🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ujung malam
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Di dalam mobil yang melaju tenang, hanya suara mesin dan gesekan ban dengan aspal yang terdengar.
Alexa menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Bayangan tentang Yura melekat di benaknya, berulang-ulang, seperti potongan adegan yang menolak hilang.
Tiba-tiba—
Ting.
Suara dentingan halus terdengar dari sisi kursinya.
Alexa menoleh.
Sebuah ponsel bergetar pelan di jok kulit hitam, tepat di sampingnya. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk.
Alis Alexa berkerut tipis.
Tanpa ragu, tangannya meraih benda tersebut. Baru saja layarnya ia angkat, pesan itu kembali muncul, kali ini terbaca jelas.
"Ku harap kau mendengarkan penjelasan kami dulu, baru—"
Kalimat itu terputus. Namun satu kalimat singkat itu sudah cukup untuk membuat rahangnya mengeras.
Sorot matanya berubah dingin. Tanpa menoleh ke arah sopir, Alexa bersuara rendah namun tegas, "Putar balik."
Sopir langsung menangkap perubahan nada itu. "Baik, Tuan."
Mobil segera melambat, lalu berbelok haluan di persimpangan terdekat. Lampu kota kembali bergerak mundur di balik kaca jendela.
"Ponselnya tertinggal," lanjut Alexa singkat. "Kita kembali ke tempat Yura."
"Baik, Tuan."
Alexa menurunkan pandangannya kembali ke ponsel itu. Layarnya masih menyala, menunggu respons yang tak kunjung datang.
Ia mengunci layar tanpa membukanya. Tangannya menggenggam ponsel itu lebih erat dari yang ia sadari.
Mobil melaju kembali menuju tempat yang baru saja mereka tinggalkan.
......................
Berjalan menyusuri sisi jalan dengan langkah yang tak lagi teratur. Lampu-lampu jalan berdiri jarang, menyisakan bayangan panjang yang memanjang di aspal. Malam terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah kota ikut menahan napas bersamanya.
Angin malam menyentuh wajahnya, dingin, namun tidak cukup untuk menenangkan dadanya yang terasa sesak.
Ia berhenti.
Di seberang jalan, sebuah minimarket kecil masih menyala. Lampunya putih terang, kontras dengan gelap di sekitarnya. Tanpa banyak pikir, Yura menyeberang.
Pintu otomatis terbuka dengan bunyi pelan.
Di dalam, aroma pendingin ruangan menyambutnya. Seorang kasir mengangguk singkat, tak bertanya apa pun. Yura melangkah ke rak minuman, tangannya bergerak hampir tanpa sadar. Satu kaleng. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.
Tiga kaleng minuman dingin berpindah ke tangannya.
Ia membayar cepat, mengucap terima kasih seadanya, lalu keluar lagi.
Di depan minimarket, ada dua kursi plastik dan sebuah meja kecil. Yura duduk di sana, punggungnya sedikit membungkuk. Kantong plastik berdesis pelan saat ia mengeluarkan satu kaleng.
Tangannya gemetar ketika membuka tutupnya.
Pssst...
Suara itu terdengar terlalu nyaring di telinganya.
Yura mengangkat kaleng itu, menatap cairan di dalamnya sejenak. Bayangan wajah Rose melintas. Senyum Rose yang selama ini menenangkannya. Kata-kata Rose yang selalu memberi harapan.
Dan perut Rose. Ternyata telah berisi anak Rendra.
Dadanya kembali mengencang. "Bodoh…" gumamnya lirih, entah pada dirinya sendiri atau pada semua yang ia percayai.
Yura menenggak minuman itu dalam satu tarikan panjang. Dingin menyentuh tenggorokannya, membuatnya sedikit terbatuk.
Namun ia tidak berhenti. Ia meneguk lagi, seolah berharap cairan itu bisa meluruhkan rasa sakit yang mengikat dadanya.
Semoga setelah ini perasaanku membaik, pikirannya berbisik lemah.
Namun kenyataannya, rasa pahit justru semakin terasa. Matanya memanas. Pandangannya kabur. Yura menunduk, siku bertumpu di lutut, kaleng dingin masih tergenggam di tangannya.
