Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertarik menjadi satpam
...Bab 19...
Mendengar alasan dari Jhon, keempat orang yang tadinya sedang tertawa menjadi serius. Bahkan ada diantara mereka terpaksa menunda untuk mengorek hidungnya yang terasa gatal.
"Wah, ini masalah serius Jhon. Di masa yang serba membutuhkan uang ini, memang ada baiknya kalau kau mencari pekerjaan paruh waktu,"
"Betul itu. Salut sama pemikiran mu yang tidak ingin membuat orang tua mu terlalu susah. Mungkin jika itu aku, aku pun akan pusing sembilan setelah keliling,"
David yang duduk lebih dekat dengan Jhon pun menepuk pundak sahabatnya berusaha untuk menguatkannya. "Kata orang, dari pada tiduran lebih baik duduk. Daripada duduk lebih baik berdiri. Daripada berdiri lebih baik berjalan. Daripada berjalan lebih baik berlari. Artinya, daripada hanya berpikir tanpa tindakan, mengapa kita tidak keluar saja. Di luar mungkin pikiran akan lebih terbuka dan siapa tau ada jalan keluar. Andai tidak menemukan jalan keluar ya setidaknya kita bisa jalan-jalan saja!"
"Benar kata David. Berhubung ketiga orang ini sudah berjanji untuk mentraktir makan, ayo kita keluar!" Ajak Jay Landers sang tuan muda pengusaha peternakan sapi.
Mereka berdiri, lalu menarik tangan Jhon agar ikut berdiri bersama lalu mereka pun meninggalkan kamar yang sudah selesai mereka rapikan.
Saat telah tiba di bawah, mereka melihat ada keramaian. Merasa penasaran, Jay Landers yang memang memiliki sifat ingin tau segalanya pun berusaha untuk mengajak keempat lainnya untuk ikut melihat keramaian tersebut.
Tidak jauh dari kerumunan orang-orang, kelimanya melihat seorang gadis berjalan dengan didampingi oleh dua orang bodyguard dan terus berjalan menuju bangunan di mana bangunan tersebut adalah pusat urusan administrasi kampus. Namun entah mengapa ketika melirik ke arah mereka, seketika gadis yang dikawal oleh dua pengawal tersebut menghentikan langkahnya beberapa detik sebelum melanjutkan langkahnya.
"Eh bukankah itu?!.." David menatap ke arah Jay.
"Tidak salah lagi. Itu adalah nona Bianca Flair," kata Jay Landers.
"Wuuuah. Lebih cantik dari yang ada di dalam foto. Lihat lah bentuk tubuhnya. Aduhai terlalu indah. Bagaikan biola yang baru selesai di servis!" Jasson spontan kehilangan kata-kata dalam pujiannya kepada Bianca Flair yang dia lihat ternyata lebih cantik dari yang dia lihat di dalam gambar.
Keempat dari lima pemuda itu bagaikan tidak memiliki kendali atas mata mereka. Walaupun matanya berair karena tidak berkedip, namun mereka masih saja memaksakan diri untuk melihat punggung Bianca Flair yang semakin menjauh.
Beda lagi dengan Jhon. Dia bukannya menatap ke arah Bianca Flair. Tatapannya malah fokus ke arah pos security di mana seorang lelaki tua tampak depan sangat sigap membuka dan menutup barrier gate ketika ada pengendara yang ingin keluar dan masuk dari dan ke kampus tersebut. Dalam hatinya dia berpikir, "setua itu saja masih giat bekerja. Aku yang masih muda ini mengapa tidak? Bekerja?" di waktu muda ibarat menanam untuk hari tua. Karena kau akan pensiun juga dan ketika kau cukup menabung, itulah hasil panen mu ketika muda. Dan kau akan cukup menikmati hasil yang kau tanam di waktu tenaga mu masih kuat. Anak muda jangan hanya rebahan dan mengharapkan pemberian orang tua. Setiap orang yang lahir punya rejekinya sendiri dan jalan hidupnya sendiri. Tapi kalau kau tidak menjalani dan tidak berusaha untuk mengais rezeki tersebut, maka masa muda mu akan menjadi sia-sia dan di hari tua kau akan penuh dengan penyesalan. Intinya, menanam di waktu muda, dan menuai hasilnya di usia tua. Terlepas dari buruk dan baiknya yang kau tanam.
Menyadari bahwa Jhon tidak memperhatikan ke arah yang sama dengan mereka, Jay Landers pun akhirnya memperhatikan juga ke arah yang dilihat oleh Jhon.
"Kau ingin bekerja paruh waktu menjadi satpam?" Tanya Jay tiba-tiba yang membuat Jhon mengangguk tanpa sengaja.
