Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dan Akhirnya Datang
Suasana di rumah kayu sederhana itu masih dipenuhi rasa haru dan kebahagiaan. Terlebih lagi saat salah satu panitia festival datang membawa kartu tanda peserta untuk para calon peserta lomba layang-layang tersebut.
Hal kecil itu saja sudah cukup membuat kebahagiaan Kai terasa bertubi-tubi.
Anak itu langsung menerima kartu tersebut dengan kedua tangannya penuh hati-hati. Matanya berbinar saat melihat foto kecil dirinya terpampang jelas di sana, lengkap dengan nama peserta festival yang selama ini hanya berani ia impikan.
Seketika senyum lebar terukir di wajah kecilnya.
“Ma… aku dapat kartu ID,” ucap Kai penuh antusias sambil menunjukkan kartu itu pada keempat ibunya.
Dan entah kenapa… melihat kebahagiaan sederhana itu, hati mereka kembali terasa hangat sekaligus sesak yang bersamaan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara di kota besar sana, suasana ruang kerja Kael Ardion masih terasa dingin dan menekan seperti biasanya. Siang itu Edgar baru saja masuk sambil membawa beberapa map tebal di tangannya.
“Tuan,” ucapnya hati-hati. “Ini data final peserta festival peresmian dermaga.”
Kael yang sedang membaca dokumen bisnis bahkan tidak langsung menoleh, seolah bukan sesuatu yang terlalu penting.
“Taruh saja.”
Edgar mengangguk lalu meletakkan map tersebut di atas meja. Namun sebelum pergi, pria itu kembali membuka suara.
“Panitia juga mengirim beberapa foto peserta unggulan festival tahun ini.”
Kael mendengus kecil. “Festival layang-layang ternyata lebih ribet dari proyek bisnis.”
Edgar hanya diam, tanpa berani membantah atasannya itu lalu setelah suasana kembali sunyi, Kael akhirnya membuka map itu sekilas dengan malas.
Beberapa foto layang-layang terlihat biasa saja menurutnya, terlalu ramai, bahkan ada yang terlihat sangat mencolok sampai akhirnya... gerakan tangannya mendadak berhenti pada satu foto.
Layang-layang berwarna biru langit. Dengan gambar rembulan putih besar di tengahnya. Dan di bawah rembulan itu, tergambar empat sosok wanita yang saling bergandengan tangan.
Kael terdiam.
Tatapannya tertahan cukup lama pada gambar sederhana itu.
Entah kenapa, dari sekian banyak gambar hanya layang-layang berwarna biru itu yang cukup simpel sederhana namun membuat dadanya terasa sesak.
Padahal itu hanya lukisan biasa tapi rasanya seperti ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
Lalu detik berikutnya Kael perlahan membalik lembar data peserta di bawah foto tersebut.
Nama peserta: Kailan Alvero.
Usia: 8 tahun.
Asal: Pesisir Pantura.
Kailan.
Untuk beberapa alasan… nama itu terasa asing sekaligus mengganggu pikirannya bersamaan.
Kael menyandarkan tubuhnya perlahan di kursi sambil terus menatap foto layang-layang itu.
Lalu tanpa sadar… bibirnya bergerak pelan.
“Kenapa gambar ini terasa…” suaranya mengecil. “Begitu familiar?”
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya...
Pagi itu langit pesisir terlihat begitu cerah. Angin laut bertiup cukup kencang hingga beberapa pohon kelapa di sekitar pantai bergerak perlahan.
Di halaman rumah kayu sederhana itu, Kai sedang duduk jongkok sambil memeriksa kembali benang premium pemberian dari Rina.
Jemarinya menyentuh gulungan benang itu hati-hati, seolah masih sulit dipercaya baginya… bahwa sekarang ia benar-benar memilikinya.
Sementara di belakangnya, keempat wanita itu memperhatikan Kai dengan perasaan hangat masing-masing.
“Dari tadi dipegang terus,” celetuk Senna sambil melipat tangan di dada.
Kai langsung menoleh cepat. “Takut hilang,” jawabnya polos.
Seketika tawa kecil langsung pecah di antara mereka.
Anne tersenyum geli. “Benangnya nggak bakal kabur, Kai.”
