"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan
*
*
*
Degup jantung Andreas berpacu, seiring berlalunya mobil atasannya itu. Terbayang olehnya, bagaimana tatapan Pak Setyo, tatapan Isana, dan juga kedua orang tuanya.
Kali ini, yang mempergoki adalah Pak Setyo, tapi bagaimana jika selanjutnya keluarganya yang tahu. Juga dengan istrinya itu.
Mengingat, tatapan Isana yang begitu menyelidik saja membuatnya begitu ciut. Apalagi sekarang, justru atasannya yang menangkap basah, dosa yang ia lakukan.
Andreas terdiam, kemudian mengacak rambutnya sendiri dengan begitu frustasi.
Wangi vanila yang ditinggalkan Risa, kemarin-kemarin begitu menyenangkan. Namun kini, seperti sedang mengejek dirinya. Menyudutkannya tanpa memberi izin untuk membela.
Andreas mengusap wajahnya dengan kasar. "Bodoh!" umpatnya pada diri sendiri. Ia menggenggam stir begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Menyalakan mesin, kemudian pergi meninggalkan parkir.
Ia lajukan kendaraannya menuju rumah. Ia berfikir untuk membersihkan diri, dan mencari tenang dari segala kesalahan dan kekalahan yang ia buat sendiri.
Sepanjang jalan, ia terus merutuki diri. Penyesalan yang teramat dalam, selalu menegur sudut hatinya dengan begitu dalam.
Sampai dirumah,
Andreas langsung menuju kamar mandi. Tanpa melepas pakaian ia biarkan guyuran shower membasahi seluruh tubuhnya. Seolah dengan cara itu, ia bisa membersihkan perbuatan kotor yang sempat ia lakukan bersama Risa.
Namun, sentuhan lembut Risa, ucapan lembut Risa, juga dengan tawa manjanya berkali-kali menerobos masuk kedalam akalnya.
Silih berganti dengan ingatan, sikap dingin dan pengabaian yang ia lakukan untuk Isana. Wajah cantik alami, tanpa polesan make up berlebih yang dulu ia kagumi itu kini nampak samar. Yang teringat jelas adalah polesan warna merah dibibir Risa yang beberapa kali mendarat lembut dibibirnya sendiri.
Andreas tertunduk, tetesan-tetesan air dari ujung-ujung rambutnya ia biarkan begitu saja. Berharap alirannya mampu menghapus jejak dosa.
Hampir dua jam ia berada dibawah guyuran shower. Tubuhnya menggigil, dengan ujung-ujung tangan memutih dan sedikit keriput.
Lantas ia bangkit, menyabuni tubuhnya dengan gerakan kasar dan tergesa-gesa di beberapa bagian. Menuangkan shampo berkali-kali ke rambut yang panjangnya tidak seberapa. Ia guyur kembali tubuhnya, dengan aliran shower, setelah dirasa cukup baru ia pergi dari tempat itu. Melilitkan handuk putih, yang biasanya selalu Isana siapkan setelah ia mandi.
Keluar dari kamar mandi, Andreas di kejutkan notifikasi pesan.
Seketika dadanya bergemuruh, ketakutan menyergap. Ia yakin sekali, kalau pesan itu bukan dari Isana taupun Risa. Melainkan Pak Setyo—Senior Directur, atasan yang selalu tegurannya ia abaikan.
< Datang ke kantor, sekarang juga! Saya tunggu, sampai jam satu siang. Kalau kamu terlambat semenit saja, surat pemberhentian mu akan saya tanda tangani saat itu juga >
Andreas menatap pesan itu dengan nanar. Suara bedebum seketika menyesakkan dadanya. Tangannya bergetar, hampir saja ponselnya terlepas.
Kali ini, teguran atasannya itu tidak lagi bisa ia abaikan. Seperti kemarin-kemarin saat menegurnya untuk segera pulang, menemani proses persalinan istri bukan malah nongkrong di kafe atau restoran.
Andreas segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Menggesek nya dengan keras, tanpa peduli dengan rasa perih yang ditimbulkan.
Ia mengambil lipatan kemeja dilemari. Kemudian tertegun, ketika melihat baju-baju Isana yang cuma sedikit. Berbeda sekali dengan yang ia lihat di lemari kamar Risan. Bahkan, di antara baju-baju Isana itu kebanyakan adalah baju-baju lama saat ia belum menikahinya. Andreas ingat, ketika tatapannya jatuh pada gamis bermotif bunga-bunga kecil yang dulu sering dipakai Isana, saat pertama kali ia melamar.
