NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Luar biasa cepatnya Anda menebang pohon, Tuan Lin. Saya baru dapat dua akar ginseng," kata Bai Ruoxue sambil berdiri dan menepuk debu dari celemeknya.

"Kapak peninggalan kakek saya ini sangat tajam," jawab Lin Ye sambil tersenyum, berjalan menghampiri Bai Ruoxue. "Apakah herbalnya sudah cukup?"

"Sudah cukup untuk racikan minggu ini. Mari kita tu—"

Krrr. Oing.

Kata-kata Bai Ruoxue terpotong oleh suara geraman berat yang sangat serak dari balik semak belukar yang rimbun di depan mereka. Suara patahan ranting terdengar sangat jelas dan cepat, menandakan sesuatu yang besar sedang berlari ke arah mereka.

Mata Lin Ye langsung menajam. Dia segera melangkah maju, memposisikan tubuhnya di depan Bai Ruoxue untuk melindunginya.

"Mundur ke belakang saya, Perawat Bai. Jangan bergerak tiba-tiba," perintah Lin Ye dengan nada suara yang sangat rendah dan tenang.

Srek.

Seekor babi hutan berukuran sangat masif menerobos keluar dari semak belukar. Ukurannya hampir setinggi pinggang Lin Ye, dengan bulu hitam kasar yang berdiri tegak. Dua buah taring melengkung yang tajam mencuat dari moncongnya. Babi hutan itu mendengus marah, matanya menatap tajam ke arah Lin Ye dan Bai Ruoxue. Makhluk liar itu jelas merasa terganggu oleh suara pohon tumbang tadi.

Bai Ruoxue menahan jeritannya. Tangannya tanpa sadar mencengkeram erat bagian belakang kemeja Lin Ye. Tubuhnya bergetar ketakutan. Menghadapi babi hutan raksasa di alam liar tanpa senapan berburu adalah mimpi buruk yang sering merenggut nyawa warga desa.

"Tuan Lin... kita harus lari," bisik Bai Ruoxue dengan suara gemetar.

"Tidak bisa. Babi hutan berlari lebih cepat dari manusia di jalan menanjak. Jika kita membelakanginya, dia akan langsung menanduk kita," jawab Lin Ye, matanya terus terkunci pada mata babi hutan itu.

Babi hutan itu mengais tanah dengan kaki depannya.

Grok.

Dalam sekejap, makhluk seberat ratusan kilogram itu melesat maju, menerjang lurus ke arah Lin Ye bagaikan sebuah truk kecil yang kehilangan kendali. Taringnya yang mematikan diarahkan tepat ke perut Lin Ye.

"Tuan Lin, awas," teriak Bai Ruoxue panik.

Lin Ye tidak panik. Kejernihan pikirannya membuat pergerakan babi hutan itu terasa sedikit lebih lambat di matanya. Saat babi itu hampir menabraknya, Lin Ye mendorong dada Bai Ruoxue ke samping agar wanita itu terhindar dari jalur terjangan.

Wush.

Lin Ye melompat ke sisi kanan tepat pada detik terakhir. Babi hutan itu meleset dari sasarannya, namun makhluk itu segera mengerem langkahnya dengan menggesekkan kukunya di atas tanah, lalu berputar dengan cepat untuk melakukan serangan kedua.

Kali ini, Lin Ye tidak akan memberikan kesempatan. Dia mengubah genggamannya pada gagang kapak, memegangnya dengan kedua tangan penuh tenaga.

Saat babi hutan itu kembali melompat menerjang, Lin Ye tidak menghindar. Dia memfokuskan seluruh tenaga fisiknya ke kedua lengannya dan mengayunkan mata kapak hitamnya dengan tebasan memutar yang sangat kuat dari samping.

Bugh. Krak.

Suara hantaman tumpul yang mengerikan menggema di udara. Gagang kayu keras dari kapak Lin Ye menghantam tepat di sisi kepala babi hutan tersebut dengan kekuatan yang luar biasa. Tulang tengkorak makhluk itu retak akibat benturan ekstrem tersebut.

