NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Perjalanan pulang malam itu terasa berbeda.

Tidak ada lagi rasa tegang seperti saat berangkat. Tidak ada lagi tatapan tajam atau pertanyaan menjebak. Hanya aku dan Adrian… dalam keheningan yang justru terasa nyaman.

Aku duduk di sampingnya, sesekali melirik ke arah jendela. Lampu kota berlalu begitu saja, tapi pikiranku masih tertinggal di acara tadi.

Tentang Vanessa.

Tentang pertanyaannya.

Dan… tentang jawaban Adrian di dalam mobil.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Kalimat itu terus terulang di kepalaku.

Aku akhirnya menoleh ke arahnya.

“Adrian.”

“Iya?”

“Kamu… serius dengan yang tadi kamu bilang?”

Ia tidak langsung menjawab. Matanya tetap melihat ke depan.

“Yang mana?” tanyanya.

Aku menunduk sedikit. “Yang kamu bilang… kamu tidak akan meninggalkanku.”

Beberapa detik sunyi.

Lalu ia menjawab dengan nada yang sama seperti biasa—

Tenang. Tegas.

“Aku tidak terbiasa mengatakan sesuatu yang tidak aku maksud.”

Jantungku berdegup pelan.

Aku menggenggam ujung gaunku sedikit.

“Kenapa?” tanyaku lirih.

Pertanyaan itu keluar tanpa aku tahan.

Kenapa dia bisa mengatakan itu dengan mudah… sementara aku masih takut untuk berharap?

Adrian akhirnya menoleh ke arahku.

Tatapannya tidak dingin seperti awal kami bertemu dulu.

Lebih… dalam.

“Karena aku sudah pernah ditinggalkan,” katanya pelan.

Aku terdiam.

Ia melanjutkan,

“Dan aku tahu rasanya.”

Sunyi.

Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menjelaskan semuanya.

Vanessa.

Masa lalu.

Dan mungkin… luka yang belum benar-benar hilang.

“Aku tidak ingin jadi orang yang melakukan hal yang sama ke orang lain,” lanjutnya.

Aku menunduk.

Dadaku terasa hangat… tapi juga sedikit perih.

Hangat karena kata-katanya.

Perih karena aku tahu… dia pernah terluka sangat dalam.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah.

Supir membuka pintu, dan seperti biasa aku turun lebih dulu, lalu membantu posisi kursi roda Adrian.

Aku berdiri di belakangnya.

Dan tanpa diminta—

aku mulai mendorongnya masuk.

Seperti biasa.

Tapi sekarang…

rasanya berbeda.

Begitu masuk ke dalam rumah, suasana kembali sunyi dan tenang.

Tidak ada musik.

Tidak ada tatapan orang lain.

Tidak ada tekanan.

Hanya… rumah.

Aku baru sadar sesuatu—

Aku mulai benar-benar merasa tempat ini… rumah.

“Kamu mau langsung istirahat?” tanyaku pelan.

“Iya. Kamu juga harus istirahat,” jawabnya.

Aku mengangguk.

Aku mendorongnya sampai ke depan kamarnya.

Namun sebelum aku berbalik—

“Alina.”

Aku berhenti.

“Iya?”

Ia menatapku.

Beberapa detik.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Lalu akhirnya ia berkata pelan—

“Kamu hebat tadi malam.”

Aku sedikit terkejut.

“Tidak juga,” jawabku cepat.

“Iya,” katanya singkat. “Kamu tidak mundur.”

Aku tersenyum kecil.

“Aku hanya tidak mau dipermalukan.”

Ia menggeleng sedikit. “Bukan itu.”

Aku menatapnya.

Ia melanjutkan,

“Kamu tetap berdiri di tempatmu… meskipun kamu tahu kamu sedang diserang.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Karena sebenarnya… aku juga tidak merasa sekuat itu.

Aku hanya… tidak ingin kembali menjadi orang yang diam saja.

“Terima kasih,” kataku pelan.

Ia mengangguk kecil.

Lalu berkata,

“Istirahatlah.”

Aku membalas dengan anggukan, lalu berbalik menuju kamarku.

Malam itu, aku tidak langsung tidur.

Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela.

Tapi kali ini… pikiranku tidak seberat biasanya.

Tidak sesesak dulu.

Aku memegang dadaku pelan.

Perasaan ini…

apa ini?

Bukan sekadar nyaman.

Bukan sekadar tenang.

Lebih dari itu.

Aku menghela napas panjang.

Lalu tersenyum kecil.

“Bahaya…” gumamku pelan.

Karena untuk pertama kalinya—

Aku mulai menyadari sesuatu yang seharusnya tidak terjadi dalam pernikahan seperti ini.

Aku…

mulai menyukai Adrian.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dari biasanya.

Entah kenapa, aku ingin memasak sesuatu lagi.

Aku berjalan ke dapur dengan langkah ringan.