Andreas mengusap wajah, "Bahkan, aku tidak pernah memperhatikannya. Maafkan aku ... Isana ..." lirihnya, sembari mengusap gamis tersebut.
Setelah memakai setelan kemejanya, tidak menunggu lama, Andreas melesat menuju mobil. Kemudian memacu kendaraannya dengan kecepatan rata-rata.
Ia tidak ingin terlambat, namun tidak bisa juga tergesa-gesa. Hatinya begitu panik, namun sebisa mungkin ia redam. Menguatkan hatinya berkali-kali, untuk membangun keberanian menemui Pak Setyo yang sudah memberinya peringatan.
***
Isana masih membisu, ketika dokter Syarifah datang ke ruang perawatannya. Aroma parfum Vanila dan tanda merah dileher Andreas berputar-putar dikepala. Juga dengan sikap dingi dan cueknya selama ini, terangkai begitu saja tanpa ia minta.
"Isa, selamat ya ... Kamu hebat, sudah melewati masa kritismu. Dan lihatlah, bayi mungil ini ... lucu dan menggemaskan kan?" Ucap Syarifah, sembari mendekatkan Ghazi.
Isana memaksakan senyum, menerima bayi mungil dari tangan dokter Syarifah.
"Haus ya? Kamu mau nyusu sama Mamamu?" Syarifah bertanya pada bayi itu, sembari membantu Isana memperbaiki posisinya.
"Terimakasih, Dok ..." lirih Isana. Yang kemudian membuka kancing blouse nya.
Ghazi, bayi laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan Ayahnya itu, menyusu dengan tenang. Isana tidak terlalu kesulitan. Dan sejak kelahirannya, bayi laki-laki ini tidak terlalu rewel. Ia hanya menangis sesekali, merengek ingin menyusu atau sudah waktunya mengganti pampersnya yang basah.
Isana memperhatikan setiap inci wajah bayi mungil itu. Disentuhnya jadi jemari yang begitu kecil jika di bandingkan dengan jemarinya sendiri. Senyum yang tadi ia paksakan, kini berganti dengan senyum tulus yang mulai naik kemata.
"Sayang ... Kamu kecil dan terlihat rapuh. Tapi justru membuat Mama menjadi kuat. Kamu menguatkan Mama, nak. Terimakasih banyak sudah hadir dihidup Mama." gumamnya, sambil terus memandangi mata bening yang sesekali terpejam.
Dokter Syarifah, mengelus punggung Isana pelan. Seolah ingin ikut, menguatkan. Namun sebagai kode etik profesi nya, ia tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan pribadi pasiennya.
"Isana, sore ini kalau keadaan kamu terus membaik. Insyaallah kamu diperbolehkan untuk pulang." ucapnya tulus.
Isana menahan napas, pulang? Pulang kemana? pulang ke rumah bersama laki-laki yang ia yakin sudah tidak bisa lagi ia jadikan rumah.
Isana terdiam, menelan ludah yang terasa bagai duri tajam di tenggorokannya.
Ponsel Isana berderit, ia tahu itu adalah notifikasi pesan. Seorang perawat membantu Isana, mengambilkan ponsel itu untuknya.
"Terimakasih sus, ..." ujarnya saat menerima ponsel tersebut.
Gegas Isana membuka layar, mengetuk pesan dari Dewi.
< Isa, maaf Mama harus ke Bandara. Mau jemput Alin. Pesawatnya landing sebentar lagi. Nanti kamu pulangnya, sama Anton saja. Karna Andreas masih ada urusan katanya >
Hati Isana mencelos membaca pesan tersebut. Terlebih di kalimat terakhirnya. Urusan apa? Bukankah atasannya sendiri yang bilang kalau Andreas mendapat cuti untuk mendampingi pasca bersalin istrinya?
'Sebenarnya apa yang kamu lakukan diluar sama Mas?' lirih batin Isana. Yang tanpa sadar, cairan bening lolos dari kelopak matanya.
Ghazi terlelap, setelah menyusu cukup banyak. Isana mengeratkan dekapanya. Seolah kekuatan dirinya berpusat pada bayi yang baru saja ia lahirkan.
Waktu bergulir begitu lambat, bagi Isana yang tengah menghadapi perihnya jahitan persalinan, sekaligus perih yang ditimbulkan dari hatinya yang retak.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