“Tapi ini mahal, bahkan hasil kerja keras Kai, belum bisa kebeli," sahut anak itu jujur.
Seketika dada keempat orang dewasa itu tersentuh. Kalimat sederhana itu sukses membuat suasana mendadak hening sesaat.
Karena mereka tahu… Kai sangat mengerti betapa besar perjuangan untuk mendapatkan benang itu.
Alena buru-buru mengalihkan suasana.
“Kalau begitu, hari ini kita coba terbangin layang-layangnya yuk?” ajaknya seolah tidak mau membiarkan air matanya jatuh kembali.
Mata Kai langsung berbinar cepat. “Sekarang?”
“Iya,” sahut Rina sambil mengacak rambutnya pelan. “Masa festival tinggal satu hari lagi, tapi layang-layangnya belum dicoba.”
Kai langsung berdiri kecil dengan wajah penuh semangat. Tanpa menunggu lama, mereka akhirnya berjalan bersama menuju pantai.
Layang-layang biru milik Kai dibawa hati-hati, sementara gulungan benang premium terus digenggam erat oleh anak itu di sepanjang jalan, beberapa warga mulai memperhatikan mereka.
“Wah Kai mau latihan festival ya?”
“Bagus sekali layang-layangnya.”
Kai hanya tersenyum kecil sambil memeluk layang-layangnya makin erat dan sesampainya di pantai, angin laut langsung menyambut mereka cukup kencang.
Debur ombak terdengar bersahutan, sementara cuaca cukup bagus. Langit biru terlihat begitu luas di atas sana. Kai berdiri di tengah pasir sambil memegang layang-layangnya pelan.
Jujur saja… saat ini ia sedang gugup, bahkan belum tampil di acara festival itu dadanya sudah bergetar cukup kencang.
“Tenang saja,” ujar Anne lembut. “Pelan-pelan.”
Senna langsung ikut teriak heboh. “Kalau jatuh nanti kita coba lagi!”
“Bu Senna…” Kai sampai menahan tawa kecil.
Rina mulai membantu memegang bagian ujung layangan sementara Alena membantu merapikan benangnya.
Dan kali ini empat wanita itu terlihat benar-benar seperti satu keluarga utuh, bahkan dunia seolah iri melihat kebersamaan mereka yang saling merangkul satu sama lain, bahkan mereka rela melakukan apapun demi satu harapan kecil dari seorang anak.
“Siap?” tanya Rina.
Kai mengangguk kecil.
“Satu…”
“Dua…”
“Tiga!”
Brussshh!
Rina langsung melepas layang-layang itu ke udara.
Kai segera menarik benangnya perlahan. Awalnya layang-layang itu sempat oleng, miring ke kiri dan turun sedikit hampir menyentuh pasir, mungkin karena baru pertama kali Kai mencoba menerbangkan layang-layang yang cukup besar.
“Eh eh eh!” Senna sampai panik sendiri.
“Kai tarik pelan!” seru Anne.
Kai menggigit bibirnya sendiri sambil terus fokus mengendalikan benang hingga beberapa detik kemudian…
Brusshhh!
Layang-layang biru itu akhirnya naik. Semakin tinggi dan terus bertambah tinggi membelah langit pesisir yang luas.
Rembulan putih dan empat sosok wanita di bawahnya mulai terlihat jelas diterpa cahaya matahari pagi yang mulai naik. Seketika mata Kai langsung berbinar penuh kagum.
“Itu terbang…” gumamnya lirih tak percaya.
“Iya itu TERBANG!” teriak Senna lebih heboh dari anaknya sendiri.
Anne sampai tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya. Sementara Alena diam-diam menahan air matanya sendiri saat melihat wajah Kai yang begitu bahagia.
Karena setelah semua perjuangan… akhirnya mimpi kecil anak itu mulai benar-benar terbang.
Namun tanpa mereka sadari… dari kejauhan sebuah mobil hitam mewah perlahan mulai memasuki kawasan pesisir itu.
Dan seseorang di dalam sana sedang menatap hamparan langit pantai dengan sorot mata dingin yang perlahan berubah aneh saat melihat satu layang-layang biru membelah langit.
Bersambung ....