"Arina Andrews!" Panggil seorang guru saat Arin hendak berlalu.
Arin lalu berbalik dan mendapati jika orang yang memanggil dirinya adalah sang guru. Orang yang membuat dirinya merasa hidup. Namun Arin terkejut saat mengetahui gurunya hendak menikah. Baginya Ibu Sarah adalah ibu baginya.
"Ibu guru tidak akan melupakan sayakan ?" Tanya Arin...
Ibu Sarah hanya terdiam, dia lalu mengelus kepala anak muridnya itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jauhadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Bab 1
Sesampainya di panti asuhan, Arina langsung membersihkan badannya dengan mandi dan mengganti pakaiannya.
Setelah merayakan ulang tahun dadakan yang di adakan oleh teman sekolahnya, Arina berjalan gontai ke arah kasurnya di panti asuhan. Sungguh hari yang melelahkan. Menjadi seorang Arina Andrews memanglah melelahkan dan menguras tenaga.
Siapa yang menyangka bahwa selain Rania ternyata masih ada saja orang lain yang peduli pada dirinya.
Selo, Bagas dan Rania adalah tiga orang yang sangatlah periang. Tapi siapa laki-laki yang hanya mengatakan kejutan itu? Arina penasaran. Tetapi ia tepis jauh-jauh rasa penasarannya itu. Karena ia hanya akan memilih untuk menyelesaikan tugas saja dari pada laki-laki tidak jelas tadi.
Arina lalu duduk di samping tempat tidurnya, dan mengerjakan tugas sekolahnya. Yang pastinya sangatlah banyak dan harus segera diselesaikan.
Sampailah pada saat adzan magrib. Arina bergegas membasuh dirinya dengan air wudhu dan segera pergi untuk melaksanakan shalat berjamaah.
Magrib begitu sejuk, membuat Arina merasakan kebahagiaan yang sangatlah dia nikmati. Dia bukan tidak bisa bahagia, hanya saja Arina perlu ruang dalam hatinya untuk memahami arti sebenarnya dari kehidupan.
Dia hanya perlu kehadiran dan kasih sayang dari seorang yang lebih tua, seseorang yang dapat menyayanginya sebagai seorang putri yang selayaknya dicintai.
Bagaimana bisa Arina mengerti artinya sebuah kasih sayang orang tua, jika dia saja belum pernah merasakan hal itu.
Arina duduk bersila lalu menengadahkan tangannya dan berdoa dalam hati, dia tahu kalau Allah SWT itu Maha Mendengar bahkan suara hati sekalipun.
Setelah selesai shalat, dia pun ingin segera kembali ke dalam kamarnya. Arina lalu kembali belajar.
Tiba-tiba perut Arina merasa lapar, diambilnya roti kemasan dari lacinya. Lalu dia makan roti itu. Setelah memakan roti itu di lanjutkannya belajarnya.
"Hem... Setelah ini aku tidak bisa terus berada di panti asuhan ini. Aku yang sudah beranjak dewasa tidak mungkin terus tinggal di panti asuhan ini. Dan lagi, banyak anak-anak baru yang masuk. Panti hanya akan semakin terbebani dengan adanya kami yang sudah beranjak dewasa ini. Apa aku akan kehilangan Rania? Dia putri dari nyonya Menin dan mereka punya rumah yang dekat dengan panti asuhan. Aku tidak mungkin akan membebani mereka dan tinggal di rumah mereka. Dan juga, aku tidak punya siapapun untuk tinggal bersama. Aku berharap. Setelah ini aku bisa hidup mandiri...." Batin Arina.
Jelas sekali terlihat jika Arina menghawatirkan kehidupan dirinya kedepannya. Dia sadar jika dirinya hanyalah anak panti, dan dari dulu dia selalu menolak di adopsi, karena dia yakin suatu saat dirinya bakal di jemput oleh ayahnya untuk di bawa pulang kembali. Tapi sampai kapan dia harus menunggu? Arina tidak punya banyak waktu. Harapannya hancur karena surat yang ditulis oleh ayahnya yang di taruh di sisinya saat dia baru masuk ke tempat ini. Arina tidak mau membohongi hatinya.
Semakin hari semakin menyakitkan dan dia sudah tidak mampu lagi untuk berharap.
Arina yang letih pun memutuskan untuk meneruskan hidupnya tanpa harapan bisa bertemu orang tua kandungnya.
Arina bahkan sampai membenci hari ulang tahunnya, karena di hari itu juga, dia di telantarkan oleh ayah kandungnya sendiri.
Setidaknya dia berharap dia tidak pernah membaca surat yang ditulis oleh ayahnya.
Kira-kira beginilah isinya...
