Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 kemenangan yang tidak disangka
Cahaya biru menyelimuti tubuh Prisma seperti api yang hidup. Energi yang tersisa hanya sedikit, namun digantikan garis-garis energi yang berdenyut dari sisa energi sarah.
"prisma saya juga menyukaimu, dikehidupan selanjutnya saya bersedia hidup bersamamu." ucapan terakhir dari sarah untuk prisma.
Prisma mencoba tegar dan mengerti keputusan sarah.
Angin berputar semakin kencang, membawa daun-daun beterbangan mengitari dirinya.
Varghul berhenti melangkah.
“Aura itu...” suaranya berat. “Kekuatan penjaga cahaya?”
Prisma menatap tajam.
“Ini warisan dari seseorang yang percaya kami masih bisa menang.”
Tanpa aba-aba, Prisma menghilang dari tempatnya berdiri.
DUAAK!
Pedangnya menghantam dada Varghul hingga raksasa itu mundur dua langkah. Zirah hitamnya retak untuk pertama kali.
Reina yang baru saja kembali dan langsung melihat adegan tersebut. “Dia melukainya...!” ucap reina terpaku dan tidak percaya.
Varghul meraung marah dan mengayunkan pedang raksasa. Prisma menunduk, melompat ke atas bilah pedang itu, lalu berlari di sepanjang senjata musuhnya. Dalam satu putaran cepat, ia menebas helm bertanduk Varghul.
TANDUK BESI itu terpotong dan jatuh ke tanah.
Santo tersenyum tipis sambil menyeka darah yang keluar dari mulutnya. “Nah, itu baru prisma sang pemberani.”
Varghul memukul tanah dengan tangan kosong. Gelombang kejut meledak ke segala arah. Prisma terpental, namun masih mampu berdiri kembali.
namun dari retakan tanah, puluhan rantai hitam keluar dan melilit kaki Prisma.
“Kau terlalu percaya diri!” geram Varghul.
Prisma berusaha melepaskan diri, tapi rantai itu menyerap energi dari tubuhnya sedikit demi sedikit.
Reina yang telah mengumpulkan energinya dalam bentuk busur dan anak panah dan sudah siap untuk menyerang.
“Prisma menunduk!!” teriak reina dari belakang jauh dari posisi prisma.
Ia menembakkan panah ke mata Varghul. Makhluk itu menepis, namun cukup membuat fokusnya pecah, tanpa disadari reina telah melepas tiga anak panah dengan energi penuh dan tepat mengenai leher dan kepalanya.
Namun Varghul masih memiliki kekuatan untuk menyerang.
Santo yang terluka parah bangkit sambil mengumpulkan energinya dengan membentuk sebuah pedang besar yang dialiri hampir seluruh energi santo yang tersisa.
“Sekali lagi!” santo melempar pedang energi miliknya.
Ia menghantam kaki besi milik varghul hingga pecah, retakannya mengeluarkan cahaya putih.
Dengan tubuh penuh luka dandi berlari sambil membawa perisai energi yang tidak sempurna karena telah kehabisan energi dan menabrak kaki Varghul sekuat tenaga, kemudian mengganti senjata kedua tombak yang tidak kalah hebat dari perisai miliknya, kemudian tombak tersebut ditancapkan dikakinya.
Reina mengubah senjatanya menjadi panah besar yang dipenuhi kekuatan dan menusuk celah retakan zirah pada dada varghul.
Varghul meraung marah.
Kaki Prisma bebas.
Ia berdiri perlahan, cahaya biru kini lebih terang dari sebelumnya. Pecahan energi sarah di tangan kirinya berubah menjadi debu cahaya dan menyatu sepenuhnya ke pedang energi miliknya.
Pedang itu kini memancar seperti bintang.
“Semua mundur!” teriak Reina menyadari varghul akan membalas serangan mereka.
Teman-temannya segera menjauh dari tubuh varghul.
Varghul mencabut pedang hitamnya dan mengangkat tinggi.
“Kalau begitu, mati bersama kehormatanmu!”
Prisma mengambil posisi.
“Ini untuk Sarah.”
Ia melesat lurus seperti kilat biru dengan membawa pedangnya.
Varghul menebas ke bawah. "apa?"
Waktu seakan berhenti.
Tidak ada yang menyangka prisma berbelok keatas dan membelah bagian dada hingga kepala.
Lalu—
KRAAAKK!!
Gelombang energi membelah tanah hutan sepanjang ratusan meter. Pepohonan terpotong, batu-batu hancur, kabut tersapu habis akibat tebasan varghul.
