Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
***
Langkah Sang Bayangan di Balairung Utama
Keesokan paginya, langit Valerieth tampak kelabu, seolah-olah awan sendiri enggan memberikan cahaya pada istana yang penuh dengan rahasia itu. Arthur berdiri di depan cermin besar, mengamati pantulan dirinya. Wajahnya masih pucat, dan setiap tarikan napas panjang masih mengirimkan rasa perih ke punggungnya. Namun, ia tidak boleh terlihat lemah.
Ia mengenakan jubah militer hitam berat dengan sulaman naga emas di bahunya. Jubah itu berfungsi ganda: sebagai simbol otoritas sekaligus penyembunyi perban yang melilit tubuhnya. Dengan langkah yang dipaksakan tegak meski kaki kirinya masih sedikit menyeret ia melangkah keluar dari Sayap Timur.
"Yang Mulia, Anda yakin ingin menghadap sekarang?" tanya Sir Kaelen, ajudan pribadinya, dengan nada cemas saat mereka berjalan melewati koridor panjang.
"Kaisar tidak suka menunggu, Kaelen. Dan aku tidak suka memberinya alasan untuk mengirim orang-orangnya ke kamarku lagi," jawab Arthur dingin.
Pintu besar Balairung Utama terbuka dengan suara dentuman berat. Ruangan itu luas, didominasi oleh pilar-pilar batu obsidian yang tinggi. Di ujung ruangan, di atas singgasana yang dikenal sebagai Takhta Naga Hitam, duduklah Kaisar Valerius.
Saat Arthur sampai di tengah ruangan, ia tidak berlutut sepenuhnya. Ia hanya menundukkan kepala sedikit—sebuah gestur yang lebih mirip tantangan daripada penghormatan.
Kaisar Valerius menatap putranya. Matanya yang menua menangkap kegelisahan dalam gerak-gerik Arthur. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Kaisar tidak hanya duduk diam. Ia bangkit dari takhtanya, melangkah menuruni anak tangga marmer satu demi satu.
"Kau kembali dengan kemenangan, Arthur," suara Kaisar menggema di ruangan sunyi itu. "Namun, aku mendengar kabar bahwa kau pulang hampir sebagai mayat."
Arthur hanya menatap lurus ke depan, wajahnya kaku seperti patung. "Kemenangan menuntut pengorbanan, Yang Mulia. Anda sendiri yang mengajarkan hal itu padaku sejak aku masih di menara pembuangan."
Kaisar berhenti tepat di depan Arthur. Ia melihat perban yang sedikit mengintip dari balik kerah jubah Arthur. Dengan gerakan yang ragu-ragu, Kaisar mengangkat tangannya, mencoba menyentuh bahu Arthur sebuah gestur simpati yang sangat langka.
PLAK.
Arthur menepis tangan ayahnya dengan kasar sebelum jemari Kaisar sempat menyentuh kain jabatannya. Suara tepisan itu bergema keras, membuat para penjaga di sudut ruangan tersentak.
"Jangan sentuh aku," desis Arthur. Matanya berkilat penuh kebencian.
"Arthur... aku hanya ingin melihat lukamu," ucap Kaisar, suaranya mengandung nada sedih yang tak terduga.
"Luka ini?" Arthur menunjuk ke arah dadanya.
"Luka fisik ini akan sembuh dalam beberapa minggu. Tapi luka identitas yang Anda berikan selama dua puluh tahun ini? Luka karena harus menjadi bayangan saudara kembarku yang sudah mati? Itu tidak akan pernah sembuh, Yang Mulia."
Kaisar menghela napas panjang, wajahnya tampak menua sepuluh tahun dalam sekejap.
"Semua itu dilakukan demi stabilitas kekaisaran. Jika rakyat tahu Putra Mahkota yang asli telah tiada, pemberontakan akan meledak lebih awal. Kau harus mengerti..."
"Mengerti?" Arthur tertawa sinis, suara tawanya terdengar menyakitkan. "Anda membedah kulitku untuk menghilangkan tanda lahir agar aku mirip dengannya. Anda menghapus namaku dari sejarah. Anda bahkan membiarkan Ibu, Ratu Seraphina, mati dalam kegilaan karena dia tidak tahan melihat putranya yang masih hidup dipaksa menjadi orang mati!"
"Ibumu... Seraphina... dia tidak sekuat yang kau bayangkan, Arthur," bela Kaisar dengan suara gemetar.
"Dia hancur karena Anda!" bentak Arthur. "Dan sekarang, Anda mencoba menunjukkan simpati? Anda menawarkan tabib terbaik kekaisaran sekarang? Di mana tabib-tabib itu saat aku merintih kesakitan di meja bedah dua puluh tahun lalu?"
Kaisar terdiam, bahunya merosot. "Aku ingin memperbaikinya, Arthur. Katakan apa yang kau inginkan. Kekuasaan? Wilayah tambahan?"
Arthur menatap ayahnya dengan pandangan menghina. "Saya tidak menginginkan kekaisaran anda yang busuk ini. Saya bertahan hidup di medan perang kemarin bukan untuk mempersembahkan kemenangan ini pada Anda. Aku bertahan hidup demi 'miliku'. Demi Lilianne. Demi anak yang ada di rahimnya."