Babi hutan raksasa itu terpental ke samping, terguling beberapa kali di atas tanah sebelum akhirnya menabrak sebatang pohon pinus besar dan diam tak bergerak. Napas makhluk itu tersengal-sengal sesaat sebelum akhirnya putus.

Suasana bukit kembali menjadi hening. Hanya terdengar napas Lin Ye yang sedikit memburu.

Bai Ruoxue yang terduduk di atas tanah menatap pemandangan itu dengan mulut terbuka lebar. Dia tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Seorang mantan pekerja kantoran dari kota baru saja menumbangkan seekor babi hutan raksasa hanya dengan satu ayunan kapak.

Lin Ye menurunkan kapaknya dan segera menghampiri Bai Ruoxue. Dia mengulurkan tangannya.

"Anda tidak terluka kan, Perawat Bai?" tanya Lin Ye, sorot matanya penuh kekhawatiran.

Bai Ruoxue menatap tangan Lin Ye, lalu menerima uluran itu. Lin Ye menariknya berdiri dengan mudah.

"Sa... saya tidak apa-apa, Tuan Lin. Tapi Anda... Anda luar biasa. Saya belum pernah melihat ada orang yang menghentikan terjangan babi hutan sendirian, bahkan Paman Feng si pemburu desa pun biasanya butuh anjing pemburu dan senapan," kata Bai Ruoxue, matanya masih menatap bangkai babi hutan di sana.

"Saya hanya beruntung kapak saya mendarat di tempat yang tepat," Lin Ye merendah, menutupi fakta bahwa tenaganya telah diperkuat oleh sistem.

"Ayo kita segera turun dari sini. Bau darah biasanya bisa memancing kawanan lainnya. Saya akan memberi tahu Kepala Desa nanti agar menyuruh orang mengambil bangkai babi itu untuk dibagikan ke warga," kata Lin Ye. Dia mengambil kembali keranjang rotan Bai Ruoxue dan menuntun wanita itu menuruni bukit.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih dekat. Bai Ruoxue masih terlihat sedikit syok, namun genggaman tangan Lin Ye di lengannya memberikan rasa aman yang tak terlukiskan. Bagi Lin Ye, kejadian ini adalah pengingat bahwa alam, meski sudah terikat sistem, tetap memiliki bahayanya sendiri.

Sesampainya di jalan utama desa, Lin Ye berpisah dengan Bai Ruoxue.

"Terima kasih banyak atas perlindungan Anda hari ini, Tuan Lin. Jika Anda tidak ada di sana, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya," ucap Bai Ruoxue tulus, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Sama-sama, Perawat Bai. Anggap saja kita impas dengan biaya pengobatan kemarin. Hati-hati di jalan," balas Lin Ye sambil tersenyum.

Lin Ye kembali ke rumahnya. Hari sudah menjelang sore. Dia mengunci gerbang, menyimpan kapaknya yang kini dia ubah kembali ke mode cangkul.

Target kayu solid sudah tercapai. Sekarang, dia hanya tinggal menunggu malam tiba untuk masuk ke dalam tambang dan mencari dua bijih tembaga yang tersisa.

Waktu berlalu dengan cepat saat Lin Ye menghabiskan sore harinya dengan membersihkan halaman dan menyusun rencana ekspansi lahan.

Ketika langit benar-benar gelap dan desa sudah sunyi, Lin Ye kembali mengenakan perlengkapan tambangnya. Dia menuruni sumur menggunakan tali tambang.

Klak. Drrrtt.

Pintu batu berukir itu kembali terbuka menyambutnya. Lin Ye melangkah masuk ke dalam Area Tambang Warisan Lapisan Pertama.

Kali ini, dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak membuang waktu. Senter kepalanya menyapu ruangan bundar yang penuh dengan gundukan batu abu-abu.

Lin Ye mengayunkan Cangkul Kayu Besi Hitamnya bertubi-tubi, menghancurkan batu demi batu dengan ritme yang stabil.

Trak. Brak. Trak. Brak.

