NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 KHSC

Pukul 10 pagi, ruang konferensi pers Bhaskara Corp yang biasanya hanya digunakan untuk pengumuman akuisisi besar, kini dipenuhi oleh puluhan wartawan dari media keuangan, bisnis, dan terutama, media gosip. Ketegangan terasa sangat pekat. Berita yang disebar Larasati telah menjadi headline di seluruh Jakarta, meragukan integritas Juna dan latar belakang Nares.

Juna dan Nares berjalan masuk. Juna mengenakan setelan jas abu-abu, memancarkan kekuatan korporat, tetapi ia memegang tangan Nares dengan erat, menampilkan keintiman personal. Nares, dalam setelan krem yang anggun, tampak tenang, tetapi matanya memancarkan tekad yang mendalam.

Juna berdiri di mimbar, Nares berdiri sedikit di belakangnya. Rio, di samping mereka, tampak sangat khawatir.

“Selamat pagi. Saya, Arjuna Bhaskara, telah memanggil konferensi pers ini untuk menanggapi tuduhan keji yang disebarkan kemarin, yang tidak hanya mencemarkan nama baik istri saya, tetapi juga mengancam fondasi Bhaskara Corp,” Juna memulai, suaranya dalam dan penuh otoritas.

Juna menatap kamera. “Sebelum saya mengambil tindakan hukum terhadap individu yang tidak bertanggung jawab, saya akan menyerahkan panggung kepada istri saya. Karena satu-satunya cara untuk melawan kebohongan adalah dengan kebenaran mutlak”

Juna mundur, memberikan ruang penuh kepada Nares.

Nares maju ke mimbar. Cahaya kamera menyorotnya, tetapi ia tidak berkedip. Ia menarik napas panjang, lalu memulai.

***

“Terima kasih atas kehadiran Anda semua. Nama saya Nareswari Kirana, istri sah Arjuna Bhaskara dan Kepala Divisi Sustainability Bhaskara Corp,” Nares memulai, suaranya bergetar di awal, tetapi kemudian menjadi mantap.

“Beberapa jam terakhir, beredar kabar yang sangat menyakitkan tentang masa lalu saya. Kabar itu menyebutkan bahwa saya menyembunyikan masa lalu yang ‘kotor’, bahwa saya adalah anak dari seorang penjahat dan… dan seorang wanita yang kurang beruntung.”

Nares berhenti sejenak, menelan ludah. Juna berdiri di belakangnya, tangannya menyentuh punggung Nares, memberikan kekuatan.

“Saya di sini bukan untuk membantah tuduhan itu, tetapi untuk mengakui kebenaran itu. Ya, saya dibesarkan di panti asuhan. Ya, orang tua kandung saya adalah orang-orang yang menjalani hidup yang sulit, hidup yang tidak saya pilih. Mereka berjuang dengan cara mereka sendiri, dan mereka berdua telah meninggal dunia.”

“Saya tidak memilih latar belakang itu. Saya tidak memilih nasib itu. Tetapi saya memilih untuk berdiri di sini hari ini. Saya memilih untuk menjadi seorang sarjana, menjadi seorang Muslimah yang taat, dan saya memilih untuk menjadi istri yang setia bagi suami saya.”

Nares menatap kamera, air mata mulai menggenang, tetapi ia tidak membiarkannya jatuh. “Ketika saya bertemu dengan Bapak Arjuna, kami memulai hubungan berdasarkan kontrak. Kontrak bisnis yang dingin, tanpa emosi. Tetapi dalam perjalanan ini, saya tidak hanya menemukan cinta. Saya menemukan integritas. Saya menemukan bahwa masa lalu saya tidak lebih penting daripada kejujuran saya hari ini.”

“Saya katakan kepada Anda semua: Saya bangga pada diri saya yang sekarang. Saya bangga pada panti asuhan yang membesarkan saya. Dan saya tidak akan pernah membiarkan masa lalu saya menjadi senjata untuk menyerang suami saya, atau perusahaan ini.”

Seorang wartawan berteriak, “Nyonya Nareswari, apakah Anda mengakui Anda menipu Tuan Juna mengenai latar belakang Anda?”

“Saya tidak pernah menipu. Saya hanya tidak pernah merasa perlu untuk menceritakan kisah yang menyakitkan itu, karena itu tidak mendefinisikan siapa saya,” jawab Nares. “Tetapi sekarang, kisah itu harus diceritakan. Saya menantang siapa pun yang menuduh saya, untuk menunjukkan satu saja kesalahan finansial, satu saja kebohongan yang pernah saya lakukan sejak saya bergabung dengan keluarga Bhaskara. Anda tidak akan menemukannya.”

***

Juna melangkah maju, berdiri sejajar dengan Nares. Ia mengambil mikrofon, matanya memancarkan api emosi yang tulus.

“Cukup. Sekarang giliran saya,” kata Juna. “Saya, Arjuna Bhaskara, adalah pria yang dibesarkan di lingkungan yang menilai manusia berdasarkan harta dan garis keturunan. Saya dulu percaya bahwa cinta adalah ilusi dan pernikahan adalah kontrak.”

