NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18: Tabrakan Darah di Jalan Bahagia

Total Episode: 115 | Episode 18: Tabrakan Darah di Jalan Bahagia

Hari itu seolah diciptakan dari cahaya dan kebahagiaan murni. Matahari pagi bersinar keemasan, menembus celah daun pohon besar di halaman rumah keluarga Ardiansyah, menyinari ribuan kelopak bunga melati dan mawar yang menghiasi seluruh sudut halaman. Aroma bunga yang harum bercampur dengan udara segar yang bersih, membuat siapa saja yang menghirupnya merasa hati menjadi tenang dan gembira. Suara musik gamelan mengalun lembut, diiringi tawa riang dan obrolan hangat ratusan tamu yang datang dari jauh maupun dekat, semua berkumpul untuk merayakan hari paling suci dan paling ditunggu oleh dua orang yang mereka cintai: hari pernikahan Lira Ardiansyah dan Raga Handoko.

Semua rasa sakit, semua bahaya, semua air mata, dan semua malam penuh ketakutan yang pernah mereka alami selama bertahun-tahun, hari itu seolah terbayar lunas semuanya. Di bawah kanopi kain sutra putih yang dihiasi bunga segar, berdiri dua insan yang kini resmi menjadi satu ikatan yang tak terpisahkan. Lira mengenakan gaun pengantin putih yang indah, rambutnya disusun rapi dengan hiasan melati, wajahnya bersinar cerah bagai rembulan purnama, matanya berkaca-kaca penuh kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam. Di sampingnya, Raga berdiri tegap mengenakan jas hitam rapi, tangannya erat menggenggam tangan halus istrinya, wajahnya yang dulu sering tampak serius dan penuh kekhawatiran, kini melebar penuh senyum bahagia yang tulus, senyum yang belum pernah terlihat di wajahnya selama bertahun-tahun.

Di samping mereka, Bu Sumi menangis terharu dengan senyum di bibirnya, Dimas berdiri tegak dengan mata berbinar bangga, Pak Haris dan para tetangga saling bersalaman dengan sukacita. Semuanya terasa begitu sempurna, begitu indah, begitu damai. Seolah dunia ini hanya berisi kebahagiaan untuk mereka berdua.

Namun, siapa sangka, di balik keindahan dan keramaian itu, bahaya yang paling mengerikan sedang mengintai di kegelapan.

Tuan Arjuna, pemimpin tinggi Lingkaran Emas yang tertangkap di ruang bawah tanah kemarin sore, ternyata tidak sendirian. Ia membawa tim cadangan yang jumlahnya lebih banyak, lebih ganas, dan lebih nekat, yang sudah bersembunyi di sekitar desa itu sejak beberapa hari lalu. Saat mendengar kabar bahwa pemimpin mereka tertangkap dan akan segera dibawa ke penjara kota, orang-orang itu menjadi gila karena marah dan dendam. Mereka tidak peduli risiko, tidak peduli hukum, tidak peduli nyawa orang lain—mereka bersumpah akan membalas dendam, menghancurkan kebahagiaan keluarga Ardiansyah, dan membawa pergi apa yang menjadi tujuan utama mereka.

Di tengah keramaian yang sedang memuncak, saat semua orang sedang sibuk bersulang dan bersukacita, sekelompok orang berpakaian gelap diam-diam keluar dari persembunyian di balik semak belukar di ujung halaman. Mereka tidak berniat menyerang di tengah kerumunan, karena jumlah polisi yang bersembunyi di sekitar rumah masih cukup banyak. Mereka punya rencana lain, rencana yang jauh lebih kejam dan terencana.

Mereka tahu, sesuai tradisi, setelah upacara selesai, pengantin baru akan berangkat naik mobil mewah keliling desa untuk memberi salam kepada warga di pelosok desa yang tidak bisa datang ke rumah besar, sebelum akhirnya menuju ke rumah penginapan indah di pinggir danau untuk malam pertama mereka. Itulah satu-satunya saat di mana mereka berdua akan berada jauh dari perlindungan orang banyak, jauh dari polisi, dan paling mudah diserang.

Dan tepat itulah momen yang dipilih oleh orang-orang jahat itu.

