Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
"Apakah pengantin sudah siap?" ucapan penghulu itu seketika merenggut sisi kejantananku. Aku seperti wanita lemah yang tak punya daya. Sementara Ningsih begitu sumringah di balik gaun pengantin yang dikenakannya. Di sebelahku Mama juga tampak terisak. Ia pasti juga sedang berperang dengan nuraninya. Semua ini bukan yang kami inginkan. Aku hanya terjebak di permainan Ningsih.
"Bagaimana pengantin pria, bisa kita mulai sekarang?" sekali lagi penghulu itu menanyaiku.
"Siap Pak," ucapku dengan suara bergetar. Dadaku bergemuruh hebat sekelibat bayangan Laras menghantuiku.
"Abang tidak akan menduakan Laras, hanya Laras di hati abang."
Ah, hanya sebuah janji palsuku padanya. Hari ini janji itu akan ku ingkari.
"Raka, bisa kita mulai?" Ningsih mengamit tanganku. Aku menariknya, toh ini semua bukan mauku, ini hanya keterpaksaan semata.
"Ingat, Raka. Sesuai kesepakatan, kamu harus adil kepadaku."
Aku tidak menjawab, hanya menatap nanar sang penghulu itu.
Beberapa kali ijab kabul aku lafaz kan, dan akhirnya untuk kesekian kalinya baru berhasil.
"Saya termasuk nikah dan kawinnya Ningsih Rahayu dengan mas kawin tersebut, dibayar tu.. nai,"
"Sah!" ucap beberapa saksi. Namun yang pertama kali aku lakukan diluar yang seharusnya. Aku memeluk Mama dengan tangis terisak. Aku benar-benar menghianati Laras.
Mama mengusap bahuku. Kali ini rasanya benar-benar sakit. Ku pandangi Nayla, tak ada sedikitpun senyuman di wajahnya. Nayla yang biasa ceria, hari ini tampak murung dan berduka.
"Malam ini dan seminggu yang ke depan, kamu harus menginap di rumahku Raka."
Ningsih menciumi punggung tanganku. Aku bahkan sangat jijik melihat senyuman palsunya.
"Mama sama Kania pulang duluan, Raka. Kamu jaga diri baik-baik," suara terdengar berat. Matanya bahkan masih basah oleh air mata.
Sekarang hanya tinggal aku dan Ningsih di apartemen ini. Sebagai pasangan pengantin baru harusnya aku bersenang-senang tapi bukan ini yang aku, cintaku hanya untuk Laras.
"Momen ini yang sudah lama aku tunggu, Raka. Bisa menghabiskan waktu bersamamu."
Aku tak mengindahkan ucapannya, pikiranku benar-benar kacau.
Ponselku berdering cukup keras, membuat aku melepaskan pelukan Ningsih.
Betapa terkejutnya aku, sebuah panggilan video call dari Laras. Aku memaki diriku yang bodoh dan tak berdaya di depan Laras. Beberapa kali panggilan itu, tak kunjung ku angkat. Ningsih pasti tak akan tinggal diam.
'Abang kemana? kenapa panggilan Laras tidak abang angkat? Laras jadi khawatir. Oh iya sayang, besok lusa Laras pulang. Abang bisa jemput Laras besokkan?'
Aku terhenyak. Untuk pertama kalinya aku tidak bisa memenuhi permintaan Laras.
"Kenapa sayang? telpon dari maduku?"
Ningsih memelukku dari belakang. Aku berusaha menghindar.
"Kamu harus adil padaku, Raka. Jangn perlakukan aku dingin seperti ini,"
Ia melepaskan pelukannya, berjalan ke meja di sebelah ranjangnya, mengambil sesuatu lalu berjalan kembali ke arahku.
"Ini berkas kerjasama dengan Pak Danu," ia menyodorkan beberapa dokumen padaku.
"Kenapa kamu mencuri ini dari perusahaan?" darahku tiba-tiba mendidih, perasaanku berasa alat mainan Ningsih.
"Aku tak mengambilnya Raka, aku hanya menyimpan hakku."
"Ningsih!" aku baru saja mengangkat tanganku, namun kesadaran itu segera pulih. Sekarang dia istriku, bagaimanapun juga aku tak boleh main tangan padanya.
"Proyek itu bukannya hasil negosiasi aku bersama Pak Handoyo. Aku yang berhasil merayunya untuk membantumu memenangkan tender. Tapi setelah itu, kamu membuangku seperti sampah," raut wajahnya langsung berubah. Tatapan sendu, tapi aku tak peduli yang ada dipikiranku saat ini hanya wajah Laras.
"Maafkan Abang Laras," desisku pelan hampir tak bersuara.