Dalam waktu setengah jam, dia telah menghancurkan belasan batu. Keringat membasahi jaketnya, namun usahanya membuahkan hasil. Tiga bongkahan kecil berwarna kuning tembaga berhasil dia kumpulkan dari balik reruntuhan batu, melebihi target yang dia butuhkan.

"Tembaga sudah cukup. Waktunya untuk peningkatan alat," kata Lin Ye, napasnya terengah-engah.

Dia duduk bersandar di dinding gua, mengeluarkan semua bahan yang dibutuhkan dari dalam inventaris dan sakunya, lalu meletakkannya di atas tanah. Satu Bijih Besi Hitam, lima Bijih Tembaga, dan lima puluh Potongan Kayu Solid.

"Sistem, semua persyaratan modifikasi telah terpenuhi. Lakukan perakitan Modifikasi Cangkul Level 2 sekarang," perintah Lin Ye dengan lantang.

Sring.

Sebuah lingkaran cahaya sihir berwarna emas muncul di atas tanah, menutupi semua bahan material tersebut. Cangkul Kayu Besi Hitam milik Lin Ye tiba-tiba melayang ke udara, tertarik ke dalam lingkaran cahaya tersebut.

Bahan-bahan mentah itu melebur menjadi energi cair keemasan. Kayu solid melebur ke dalam gagang cangkul, membuatnya menjadi sedikit lebih panjang dan berwarna cokelat kemerahan yang sangat elegan. Bijih tembaga dan besi hitam melebur, membungkus mata cangkul besi hitam itu, mengubahnya menjadi paduan logam yang sangat kuat dan memancarkan kilau tembaga gelap yang tajam.

Ting.

Cahaya keemasan meredup. Cangkul yang baru selesai dimodifikasi itu jatuh perlahan ke pangkuan Lin Ye.

"Modifikasi Selesai. Selamat, Pengguna."

"Alat Serbaguna telah ditingkatkan menjadi: Cangkul Tembaga Hitam Level 2."

Layar hijau menampilkan deskripsi alat barunya.

"Efek Pasif Level 2: Mengurangi kelelahan kerja fisik hingga 75%. Ketahanan alat meningkat menjadi tidak bisa hancur oleh benda non-magis."

"Kemampuan Khusus (Mode Cangkul): Ayunan Area. Saat digunakan untuk menggali tanah pertanian, satu ayunan cangkul akan secara otomatis menggemburkan dan merapikan petak tanah seluas 3x3 meter sekaligus."

"Kemampuan Khusus (Mode Kapak): Tebasan Ganda. Sangat efektif untuk menebang pohon kayu keras tipe premium di masa depan."

Lin Ye menggenggam gagang cangkul barunya. Sensasinya luar biasa berbeda. Alat ini terasa hidup, mengalirkan tenaga yang berlipat ganda ke dalam lengannya.

"Menggemburkan area tiga kali tiga meter hanya dengan satu ayunan? Ini gila. Dengan alat ini, aku bisa membuka lahan sebesar lapangan sepak bola hanya dalam waktu beberapa jam," Lin Ye tertawa keras. Suaranya bergema di dalam gua tambang yang sunyi.

Dia bangkit berdiri, membawa cangkul barunya dengan kebanggaan yang membuncah. Dengan alat ini dan uang tunai puluhan ribu yuan di rumahnya, kekaisaran pertanian Lin Ye di Desa Qingshui akan segera dimulai besok pagi.

1
Heri Susanto8246
😄😄 jadi ingat novel nelayan yang tidak pernah mendapatkan ikan saat memancing.
Gege
bukannya ada ruang penyimpanan sistem ya tor.. simpan saja sampe menggunung didalamnya...
Junior Ian
Bgus
Manusia Biasa
keren thor mekanik Sistem nya🤣 benar benar kaya game rpg
Manusia Biasa
jir kirain dapat ikan grade s atau gede🗿
Yui: harus out of the box kak/Smile/
total 1 replies
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Manusia Biasa
jir ada fitu memancing juga asik🤣
Manusia Biasa
wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!