NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:782
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUNANGAN PALSU - Chapter 26

              Happy Reading Guys!

______

Ruangan itu mendadak sunyi.

Sintia masih berlutut di lantai. Pakaiannya basah. Wajahnya pucat. Luka dan memar di tubuhnya belum sempat diobati.

Namun, semua itu seolah tidak menarik perhatian lelaki yang duduk di hadapannya.

Damian hanya menatapnya dalam diam.

Tatapan yang membuat Sintia semakin sulit bernapas.

Dengan susah payah ia mengangkat kepalanya.

"Julian sudah meninggal."

Kalimat itu akhirnya keluar.

Begitu saja.

Tanpa peringatan.

Tanpa persiapan.

Anehnya, tidak ada keterkejutan di wajah Damian. Sebaliknya, sudut bibir lelaki itu perlahan terangkat. Ia tertawa.

Tawa rendah yang membuat bulu kuduk Sintia meremang.

Damian berdiri dari kursinya.

Kedua tangannya berada di belakang punggung saat ia berjalan perlahan ke arahnya. Seolah berita kematian seseorang tidak lebih menarik daripada laporan cuaca.

"Kenapa membunuhnya?"

Pertanyaan itu membuat tubuh Sintia menegang.

Ia langsung menggeleng.

Namun, kata-kata itu akhirnya tetap keluar.

"Dosanya terlalu banyak."

Air mata kembali memenuhi matanya.

"Dia pantas mendapatkannya."

Damian terkekeh pelan.

"Julian memang tidak bersih."

Langkahnya berhenti.

Tatapannya jatuh pada wanita yang masih berjongkok di lantai.

"Tapi kau juga sama."

Sintia langsung mengangkat kepala.

"Aku diseret olehnya!"

Suaranya pecah.

"Aku tidak pernah meminta semua ini!"

Tubuhnya merosot ke lantai.

Kedua tangannya menopang tubuhnya saat ia menundukkan kepala semakin dalam.

"Aku tidak pernah ingin masuk ke dunia itu."

Namun, Damian sama sekali tidak terlihat tersentuh.

Ia kembali berjalan menuju kursinya lalu duduk dengan santai.

"Angkat kepalamu."

Sintia terdiam.

"Kau membuatku risih."

Dengan gemetar ia akhirnya menurut.

Damian menyandarkan tubuhnya.

Tatapannya masih setenang sebelumnya.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan?"

Pertanyaan itu membuat mata Sintia kembali memerah.

Ia menggenggam kedua tangannya erat-erat.

"Arkan."

Sintia menjelaskan, setelah Julian meninggal otomatis Arkan menjadi pewaris tunggal perusahaan. Perusahaan Julian belum bersih. Selama ia membersihkannya, ia harus mengamankan Arkan terlebih dahulu. Membuat lelaki itu mengambil alih tidak ada bedanya dengan memindahkan dosa Julian pada Adiknya.

Selama Arkan di samping Damian dia akan aman.

"Arkan pikir kakaknya menjalankan bisnis logistik dan ekspor-impor seperti perusahaan normal."

Suara Sintia mulai bergetar.

"Padahal sebagian transaksi yang dilakukan Julian tidak pernah tercatat secara resmi."

"Jika semua itu terbongkar, Arkan yang akan diseret lebih dulu."

Damian masih diam.

Namun, kini matanya sedikit menyipit.

Jelas ia mulai tertarik.

Sintia menangkap perubahan itu.

Dengan cepat ia melanjutkan.

"Aku bisa mengurus semuanya dari belakang."

"Aku tahu siapa saja orang Julian."

"Aku tahu dokumen mana yang harus dihilangkan."

"Aku tahu rekening mana yang tidak boleh ditemukan."

"Tapi aku tidak punya kekuatan untuk melindungi Arkan."

Air mata kembali mengalir di pipinya.

"Dia tidak bersalah."

"Dia bukan Julian."

"Dia tidak tahu apa-apa."

"Aku tidak ingin dia menanggung dosa kakaknya."

Ruangan kembali hening.

Cukup lama.

Sampai akhirnya Damian bertanya dengan nada datar.

"Kau berselingkuh dengan adiknya?"

Sintia langsung menggeleng.

"Tidak."

Jawabannya keluar tanpa ragu.

"Aku mencintainya."

Untuk pertama kalinya, suara wanita itu terdengar begitu jujur.

"Aku hanya ingin dia selamat."

Damian memperhatikannya beberapa saat.

Lalu bertanya lagi.

"Dan apa yang akan kudapat?"

Sintia terdiam.

Damian melanjutkan.

"Perusahaan yang hampir tenggelam."

"Puluhan masalah hukum."

"Orang-orang Julian yang mungkin berkhianat kapan saja."

"Lalu aku harus menyelamatkan semuanya."

Tatapannya semakin tajam.

"Kenapa aku harus melakukan itu?"

Air mata Sintia kembali jatuh.

Ia menundukkan kepala.

"Aku akan melakukan apa pun."

"Kau bisa meminta apa saja."

Damian menatapnya cukup lama.

Sampai akhirnya ia tersenyum tipis.

Bukan senyum hangat.

Melainkan senyum seorang pebisnis yang baru saja menemukan peluang.

"Aku tidak tertarik padamu."