Acara selesai dengan sukacita. Setelah berpamitan kepada semua kerabat, tamu, dan orang tua pengganti, Lira dan Raga saling berpandangan dengan senyum bahagia, lalu berjalan bergandengan tangan menuju mobil sedan hitam mewah yang sudah disiapkan khusus untuk mereka. Sopir pribadi yang dipercaya, Pak Joko, sudah menunggu dengan senyum ramah di samping pintu mobil.

“Selamat jalan, Tuan, Nyonya. Semoga perjalanan kalian penuh kebahagiaan,” ucap Pak Joko sopan sambil membukakan pintu mobil.

“Terima kasih, Pak Joko. Tolong hati-hati di jalan ya,” jawab Raga lembut, lalu ia membantu Lira masuk ke dalam mobil, sebelum duduk di sampingnya dan menutup pintu rapat-rapat.

Mobil itu pun melaju perlahan keluar dari gerbang halaman rumah besar, diiringi lambaian tangan dan teriakan selamat dari semua orang yang berdiri di sana. Di dalam mobil, suasana begitu hangat dan tenang. Lira bersandar bahu di dada Raga, jari-jarinya saling bertaut erat dengan jari suaminya, mata mereka saling menatap penuh cinta dan rindu, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua saja.

“Mas… Apakah ini nyata? Apakah kita benar-benar sudah menjadi suami istri? Rasanya seperti mimpi yang paling indah yang pernah aku alami seumur hidupku,” bisik Lira pelan, suaranya lembut dan penuh bahagia.

Raga mengecup lembut kening istrinya, lalu menjawab dengan suara rendah yang penuh kasih sayang.

“Ini nyata, sayang. Semua ini nyata. Dan ini baru permulaan saja. Mulai hari ini, sampai akhir hayatku, aku akan membuatmu bahagia setiap hari, aku akan menjagamu, melindungimu, mencintaimu, tidak akan pernah membiarkan satu pun hal buruk menyentuhmu. Aku janji.”

Lira tersenyum manis, lalu memejamkan matanya sebentar, menikmati rasa damai dan aman yang hanya bisa ia rasakan saat berada di dekat Raga. Mobil terus melaju dengan halus melewati jalanan desa yang berkelok, dikelilingi pepohonan hijau yang rindang dan pemandangan sawah yang luas menghijau. Jalanan itu cukup sepi, hanya sesekali lewat kendaraan lain atau pejalan kaki.

Namun, sekitar sepuluh menit perjalanan, di tikungan jalan yang cukup tajam dan sedikit menurun, tepat di tempat yang jarang ada rumah dan jauh dari pengawasan, tiba-tiba sebuah truk besar berwarna hitam pekat, tanpa plat nomor, melesat keluar dengan kecepatan tinggi dari sisi jalan yang tersembunyi, langsung memotong jalan mobil pengantin mereka secara tiba-tiba dan mendadak.

Pak Joko yang sedang menyetir kaget luar biasa, matanya membelalak lebar, tangannya refleks memutar setir ke arah kiri sekuat tenaga untuk menghindari tabrakan, sambil menginjak rem sampai pijakan rem itu menekan lantai mobil.

KREEK!!! BUMMMMM!!!

Suara gesekan ban dengan aspal yang tajam memekakkan telinga, diikuti suara benturan keras yang menggegarkan seluruh tubuh mereka. Mobil pengantin itu berhasil menghindari tabrakan langsung dengan badan truk, namun karena kecepatan yang cukup tinggi dan tikungan yang tajam, mobil itu kehilangan kendali sepenuhnya, meluncur melintasi tepi jalan, lalu terguling-guling jatuh ke parit tanah yang dalam dan curam di sisi jalan, dengan kekuatan yang sangat dahsyat.

BRUK!!! BRUK!!! DUAARR!!!

Suara benturan besi dengan batu dan tanah terdengar bertubi-tubi, kaca-kaca jendela pecah berkeping-keping, atap mobil penyok masuk, tubuh mobil terpelintir tidak berbentuk lagi, sampai akhirnya mobil itu terhenti terbalik posisinya, roda ke atas, badan mobil tertimbun sebagian tanah dan batu di dasar parit yang dalam.

Debu tebal beterbangan, suara mesin mati total, dan keheningan yang mengerikan seketika menyelimuti tempat itu.

Di atas jalan raya, orang-orang yang ada di dalam truk hitam itu turun perlahan, wajah mereka dingin dan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Salah satu dari mereka melihat ke bawah parit dengan pandangan tajam, lalu berkata pelan kepada rekannya.