Dengan cepat reina telah berdiri di belakang tanpa varghul sadari, dengan cepat mengeluarkan pedang energinya. Satu tebasan membelah dada hingga kaki.
Varghul membeku.
Retakan cahaya menyebar di seluruh zirah hitamnya.
“Aku... dikalahkan... oleh manusia...?”
Tubuh raksasa itu terbelah dua dan runtuh dengan suara menggelegar.
Tanah kembali sunyi.
Prisma terjatuh berlutut, napasnya berat. Cahaya pedangnya padam perlahan.
Reina dan yang lain berlari menghampiri prisma yang kehabisan tenaga.
“Kita menang...” bisik andri.
"ya kita menang." prisma sudah tidak kuat menompang tubuhnya kemudian ambruk.
"Prisma!!" teriak reina.
Andri dengan cepat memeriksa keadaan prisma, "tenang saja. Dia tidak apa-apa, mungkin tenaganya sudah benar-benar habis."
"cepat minggir, atau dia akan mati." ucap reina dan bergegas memberikan sedikit energi spiritual miliknya.
Setelah mendapat energi spiritual dari reina, perlahan mata prisma terbuka.
Pandangannya menangkap sosok reina, kemudian beralih ke andri, santo dan dandi. Air matanya tak dapat dibendung.
"huuaaaaaa ketua dio,.. Sarah..." teriak prisma sambil menangis seperti anak kecil.
Mereka tersenyum melihat keadaan prisma yang baik-baik saja, meskipun ada luka didalam dada karena kehilangan dua anggota sekaligus.
Tubuh mereka semua penuh luka, tulang tangan dan kaki patah bahkan tulang punggung remuk.
Mereka semua mencari mayat dio dan ikut merebahkan tubuh disampingnya. Mereka menatap langit yang sama, tenang, damai dan dipenuhi cahaya bintang-bintang meskipun mata dio telah terpejam.
"ketua, tanpa bantuanmu mungkin kita semua sudah mati. Jadi kita harap kamu bangga dengan kami." ucap dandi dengan suara sedikit bergetar.
"Sarah, tanpa bantuanmu mungkin saya telah mati." lanjut prisma tak dapat menahan air matanya.
Prisma mengingat kenangan beberapa waktu lalu saat bersama. Setiap hari saling bercanda dan tertawa.
"nona sarah, kamu sungguhan menyukai ketua dio?." tanya prisma ketika mereka sedang berada dipinggir sungai saat sedang mencari warga yang selamat didesa babat.
Sarah menghentikan langkahnya, tatapan matanya tidak mampu berbohong. Suara hatinya seakan menjerit untuk berkata jujur.
"tidak, saya hanya sedang menjalankan misi." ucap sarah dan membuang wajahnya.
Prisma terus menatap wajahnya tanpa berkedip, "saya tahu kamu hanya ingin membunuh reina supaya bisa kembali kedunia asalmu. Bisakah kamu-" prisma mengepalkan kedua tangannya sangat keras,
"bisakah kamu melupakan duniamu? Mari kita hidup bersama." kata prisma dengan mantap dan mata saling bertatapan.
Mata sarah berbinar dan sedikit berair, "tidak bisa." ucap sarah dengan cepat dan pergi meninggalkan prisma.
***
"kamu bohong, kamu bilang tidak bisa meninggalkan misimu dan kembali keduniamu tapi kenapa??" gumam prisma pelan sambil menangis.
Sesungguhnya prisma dan sarah saling menyukai, namun karena sarah sedang memainkan game dan harus menjalankan misi dia tidak bisa berkata jujur akan perasaannya.
Didunia asalnya, sarah adalah gadis periang, baik hati dan suka menolong sehingga banyak yang menyukainya.
Sedangkan santo, andri dan dandi mengingat kembali kebersamaannya dengan dio.
Disaat sedang berlatih, menjalankan misi, makan dan dimanapun mereka selalu bersama meskipun dio adalah orang yang menyebalkan, bertindak semaunya sendiri tapi dia selalu bertanggung jawab atas anggota timnya hingga akhir.
Sedangkan reina hatinya terasa bergetar melihat dio dan sarah dikehidupan ini, mengapa tindakannya berbeda, dikehidupan sebelumnya mereka berdua sangat kejam, tapi dikehidupan ini mereka sedikit berperasaan meskipun tetap menyebalkan.
Apakah karena reina telah terlahir kembali sehingga sejarah berubah??.
Mereka meratapi kepergian dio dan sarah bersama, tidak ada yang tak menangis hingga mereka benar-benar tertidur karena lelah sampai bantuan jenderal yanto tiba.