"Jhon. Kau ini mahasiswa. Kalau kau bekerja di restoran atau kafe sebagai pekerja sampingan mungkin bisa lah. Tapi kau kuliah di sini, dan kau menjadi satpam di tempat yang sama. Apakah kau nantinya tidak akan menjadi bahan tertawaan orang lain. Maksudku pekerjaan satpam itu bukanlah pekerjaan yang tidak baik dan aku tidak mendiskriminasi pekerjaan sebagai seorang satpam. Tapi di lingkungan yang mana semua orang mengukur segala sesuatunya dengan status, kau pasti akan ditertawakan dan di hina. Mengapa kau tidak mencari pekerjaan di luar kampus saja?"
"Kau salah Jay. Aku bukannya terlalu tertarik dengan pekerjaan satpam walaupun aku juga tidak menolong kalau ada lowongan. Yang membuat aku tertarik adalah lelaki tua yang bertugas membuka dan menutup barrier gate itu. Entahlah, sangat sulit untuk dijelaskan. Intuisi ku mengatakan, kalau aku bisa mendekati lelaki tua itu, ada sesuatu yang baik menanti ku," jawab Jhon.
Sebenarnya dia juga tidak tau alasan yang jelas. Tapi ketika dia melihat lelaki tua yang energik seperti itu, dia merasakan bahwa lelaki tua itu memiliki suatu rahasia yang tidak dapat dia jelaskan. Intinya dia sangat tertarik dan sangat ingin berkenalan dengan lelaki tua penjaga pos security tersebut.
"Kau yakin?" Tanya Jay.
Jhon mengangguk dengan anggukan yang sangat pasti. Lalu dia melangkah meninggalkan keempat sahabatnya yang masih terpesona dengan pemandangan di hadapan mereka.
"Eh..," Jay ingin menyusul ketika Jhon meninggalkan mereka tanpa kata. Namun dia juga menyayangkan kesempatan untuk melihat Bianca Flair. Jadilah dia mengabaikan Jhon dan tetap berdiri di sana sambil tidak lagi memperhatikan Jhon yang sudah berjalan beberapa meter jauhnya.
Perlahan namun pasti, Jhon pun akhirnya tiba juga di pos security itu. Tapi dia masih tidak tau harus memulai bagaimana. Apakah harus menyapa atau hanya memperhatikan saja. Dan pada akhirnya satu suara membuatnya menatap.
"Anak muda. Apa kau tertarik untuk menonton pekerjaan ku sebagai tukang buka tutup palang pagar ini?"
"Eh," Jhon terkejut. Dia spontan mengangguk, menggeleng, lalu mengangguk lagi membuat lelaki tua itu hanya tersenyum saja.
"Kemari lah dan duduk di sini!" Lelaki tua itu mengambil satu kursi lalu mempersilahkan Jhon untuk duduk.
Sebenarnya orang tua itu juga sangat tertarik ketika melihat Jhon. Dia beranggapan bahwa pemuda yang terlihat bodoh ini bukanlah pemuda sembarangan. Sebagai orang yang sudah makan asam garam kehidupan lebih banyak, dia tentu memiliki penglihatan dan penilaian yang berbeda dengan kebanyakan orang muda. Sejak melihat Jhon, yang pertama dia perhatian adalah posturnya, Jhon ini memiliki postur tubuh yang proporsional. Berdirinya tegak lurus bagaikan sebatang lembing yang tertancap dengan kuat di tanah. Dadanya tegak, perutnya langsing, lengannya terlihat kokoh dan terlihat bahwa lengan bajunya seolah tidak mampu membalut lengannya yang terlihat berotot. Nafasnya teratur dengan tenang. Matanya tajam dipadu dengan alis yang tegas. Rahangnya kokoh dan ada ketegasan serta kekejaman yang sulit untuk diungkapkan. Jika tidak memperhatikan, Jhon ini seperti orang bodoh yang pendiam. Tapi jika diperhatikan lebih dalam, orang akan merasa minder dan dapat merasakan tekanan yang sangat berat dari pancaran auranya. Terlebih lagi ketika melihat tangannya. Jari jemarinya berukuran lebih besar dari jari jemari orang lain pada umumnya dan memiliki kapalan tebal. Tentunya dengan itu, sudah pasti tangan ini sangat mahir dalam menggunakan berbagai senjata dan sangat terlatih. Tapi yang paling membuat lelaki tua itu terpana adalah ketika melihat cincin berkepala harimau di ibu jarinya. Dia sulit untuk diungkapkan. Tapi, dia tau bahwa cincin itu pastinya sebuah segel perintah ataupun token pengenal yang disederhanakan.
semangat author untuk terus berkarya..../Good/💪
itu adalah angka keramat 18+++