“Sudah cukup. Mereka pasti mati atau terluka parah. Kita tidak perlu turun, polisi pasti akan datang sebentar lagi. Tugas kita selesai. Biarkan mereka merasakan rasa sakit kehilangan yang paling menyakitkan, persis seperti rasa sakit yang kita rasakan saat Tuan Arjuna ditangkap.”

Mereka segera kembali masuk ke dalam truk, lalu melaju pergi dengan cepat menghilang di tikungan jalan, meninggalkan kehancuran dan darah di belakang mereka, tanpa ada satu orang pun yang melihat wajah atau mencatat nomor kendaraan mereka.

Di dasar parit yang gelap dan berdebu, di dalam mobil yang hancur itu, hanya terdengar suara erangan lemah yang menyakitkan.

“Uughh….”

Raga yang berada di sisi sebelah kanan, posisi yang lebih aman saat terguling, akhirnya sadar dari pingsan sekejap akibat benturan. Kepalanya terasa berdenyut hebat, darah segar menetes dari dahinya membasahi wajahnya, lengannya terasa sakit sekali seolah ada tulang yang retak, seluruh tubuhnya terasa berat dan sakit luar biasa seolah ditimpa batu besar. Namun rasa sakit itu seketika hilang lenyap digantikan rasa panik yang luar biasa besar, saat ia teringat siapa yang ada di sebelahnya.

“Lira… LIRA!!!”

Raga berusaha sekuat tenaga melepaskan sabuk pengaman yang tersangkut, lalu merangkak susah payah melewati puing-puing mobil yang berantakan, menuju ke sisi sebelah kiri tempat istrinya duduk tadi.

Di sana, di tengah puing kaca dan besi yang tajam, terbaring tubuh Lira yang lemas dan diam, kepalanya terbentur keras ke bagian pintu mobil yang penyok, darah merah segar mengalir deras dari pelipis dan belakang kepalanya, membasahi seluruh rambut hitamnya yang indah, gaun pengantin putihnya kini penuh debu, tanah, dan noda darah yang mengerikan. Matanya tertutup rapat, wajahnya pucat seputih kertas, tidak ada gerakan sedikit pun dari tubuhnya.

“TIDAKKKK!!! LIRA!!! BANGUN!!!”

Jeritan Raga pecah di tenggorokannya, penuh rasa sakit dan ketakutan yang paling hebat yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia segera menarik tubuh Lira keluar dari sela-sela besi yang berbahaya, memeluk tubuh dingin itu erat-erat di pelukannya, tangannya gemetar hebat saat menyentuh wajah pucat istrinya, saat merasakan napasnya yang sangat lemah, sangat tipis, hampir tidak terasa sama sekali.

“Lira… Tolong jawab aku… Tolong buka matamu… Jangan buat aku takut seperti ini… Aku mohon… Kita baru saja menikah… Kita baru saja berjanji untuk hidup bahagia selamanya… Kamu tidak boleh pergi seperti ini… Tidak boleh…”

Raga menangis tersedu-sedu, air matanya bercampur dengan darah dan debu di wajahnya, ia memeluk tubuh Lira sambil mengguncangnya lembut, berusaha membangunkannya dengan suara yang parau dan putus asa. Di sebelahnya, Pak Joko juga terbaring diam, napasnya sudah tidak ada, lehernya patah akibat benturan keras, sudah meninggal dunia di tempat kejadian.

Beruntung, beberapa menit kemudian, ada warga desa yang lewat jalan itu dan melihat mobil yang hilang dari jalan raya. Mereka segera berteriak kaget, lalu berlari turun ke bawah parit untuk menolong, sementara ada yang segera lari kembali ke desa untuk memanggil bantuan, memanggil polisi dan ambulans.

Setengah jam kemudian, suara sirene ambulans terdengar memecah kesunyian, mobil polisi juga datang dengan cepat. Lira dan Raga segera dibawa naik ke atas, dirawat sementara oleh tim medis yang datang. Saat diperiksa, kondisi Raga hanya luka ringan, memar, dan gegar otak ringan, ia masih sadar penuh dan terus berteriak meminta mereka menyelamatkan istrinya. Namun kondisi Lira jauh lebih parah: gegar otak berat, pendarahan di dalam kepala, tulang selangka patah, dan banyak luka memar di seluruh tubuhnya. Ia masih belum sadar sama sekali, nadinya sangat lemah, nyawanya tergantung di ujung benang yang sangat tipis.