Dan tanpa sadar…

aku tersenyum sendiri.

Saat aku mulai menyiapkan bahan, suara kursi roda terdengar dari belakang.

Aku menoleh.

Adrian.

Ia berhenti di pintu dapur.

Menatapku.

“Kamu bangun pagi,” katanya.

Aku tersenyum kecil. “Seperti biasa.”

Ia menatapku beberapa detik.

Lalu berkata—

“Kamu terlihat berbeda hari ini.”

Aku sedikit kaget. “Berbeda?”

“Iya.”

Aku menoleh ke arah cermin kecil di dapur, lalu kembali menatapnya.

“Bedanya di mana?”

Ia tidak langsung menjawab.

Namun kali ini—

ia sedikit tersenyum.

Tipis.

Hampir tidak terlihat.

“Lebih… hidup.”

Aku terdiam.

Dan entah kenapa—

pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya.

Pagi itu terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya.

Aku baru saja selesai membereskan meja makan setelah sarapan bersama Adrian—yang entah sejak kapan mulai menjadi rutinitas kecil kami—ketika suara langkah pelan mendekat dari arah pintu dapur.

“Nyonya,” panggil bibi Ratna dengan sopan.

Aku menoleh dan tersenyum kecil. “Iya, Bi?”

Bibi Ratna membawa sebuah map kecil di tangannya.

“Hari ini Tuan ada jadwal kontrol ke dokter,” katanya.

Tanganku yang sedang menyeka meja langsung berhenti.

“Dokter?” ulangku pelan.

“Iya, Nyonya. Biasanya Tuan pergi sendiri dengan sopir, tapi…” Ia berhenti sejenak, lalu menatapku hati-hati. “Hari ini beliau meminta Nyonya ikut.”

Aku sedikit terkejut.

“Aku… ikut?”

“Iya.”

Ada jeda singkat.

Perasaan aneh muncul di dadaku. Bukan takut. Bukan juga cemas.

Lebih seperti… tidak menyangka.

Adrian… mengajakku?

“Baik,” jawabku akhirnya. “Aku akan siap-siap.”

Sekitar satu jam kemudian, aku sudah berdiri di depan cermin kamar.

Aku memilih pakaian yang sederhana—blouse lembut dan rok panjang. Tidak terlalu mencolok, tapi tetap rapi.

Tanganku sempat berhenti di depan lemari.

Aku menatap diriku sendiri.

Hari ini… aku akan melihat sisi lain dari hidup Adrian.

Bukan sebagai pria dingin di rumah besar ini.

Tapi sebagai seseorang… yang harus menghadapi kondisinya.

Aku menarik napas pelan.

“Tenang saja…” bisikku pada diriku sendiri.

Ketika aku turun ke bawah, Adrian sudah menunggu di ruang depan.

Ia mengenakan kemeja gelap dengan jas tipis, rambutnya tersisir rapi seperti biasa. Kursi rodanya sudah siap, dan di sampingnya berdiri sopir yang menunggu dengan hormat.

Tatapannya langsung beralih padaku saat aku mendekat.

“Kamu lama,” katanya singkat.

Aku sedikit canggung. “Maaf…”

Namun ia tidak melanjutkan.

Hanya mengamati penampilanku beberapa detik.

“…Sudah cukup,” katanya akhirnya.

Aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana, jadi aku hanya mengangguk pelan.

Kami keluar bersama.

Hari itu cerah, tapi tidak terlalu panas. Angin pagi terasa ringan saat kami berjalan menuju mobil.

Tanpa berpikir, aku langsung bergerak ke belakang kursi rodanya.

“Aku bantu,” kataku pelan.

Tanganku menyentuh pegangan kursi roda itu.

Adrian sedikit menoleh.

Tatapannya singkat… tapi tidak menolak.

Aku mulai mendorong perlahan.

Aneh.

Ini bukan pertama kalinya aku melakukan sesuatu seperti ini.

Dulu, aku sering membantu pekerjaan rumah, membawa barang berat, atau melakukan hal-hal yang melelahkan.

Tapi ini berbeda.

Aku tidak merasa disuruh.

Tidak merasa dipaksa.

Aku melakukannya… karena aku ingin.

Kami sampai di mobil.

Sopir langsung membuka pintu.

Namun sebelum itu, aku berhenti sejenak.

“Perlu aku bantu naik?” tanyaku hati-hati.

Adrian terdiam beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“…Aku bisa sendiri.”

Aku langsung mengangguk. “Iya.”

Aku mundur sedikit, memberinya ruang.

Gerakannya terlatih. Ia memindahkan tubuhnya dengan hati-hati dari kursi roda ke kursi mobil, tanpa bantuan siapa pun.

Aku memperhatikan tanpa sadar.

Tidak ada rasa kasihan.

Tidak ada rasa iba.

