NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:841
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilamar Pak Bupati

Pagi harinya, setelah malam penuh haru bersama ibunya, Rasyid sudah berdiri di depan rumah Ami dengan wajah yang jauh lebih ringan dari hari-hari sebelumnya. Matahari bahkan belum terlalu tinggi ketika Ami membuka pintu dan langsung terkejut melihat Rasyid datang begitu pagi dengan senyum yang sulit disembunyikan.

“Bapak?” Ami mengernyit heran. “Kenapa pagi-pagi sudah ke sini?”

Rasyid hanya tersenyum santai, lalu bersandar ringan di pintu sambil berkata, “Jadi bagaimana? Kamu bersedia jadi ibu Bupati?”

Wajah Ami langsung memerah. “Bapak ini ngomong apa sih?” balasnya cepat sambil berusaha menahan malu, tetapi Rasyid justru tertawa kecil melihat reaksinya.

“Aku serius,” lanjut Rasyid sambil terus menggoda, “dulu ada orang yang nyuruh aku jangan menyerah. Sekarang aku menang. Masa orangnya malah mau lari?”

Ami memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan senyum yang mulai muncul. “Saya bantu Bapak karena ingin kampung kami berubah, bukan karena…” ucapnya setengah gugup.

Rasyid langsung memotong dengan nada ringan, “Oh, jadi kalau kampungnya sudah berubah, berarti sekarang tinggal mikirin masa depan kita?”

“Bapak!” Ami akhirnya memukul pelan lengan Rasyid dengan malu dan kesal bercampur jadi satu, sementara Rasyid tertawa lebih lepas daripada sebelumnya. Setelah sekian lama hidup di bawah tekanan, ancaman, dan pertarungan politik yang melelahkan, pagi itu menjadi salah satu momen pertama di mana ia bisa benar-benar merasa tenang berdiri di depan perempuan yang tetap memilih percaya padanya bahkan ketika hampir semua orang pergi.

Ami masih berusaha menyembunyikan wajah malunya ketika Rasyid terus menatapnya dengan senyum jahil yang sejak tadi tidak hilang.

“Kenapa diam saja?” goda Rasyid lagi. “Apa calon ibu Bupati masih perlu waktu berpikir?”

Ami mendengus kecil, lalu menyilangkan tangan di depan dada, mencoba terlihat tenang meski jelas gagal. “Bapak sekarang sudah jadi Bupati, harusnya lebih serius sedikit.”

Rasyid justru tertawa pelan. “Aku sudah terlalu lama serius, Mi. Sekali-kali biarkan aku menikmati hidup.”

Kalimat itu membuat Ami perlahan berhenti membalas. Untuk pertama kalinya sejak semua perjuangan panjang itu, ia melihat Rasyid bukan sebagai sosok yang sedang dikejar ambisi dan tekanan, tetapi sebagai lelaki yang akhirnya bisa bernapas lega setelah sekian lama memikul beban sendirian.

Rasyid kemudian melangkah sedikit lebih dekat. Nada suaranya kali ini jauh lebih lembut. “Mi, selama semua orang mulai pergi, kamu malah datang dan berdiri di sampingku. Waktu aku hampir menyerah, kamu yang nyuruh aku bertahan.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Kalau sekarang aku diberi kesempatan memulai hidup baru… aku ingin jalan itu ada kamu di sampingku.”

Ami yang sejak tadi mencoba bercanda akhirnya terdiam. Tatapannya perlahan melembut. Ia teringat semua malam penuh ketegangan, semua perjuangan kecil yang mereka lalui, dan bagaimana mereka saling menjaga harapan di saat keadaan hampir runtuh.

Dengan suara pelan, Ami akhirnya berkata, “Kalau Bapak benar-benar tidak berubah setelah jadi pemimpin…” ia menahan senyum kecilnya, “Mungkin saya bisa mempertimbangkannya.”

Rasyid langsung tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru memenangkan sesuatu yang lebih besar dari pilkada itu sendiri. “Berarti aku masih punya harapan?” tanyanya cepat.

Ami menggeleng sambil tertawa kecil. “Jangan senang dulu, Pak Bupati. Perjuangan Bapak masih panjang.”