Untuk Putriku Arina Andrews memanglah putri ayah yang ayah cintai.
Arina maafkan ayah, karena ayah tidak dapat merawat dirimu. Arina saat ayah menulis surat ini ayah sudah tidak punya apa-apa lagi untuk di pertahankan kecuali kamu.
Namun Sayangku Arina.
Maafkan Ayah, karena kamu masih begitu kecil. Ayah tidak sanggup membayar untuk kebutuhan ASI untuk kamu.
Maafkan Ayah mu ini Arina.
Tetapi kakakmu Tion, ada bersama ayah.
Arina, ayah minta maaf padamu, karena ibu sudah meninggal saat melahirkan kamu dan perusahaan ayah jatuh bangkrut. Sehingga ayah memiliki banyak sekali hutang.
Arina sayang.....
Ayah berjanji, jika ayah telah bangkit kembali, ayah pasti akan menjemput kamu sayang.
Salam cinta dari Ayah...
•••
Arina yang merasa kesal dan merasa dirinya telah di berikan harapan palsu, lantas membakar kertas yang telah di tulis oleh ayahnya. Dia kecewa, kenapa seorang ayah tega meninggalkan anak perempuannya di panti asuhan? Padahal Tion Andrews masih berada di pelukan ayahnya. Dia menunggu untuk bangkit baru menemui Arina? Heh Apakah Arina begitu bodoh selama ini percaya saja dengan sepucuk surat yang belum tentu benar isinya itu? Arina menangis. Menangisi nasibnya yang buruk, dia bukan tidak bersyukur, dia hanya merasa, kenapa ayahnya meninggal dia di panti asuhan? Kenapa Tion Andrews masih bisa berada di pelukan ayahnya. Kenapa dia tidak bisa di dekat ayahnya?
Semua pertanyaan itu mengalir di kepala Arina.
Dia menangis, dia memang menangis. Tapi dia harus bagaimana?
Dalam kebingungan Arina, seseorang mengetuk kamar yang dia tempati.
Tok..tok..tok...
"Masuklah.." Kata Arina sambil mengusap air matanya.
Orang yang masuk ke dalam kamar Arina, tak lain adalah Ibu Sarah. Guru itu pun mengelus punggung Arina, tetapi Arina menepisnya.
"Arina ?" Sarah tampak kaget dengan respon yang Arina berikan terhadap dirinya. Dia tak menyangka Arina begitu menjauh dari orang lain. Setidak percaya itu dia pada orang lain.
"Arina, kamu tidak perlu menyembunyikan rasa sedihmu lagi! Kamu tidak sendirian..." Kata Sarah pada Arina.
Arina masih terdiam dia terus saja diam.
"Arina Andrews!" Panggil seorang guru saat Arin hendak berlalu.
Arin lalu berbalik dan mendapati jika orang yang memanggil dirinya adalah sang guru. Orang yang membuat dirinya merasa hidup. Namun Arin terkejut saat mengetahui gurunya hendak menikah. Baginya Ibu Sarah adalah ibu baginya.
"Ibu guru tidak akan melupakan sayakan ?" Tanya Arin. Ibu Sarah hanya terdiam, dia lalu mengelus kepala anak muridnya itu.
Arina memang tidak mengenal lama Ibu Sarah, hanya saja. Dia sudah menganggap Ibu Sarah sebagai ibunya sendiri. Begitu juga dengan Ibu Sarah yang telah menganggap Arina sebagai putrinya.
Arina mendengar dari teman satu pantinya jika Ibu Sarah mungkin saja akan menikah. Arina yang sudah tidak dapat berpikir dengan lurus langsung membuat kesimpulan jika Ibu Sarah sudah akan menikah dalam waktu dekat ini.
"Saya belum ingin menikah! " Jawab Ibu Sarah..." Lagi pula kalau pun saya menikah, saya tidak akan membiarkan kamu sedih Arina. Saya menyayangi kamu!" Kata Ibu Sarah lalu memeluk Arina.
Arina kembali menangis, dan air matanya pun seolah mengalir deras. Dia tidak tahan lagi, setidaknya biarkan dia menangis itu sudah cukup.
"Tuhan terimakasih telah menghadirkan Ibu Sarah untukku, walau hanya saat ini saja, walaupun hanya sebentar saja, Tuhan aku bersyukur atas berkah yang telah Engkau beri kepada hamba." Ucap Arina dalam hati.
Malam semakin larut, Arina pun tertidur dalam pelukan hangat dari Ibu Sarah. Mereka berdua tidur dalam satu ranjang kecil bersama-sama.
∆∆∆
Okey.. Selamat malam semuanya.... Semoga mimpi indah 🌙🌌 Jangan begadang kayak kelelawar ya.. Hahaha 🦇