Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. The Heart Pearl yang Tak Sengaja Tertelan
"Sejatinya, jika seorang manusia atau makhluk immortal memiliki pasangan dari kaum Mermaid atau Merman, setelah mereka terikat oleh takdir The Heart Pearl, mereka tidak akan pernah bisa berjauhan! Kau tidak bisa membohongi indra penciumanku. Itu artinya, pasangan takdirmu adalah seorang Mermen, Gadis Bodoh! Maka dari itu lautan menyeretmu ke sini walau itu bukan kemauanmu sendiri. Hahaha!"
Evelyn menggelengkan kepala dengan cepat. "Kau mungkin salah dengar atau salah cium! Aku tidak tahu apa pun tentang dunia kalian. Aku bahkan tidak pernah merasa bertemu dengan seorang merman atau manusia ikan sejenisnya. Bagaimana bisa aku memiliki pasangan seorang merman? Hah, ini benar-benar lelucon yang sangat lucu. Aku tidak tertarik dengan urusan cinta-cintaan. Hidupku saja sudah sangat menderita, tidak ada waktu untuk memikirkan kekasih!"
"Aku juga merasa ada yang ganjil, Elara," sahut Zephyr seraya menatap Evelyn lurus-lurus. "Bagaimana bisa seorang manusia fana murni bernapas dengan bebas di dalam air?"
"Tentu saja ada cara, dan gadis itu adalah buktinya sekarang!" jawab Elara bersikeras.
"Ssst... ada yang datang," bisik Zephyr mendadak menegang.
Trang! Trang! Trang!
Suara mata tombak besi yang digesekkan ke sepanjang jeruji sel terdengar bergema nyaring, suaranya kian mendekat menembus lorong penjara yang pengap.
Sesosok merman berwajah luar biasa tampan muncul dari balik kegelapan lorong—dia tidak lain adalah Kaelen sang pangeran. Langkahnya terhenti tepat di koridor depan sel Evelyn. Sirip dan ekornya yang indah bergerak pelan, menyapu air yang menggenangi lantai lorong bawah tanah tersebut. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat kumuh itu dengan sorot mata jijik.
Tanpa permisi, Kaelen merebut kunci dari penjaga lalu membuka jeruji besi sel Evelyn. Ia melangkah masuk ke dalam ruang sempit tersebut.
Evelyn hanya diam membeku di sudut dinding. Ia memandangi makhluk berekor ikan itu dengan kening yang berkerut dalam. "Siapa kau?!" tuntutnya ketakutan.
Kaelen tidak menjawab. Sebaliknya, ia langsung mengunci kembali pintu sel dari dalam dan mengarahkan ujung tombaknya yang tajam ke hadapan Evelyn.
Jleb!
Tanpa ada aba-aba ataupun sedikit pun belas kasihan, Kaelen menusukkan mata tombaknya tepat menghujam lengan kiri Evelyn.
"Arghhh!"
Evelyn menjerit kesakitan saat cairan merah segar mulai merembes keluar membasahi pakaiannya, menodai kejernihan air di sekitar mereka. Ia mencengkeram lengannya yang terluka seraya menatap Kaelen berang. "Kenapa kau menusukku, bajingan?!"
Pada detik berikutnya, tubuh Kaelen mendadak menegang. Pangeran merman itu meringis pelan, seolah-olah ujung tombaknya sendiri baru saja menggores kulitnya. Namun, rasa benci rupanya telah mendarah daging di dalam jiwanya, membakar habis rasa sakit fisik yang mendadak menyerang akibat hukum kualifikasi takdir.
"Gadis sialan! Kau benar-benar membuatku murka!" desis Kaelen, napasnya memburu di dalam air. "Aku tidak sudi hidup berdampingan denganmu, apalagi melihat wajahmu! Aku tidak peduli jika harus mati. Melihatmu tersiksa seperti ini jauh lebih memuaskan bagiku. Jika aku harus mati perlahan karena takdir sialan ini, maka aku juga akan membuat hidupmu sekarat setiap saat!"
Evelyn sontak tertegun. Di tengah rasa perih yang membakar lengan kirinya, frekuensi suara bariton Kaelen mendadak memicu kilasan ingatan asing—potongan memori samar tentang lautan yang bergolak—di dalam kepalanya.
Sementara itu, atmosfer di dalam penjara mendadak hening mencekam. Para tahanan di sel seberang mendadak bungkam, tidak ada yang berani bersuara, apalagi berniat menolong.
"Kaelen... kaukah itu?" bisik Evelyn parau, mencoba memastikan sosok yang entah mengapa terasa tidak asing bagi jiwanya.
"Tidak penting siapa aku!" sentak pangeran merman itu dingin. "Yang jelas, kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Kau akan membusuk di dalam penjara ini!"