Sintia membeku.

"Aku juga tidak tertarik pada pengorbananmu."

Damian berdiri.

"Pergilah."

Sintia langsung panik.

"Tapi ... "

"Jack."

Pintu ruangan terbuka.

Jack masuk dengan cepat.

"Cari tempat aman untuknya."

Jack mengangguk.

Sintia kebingungan.

"Apa... apa Anda akan membantunya?"

Damian berhenti melangkah.

Namun tidak menoleh.

"Itu bukan urusanmu."

"Tapi bagaimana Anda bisa melindunginya?"

Kali ini Damian tersenyum kecil.

"Hanya aku dan Jack yang perlu tahu."

"Sisanya tidak perlu ikut campur."

Saat itulah untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, Sintia merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. Hingga ia mendengar kalau Damian menawarkan kerjasama pada Arkan, selama dia jadi Asistennya, maka ia akan membantu perusahaan Arkan yang sedang jatuh.

Ia menepati janjinya, tapi apa yang diinginkan Damian sebagai balasannya?

_____

Kembali ke kenyataan.

Angin malam berembus pelan di area pemakaman, langit begitu gelap. Hanya cahaya lampu jalan yang menerangi deretan batu nisan di kejauhan.

Sintia berdiri mematung di depan makam Julian, air matanya terus mengalir tanpa henti. Bukan karena merindukan lelaki yang berada di bawah sana. Melainkan karena ia terlalu lelah.

Lelah menyimpan semuanya seorang diri.

Lelah menanggung rahasia yang tidak pernah bisa ia ceritakan kepada siapa pun.

Terlebih saat orang yang selama ini ingin ia lindungi justru berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh kemarahan.

Bagaimana ia harus menjelaskan semuanya?

Dari mana ia harus memulai?

Arkan begitu mempercayai Julian. Bahkan, setelah lelaki itu meninggal. Jika ia mengatakan kebenarannya sekarang, apakah Arkan akan percaya?

Tidak.

Mungkin tidak akan pernah.

Karena orang yang bisa membenarkan semua ucapannya sudah berada di dalam makam.

"Kau bilang ideku seperti iblis." Suara Sintia terdengar serak. "Kalau begitu ...."

Air mata kembali jatuh di pipinya.

"Iblis ini juga yang telah melindungimu dari kematian."

Kening Arkan langsung berkerut, ia tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Sintia kembali berbicara.

"Aku tidak peduli kalau kau membenciku."

Napasnya bergetar.

"Aku juga tidak peduli kalau kau menganggapku wanita paling hina di dunia."

"Tapi ada satu hal yang harus kau tahu." Tatapan Sintia perlahan bergeser ke arah makam Julian. "Sejak hari itu, kematian Kakakmu ..."

"Seseorang terus membersihkan semua kekacauan yang ditinggalkannya."

Arkan langsung menyipitkan mata.

"Apa maksudmu?"

Sintia tertawa kecil, tawa pahit yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Kalau kau tidak percaya padaku ...."

Ia kembali menatap Arkan.

"Tanyakan saja pada Damian."

Nama itu langsung membuat wajah Arkan berubah.

Pikirannya mulai menghubungkan berbagai kejadian selama beberapa bulan terakhir. Namun, semakin dipikirkan, semuanya justru semakin membingungkan. Lalu sebuah kemungkinan muncul di kepalanya.

Kemungkinan yang membuat wajahnya mendadak mengeras.

Tatapannya jatuh pada perut Sintia, kemudian kembali ke wajah wanita itu.

"Anak itu ...." Suara Arkan terdengar berat. "Jangan bilang anak itu milik Damian."

Sintia menatapnya seolah ingin melempar batu nisan ke kepalanya.

"Sebelum aku sempat naik ke atas ranjangnya, mungkin kepalaku sudah lebih dulu terlepas dari leher."

Arkan terdiam beberapa detik.

Sedangkan Sintia masih terlihat lelah

"Siapa yang berani menyentuh Damian?" Suara wanita itu meninggi. "Lelaki itu bahkan tidak bisa disentuh."

 

Di saat yang sama.

Seseorang yang baru saja menjadi topik pembicaraan mereka sama sekali tidak mengetahui kekacauan yang sedang mendekat.

Damian sedang berbaring menyamping di atas ranjangnya.

Ruangan itu gelap.

Tenang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa terganggu oleh malam. Tatapannya tertuju pada sosok yang tertidur pulas di sampingnya.

Sophia.

Wanita itu tampak begitu tenang.

Begitu damai.

Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah.

Napasnya terdengar pelan dan teratur.

Damian memperhatikannya cukup lama. Tanpa sadar, sudut tatapannya perlahan melunak.

Tangannya terangkat perlahan.

Menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi pipi Sophia.

Gerakannya sangat hati-hati.

Seolah takut membangunkan wanita itu.

Beberapa saat kemudian, Damian kembali memejamkan mata.

Anehnya ....

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak merasa perlu memaksa dirinya untuk tidur.

Karena tanpa disadari ....

Rasa kantuk sudah datang lebih dulu.

B e r s a m b u n g .....

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤

1
falea sezi
anak siapa yg dikandungnya sintia
falea sezi
🤣🤣🤣kapok ketipu jalang makan itu rasa. kasian😒
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!