NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Keadilan

Di Sebuah Restoran

 Mereka berdua masuk ke dalam restoran dan memilih tempat duduk yang agak jauh dari keramaian. Tanpa mereka sadari, sejak tiba di depan restoran, sudah ada seorang pria yang duduk di sudut ruangan dan terus mengawasi gerak-gerik mereka dengan pandangan yang tidak wajar.

Setelah duduk, pelayan datang menghampiri dengan membawa daftar menu. Sambil melihat-lihat, Anqi tersenyum dan menoleh ke arah Eric.

“Terima kasih sudah mentraktir hari ini. Nanti kalau aku sudah menerima gaji pertamaku, giliran aku yang traktir, ya?” ucapnya antusias.

Eric tertawa pelan. “Baiklah, aku tunggu. Sekarang pesan saja apa yang kau inginkan, jangan malu-malu.”

Mendengar izin itu, Anqi langsung bersemangat. Ia memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan kesukaannya dengan percaya diri. Setelah pesanan dicatat, mereka pun menunggu sambil berbincang ringan.

Tak lama kemudian makanan datang. Mereka menyantapnya dengan lahap sambil sesekali bercerita tentang hal-hal seputar pekerjaan hari itu. Suasana terasa santai dan akrab, meski di sudut ruangan pandangan pria asing itu masih tidak lepas dari mereka.

Setelah kenyang dan beristirahat sejenak, Eric membayar tagihan dan mereka bersiap untuk pulang.

“Sudah selesai makan, sebaiknya kita kembali ke kantor. Masih ada laporan yang harus diselesaikan hari ini,” kata Eric.

Anqi mengangguk setuju. “Baiklah, ayo kita kembali.”

Mereka pun beranjak dari meja dan berjalan keluar dari restoran, tanpa menyadari bahwa pria yang mengawasi mereka sejak tadi segera bangkit dan mengikuti dari jarak agak jauh.

# Di LPPA

 Begitu tiba di kantor, Eric dan Anqi melihat sesosok wanita yang duduk terisak di ruang tunggu. Wajahnya pucat dan matanya sembab, ia adalah pemilik kedai tempat mereka makan tempo hari, yang anaknya terlibat kasus penusukan terhadap ayahnya sendiri.

Melihat keadaan itu, keduanya segera menghampiri dengan wajah prihatin. “Bu, ada apa? Kenapa Ibu menangis seperti ini?” tanya Anqi lembut.

Begitu melihat Anqi, wanita itu segera menggenggam tangannya erat-erat, suaranya bergetar menahan isak tangis.

“Nona Anqi... Aku datang ke sini untuk mengingatkan janji yang pernah kau katakan dulu. Kau bilang anakku tidak akan dihukum berat, karena dia hanya bertindak terpaksa untuk melindungiku dari kekerasan ayahnya...”

Ia terisak lebih keras, bahunya terguncang hebat. “Tapi sekarang suamiku itu sudah meninggal akibat luka itu. Mereka bilang anakku akan dipenjara dalam waktu lama... Tolonglah, Nona. Dia masih anak-anak, dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya ingin melindungi Ibunya!”

Anqi tertegun, matanya melebar kaget mendengar kabar itu. Ia menoleh sekilas ke arah Eric, yang segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pihak kepolisian guna memastikan kebenaran informasi tersebut.

Setelah menutup telepon, Eric kembali menatap wanita itu dengan nada menenangkan. “Bu, tolong tenangkan diri dulu. Kami sudah mendengar kabarnya dan akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Kami berjanji akan mengurusnya sebaik mungkin dan memastikan anak ibu akan mendapatkan keadilan.”

Namun wanita itu terus terisak, rasa takut dan cemas masih membayangi hatinya. “Tapi bagaimana caranya? Ayahnya sekarang sudah tiada, dan orang-orang pasti akan melihatnya sebagai pembunuh. Aku takut... takut anakku akan menderita di dalam penjara, padahal dia tidak bersalah sepenuhnya...”

# Di Kantor Polisi

 Tak lama kemudian, Eric dan Anqi bergegas menuju kantor polisi. Mereka berniat menemui Kepala Polisi Chen Wu untuk membicarakan kasus tersebut, namun ternyata saat itu Chen Wu sedang dinas ke luar kota selama satu minggu ke depan, sehingga belum dapat ditemui.