Yura mengangkat kaleng kedua, kemudian yang ketiga, tanpa benar-benar memperhitungkan jeda di antaranya. Setiap tegukan terasa semakin besar dan tergesa, seolah ia sedang berpacu dengan pikirannya sendiri.
Rasa dingin itu tidak lagi memberi kesegaran. Ia berubah menjadi beban yang mengendap di perut, merambat naik ke kepala, membuat pandangannya berputar perlahan. Kursi plastik di bawah tubuhnya pun terasa semakin tidak stabil.
Ketika kaleng terakhir terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi dentingan pelan, Yura sudah tidak memperdulikannya.
Kepalanya tertunduk, lalu perlahan ia menyandarkan dahi dan pipinya di atas meja kecil di hadapannya.
Napasnya berat, tubuhnya limbung.
Kesadarannya memudar, terseret oleh kelelahan yang menumpuk dan perasaan yang terlalu penuh untuk ia tanggung seorang diri. Tidak lama kemudian, ia benar-benar terlelap.
Lampu minimarket mulai diredupkan sebagian. Jarum jam dinding telah menunjukkan waktu tutup. Seorang kasir keluar melalui pintu samping sambil membawa kantong sampah hitam, hendak membuangnya ke tempat penampungan di luar.
Langkahnya terhenti. Pandangan kasir itu tertuju pada kursi di bagian depan minimarket.
Seorang gadis tampak tertidur di sana, kepalanya bersandar di atas meja kecil, rambutnya menutupi sebagian wajah. Di lantai, tiga kaleng kosong tergeletak tanpa susunan.
Alis sang kasir mengernyit. "Nona?" panggilnya pelan sambil mendekat. "Nona, bangun."
Tidak ada jawaban.
Ia menyentuh bahu Yura dengan hati-hati. "Nona, minimarket ini akan tutup. Tidak aman bila Anda tidur di sini sendirian."
Yura tetap tidak bereaksi. Napasnya terdengar teratur, tetapi tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjaga.
Kasir itu menepuk bahu Yura sedikit lebih kuat. "Nona, silakan bangun. Sebaiknya Anda segera pulang."
Yura akhirnya bergerak. Kepalanya terangkat sedikit, lalu kembali jatuh ke meja. Matanya terbuka setengah, kosong, tanpa fokus.
"Iya…" gumamnya lirih dengan suara serak. "Sebentar lagi… saya pulang…"
Ia berusaha mengangkat kepalanya, namun tubuhnya kembali menyerah. Kepalanya miring dan kembali tertumpu di atas meja. Matanya tertutup, napasnya kembali melembut.
Kasir itu terdiam, raut wajahnya berubah semakin khawatir. "Nona… Nona?" panggilnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih waspada. "Nona… Nona?" panggil kasir itu sekali lagi, nadanya kini lebih tegang.
Pada saat yang hampir bersamaan, sebuah mobil hitam melambat di sisi jalan seberang minimarket.
"Tuan," ucap sang sopir sambil mengurangi kecepatan, matanya menatap ke depan dengan saksama. “Bukankah itu Nona Yura?"
Alexa yang sejak tadi bersandar kaku langsung menegakkan tubuhnya. Pandangannya mengikuti arah pandangan sang sopir, menembus kaca jendela.
Dan detik berikutnya, dadanya mengeras.
Di bawah cahaya putih minimarket, seorang gadis duduk tertidur di kursi plastik, kepalanya bersandar di atas meja kecil. Seorang pria berdiri di hadapannya, tampak membangunkan dengan raut khawatir.
Itu Yura.
"Berhenti," ucap Alexa cepat, nadanya dingin namun tajam.
Sopir segera menginjak rem dan menghentikan mobil di pinggir jalan.
Belum sepenuhnya mobil berhenti, Alexa sudah membuka pintu. Tatapannya tidak lepas dari sosok Yura yang tampak rapuh, nyaris tak berdaya.
Ada sesuatu yang menekan dadanya.
Cemas.
Ia sangat ingat betul telah mengantar Yura ke kosannya. Gadis itu seharusnya sudah berada di dalam kamar, aman, bukan tertidur sendirian di depan minimarket, dengan kaleng-kaleng kosong berserakan di lantai.
Langkah Alexa panjang dan cepat saat menyeberang. Sorot matanya mengeras ketika ia semakin dekat dan mencium bau minuman yang menyengat samar.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