Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Freya menatap pantulan wajahnya di dalam cermin yang ada di kamar mandi. Jemarinya yang lentik mengusap tanda merah yang ada di area dadanya. Seketika, darahnya berdesir. Bayangan kegiatan mesranya bersama Shankara tadi malam berkelebatan. Lalu ia segera menggelengkan kepala. "Aku tidak boleh mengingat-ingat kejadian semalam," gumamnya pelan.
Ketukan pelan di pintu kamar mandi membuyarkan semua ingatan itu. Disusul panggilan berat dan tajam. "Freya!"
Cepat-cepat Freya mengambil bathrobe dan menutupi tubuh polosnya. "Iya, Tuan!" Ia meninggikan suara dan lekas beranjak dari kamar mandi.
Saat ia membuka pintu, Shankara sudah berdiri di depannya, memakai stelan formal. Wangi parfumnya menusuk indra penciuman Freya. "Apakah hari ini kamu jadi pergi ke Cisaat lagi?" tanya Shankara datar.
"Jadi, Tuan. Hari ini aku akan membawa dokumen kontrak dan surat perjanjian, serta membicarakan tentang rencana pembangunan resort kepada Zainal Buana dan keluarganya," jawab Freya apa adanya. Wajahnya menunduk, tak sanggup menatap wajah Shankara yang pagi ini terlihat sangat tampan.
"Bagus. Segera laksanakan tugasmu. Dendam itu harus berakhir sebelum pemilihan kepala provinsi. Zainal Buana harus kalah dalam pemilihan, hartanya habis dan keluarganya hancur, dan ingat ... jangan sampai Lingga Buana menyentuhmu. Kau hanya harus membuat dia tergila-gila padamu, tapi jangan sampai dia berhasil menyentuhmu seujung kuku pun. Mengerti?"
Freya mengangguk kaku. "Aku mengerti, Tuan."
"Angkat wajahmu, Freya. Aku tidak suka jika saat aku bicara ... kau malah menundukkan wajahmu. Aku merasa tidak dihargai." Suara Shankara tajam, penuh intimidasi.
Sontak Freya segera mengangkat wajahnya, "Maaf, Tuan. Ak-" Perkataan itu rumpang, karena Shankara keburu meraup bibir Freya. Menyesapnya bak sebatang rokok, keras dan lama. Membuat Freya berjinjit, karena postur tubuhnya yang jauh lebih pendek dari Shankara.
"Untuk satu minggu ke depan ... aku ada urusan di luar kota. Berhati-hatilah. Jangan pernah pergi sendirian. Ke mana pun kamu pergi, selalu ajak Nova dan Gopal," pesannya setelah ciuman itu usai.
"Baik, Tuan." Sebenarnya, Freya ingin bertanya ke manakah Shankara akan pergi, tapi lidahnya mendadak kelu. Dia sadar diri, bahwa dia bukan siapa-siapa bagi Shankara.
"Aku pergi." Shankara membalik badan.
"Hati-hati, Tuan." Perkataan itu membuat Shankara menggantungkan tangannya yang akan menurunkan gagang pintu. Ia tertegun sejenak, namun akhirnya melanjutkan kegiatannya, menurunkan gagang pintu dan keluar dari kamar Freya tanpa menoleh lagi ke arah gadis itu.
_______
Mobil hitam yang dikemudikan Gopal, salah satu anak buah Shankara berhenti tepat di halaman rumah besar milik Zainal Buana. Udara Cisaat yang sejuk menyambut Freya ketika ia turun, map cokelat berisi dokumen kerja sama digenggam erat di dada Freya.
"Silakan, Nona Freya. Tuan sudah menunggu," ucap seorang asisten rumah tangga, sopan.
Nova tak ikut masuk ke dalam rumah. Ia memilih tinggal di dalam mobil bersama Gopal. Ada hal yang harus ia lakukan.
Di ruang kerja yang luas, Zainal Buana duduk di balik meja kayu jati, ditemani Lingga yang berdiri di dekat jendela besar menghadap perkebunan teh.
"Terima kasih sudah kembali ke Cisaat, Freya," ujar Zainal membuka pertemuan. "Mari kita lihat dokumen kerja samanya."
Freya menyerahkan map itu. "Ini draft final kerja sama pembangunan resort teh dan agrowisata, Pak Zainal. Konsepnya menggabungkan konservasi kebun teh dengan wisata edukasi dan resort eksklusif."
Zainal membaca dengan saksama, sesekali mengangguk. "Menarik. Lalu soal rancangan bangunannya?"
Freya membuka tablet, menampilkan visual desain. "Bangunan utama akan mengikuti kontur lahan. Atap miring ramah iklim, material kayu dan batu alam. Tidak ada gedung tinggi ... semuanya menyatu dengan alam. Area pengolahan teh tetap aktif dan bisa diakses wisatawan sebagai bagian dari pengalaman."
Lingga akhirnya bersuara, nadanya tenang namun penuh minat. "Jadi tamu bisa melihat langsung proses dari daun sampai cangkir?"
"Betul," jawab Freya mantap. "Itu nilai jual utama kita. Teh Cisaat bukan sekadar produk, tapi cerita."
Zainal tersenyum puas. "Kamu memang berbeda, Freya. Kamu tidak hanya menjual bisnis, tapi visi."
Diskusi berlangsung hampir dua jam. Angka, desain, zonasi lahan, hingga proyeksi keuntungan dibahas detail.