“Cepat! Bawa ke rumah sakit kota terdekat! Kalau terlambat lima menit saja, nyawanya bisa hilang selamanya!” seru dokter dengan suara tegas, lalu segera mengangkat brankar Lira masuk ke dalam ambulans.

Raga tidak mau ditinggal. Ia memaksa masuk ke dalam ambulans itu, duduk di samping brankar istrinya, tidak peduli rasa sakit di tubuhnya, tidak peduli darah yang masih mengalir di dahinya. Ia terus memegang tangan Lira yang dingin itu erat-erat, terus membisikkan kata-kata cinta dan doa tanpa henti, matanya tidak pernah lepas dari wajah pucat istrinya sedetik pun.

“Tahan sebentar lagi, sayang… Kita akan sampai di rumah sakit sebentar lagi… Kamu pasti selamat… Kamu pasti akan baik-baik saja… Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu… Aku berjanji pada nyawaku sendiri…”

Perjalanan ke rumah sakit kota memakan waktu hampir satu jam, satu jam yang terasa seperti satu abad penuh siksaan bagi Raga. Setiap detik ia melihat napas Lira yang semakin lemah, setiap detik ia merasa hatinya disayat pisau tajam berkali-kali. Ia merasa sangat bersalah, sangat menyesal, sangat sakit hati. Kalau saja ia tidak mengajaknya pergi keliling desa, kalau saja mereka pergi lewat jalan lain, kalau saja ia lebih waspada… Hal buruk ini tidak akan pernah terjadi.

Sesampainya di rumah sakit, Lira segera didorong masuk ke ruang operasi besar untuk penanganan darurat. Lampu merah menyala terang di atas pintu ruangan itu, menjadi pemisah yang menyakitkan antara Raga dan orang yang paling dicintainya.

Raga menunggu di luar sana selama berjam-jam. Ia tidak mau makan, tidak mau minum, tidak mau diobati lukanya sendiri, tidak mau duduk diam. Ia berjalan mondar-mandir dengan gelisah, rambutnya berantakan, wajahnya kotor darah dan debu, matanya merah bengkak habis menangis, terlihat seperti orang yang sudah kehilangan separuh nyawanya sendiri. Bu Sumi, Dimas, dan Pak Haris yang datang menyusul, hanya bisa diam memandangnya dengan rasa sedih yang mendalam, tidak ada satu kata pun yang cukup kuat untuk menghiburnya saat ini.

Akhirnya, lewat tengah malam, lampu merah itu padam. Pintu terbuka perlahan, dan dokter kepala bedah keluar dengan wajah yang lelah, keringat bercucuran di dahinya, wajahnya tampak serius dan berat.

Raga langsung berlari mendekat dengan langkah gemetar, tangannya mencengkeram lengan dokter dengan kuat.

“Dokter… Bagaimana istriku? Dia selamat kan? Dia tidak mati kan? Tolong katakan padaku, apa pun keadaannya, aku siap menerima semuanya, asalkan dia masih hidup… Asalkan dia masih ada…”

Dokter menghela napas panjang, lalu menatap mata Raga dengan pandangan yang penuh rasa iba.

“Syukurlah… Kami berhasil menyelamatkan nyawanya, Mas Raga. Pendarahan di otak berhasil kami hentikan, luka-lukanya sudah kami jahit dan obati, tulang yang patah sudah kami pasang kembali. Dia selamat, dia masih hidup. Itu hal yang paling utama.”

Raga langsung jatuh berlutut di lantai rumah sakit, menangis terharu, bersyukur sekuat tenaga sampai dadanya terasa sesak.

“Terima kasih… Terima kasih Tuhan… Terima kasih Dokter… Terima kasih banyak…”

“Tapi…” suara dokter berubah menjadi berat dan ragu, membuat jantung Raga kembali berdebar kencang seperti mau meledak. “Ada hal yang harus saya katakan dengan jujur, Mas. Benturan keras di bagian kepalanya itu sangat hebat. Bagian otak yang mengatur ingatan dan memori mengalami kerusakan jaringan yang cukup parah. Kami sudah melakukan segala cara, tapi dampaknya tidak bisa kami hindari.”