Juna meraih tangan Nares, memegangnya erat-erat. “Nareswari Kirana datang ke hidup saya sebagai sebuah kontrak, tetapi dia tinggal sebagai fondasi. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak mencari uang saya, tidak mencari kekuasaan saya, tetapi mencari hati saya.”

“Ketika saya mengetahui masa lalunya—yang Anda sebut ‘kotor’—saya menyadari betapa munafiknya saya. Saya dibesarkan dalam kekayaan, tetapi saya diselimuti kebohongan dan pengkhianatan. Nareswari dibesarkan dalam kesulitan, tetapi ia diselimuti kejujuran dan keimanan.”

Juna menatap Nares dengan penuh cinta. “Mulai sekarang, siapa pun yang berani menyebut istri saya ‘aib’, ‘anak pelacur’, atau ‘kriminal’ di hadapan publik, akan menghadapi tuntutan hukum maksimal dari Bhaskara Corp. Saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun mencemarkan nama istri saya yang telah membersihkan perusahaan ini dari Gunawan Bhaskara dan korupsinya.”

“Saya memilih Nareswari bukan meskipun masa lalunya, tetapi karena keberaniannya untuk menghadapi masa lalunya dan membangun masa depan yang bersih,” Juna menegaskan.

Juna kemudian menoleh ke Nares, dan di hadapan semua kamera, ia mencium Nares. Ciuman itu panjang, tulus, dan penuh makna—sebuah pernyataan cinta yang final dan tak terbantahkan.

***

Konferensi pers itu menjadi viral. Publik, yang awalnya skeptis dan haus akan gosip, kini tersentuh. Media tidak lagi fokus pada asal-usul Nares, tetapi pada kisah cinta yang jujur dan keberanian Juna untuk menantang nilai-nilai status sosialnya sendiri.

Juna dan Nares menerima gelombang dukungan dari media sosial dan bahkan dari beberapa dewan direksi yang menghormati kejujuran mereka. Saham Bhaskara Corp melonjak lagi, karena publik melihat Juna sebagai pemimpin yang autentik dan memiliki hati nurani.

Sementara itu, Larasati, yang menyaksikan konferensi pers itu di rumahnya, hancur berkeping-keping. Serangannya yang seharusnya menghancurkan Nares justru menjadi katalisator bagi cinta dan pengakuan publik Juna. Larasati menyadari, ia telah kalah total. Ia tidak hanya kehilangan Juna, ia juga kehilangan martabatnya.

Juna mengirimkan Rio untuk menemui Larasati. Rio menyerahkan surat perintah penahanan yang ia dapatkan dari Kepolisian atas nama Gunawan.

“Nyonya Larasati, Bapak Juna tidak menuntut Anda. Tapi Bapak Gunawan, yang sangat marah karena Anda membongkar masalah korupsi di Pulau Seribu, telah melaporkan Anda atas pencemaran nama baik. Anda telah menjadi senjata yang kembali menyerang tuannya,” kata Rio, dengan nada profesional yang dingin.

Larasati menyadari, ia telah dimanfaatkan oleh Gunawan dan kini ditinggalkan sendirian. Ia tidak bisa lagi bersembunyi.

***

Malam itu, Juna dan Nares kembali ke rumah baru mereka yang telah selesai direnovasi. Rumah itu terasa hangat, berbeda dengan penthouse lama Juna.

Mereka duduk di ruang tamu, lelah, tetapi puas.

“Kita berhasil, Juna. Kita memenangkan perang ini dengan kejujuran,” kata Nares, bersandar di bahu Juna.

“Ya. Tapi kita hampir kehilangan yang paling berharga. Aku minta maaf, Nares, kau harus melalui semua ini,” kata Juna.

“Tidak, Juna. Ini adalah bagian dari takdir kita. Jika Gunawan tidak menyerangku, aku tidak akan pernah berani menghadapi masa laluku. Kau tahu? Sekarang aku merasa sangat bebas. Tidak ada lagi yang bisa mereka ambil dariku,” kata Nares, senyumnya tulus.

Juna memeluk Nares. “Aku mencintaimu, Nareswari. Dan aku akan pastikan, masa depan kita hanya dipenuhi dengan kebahagiaan dan kejujuran.”

Nares mendongak, matanya bersinar. “Aku juga mencintaimu, Juna.”

Saat mereka berdua berbagi momen keintiman itu, Nares tiba-tiba merasakan pusing ringan dan mual. Ia melepaskan pelukan Juna, berlari ke kamar mandi.

Juna panik, mengikuti Nares. “Kau tidak apa-apa, Nares?”

Nares keluar dari kamar mandi, wajahnya pucat, tetapi matanya memancarkan kejutan dan kebahagiaan.

“Juna… Aku rasa… pengumuman kita tentang ‘program keturunan yang ambisius’ di konferensi pers pertama… itu mungkin… akan segera terwujud,” bisik Nares, air mata haru.

Juna membeku. Ia menatap Nares, lalu memeluknya erat-erat, air mata bahagia menggenang di matanya yang dingin. Mereka telah memenangkan pertempuran korporat, tetapi kini mereka memasuki babak baru: membangun keluarga yang sesungguhnya.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!