Mendengar nama Lilianne, tatapan Kaisar berubah waspada. "Lilianne adalah putri Duke Kaelric. Dia adalah kunci aliansi kita dengan Utara. Jangan kau sakiti dia, Arthur."
"Jangan berani menyebut namanya dengan mulutmu yang penuh dusta itu," ancam Arthur. "Lilianne adalah satu-satunya hal yang nyata dalam hidup saya. Dia adalah milik saya sepenuhnya. Jika Anda mencoba mencampuri urusan dengannya, atau mencoba membawanya keluar dari Sayap Timur dengan alasan 'perlindungan', saya bersumpah akan meruntuhkan takhta ini bersama Anda di atasnya."
Kaisar mencoba mengatur napasnya. "Setidaknya, izinkan tabib istana memeriksamu. Luka-luka itu bisa infeksi..."
"Saya sudah memiliki seseorang yang merawatku," potong Arthur pendek. Pikirannya melayang sesaat pada sentuhan lembut Lilianne saat menyuapinya bubur pagi tadi.
"Seseorang yang tahu siapa saya sebenarnya, namun tetap menyuapiku meski ia membenciku."
Arthur berbalik, bersiap untuk pergi. Luka di punggungnya berdenyut kencang, namun harga dirinya jauh lebih kuat.
"Walaupun penumpasan pemberontakan belum selesai sepenuhnya, setidaknya saya sudah memusnahkan pemimpin mereka. Pasukan Anda bisa menyelesaikan sisanya," ujar Arthur tanpa menoleh lagi.
Ia melangkah pergi meninggalkan Balairung Utama. Di belakangnya, Kaisar Valerius hanya bisa berdiri mematung di bawah bayang-bayang takhtanya yang agung. Sang Raja terlihat kecil, dikelilingi oleh kemegahan yang terasa hampa. Penyesalan tampak jelas di wajahnya yang keriput, namun ia tahu, kata 'maaf' adalah sesuatu yang tidak laku di hadapan seorang pria yang sudah kehilangan jiwanya sejak kecil.
**
Arthur berjalan kembali menuju Sayap Timur. Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak untuk mengatur napas agar tidak terlihat terlalu lelah. Ia memutar kunci, masuk, dan menemukan Lilianne sedang duduk di kursi dekat balkon, tampak melamun sambil mengelus perutnya yang besar.
Lilianne menoleh, matanya yang perak menangkap sosok suaminya. "Anda sudah kembali, Yang Mulia?"
Arthur tidak menjawab. Ia melangkah menuju tempat tidur dan menjatuhkan dirinya di sana dengan rintihan tertahan. Penyamarannya sebagai pria kuat di depan Kaisar telah menghabiskan seluruh energinya.
Lilianne bangkit dengan susah payah, mendekati Arthur. "Anda memaksakan diri lagi. Apakah kaisar begitu menuntut sehingga Anda harus pergi dengan keadaan seperti ini?"
Arthur membuka matanya, menatap Lilianne yang berdiri di sampingnya. "Dia bukan menuntut kemenangan, Lili. Dia menuntut sesuatu yang lebih menjijikkan... dia menuntut peran sebagai seorang ayah yang peduli."
Lilianne terdiam. Ia bisa merasakan kepahitan yang luar biasa dari nada bicara Arthur. Ia mengambil kain bersih dan air untuk membersihkan keringat dingin di dahi suaminya.
"Lalu, apa yang Anda katakan?" tanya Lilianne pelan.
"Aku mengatakan padanya bahwa aku tidak butuh siapapun," Arthur memejamkan mata saat merasakan kain dingin menyentuh kulitnya. "Kecuali kau. Aku mengatakan padanya bahwa kau adalah milikku, dan dia tidak boleh menyentuhmu."
Lilianne menghentikan gerakannya. "Anda menjadikan saya tameng untuk melawan ayah Anda sendiri?"
Arthur meraih tangan Lilianne, menggenggamnya erat di atas dadanya yang berbalut perban. "Bukan tameng, Lili. Tapi alasan. Kau adalah satu-satunya alasan kenapa aku tidak membiarkan pedang pemberontak itu membelah jantungku kemarin."
Lilianne menatap wajah Arthur yang kini tampak sangat letih. Ada sebuah perang besar yang terjadi di antara dua pria paling berkuasa di kekaisaran ini, dan Lilianne sadar, ia berada tepat di tengah-tengahnya.
"Tidurlah, yang mulia," bisik Lilianne. "Anda sudah memenangkan perang di luar sana. Sekarang, berhentilah berperang dengan tubuh Anda sendiri."
Arthur tidak menjawab, ia hanya mengeratkan genggamannya pada tangan Lilianne sampai akhirnya ia terlelap dalam tidur yang dipenuhi mimpi buruk tentang masa lalu yang gelap. Lilianne tetap di sana, menjaga suaminya, menyadari bahwa meski jeruji balkon tetap ada, ada sesuatu yang mulai berubah di antara mereka—sesuatu yang lebih berbahaya daripada kebencian murni.
****
Bersambung...
entah kenapa
komen ini hilang