Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Yang Terungkap
POV Kanaya
“Dokter… tolong… saya mohon…”
Langkahku terhenti.
Suara itu
suara yang terlalu aku kenal
menghantam dadaku tanpa peringatan.
Di ujung lorong, aku melihatnya.
Fatan.
Ia mencengkeram lengan jas putih dokter itu, lututnya hampir jatuh ke lantai.
“Selamatkan istri saya… apa pun risikonya… apa pun biayanya… saya mohon…”
Suaranya pecah.
Tangisnya… tidak lagi ia sembunyikan.
“Dia begitu berarti untuk hidup saya… dia hidup saya, Dokter…”
Duniaku seketika sunyi.
Aku membeku di tempatku.
“Istri saya…”
Kata itu bergema di kepalaku.
Berulang.
Menusuk lebih dalam dari apa pun yang pernah kurasakan.
Istri…
Lalu… aku ini siapa, Fatan?
Dokter itu mengangguk cepat.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Mohon tunggu di luar.”
Pintu ruang operasi tertutup.
Dan bersamaan dengan itu
sesuatu di dalam diriku… ikut runtuh.
Aku tidak tahu sejak kapan air mataku jatuh.
Yang aku tahu…
dadaku sakit.
Sakit sekali.
Aku melihat Fatan terduduk lemas di kursi, wajahnya tertutup kedua telapak tangan.
Untuk pertama kalinya… aku melihatnya begitu hancur.
Namun bukan untukku.
Bukan karena aku.
Melainkan…
untuk wanita lain.
Amira, sahabat ku yang terbaring lemah dengan luka yanh serius
Nama itu terlintas seperti pisau.
Sahabatku.
Orang yang selama ini aku jaga seperti saudara.
Orang yang aku percaya tanpa ragu.
Dan sekarang…
Aku berdiri di sini
menyaksikan suamiku memohon nyawa
untuk wanita yang ternyata… juga istrinya.
Langkahku mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tubuhku terasa ringan…
seolah aku sudah tidak lagi memiliki kekuatan untuk berdiri di kenyataan ini.
Aku berbalik.
Berjalan menjauh dari lorong itu.
Dari suara tangisnya.
Dari kenyataan yang baru saja menghancurkan segalanya.
Air mataku jatuh tanpa suara.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah.
Karena luka ini…
terlalu dalam untuk sekadar diluapkan.
“Istri saya…”
Suara itu terus berputar di kepalaku.
Aku tersenyum pahit.
Aku ingat hari pernikahan kami.
Tanpa cinta yang besar.
Tanpa janji yang menggetarkan.
Aku tahu
aku tidak dinikahi karena cinta.
Hanya karena keadaan.
Karena keinginan keluarga.
Tapi aku tetap menerima.
Karena aku percaya…
Cinta bisa tumbuh.
Asal dijaga.
Dan aku menjaganya.
Dengan caraku yang diam.
Dengan kesetiaan yang tidak pernah aku hitung sebagai pengorbanan.
Aku menunggu.
Makan malam yang dingin.
Pesan yang tak dibalas.
Namun aku selalu berkata pada diriku sendiri
Tidak apa-apa… Fatan sibuk.
Tidak apa-apa… aku mengerti.
Aku meredam cemburu.
Menurunkan egoku.
Mengubur luka… sedikit demi sedikit.
Dan Fatan?
Ia memberiku harapan.
Tatapan lembut.
Sentuhan hangat.
Kata-kata yang membuatku percaya…
Bahwa aku dicintai.
Cukup… untuk membuatku bertahan.
Cukup… untuk membuatku jatuh lebih dalam.
Namun sekarang…
Semuanya terasa seperti kebohongan.
Amira…
Sahabatku sendiri.
Jadi selama ini…
aku berbagi suami dengan orang yang paling aku percaya?
Dadaku berdenyut sakit.
Bukan hanya karena cinta.
Tapi karena pengkhianatan
yang datang dari dua arah sekaligus.
Aku kehilangan dua hal dalam satu malam:
Suami yang diam-diam aku cintai.
Dan sahabat yang aku jaga sepenuh hati.
Aku merasa bodoh.
Bukan karena dicintai palsu.
Tapi karena…
aku percaya terlalu tulus.
Aku duduk di bangku lorong.
Tubuhku meringkuk tanpa sadar.
Dinikahi tanpa cinta…
diberi harapan…
lalu ditinggalkan… tanpa pernah benar-benar dipilih.
Aku bukan yang diperebutkan.
Aku bukan yang ditangisi.
Aku bukan yang dimohonkan hidupnya.
Aku hanya…
Istri yang ada…
tapi tak pernah dianggap ada.
“Andai sejak awal kamu bilang…”
Suaraku bergetar pelan.
“...aku tidak akan pernah jadi pilihanmu…”
Air mataku jatuh semakin deras.
“Andai aku tahu hatimu sudah penuh untuk orang lain…”
“...mungkin aku tidak akan mencintaimu sejauh ini, Fatan…”
Tangisku pecah.
Bukan karena aku ditinggalkan.
Tapi karena…
aku tidak pernah benar-benar dimiliki.
Aku berdiri perlahan.
Menghapus air mataku, meski dadaku masih terasa sesak.
Jika selama ini aku bertahan demi cinta…
Maka sekarang
aku akan pergi demi harga diriku.
Tanpa berpamitan.
Tanpa penjelasan.
Karena cinta yang tulus…
Tidak seharusnya memohon
pada hati
yang sejak awal
tidak pernah memilihnya.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?