NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di sebuah mansion yang berdiri megah, desain interiornya seolah membawa siapa pun yang melangkah masuk ke dalam aura kerajaan kuno. Dinding-dindingnya dibalut perpaduan warna emas dan hitam yang pekat. Warna emas di sini bukan sekadar cat; ia mewakili simbol kemegahan, kemenangan, dan kemakmuran yang abadi—sejalan dengan nilai nyata dari logam mulia itu sendiri.

Sementara itu, warna hitam mendominasi dengan kesan yang dalam, menggambarkan kewibawaan, keanggunan, kehormatan, sekaligus kekuatan yang tak tergoyahkan. Bagi orang luar, kombinasi warna ini mungkin terasa kelam atau bahkan menyeramkan, namun bagi penghuninya, ini adalah definisi dari estetika dan keindahan yang sesungguhnya.

​Di ruang keluarga yang luas, seorang pemuda bernama Mahendra tengah duduk santai di atas sofa beludru. Kedua jarinya mengapit sebatang rokok, dan sesekali kepulan asap tipis keluar dari mulutnya, menciptakan kabut tipis yang membuat udara di sekitar terasa pekat dengan aroma tembakau yang menyengat.

​"Astaga, anak ini. Ganti bajumu dulu, Boy, dan matikan rokoknya!" Suara seorang wanita paruh baya memecah keheningan. Elena Ganendra menggelengkan kepalanya dengan tatapan kecewa saat mendapati putra semata wayangnya masih betah bermalas-malasan sambil menghisap rokok.

​"Hm, sebentar lagi, Mami," jawab Mahendra singkat tanpa sedikit pun menoleh atau mengindahkan perintah wanita yang melahirkannya itu.

​"Terserah kamu saja, Boy. Mami sudah lelah," Elena menghela napas panjang. Hatinya sering kali merasa perih menghadapi tingkah putra tunggalnya yang sejak lama menjadi pecandu rokok.

Elena selalu memanjatkan doa, berharap suatu saat nanti akan ada gadis yang mampu melunakkan hati beku putranya itu. Namun, harapannya seolah jauh dari kenyataan. Mahendra tetap betah menjomblo, bahkan sempat terlintas di benak Elena ketakutan bahwa putranya mungkin memiliki orientasi seksual yang berbeda.

Membayangkan Mahendra menikah dengan sesama jenis membuat Elena merasa hampir syok; sebuah pemikiran yang cukup membuatnya merasa bisa mati muda.

​"Matikan rokokmu, anak sialan! Jangan berani merokok di depan istriku!" Sebuah suara berat menggelegar dari ambang pintu ruang tamu.

Albert Ganendra, sang kepala keluarga, melangkah masuk dengan setelan kantor yang masih melekat rapi di tubuhnya.

​Mahendra memutar bola matanya malas. Tanpa kata-kata pembelaan, ia mematikan rokoknya yang tersisa setengah dan menjentikkannya ke tempat sampah dengan gerakan acuh tak acuh.

​"Hm," ucapnya datar. Albert mendengus kesal melihat sikap putranya yang selalu menyebalkan dan pandai menguji kesabarannya.

​"Ngapain kamu ada di sini, anak muda?" tanya Albert sembari mendudukkan diri di samping istrinya. Tangan kanannya melingkar mesra, memeluk bahu ramping Elena.

​"Jika Anda lupa, ini juga rumah saya, Pak Tua," balas Mahendra dengan nada malas yang kental.

​"Bukankah kamu lebih nyaman tinggal di rumahmu sendiri? Apa kamu sedang kekurangan biaya hidup sampai-sampai ingin meminta bantuan Daddy?"

​"Saya tidak membutuhkan bantuan dari Anda, Pak Tua. Saya bisa mencukupi diri saya sendiri," jawab Mahendra dingin.

Masalah uang?

Kekayaan yang ia miliki bahkan jauh melampaui apa yang dibayangkan kedua orang tuanya. Untuk masalah tempat tinggal, ia justru jauh lebih nyaman menetap di apartemen mewahnya daripada harus berada di mansion yang penuh dengan aturan kaku ini.

​"Lantas untuk apa kau kemari, anak muda!" tekan Albert. Ia merasa kesal karena momen bermesraan dengan sang istri yang sudah dinanti-nantikannya setelah seharian bekerja keras, justru terganggu oleh kehadiran putranya.

​"Istri Anda yang meminta saya datang ke sini, Pak Tua. Jika tidak, saya pun tidak sudi menatap wajah tua Anda," balas Mahendra tanpa rasa bersalah.

​"Aku Daddy-mu, bukan Pak Tua! Dan lagi, Daddy masih muda, belum tua!" protes Albert tak terima.

​"Harusnya Anda sadar umur. Sudah tua bukannya berbaik hati, malah masih sombong. Ingat, liang lahat sudah menanti Anda," tutur Mahendra dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang membicarakan cuaca.

