NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29.

Suasana di dalam rumah kecil itu perlahan berubah.

Tangisan yang semula pecah kini mulai mereda, berganti dengan harapan yang tipis namun terasa nyata.

Reno yang tadi kejang perlahan mulai tenang. Napasnya masih berat, tetapi tidak lagi tersengal seperti sebelumnya.

Ibu anak itu masih memegang botol kecil di tangannya, matanya tak lepas dari wajah putranya.

"Sudah agak tenang." bisiknya lirih, seakan takut harapan itu akan hilang jika diucapkan terlalu keras.

Zee mengamati dari samping. Matanya tenang, namun tajam. Dia tidak hanya melihat kondisi anak itu saja, tapi juga melihat semuanya.

Rumah yang hampir roboh, lantai masih tanah, perabotan yang minim, dan wajah-wajah lelah yang terbiasa menahan keadaan yang ada.

Dan yang paling Dia perhatikan yaitu sikap mereka. Tidak ada keserakahan, ataupun keluhan yang berlebihan.

Hanya keheningan... dan usaha bertahan. Zee berdiri perlahan, dan pandangannya beralih ke Rama.

"Mas Rama," panggilnya pelan.

Rama langsung menoleh. "Iya, Non?"

Zee terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu. Lalu Dia berkata...

"Kamu tidak masuk kerja dua hari ini... karena anakmu, ya?

Rama menunduk.

"Iya, Non. Maaf Non, saya tidak sempat memberi kabar..." jawabnya dengan suara pelan, penuh rasa bersalah.

Zee menggeleng. "Tidak apa-apa."

Jawaban itu membuat Rama sedikit terkejut. Dia mengangkat kepalanya, menatap Zee dengan ragu.

Zee melanjutkan, suaranya tetap tenang. "Kamu memilih tetap di sini untuk keluargamu, itu bukan kesalahan."

Hening sejenak..

Kalimat sederhana itu... terasa berat bagi Rama. Matanya kembali memerah.

Zee kemudian melirik ke arah istri Rama. Ayu yang masih duduk di samping anaknya.

"Mbak..." panggil Zee lembut.

Ayu menoleh cepat, sedikit gugup. "Iya, Non..."

Zee menarik napas pelan. "Saya mau menawarkan pekerjaan."

Rama dan Ayu sama-sama terdiam.

"Toko kecil di samping rumah saya, akan mulai dibuka hari ini. Aku butuh seseorang yang bisa menjaga dan menjual barang di sana." lanjut Zee.

Ayu tampak terkejut. "Saya...?" tanyanya ragu.

Zee mengangguk. "Iya, Mbak. Kalau Mbak bersedia.

Ayu langsung menunduk, tangannya saling menggenggam. "Saya... tidak terlalu pandai, Non... Saya takut tidak bisa Non Zee."

"Tidak apa-apa, yang penting juju, sisanya bisa dipelajari." potong Zee lembut.

Hening kembali menyelimuti ruangan. Namun kali ini, bukan karena putus asa. Melainkan karena harapan yang tiba-tiba datang.

Zee lalu menoleh ke arah Rama. "Dan untuk Mas Rama... Saya butuh seseorang untuk bisa memantau kebun buah yang baru dibuka."

Rama seketika menegakkan tubuhnya.

Zee melanjutkan dengan tenang, "Mas juga harus bertanggung jawab di sana. Mengawasi perkembangan tanaman, dan juga mengawasi ibu-ibu yang nantinya akan menanam bibit pohon buah."

Rama terdiam membisu, dia benar-benar tidak menyangka. "Saya...?" suaranya hampir tidak terdengar.

Zee mengangguk. "Karena saya tidak bisa selalu datang ke sana. Dan Pak Ali juga sudah punya tanggung jawab sendiri di rumah." lanjut Zee.

Pak Ali pun, hanya mengangguk pelan, membenarkan ucapan Zee.

"Jadi saya butuh seseorang orang yang bisa dipercaya untuk mengawasi kebun, dan saya rasa itu Mas Rama." jelas Zee.

Kalimat itu membuat Rama benar-benar kehilangan kata-kata.

Dadanya terasa sesak, bukan karena beban. Tapi karena sesuatu yang sudah lama tidak Dia rasakan.

Di percaya. Matanya kembali berkaca-kaca. "Non... Zee, saya tidak tahu harus bilang apa..." suaranya bergetar.

Zee tersenyum kecil. "Kalau Mas mau, itu sudah lebih dari cukup."

Ayu di sampingnya mulai menangis pelan. Namun kali ini, bukan karena sedih. Melainkan karena terharu.

Rama mengangguk dengan cepat. "Saya mau, Non. Saya akan bekerja sebaik mungkin."