Ketika semuanya selesai, Zainal berdiri. "Baik. Kita lanjutkan ke tahap teknis. Untuk hari ini, terima kasih atas kedatangannya, Freya. Tolong jangan pulang dulu. Saya dan keluarga ingin mengajakmu makan siang bersama. Dan satu hal lagi, bagaimana kalau selama kerja sama kita dan pembangunan resort ini, kamu tinggal lah sementara di rumah ini. Atau di rumah kami yang lain?" tawar Zainal sesuai permintaan anak sulungnya.
Freya tak langsung menjawab, ia menimang sejenak. "Ajakan makan siangnya saya terima, Pak Zainal. Tapi untuk tawaran yang kedua ... saya perlu memikirkannya dulu."
"Baiklah." Zainal mengangguk, lalu meninggalkan ruangan itu lebih dulu.
Suasana mendadak lebih sunyi. Lingga menoleh ke Freya. "Kamu belum melihat langsung area yang akan kita bangun, kan?"
Freya menggeleng pelan. "Belum secara menyeluruh."
"Kalau begitu, ayo kita berkeliling," ujar Lingga sambil mengambil kunci mobil. "Kita berputar-putar melihat perkebunan dan para pekerja."
"Ayo." Freya mengangguk lembut.
Sampai di depan mobilnya, Freya memberitahukan bahwa dia akan pergi berkeliling bersama Lingga kepada Gopal dan Nova.
"Apakah perlu aku temani?" Nova bertanya.
"Nggak usah, Bu Nova. Aku nggak akan lama kok."
Freya masuk ke dalam mobil milik Lingga. Lalu tak lama, Lingga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Beberapa menit kemudian, ia memarkirkan mobilnya di pinggir kebun teh.
Lingga turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Freya. "Ayo," ajaknya diiringi senyum ceria.
Mereka berjalan menyusuri hamparan teh hijau yang luas. Angin pegunungan mengibaskan rambut Freya, aroma daun teh segar memenuhi udara. "Tempat ini ... menenangkan," ucap Freya lirih. Ia melirik jalan setapak yang ada di sebelahnya. Jalan itu adalah jalan menuju ke rumahnya dulu. Freya tertegun sejenak.
Lingga menatapnya lekat, lalu tanpa permisi ... lelaki berkaos hitam itu menyelipkan anak rambut Freya ke telinga gadis itu.
Freya spontan menjauhkan kepalanya. Tanpa sadar membulatkan mata ke arah Lingga.
"Eh, sorry. Aku nggak bermaksud kurang ajar. Aku hanya ingin menyelipkan rambutmu yang sepertinya menghalangi pandanganmu," kelitnya berdusta, padahal ia sengaja melakukannya, karena ingin menyentuh anggota tubuh Freya yang membuat hasratnya nyaris tak bisa dikendalikan.
Freya tersenyum kecil. "Oh, nggak papa. Ayo kita lanjut lagi berkelilingnya. Aku ingin menyapa para buruh pemetik teh."
"Iya, ayo." Lingga menyeringai, batinnya mendesis. "Tenang, sabar. Aku tidak boleh grasak-grusuk. Jangan sampai nafsu menumpulkan otakku. Freya bukan Galuh. Jika aku nekat memperkosa Freya ... aku yakin ... aku pasti akan masuk penjara. Freya kaya raya, sedangkan Galuh ... hanya gadis miskin yang hina. Santai ... aku harus menggunakan cara halus untuk meniduri Freya dan membuat dia tak bisa pergi dariku." Seringai demi seringai menghiasi bibir Lingga, tentunya tanpa sepengetahuan Freya.
Langkah mereka menyusuri kebun teh mulai melambat. Kabut tipis turun perlahan, menyelimuti hamparan hijau yang luas. Lingga berjalan sedikit lebih dekat dari sebelumnya, terlalu dekat.
Awalnya hanya punggung tangannya yang tak sengaja menyentuh lengan Freya. Membuat gadis itu menegang.
Freya tak ambil pusing, ia kembali melanjutkan langkahnya. Menyapa beberapa pemetik teh, yang kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang dulu mengata-ngatainya, memaki dan memojokkannya. Serta mengabaikan musibah yang menimpa dirinya dan keluarganya.
Para pekerja itu menunduk hormat, dan jujur ... Freya ingin sekali berteriak tepat di telinga ibu-ibu itu bahwa dia adalah Galuh. Gadis yang dulu mereka perlakukan layaknya hewan.
"Aden ... Neng geulis ini calon istrinya Aden Lingga ya?" celetuk seorang ibu yang dulu menghina Galuh dengan sebutan gadis perek.
"Bukan, Bu." Freya menjawab cepat. "Saya rekan bisnisnya Mas Lingga."
"Iya, ibu-ibu ... gadis cantik ini namanya Freya. Dia ini investor yang akan bekerja sama dengan Bapak saya untuk membangun resort tea dan agrowisata. Supaya tempat tinggal kita ini semakin dikenal oleh orang luar yang nantinya akan banyak para pelancong dari luar daerah, luar kota dan mungkin luar negeri. Doakan ya ibu-ibu ... supaya kerja sama kami dengan Freya berjalan lancar dan berhasil."
"Aamiin!" Para pekerja kompak mengamini.
Freya dan Lingga kembali melanjutkan langkahnya, menyusuri perkebunan.
Tepat di lokasi yang agak sepi, Lingga menahan pergelangan tangan Freya. "Berhenti dulu di sini, Freya."
Gadis itu menoleh, dan melepaskan cengkeraman tangan Lingga di pergelangan tangannya. "Ada apa, Mas Lingga?"
Lingga menggigit bibir bawahnya. "Maaf kalau aku terlalu lancang, tapi aku sungguh penasaran ... apakah kamu sudah punya kekasih?"