“Maksudnya? Apa dampaknya, Dokter? Katakan saja, aku siap mendengarnya,” tanya Raga dengan suara gemetar, rasa takut kembali menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Kemungkinan besar… Nyonya Lira akan mengalami hilang ingatan permanen. Dia tidak akan ingat kejadian kecelakaan ini, dia tidak akan ingat masa lalunya, dia tidak akan ingat siapa keluarganya, dia tidak akan ingat siapa kamu baginya… Bahkan ada kemungkinan besar dia lupa siapa dirinya sendiri, tidak ingat nama, asal usul, atau apa pun yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ingatannya seolah terhapus bersih, seperti kertas putih kosong yang belum tertulis apa pun.”

Raga terdiam kaku, matanya terbuka lebar menatap dokter itu dengan pandangan kosong dan tidak percaya. Hilang ingatan? Lira tidak akan ingat padanya? Semua cinta, semua perjuangan, semua janji yang mereka bangun dengan darah dan air mata selama bertahun-tahun, semuanya hilang begitu saja dari ingatan wanita itu? Rasanya dunia runtuh kembali di depan matanya, rasanya ada pisau besar yang menancap tepat di tengah jantungnya, memutar dan merobeknya sampai hancur.

Namun ia segera menguatkan hatinya dengan sisa kekuatan yang ada. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, Raga. Yang paling penting, dia masih hidup. Dia masih ada di dunia ini, dia masih bernapas, hatinya masih berdetak. Ingatan bisa dibangun kembali. Cinta bisa ditanamkan kembali. Kamu bisa membuatnya jatuh cinta padamu lagi, perlahan-lahan, sama seperti dulu. Selama dia masih ada di dekatmu, semuanya akan baik-baik saja.

“Baiklah, Dokter… Terima kasih sudah jujur padaku. Aku terima semua itu. Aku akan ada di sisinya, aku akan bantu dia mengingat kembali semuanya,” kata Raga dengan suara parau namun tegas.

Tiga hari berlalu. Di ruang rawat inap khusus yang tenang, Lira akhirnya perlahan membuka matanya.

Mata itu, mata yang dulu selalu memancarkan cinta dan kelembutan setiap kali melihat Raga, kini menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong, bingung, dan asing. Saat pandangannya jatuh ke wajah Raga yang segera mendekat dengan mata berbinar harapan, tidak ada kilatan suka, tidak ada senyum bahagia, tidak ada rasa rindu. Hanya pandangan datar, kaku, dan penuh kebingungan.

“Siapa kamu?”

Dua kata itu keluar dari mulut Lira dengan nada yang polos, dingin, dan sama sekali tidak mengenal, tajamnya seribu anak panah yang menembus langsung ke dada Raga.

Raga menelan ludah dengan susah payah, air mata hampir keluar kembali dari matanya, namun ia memaksakan senyum yang gemetar.

“Saya… Saya Raga… Aku suamimu, Lira. Kita baru saja menikah, dan kita mengalami kecelakaan di jalan pulang… Kamu ingat sedikit saja kan? Rumah besar kita? Bu Sumi? Dimas?”

Lira mengerutkan keningnya, berusaha keras mencari jejak ingatan di sudut-sudut pikirannya yang kosong, namun setelah beberapa lama, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, wajahnya tampak bingung dan sedikit takut.

“Maaf… Aku tidak ingat apa-apa. Semua yang kamu katakan, semuanya asing bagiku. Kepalaku sakit sekali, rasanya kosong, tidak ada apa pun di dalamnya… Aku tidak tahu siapa aku, aku tidak tahu siapa kamu… Tolong jangan mendekat terlalu dekat… Aku merasa takut…”

Kalimat itu menghancurkan hati Raga berkeping-keping. Wanita yang paling ia cintai, wanita yang ia lindungi dengan nyawanya sendiri, wanita yang baru saja bersumpah setia mati hidup bersamanya, kini merasa takut padanya, menganggapnya orang asing yang mengganggu. Rasanya sakit, sangat sakit, lebih sakit daripada rasa sakit fisik apa pun yang pernah ia rasakan.

Namun kesedihan itu belum berakhir. Malam itu juga, saat Raga sedang keluar sebentar untuk mengambil obat di apotek rumah sakit, terjadi hal yang paling buruk dan paling tidak terduga.