Yang ada hanya… rasa hormat.

Setelah ia duduk dengan stabil, aku melipat kursi roda itu bersama sopir dan memasukkannya ke dalam bagasi.

Lalu aku masuk ke kursi belakang, duduk di sampingnya.

Mobil mulai berjalan.

Perjalanan cukup tenang.

Tidak banyak percakapan.

Aku menatap keluar jendela, melihat jalanan kota yang perlahan ramai.

Sampai akhirnya Adrian berkata,

“Kamu tidak bertanya?”

Aku menoleh. “Tentang apa?”

“Dokter.”

Aku berpikir sejenak.

Lalu menggeleng pelan.

“Kalau kamu mau cerita, aku akan dengar,” kataku. “Kalau tidak… tidak apa-apa.”

Ia menatapku.

Cukup lama.

“…Kamu memang aneh,” katanya lagi.

Aku tersenyum kecil. “Kamu sudah bilang itu.”

Ia mengalihkan pandangan ke depan.

Namun kali ini… suasana tidak terasa dingin.

Kami sampai di sebuah rumah sakit besar.

Bangunannya tinggi dan modern. Banyak orang berlalu-lalang di depan pintu masuk.

Sopir membuka pintu, lalu mengeluarkan kursi roda.

Aku langsung berdiri di samping Adrian.

Kali ini, tanpa diminta, aku membantu menstabilkan kursinya saat ia kembali duduk.

Ia tidak menolak.

Tidak juga berkomentar.

Aku berdiri di belakangnya lagi.

Dan tanpa perlu kata-kata…

Aku mulai mendorongnya masuk.

Di dalam, suasana rumah sakit terasa berbeda.

Bau khas antiseptik, suara langkah kaki, dan percakapan pelan di berbagai sudut.

Beberapa orang melirik ke arah kami.

Mungkin karena penampilan Adrian.

Atau mungkin… karena aku yang mendorongnya.

Aku tidak tahu.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku tidak peduli.

Kami masuk ke ruang tunggu khusus.

Seorang perawat langsung menyambut.

“Selamat pagi, Tuan Adrian. Dokter sudah menunggu.”

Ia mengangguk singkat.

Kami langsung diarahkan ke ruang pemeriksaan.

Di dalam ruangan, seorang dokter pria paruh baya berdiri menyambut.

“Adrian,” katanya ramah. “Sudah lama.”

Adrian hanya mengangguk. “Dok.”

Dokter itu kemudian menatapku.

“Dan ini…?”

“Istriku,” jawab Adrian singkat.

Aku sedikit terkejut.

Bukan karena kata itu.

Tapi karena… cara ia mengatakannya.

Sederhana.

Tanpa penjelasan.

Tanpa penolakan.

Aku menunduk sedikit. “Selamat pagi, Dok.”

Dokter itu tersenyum. “Senang bertemu denganmu.”

Pemeriksaan dimulai.

Aku duduk di samping, memperhatikan dengan tenang.

Dokter memeriksa kondisi Adrian, menanyakan beberapa hal, dan sesekali melihat hasil laporan medis di layar.

“Masih belum ada perubahan signifikan,” kata dokter itu akhirnya.

Aku menahan napas sedikit.

“Namun kondisi Anda stabil,” lanjutnya. “Itu sudah sangat baik.”

Adrian tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

Seolah sudah terbiasa mendengar hal seperti itu.

“Terapi tetap dilanjutkan,” tambah dokter.

Adrian mengangguk. “Seperti biasa.”

Sepanjang pemeriksaan, aku diam.

Namun dalam diam itu…

Aku mulai memahami sesuatu.

Hidup Adrian… tidak semudah yang terlihat.

Ia bukan hanya pria dingin dan tegas.

Ia juga seseorang yang setiap hari harus menghadapi kenyataan yang tidak bisa ia ubah.

Dan mungkin…

Itulah alasan kenapa ia menjauh dari semua orang.

Setelah selesai, kami keluar dari ruang dokter.

Aku kembali berdiri di belakangnya.

“Capek?” tanyaku pelan.

Ia sedikit menoleh.

“…Tidak.”

Namun kali ini, jawabannya tidak terdengar sepenuhnya yakin.

Aku tidak berkata apa-apa lagi.

Hanya mendorongnya perlahan keluar dari rumah sakit.

Di luar, angin siang menyentuh wajahku.

Aku berhenti sejenak.

Lalu berkata pelan,

“Kita bisa pelan-pelan saja.”

Adrian tidak menjawab.

Namun ia juga tidak menyuruhku cepat.

Dan entah kenapa…

Langkah kecil ini terasa berarti.

Bukan hanya untuknya.

Tapi juga… untukku.

Karena tanpa kusadari,

Hari ini—

Aku tidak hanya menemani Adrian ke dokter.

Aku juga… mulai berjalan masuk ke dunianya.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!