​"Anak sialan! Kamu mendoakan Daddy-mu ini meninggal, hah?!"

​"Saya tidak mengatakannya," kilah Mahendra acuh.

​"Kau tadi menyebut liang lahat, bodoh!" bentak Albert. Namun, Mahendra hanya mengedikkan bahu, tidak peduli dengan kemarahan ayahnya.

​"Sudah, sudah! Kalian ini, setiap kali bertemu selalu saja bertengkar. Kapan kalian akan berdamai? Mami capek mendengarnya!" Elena berteriak frustrasi.

"Kamu, Mahendra, harusnya sering-sering di rumah, jangan terus-terusan mengurung diri di apartemen. Dan kamu, Dad, harusnya kamu senang anak kita pulang. Jangan malah mengajaknya berdebat!"

​Keluarga Ganendra memang terlihat harmonis dan sejahtera di mata publik, namun di balik pintu mansion ini, hubungan ayah dan anak itu tidak ubahnya seperti kucing dan tikus yang tak pernah bisa akur.

​"Mau ke mana kamu, Mahendra?" tanya Elena saat melihat putranya beranjak dari sofa.

​"Kamar," jawab Mahendra singkat, lalu melenggang pergi tanpa menoleh sedikit pun.

​"Dasar anak itu," gumam Albert sambil memandang punggung putranya dengan jengkel.

​"Anak kamu, Dad," sahut Elena.

​"Anak kita, sayang. Kita buat bersama," sanggah Albert, tak mau menanggung beban sendirian jika putranya nakal dan menyebalkan.

​"Kamu tidak baca doa dulu saat membuatnya, jadinya yang keluar seperti itu. Itu semua salah Daddy yang tidak becus jadi suami!"

​Mata Albert membelalak mendengar ucapan istrinya. Ia merasa tidak terima karena ia telah berdoa berulang kali, bahkan sebelum putranya lahir ke dunia, agar Mahendra menjadi anak yang saleh. Namun, nasi sudah menjadi bubur.

​"Ck, sudahlah. Anak sama bapak sama saja, sama-sama menyebalkan. Lebih baik aku cari duda saja," ucap Elena kesal dan beranjak meninggalkan ruang keluarga.

​"Duda?" beo Albert dengan wajah panik.

"Sayang, tunggu aku!" Ia pun berlari menyusul istrinya ke lantai atas dengan perasaan cemas.

"Ini semua gara-gara anak sialan itu! Argh, menyebalkan sekali!"

​Sementara itu, di sebuah tempat yang jauh dari kemewahan mansion Ganendra, suasana terasa sangat berbeda. Di sebuah kamar dengan cat dinding berwarna biru laut yang mulai mengelupas, seorang gadis muda bernama Ziva meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya rapat-rapat.

​"Sstt, dingin banget," lirih Ziva. Meski tubuhnya sudah terbalut selimut tebal, rasa dingin yang menusuk kulit pucatnya masih terasa begitu nyata.

​Ceklek!

​Pintu kamar terbuka dengan kasar. "Bangun kamu, anak sialan! Enak banget kamu pulang sekolah langsung tidur! Beresin rumah sekarang!" bentak sebuah suara melengking.

​Sret!

​Ibu tirinya, menarik selimut yang membungkus tubuh Ziva dengan kasar. "Bangun, bodoh! Beresin rumah!"

​"Buk, badan Ziva lagi tidak enak. Ziva lagi sakit, Buk," ucap Ziva pelan dengan wajah pucat dan mata yang sayu.

​"Memangnya saya peduli? Cepat sana masak, saya sudah lapar! Jangan lupa bersihkan seluruh rumah!" ibu tirinya sama sekali tidak mempedulikan kondisi kesehatan Ziva. Baginya, tugas Ziva adalah melayani keluarga ini, terlepas dari apa pun kondisinya.

​"BURUAN, ZIVA!" teriak marah saat melihat Ziva tidak kunjung beranjak dari ranjang.

​"Ck, lama sekali!"

Sret!

Dengan kasar ibunya menarik lengan Ziva dengan kuat, membuat gadis itu jatuh tersungkur ke lantai kamar yang dingin.

​"Buruan, saya tunggu di bawah!" tekan nya, lalu keluar tanpa sedikit pun niat untuk membantu.

​"Sakit..." lirih Ziva. Tubuhnya yang lemas tak mampu menopang bobot tubuhnya sendiri. Hari Sabtu ini, ia sebenarnya ingin beristirahat total karena kondisi kesehatannya sedang menurun, namun ketenangan itu selalu saja dirusak. Ia ingin kembali ke apartemennya, namun sang ayah melarangnya, sehingga dengan berat hati ia harus tetap tinggal di rumah ini.

