dira sosok curut kecil yang susah dikendalikan. Wilona memang enggan menyebut nama Dira.
“Mungkinkah jika perempuan kampungan itu putri kandung dari Nimas? Putri yang terlahir dari kejadian waktu itu,” gumam Wilona berpikir keras.
“Memang aku yang membuat Nimas diusir dari kampung. Tapi, aku sama sekali tidak menyangka jika fitnah yang aku berikan kepadanya adalah kenyataan. Dia benar-benar memiliki keturunan diluar nikah,” lanjut Wilona sambil memijat kepalanya yang terasa sangat berat.
Wilona jelas merasa sangat pusing memikirkan masalah ini. Karena dirinya kembali menyusun puzzle yang sudah berantakan 18 tahun yang lalu.
“Tapi, jika dia memang beneran hamil. Siapa ayah dari putrinya?” gumam Wilona bertanya-tanya sambil menggigit kukunya. Dirinya benar-benar gemeteran mengingat kejadian tempo dulu.
“Karena saat kejadian malam itu dia kabur. Karena kaburnya dia itulah membuatku harus membayar mahal. Memang benar-benar sialan dia. Hidupnya selalu mengganggu hidupku dan juga putriku,” geram Wilona sambil mengepal kuat telapak tangannya.
“Persetan dengan identitas laki-laki yang telah menghamilinya. Yang jelas nasib perempuan kurang itu harus sama seperti ibunya. Perempuan rendahan memang harus kembali ke tempat kotor.”
Dengan pikiran menyelimuti Wilona menyingkirkan Dira. Membuat Wilona kembali merancang rencana licik yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Kegagalan di masa lalu menyingkirkan Nimas dari kehidupannya. Membuat Wilona tidak ingin kembali gagal saat menyingkirkan Dira, sosok yang diyakini Wilona putri kandung Nimas.
Jadi, Wilona wajib berhati-hati dalam bertindak untuk hasil maksimal dengan cara menghubungi sosok laki-laki di masa lalu. Sosok laki-laki yang namanya tidak boleh disebut.
***
Jika malam itu dijadikan Wilona menyusun rencana menghancurkan Dira beserta Nimas. Tapi tidak untuk Faza yang menghabiskan malam bermain catur sampai menjelang pagi. Membuat dirinya sedikit berpenampilan berantakan. Efek semalaman bermain catur dengan Kakek Wirawan.
Faza yang hampir telat berangkat ke sekolah. Apalagi dirinya harus laporan terlebih dahulu ke Satria. Kini berjalan menuju kelas.
“Huaa.”
Suara nguapan Faza yang terdengar cukup kencang. Langsung hilang seketika saat berpapasan dengan Dira. Matanya terkunci pada sosok yang telah membuat hatinya runtuh di depan Miss Panda.
Dira hanya berdiri kaku tanpa sepatah katapun. Matanya pun juga tertuju pada Faza yang saat ini berdiri di hadapannya. Membuat mereka berdua saling berhadapan tanpa sepatah katapun.
Kriiing!
Suara bel berbunyi menandakan jika jam pertama akan dimulai. Dira memutuskan berjalan berlalu melewati Faza begitu saja.
“Dira!” panggil Faza yang langsung menghentikan langkah kaki Dira. Kini perempuan cantik itu menengokkan kepalanya.
“Ya, ada apa?”
“Tetap semangat.”
Satu kalimat pendek yang terdiri dari dua kata. Mampu membuat hati Dira bergetar. Sebelum Faza pergi meninggalkan Dira yang masih berdiri di tempat yang sama. Wajahnya memerah, menandakan jika ada rasa yang beda Dira rasakan pada sosok laki-laki itu.
Plak… plak.
Dira menepuk kedua pipinya secara bergantian. Mencoba menyadarkan dirinya akan rasa yang tidak boleh dimiliki.
“Apa yang kamu lakukan, Dira? Sadarlah tentang statusnya yang jelas-jelas berasal dari orang kaya,” tutur Dira pada dirinya.
“Jangan pernah berpikir aneh-aneh tentang dia. Apalagi mimpi di pagi mendung ini,” ucap Dira beruntun sambil geleng-geleng kepala mencoba menyadarkan dirinya dari bayangan sosok Faza.
“Bukankah kamu harus fokus dengan pendidikan? Fokus juga dengan cita-citamu menjadi seorang dokter spesialis kejiwaan? Jadi, jangan mikir aneh-aneh! Tetap fokus ke tujuan awal,” ucap Dira untuk dirinya sendiri.