Dan pagi itu, di depan rumah sederhana yang pernah menjadi tempat lahirnya harapan kecil untuk perubahan, keduanya berdiri dengan perasaan yang jauh lebih ringan, seolah setelah semua pertarungan panjang, hidup akhirnya memberi mereka ruang untuk memulai sesuatu yang lebih tenang dan lebih manusiawi.

Ami menatap Rasyid cukup lama, seolah memastikan bahwa lelaki di hadapannya masih orang yang sama seperti saat pertama kali datang dengan wajah lelah dan hampir kehilangan harapan. Lalu perlahan ia tersenyum kecil, senyum yang sederhana namun penuh ketulusan.

“Kalau Bapak bertanya apakah saya mau jadi ibu Bupati,” ucapnya pelan, “jawabannya bukan tentang jabatan itu.” Ia menunduk sebentar sebelum kembali menatap Rasyid. “Saya mau tetap di samping Bapak kalau Bapak tetap jadi orang yang memperjuangkan masyarakat kecil seperti yang selama ini saya lihat.”

Suara Ami mulai bergetar halus karena menahan perasaan yang selama ini ia simpan sendiri. “Saya tidak peduli rumah besar, jabatan, atau kekuasaan. Saya hanya tidak ingin melihat Bapak berubah jadi orang yang dulu kita lawan.”

Rasyid terdiam mendengar itu.

Ami lalu melanjutkan dengan senyum tipis yang kali ini lebih hangat, “Jadi… kalau Bapak masih tetap jadi Rasyid yang datang ke kampung kami dulu, yang mau mendengar keluhan warga, yang tetap bertahan meski dijatuhkan… saya bersedia berjalan bersama Bapak.”

Kalimat itu sederhana, tapi bagi Rasyid terasa jauh lebih besar daripada kemenangan politik yang baru saja ia raih, karena akhirnya perempuan yang paling ia perjuangkan bukan hanya menerima dirinya saat menang, tetapi juga karena percaya pada siapa dirinya sebenarnya.

Rasyid tersenyum lebar mendengar jawaban Ami, namun kali ini tidak lagi penuh godaan seperti sebelumnya. Ada kesungguhan yang jelas terlihat di matanya. Ia menggenggam tangan Ami pelan lalu berkata, “Aku janji, setelah ini aku akan bicara baik-baik dengan ibumu. Aku tidak mau hubungan ini hanya jadi janji yang menggantung.”

Ami menatapnya diam-diam.

Rasyid melanjutkan dengan suara tenang namun mantap, “Setelah pelantikan nanti… aku ingin kita menikah.”

Kalimat itu membuat Ami kembali menahan napas sejenak. Bukan karena terkejut semata, tetapi karena ia tahu Rasyid tidak sedang bercanda. Setelah semua perjuangan, tekanan, dan badai politik yang mereka lewati, lelaki itu kini berbicara tentang masa depan dengan cara yang jauh lebih sederhana dan tulus.

“Aku sudah terlalu lama hidup mengejar banyak hal,” lanjut Rasyid sambil tersenyum kecil, “dan sekarang aku cuma ingin pulang ke orang-orang yang benar-benar percaya padaku.”

Mata Ami mulai berkaca-kaca, tetapi ia tetap berusaha tersenyum. “Bapak yakin?” tanyanya lirih.

Rasyid mengangguk tanpa ragu. “Aku sudah yakin sejak perempuan keras kepala ini menyuruhku jangan menyerah waktu semua orang mulai pergi.”

Ami tertawa kecil sambil menahan haru, sementara pagi itu terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Di tengah kemenangan besar yang baru saja diraih Rasyid, ternyata yang paling ia inginkan bukan kemewahan kekuasaan, melainkan membangun hidup bersama orang-orang yang tetap tinggal di sisinya ketika ia hampir kehilangan segalanya.

Ami menunduk malu sambil memainkan ujung lengan bajunya, mencoba menyembunyikan senyum yang terus muncul sejak tadi. Untuk beberapa saat, suasana di antara mereka menjadi lebih tenang, tidak lagi dipenuhi ketegangan politik atau pembicaraan tentang kemenangan, melainkan tentang dua orang yang perlahan mulai membayangkan hidup setelah semua perjuangan panjang itu selesai.

“Aku serius, Mi,” kata Rasyid lagi dengan nada lebih lembut. “Aku ingin setelah pelantikan nanti, rumah yang selama ini kosong karena terlalu banyak urusan dan ambisi… bisa benar-benar jadi rumah.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!