​"Semangat, Ziva. Kamu harus kuat," bisik Ziva menyemangati dirinya sendiri. Dengan susah payah, ia bangkit berpegangan pada sisi ranjang.

Beruntung, tadi ia sempat mandi sebelum rasa sakit itu menyerang, sehingga ia bisa langsung turun untuk melakukan pekerjaan rumah tangga sebelum ibu tirinya semakin murka.

​Saat membuka pintu kamar, seseorang sudah berdiri di depannya dengan tatapan sinis. Itu adalah Ratna versi muda, Sanya Aulia.

​"Ouh, hai anak tidak dianggap," sapa Sanya dengan nada meremehkan.

​"Minggir!" ucap Ziva datar, berusaha tidak memancing keributan.

​"Gue akan minggir kalau lo mau turuti perkataan gue!" tekan Sanya.

​"Nggak ada waktu," balas Ziva.

​"Oke, kalau gitu gue nggak akan minggir!" Sanya

bersedekap dada dengan angkuh.

​Ziva menghela napas panjang. "Buruan, mau ngomong apa?"

​Sanya tersenyum miring. "Gue sudah kasih lo peringatan berkali-kali buat jangan pernah dekat-dekat dengan Mahendra! Tapi kenapa lo masih saja cari perhatian sama dia, hah?"

​"Gue nggak dekat dengan dia, Sanya. Dia yang selalu datang ke gue," jawab Ziva dingin.

​"Gue nggak percaya sama omongan busuk lo! Gue minta lo jauhi Mahendra. Kalau perlu, pergi jauh-jauh dari kehidupan Mahendra! Mahendra hanya milik gue, milik Sanya Aulia. Sekali lagi gue lihat lo jalan sama Mahendra, gue bakal lakuin sesuatu yang bikin lo menyesal!"

​Sanya sudah memendam perasaan pada Mahendra sejak bangku SMP. Meskipun Mahendra sering memperlakukannya dengan dingin dan mengabaikannya, Sanya tidak pernah menyerah. Kini, ketika Mahendra satu sekolah lagi dengannya di SMA Cakra Buana, ia bersumpah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

​"Gue nggak main-main, Ziva! Kalau lo masih bandel, gue bakal pastikan lo diusir oleh bokap dari rumah ini!"

​"Gue nggak peduli, Sanya!" tantang Ziva.

​"Berani lo sama gue, hah!" Karena geram, Sanya langsung mencekik leher Ziva dengan kuat.

​"Le-lepas..." rintih Ziva. Napasnya mulai tersendat, oksigen seakan lenyap dari paru-parunya.

​"Ck, lemah lo!" Sanya melepaskan cengkeramannya. Ziva terbatuk-batuk, memegangi lehernya yang perih sambil menghirup udara sebanyak mungkin.

​"Udah, sana buatkan gue makanan. Jangan lupa sama ucapan gue tadi," Sanya berlalu pergi dengan angkuh.

​"Semua ini gara-gara Mahendra! Gue benci lo, Mahendra! Gue benci lo." batin Ziva dengan tangan mengepal kuat. Sejak Mahendra mulai menunjukkan ketertarikannya pada Ziva, perilaku Sanya semakin menjadi-jadi dan tak jarang sudah kelewat batas.

​Ziva melangkah gontai menuju dapur. Di sana, ia mendapati Bi Sumi yang sedang mengiris tomat.

​"Bik," panggil Ziva lembut.

​Bi Sumi menoleh dan mendapati gadis majikannya sedang berusaha tersenyum. Namun, mata tajam wanita tua itu segera menangkap wajah pucat dan leher Ziva yang tampak kemerahan. "Non Ziva sakit?" tanya Bi Sumi khawatir.

​"Ziva nggak sakit kok, Bik. Ziva cuma kelamaan berendam tadi di kamar mandi," bohong Ziva agar Bi Sumi tidak cemas.

​"Lalu lehernya kenapa merah-merah gitu, Non?"

​Ziva tertegun sejenak, lalu menyentuh area lehernya. "Ouh, ini tadi Ziva coba baju baru yang Ziva beli, tapi nggak bisa dilepas, nyangkut di leher jadinya," elaknya.

​Bi Sumi mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia tahu ada yang tidak beres. "Non Ziva mau ngapain ke dapur? Biar bibik saja yang masak untuk Nyonya dan yang lainnya."

​"Nggak usah, Bik. Ziva juga bosan kalau di kamar terus, Ziva mau bantu masak ya," pinta Ziva.

​"Tapi, Non..."

​"Nggak apa-apa, Bik. Kita masak bareng-bareng saja supaya cepat selesai sebelum Ayah pulang," ujar Ziva dengan senyum tulus yang membuat Bi Sumi akhirnya mengalah. Di tengah keterpurukan hidupnya, setidaknya masih ada orang yang peduli padanya di rumah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!