“Jangan berurusan dengan cinta-cintaan. Karena hal itu akan menghambat cita-citamu. Apalagi statusmu yang...”
Hurrff.
Dira tidak melanjutkan ucapannya. Hembusan nafas dalam sudah menggambarkan semuanya.
Karena setiap mengingat tentang identitas dirinya yang lahir diluar nikah, serta tragedi yang menimpa Nimas. Membuat suasana hati Dira tidak menentu. Apalagi identitas ayah kandungnya juga tidak diketahui.
Sambil mencangklong tas yang sebelumnya berisi nasi uduk dan juga gorengan. Kini Dira berjalan menuju ke kelas dengan langkah kaki terasa berat.
Tapi, lagi dan lagi konsentrasi Dira buyar saat menyadari tatapan mata Faza mengarah ke dirinya. Sehingga wajah Dira memerah menahan rasa malu.
“Apa yang kamu lakukan, Dira? Kamu harus tetap fokus ke cita-cita. Dia hanya pemanis dalam hidupmu. Jangan karena keberadaan dan juga sikap baiknya padamu membuat dirimu lengah,” gumam Dira sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
Tindakan Dira yang dirasa aneh. Membuat Faza mengerutkan keningnya bertanya-tanya. Apalagi saat Dira memilih menundukkan pandangannya saat tahu Faza terus memperhatikannya.
“Dasar kucing pemalu,” gumam Faza tersenyum sambil melirik ke arah Dira.
Tingkah laku aneh Dira yang membuat Faza tersenyum. Tentu saja selayaknya bensin yang membakar hati Sisil. Tangannya terkepal kuat tidak terima melihat pemandangan menyebalkan sekaligus menjijikan di hadapannya.
“Tersenyumlah, sebelum air matamu jatuh sampai mengering,” ancam Sisil sambil menatap tajam kearah Dira. Matanya membuat sempurna.
Sangking fokusnya Sisil menatap kesal ke Dira. Sampai-sampai Sisil tidak menyadari jika saat ini Miss Panda tengah melihat ke arahnya.
“Sisil, apa kamu sedang kerasukan roh jahat?”
Suara pertanyaan Miss Panda langsung memecah keheningan. Menjadikan Sisil sebagai pusat perhatian teman satu kelasnya. Tanpa terkecuali Faza maupun Dira.
“Eh.”
Sisil yang tidak paham dengan ucapan Miss Panda karena fokus ke Dira, hanya diam saja. Wajah bingung karena semua orang menatap ke arahnya. Sehingga Sisil melihat sekitar sambil melotot karena tidak terima.
“Sisil, sepertinya kamu benar-benar kesurupan. Miss panggil ustadz...”
“Gak Miss,” potong cepat Sisil sambil berlari menahan tangan Miss Panda.
“Saya sama sekali tidak kesurupan, Miss. Tolong jangan panggil ustad,” ucap Sisil gugup penuh harap.
“Kalau kamu beneran tidak kesurupan. Kenapa matamu melotot hingga hampir keluar saat melihat ke arah Dira? Kamu tidak sedang memikirkan sesuatu saat ini, kan?” tanya Miss Panda menahan suaranya.
Mendengar penuturan dari Miss Panda. Sisil mencoba untuk tetap tenang. Sisil baru saja menyadari kesalahannya. Di tempat ini selama ada Miss Panda, dirinya tidak akan pernah bisa menyentuh Dira.
“Tidak, Miss,” jawab Sisil sambil menggenggam erat roknya.
‘Ternyata memang benar kata Mama. Jika lajang tua ini dengan terang-terangan melindungi Dira. Aku harus tetap waspada dengannya.’
‘Jika aku melakukan sedikit kesalahan. Maka, rencanaku menyingkirkan Dira akan gagal total,’ batin Sisil yang mulai tahu cara bermain cantik untuk mewujudkan keinginannya.
Terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka terhadap Dira dihadapan Miss Panda. Jelas sama saja menyerahkan dirinya pada sosok perempuan tegas yang sangat sulit dikendalikan.
Sebab, Miss Panda sudah memiliki pengaruh, kekayaan, kehormatan. Jadi, tidak ada senjata yang bisa digunakan oleh Sisil untuk menekan.
Karena alasan itulah membuat Sisil memikirkan cara licik lain. Hingga tatapan matanya terkunci pada Faza.
‘Aku akan membuat semua orang menatap jijik terhadapmu. Karena sebentar lagi aku akan membuka aib keluargamu,” batin Sisil sambil menahan nafas untuk menghindari tatapan tajam Miss Panda.
Ceritanya keren 👍