Sekelompok orang berpakaian sopan, berbicara halus, membawa surat-surat identitas palsu yang dibuat sangat sempurna, datang ke ruang rawat Lira. Mereka mengaku sebagai kerabat jauh dari pihak ibu Lira yang tinggal di pulau seberang, yang baru saja mendengar kabar kecelakaan itu. Mereka berkata kepada perawat jaga:

“Kami datang untuk menjemput Nona Lira. Dokter sudah memberi izin, dan keluarga besar meminta agar dia dibawa pulang ke tempat kami, lingkungan yang tenang dan jauh dari trauma kejadian ini, supaya ingatannya bisa pulih lebih cepat. Di sini terlalu ramai dan bising, tidak baik untuk kondisinya.”

Karena surat-surat mereka lengkap, dan karena Lira sendiri tidak ingat siapa pun, bahkan tidak ingat ada suami atau keluarga lain, Lira yang merasa takut dan bingung, akhirnya mau saja dibawa pergi oleh mereka, mengira mereka benar-benar kerabatnya sendiri. Sebelum ada yang sempat mencegah, sebelum Raga sempat kembali, orang-orang itu sudah membawa Lira keluar dari rumah sakit, masuk ke dalam mobil tertutup, lalu melaju pergi dengan cepat menghilang di kegelapan malam.

Saat Raga kembali membawa obat, saat ia masuk ke ruangan itu dengan senyum kecil berusaha menghibur istrinya… Tempat tidur itu sudah kosong. Seprai terlipat rapi, tidak ada barang-barang milik Lira yang tertinggal, tidak ada jejak apa pun yang menunjukkan bahwa orang itu pernah ada di sana.

“Lira? LIRA!!! DI MANA KAMU?!”

Raga berteriak kaget, suaranya memecah kesunyian lorong rumah sakit. Ia berlari keluar ruangan, berlari ke meja pendaftaran, berlari ke ruang dokter, bertanya kepada semua orang dengan wajah pucat pasi dan mata melotot ketakutan. Saat mendengar penjelasan perawat bahwa istrinya sudah dibawa pergi oleh kerabat jauh, Raga merasa kakinya lemas seketika, jatuh terjerembap di lantai dingin.

Kerabat jauh? Lira tidak punya kerabat jauh yang tinggal di pulau seberang! Semua kerabatnya sudah meninggal atau tinggal di desa ini! Itu pasti orang-orang jahat yang dikirim oleh Lingkaran Emas! Mereka tidak cukup hanya membuat mereka celaka, mereka juga mengambil Lira, menghilangkan dia dari sisi Raga selamanya!

Raga segera melapor ke polisi, mencari ke seluruh penjuru kota, menyebarkan foto Lira, bertanya ke semua jalan keluar kota, tapi semuanya sia-sia. Orang-orang itu sangat pintar menghapus jejak. Semua identitas mereka palsu, semua jalan yang mereka lewati tidak ada rekaman CCTV yang jelas, semua orang yang melihat mereka tidak ingat wajah mereka dengan tepat.

Lira hilang. Hilang tanpa jejak. Hilang bagai ditelan bumi.

Dua kali Raga kehilangan wanita yang dicintainya. Pertama, saat ia mengira Lira mati di dalam mobil yang hancur itu. Kedua, saat Lira hidup, bernapas, masih ada di dunia ini, tapi tidak ingat padanya, dan kini dibawa pergi entah ke mana, jauh, jauh sekali dari jangkauannya, tidak tahu kapan, atau bahkan apakah akan pernah bertemu lagi.

Malam itu, Raga duduk sendirian di tepi jalan raya di depan rumah sakit, di tengah hujan deras yang turun tiba-tiba, membasahi seluruh tubuhnya sampai kuyup, dingin, dan gemetar. Ia menangis sejadi-jadinya, menangis sampai suaranya parau, menangis sampai air matanya kering habis, menangis sampai dadanya terasa sakit luar biasa. Di tangannya, ia memegang erat satu-satunya barang milik Lira yang tertinggal: cincin pernikahan yang terlepas dari jari istrinya saat kecelakaan dulu.

“Lira… Di mana kamu… Kembalilah padaku… Aku mohon… Dunia ini terasa kosong, gelap, dan hancur tanpamu… Aku akan mencarimu… Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia… Aku tidak akan menyerah… Tidak akan pernah… Sampai napas terakhirku…”

Hujan terus turun deras, seolah langit pun ikut menangis bersama rasa sakit hati seorang suami yang baru saja kehilangan segalanya di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia seumur hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!