"Sampai kapan?!" tantang Evelyn. Suaranya melengking tinggi menembus dinginnya air, menahan rasa perih luar biasa yang membakar dagingnya tanpa ada satu pun tetes air mata yang jatuh. Sejak dahulu, tubuhnya seolah telah kehilangan kemampuan untuk menangis.
"Sampai kapan kau akan membenciku tanpa alasan?! Jika kau memang sangat membenciku, kenapa tidak langsung kau habisi saja nyawaku detik ini juga?!"
Sret!
"Arghhh!" Evelyn kembali menjerit tertahan saat Kaelen menarik paksa mata tombaknya tanpa belas kasihan.
Kaelen tidak sudi menjawab tantangan tersebut. Dengan tatapan yang masih sedingin es, ia berbalik arah dan melangkah pergi begitu saja. Ia meninggalkan area penjara bawah tanah dengan gema langkah sirip yang sarat akan kemurkaan mutlak.
Sementara itu, tubuh Evelyn merosot perlahan hingga terduduk di lantai batu yang dingin. Ia memegangi lengan kirinya yang terus mengucurkan darah. "Monster berengsek! Kenapa dia tidak pernah puas menyiksaku?" umpatnya dengan napas tersengal.
Evelyn menatap lukanya dengan pandangan nanar. 'Kau tidak tahu kalau aku sudah cukup menderita karena penyakit glioblastoma di otakkku ini,' batin Evelyn, mencengkeram jemarinya sendiri menahan amarah yang bergejolak.
'Sekarang kau malah datang dan tiba-tiba menambah penderitaanku. Aku belum siap mati di sini. Aku harus bertahan hidup demi membalaskan dendamku pada pria iblis itu. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni permainan gila-mu, Kaelen!'
"Gadis kecil, kau tampak semakin menyedihkan," ucap Elara dari sel sebelah. "Tapi, tampaknya sekarang aku tahu siapa mate-mu. Aku sungguh tidak menyangka kalau pangeran merman yang kejam itu adalah pasangan takdirmu."
Evelyn menoleh dengan raut wajah datar yang menyembunyikan rasa sakitnya. "Dia bukan pasanganku. Lagi pula, dia sangat membenciku. Entah kesalahan apa yang sudah kuperbuat sampai ia bertindak sekejam ini. Dia terus mengatakan hal-hal aneh yang tidak kupahami. Dia menyuruhku memuntahkan dan mengembalikan mutiaranya. Jelas aku tidak mengerti! Seingatku... aku tidak pernah sekalipun mencuri barang berharga milik duyung sialan itu. Aku hanya berasumsi kebenciannya itu karena ia masih menyimpan dendam masa lalu kepadaku."
"Rupanya kau ini sangat bodoh!" sahut Elara. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya yang dipenuhi rambut kusut mirip lumut. "Kau tidak sadar kalau kau bukan sekadar mencuri barang berharga miliknya, tapi kau sudah menelan The Heart Pearl milik klan merman! Kau tahu, mutiara itu bukan sembarang benda magis fana. Itu adalah tanda pengikat jiwa paling sakral bagi kaum kami."
Evelyn menggelengkan kepala dengan cepat, menolak percaya. "Apa kau bilang? Aku... aku tidak pernah memakan apa pun, apalagi mutiara miliknya!"
"Coba kau ingat-ingat lagi dengan saksama. Mana mungkin kau tidak tahu apa-apa," sela Zephyr dengan suara baritonnya yang menenangkan, mencoba meredam kepanikan Evelyn. "Barangkali kau tidak sengaja menelan benda bulat yang mirip dengan mutiara hitam. Lagi pula, ini bukan sepenuhnya salahmu. Pangeran merman itu juga bersalah karena ceroboh. Aku yakin dia telah menghilangkan The Heart Pearl miliknya sendiri, dan kau tanpa sengaja menelannya di daratan."
Evelyn terdiam cukup lama. Ingatannya mendadak terlempar pada rentetan kejadian tadi siang, tepat saat ia pertama kali menginjakkan kaki di pesisir pantai bersama Sofia. Saat itu, penyakit glioblastomanya mendadak kambuh. Sialnya, obat pereda nyeri miliknya tertinggal di rumah sewa.
Dalam kepanikan yang mencekam, Sofia berlari mencari bantuan dan kembali membawa sebutir obat. Namun karena tangannya gemetar, Sofia justru menjatuhkan benda itu ke atas pasir. Di tengah kondisi tubuhnya yang hampir sekarat dan pandangan yang mengabur, Evelyn sempat melihat Sofia meraba-raba hamparan pasir demi mencari obat yang terjatuh.
'Mungkinkah... benda yang diambil Sofia dari atas pasir waktu itu bukan obatku, melainkan mutiara hitam itu?'