Zee mengangguk. "Mulai besok, kamu bisa langsung ke kebun. Nanti saya jelaskan lebih lanjut lagi."

Dia lalu melirik ke arah Ayu. "Dan untuk toko, Mbak Ayu bisa mulai siang ini. Nanti saya akan ajarkan semuanya."

Ayu mengangguk, meski air matanya belum berhenti. "Iya, Neng."

Zee menatap mereka sejenak. Lalu kembali melihat ke arah Reno yang kini tertidur lebih tenang.

Senyum tipis muncul di wajahnya. Mungkin, ini bukan hanya tentang pekerjaan. tapi tentang memberi kesempatan, dan di rumah kecil yang hampir roboh ini... Sebuah awal baru diam-diam mulai tumbuh.

Sebelum Zee dan Pak Ali pamit pulang...

"Oh iya, Mas, Mbak... apakah ini tanah milik kalian?" tanyanya pelan, suaranya terdengar hati-hati namun halus.

"Iya, Non," jawab Rama dan Ayu hampir bersamaan.

Zee mengangguk kecil. Matanya menyapu bangunan di hadapannya, dinding yang mulai rapuh, atap yang tampak tak lagi kokoh, serta lantai yang masih tanah.

Dia mulai menarik napas sejenak l, seperti menimbang kata-kata yang ingin disampaikannya.

"Kalau Mas dan Mbak berkenan..., saya bisa meminjamkan uang untuk memperbaiki rumah ini."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan penuh empati. "Maaf ya, Mas, Mbak. Bukan maksud saya lancang, tapi menurut saya... rumah ini sudah tidak layak untuk tempati."

Suasana mendadak hening. Angin sore berhembus pelan, seolah ikut menunggu jawaban yang akan datang.

Rama dan Ayu saling berpandangan. Ada keraguan yang sempat singgah di mata mereka, namun juga terselip harapan yang perlahan tumbuh.

Rama mengusap tengkuknya, terlihat canggung. "Non... kami ini orang sederhana. Takutnya nanti kami tidak sanggup mengembalikannya," ucapnya jujur.

"Benar, Non. Kami sangat berterima kasih atas niat baiknya... tapi kami tidak ingin merepotkan." tambah Ayu.

Zee tersenyum lembut. Dia menggeleng pelan, mencoba menenangkan kegelisahan mereka.

"Mas, Mbak, jangan berpikir seperti itu. Saya tidak sedang menuntut apa-apa, anggap saja ini bantuan dulu. Soal pengembalian, bisa dipikirkan pelan-pelan. Lagian juga Mas dan Mbak bekerja juga di tempat saya kan." jelas Zee.

Rama terdiam, kata-kata itu terasa seperti beban yang perlahan diangkat dari pundaknya.

Dia kembali menatap rumahnya tempat yang selama ini Dia pertahankan sebisanya, meski tahu kondisinya semakin memprihatinkan

Ayu menghela napas panjang, lalu menatap Zee dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kalau... Memang Non tidak keberatan kami menerimanya, Non juga bisa potong saja dari gaji kita berdua nanti." ucapnya

Rama mengangguk mantap. "Iya, Non. Kami setuju, terima kasih banyak... kami tidak tahu harus membalas bagaimana."

Senyum Zee semakin lebar, namun tetap sederhana. "Tidak perlu membalas dengan apa-apa, Mas. Yang penting keluarga Mas dan Mbak bisa tinggal dengan nyaman."

Dia kemudian melangkah sedikit lebih dekat, seolah sudah mulai memikirkan langkah berikutnya.

"Kalau begitu, biar saya saja yang mencarikan tukang bangunan untuk memperbaiki rumah ini. Saya punya beberapa kenalan yang kerjanya rapi, dan cepat." lanjut Zee.

Rama tampak terkejut. "Wah, kalau itu..., kami semakin merasa tidak enak Non."

Zee mengangguk. "Tenang saja, saya ikhlas kok. Dan kalau ada yang ingin didiskusikan soal bentuk rumah atau perbaikan, kita bisa bicarakan bersama."

Angin sore kembali berhembus, klau ini terasa lebih hangat. Di tengah kesederhanaan itu, sebuah harapan baru perlahan tumbuh bukan hanya tentang rumah yang akan diperbaiki, tetapi juga tentang kehidupan yang mungkin akan berubah menjadi lebih baik.

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
q hadir thor
SyahLaaila: terima kasih kak
total 1 replies
Ida Kurniasari
lanjut thorr😍
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
arniya
penasaran..... update yang sering kak
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Chen Nadari
seandainya ada di dunia nyata ..jadi halu Thorr🤣
SyahLaaila: hehehe🤭
total 1 replies
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!