Belum sempat mereka memutuskan langkah selanjutnya, datanglah Yi Han sambil berjalan santai. Anqi segera menghampirinya dengan langkah tegas, raut wajahnya tampak tidak puas.

“Yi Han, dengarkan aku. Anak itu seharusnya tidak dihukum apalagi dimasukkan ke penjara! Dia hanya bertindak membela ibunya yang selama ini menderita. Apakah kau tidak bisa memahami situasinya?” ucap Anqi dengan nada geram.

Yi Han menatapnya tenang, lalu menjawab singkat namun tegas. “Aku mengerti kenapa kau marah. Tapi apa daya? Ayahnya itu kini sudah tiada. Kami sebagai petugas hanya bisa menjalankan tugas sesuai aturan yang berlaku. Segala keputusan mengenai nasibnya nanti akan ditentukan oleh hakim di pengadilan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Sementara ini, sebaiknya kalian menjenguknya di tahanan dan segera mencari bantuan pengacara. Mungkin saja dengan penjelasan yang jelas mengenai latar belakang kejadian, ia bisa mendapatkan keringanan hukuman.”

Setelah berkata begitu, Yi Han berbalik dan berjalan meninggalkan mereka. Anqi yang merasa belum puas ingin mengejarnya, namun cepat-cepat ditahan oleh Eric.

“Anqi, jangan... Kita tidak punya banyak waktu. Lebih baik kita segera menemui anak itu terlebih dahulu,” bujuk Eric sambil menarik lembut lengan Anqi.

Di dalam ruang interogasi, anak laki-laki itu duduk menunduk di depan meja. Bahunya terguncang hebat menahan tangis, namun suaranya terdengar jelas saat ia mengaku. “Benar... akulah yang melakukannya. Aku menusuk ayahku sendiri,” ucapnya terbata-bata, matanya berkaca-kaca menatap lantai.

Di seberang meja, petugas wanita yang memeriksanya ikut menangis secara emosional. Ia mencoba menenangkan sambil berbicara lembut, “Dengarkan aku. Tindakan itu tidak sepenuhnya salahmu. Kau hanya berusaha melindungi ibumu dari kekerasan. Tapi sayangnya, hukum tetap harus berjalan, dan kini kau harus menjalani proses ini meski kau sebenarnya adalah korban.”

Dari balik kaca tembus pandang di luar ruangan, Anqi dan Eric menyaksikan semuanya dengan perasaan berat. Wajah Anqi tampak dipenuhi ketidakberdayaan. “Ini tidak adil... dia hanya ingin membela dirinya dan ibunya saja,” gumamnya pelan. Eric mengangguk setuju, namun hanya bisa menghela napas panjang. “Aku juga merasa begitu, Anqi. Tapi kita hanya bisa berharap agar keadilan tetap berpihak padanya melalui proses hukum ini.”

# Di Ruang Sidang Pengadilan

 Keesokan harinya, persidangan pun dilaksanakan di ruang sidang pengadilan. Anak laki-laki itu duduk di kursi terdakwa, mengenakan baju tahanan berwarna biru dengan nomor identitas '13' di dadanya. Ia menatap hakim dengan pandangan pasrah namun tetap tegar.

“Saya mengakui segala perbuatan saya,” ucapnya dengan suara mantap. “Saya juga membenarkan bahwa selama ini saya dan ibu saya sering mengalami kekerasan dari ayah saya. Saya bertindak hanya karena takut dan tidak ada cara lain untuk melindungi ibu saya.”

Ia menunduk sejenak, lalu melanjutkan dengan tenang. “Saya siap menerima keputusan apa pun yang akan Hakim berikan. Entah itu 10 tahun, 15 tahun, atau lebih lama lagi, saya akan menerimanya. Satu-satunya harapan saya adalah agar saya bisa menjalani masa hukuman ini dengan baik, dan suatu hari nanti bisa kembali pulang untuk hidup bersama ibu saya.”

Di sisi ruangan, ibunya yang duduk di kursi penonton terisak hebat mendengarnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tak sanggup menahan kesedihan. Anqi yang duduk di sampingnya segera memegang bahunya, berusaha menenangkan. “Bu, tolong bersabar. Kami akan terus berusaha agar putra Ibu mendapatkan keringanan. Percayalah, kami tidak akan tinggal diam.”

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!