Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Kebangkitan sang "pencipta"
Setelah kejadian mengerikan yang menewaskan satu penjaga, suasana di ruangan itu menjadi sangat sunyi. Bau darah segar mulai tercium, bercampur dengan aroma obat-obatan yang tajam. Dr. Stela, yang baru saja bangun, mulai mencabuti satu per satu selang yang menempel di tangan, dada, dan kakinya. Ia melakukannya dengan tenang, seolah tidak merasakan sakit sedikit pun.
Dengan gerakan tubuh yang luwes, Stela turun dari ranjang dan berdiri tegak. Ia berjalan perlahan ke arah Aris dan Liora yang masih berdiri mematung. Wajahnya terlihat sangat muda dan segar, kontras dengan kengerian yang baru saja ia tunjukkan.
Ia menatap Aris dan Liora bergantian, lalu bertanya dengan suara yang sangat lembut. "Siapa kalian? Dari mana asal kalian? Dan kenapa kalian bisa ada disini?"
Aris dan Liora hanya bisa diam, lidah mereka terasa kelu.
"Kenapa diam?," lanjut Stela sambil tersenyum tipis. "Kalau kalian diam, nasib kalian bisa berakhir sama seperti penjaga itu." mengancam.
Aris menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. "Saya Aris, dan ini Liora. Kami... kami relawan, kami terjebak di sini setelah tanah di atas amblas."
Stela mendengarkan dengan saksama, matanya yang tadi putih kini mulai kembali normal, namun tetap terlihat dingin. Sementara itu, Axel masih berdiri diam tidak jauh dari sana. Ia masih syok melihat kekuatan ibunya yang di luar akal sehat.
Setelah selesai bertanya pada Aris dan Liora, Stela melangkah perlahan menghampiri Axel. Ia memegang tangan Axel dengan lembut, merasakan kulit yang dingin karena takut.
"Jangan takut. Ini kan yang kamu mau?" tanya Stella.
Axel tidak mampu menjawab. Ia hanya bisa mengangguk perlahan sambil air mata mulai mengalir di pipinya. Ia merasa bahagia karena ibunya sudah bangun, tapi juga sangat takut melihat perubahan besar pada diri ibunya.
Stela kemudian melepaskan tangan Axel dan berkata, "Siapkan makanan untukku. Aku sangat lapar setelah tidur begitu lama."
Mendengar perintah itu, Axel seolah tersadar dari lamunannya. Ia segera berbalik dan berlari menuju ruangan lain untuk menyiapkan makanan, diikuti oleh satu penjaga yang tersisa. Penjaga itu tampak sangat terburu-buru, ingin segera keluar dari ruangan yang mencekam tersebut.
Kini di dalam ruangan itu hanya tersisa Dr. Stela, Aris, dan Liora. Aris dan Liora berdiri berdampingan, tubuh mereka gemetar hebat.
Liora bahkan tidak sanggup menahan air matanya lagi, sementara Aris terus waspada, tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita di depan mereka ini selanjutnya.
Dr. Stela mulai berjalan perlahan mendekati Liora. Gerakannya sangat halus, hampir tidak bersuara di atas lantai beton. Ia menarik bahu Liora dengan lembut namun bertenaga, lalu mendekatkan wajahnya. Sepertinya Stela terpancing dengan aroma Liora yang masih segar dibandingkan udara bunker yang apek.
Liora memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan napas Stela di lehernya.
Stela mengendus pelan di sana, seolah sedang menikmati aroma parfum atau keringat Liora.
Tepat saat suasana semakin mencekam, pintu kamar terbuka. Axel berdiri di sana dan berkata bahwa makanan sebentar lagi siap.
Stela berhenti mengendus. Ia menjauh sedikit, lalu berbisik di telinga Liora. "Kamu memiliki aroma yang sangat... hmmm, tapi sayang sekali, aku tidak memakan manusia."
Liora tetap diam mematung, wajahnya pucat pasi karena ketakutan. Stela kemudian tersenyum dan mengajak Aris serta Liora untuk ikut makan bersamanya.
Mereka pindah ke ruangan lain yang nampak sangat bersih dan terang. Di tengah ruangan, sebuah meja besar sudah penuh dengan berbagai macam makanan lezat yang mengepulkan uap panas. Beberapa penjaga bersenjata berdiri mengelilingi ruangan, menjaga setiap sudut dengan waspada.
"Jangan sungkan, nikmati makanannya," ujar Stella dengan nada lembut namun terasa sangat mengintimidasi.
Axel segera mengambilkan sepotong daging besar untuk ibunya, lalu mengambil sepotong lagi untuk dirinya sendiri. Ia melihat Aris dan Liora masih diam mematung menatap piring kosong. "Ayo makan, jangan sampai menunggu diperintah dua kali," tegur Axel.
Dengan tangan yang masih gemetar, Aris dan Liora mulai mengambil apa yang bisa mereka jangkau di atas meja. Rasa lapar mereka sebenarnya sudah hilang tertutup rasa takut, namun mereka terpaksa memasukkan makanan itu ke mulut.
Sesi makan berlanjut dengan obrolan ringan antara Axel dan ibunya. Axel menceritakan sedikit tentang perkembangan dunia di atas, sementara Stela mendengarkan sambil sesekali memotong dagingnya dengan sangat rapi. Aris dan Liora hanya menyimak pembicaraan itu tanpa berani menyela.
Tiba-tiba, Stela meletakkan pisau makannya. Ia menatap Aris, lalu mengaku bahwa ia lupa nama mereka berdua. Ia menyuruh mereka mengulang nama masing-masing.
"Saya lupa, nama kalian siap?," tanya Stela.
"Aris Ardiansyah," jawab Aris singkat.
"Liora Weidenfeller," ucap Liora pelan.
Seketika, Stela terdiam. Suasana ruangan yang tadinya diiringi denting sendok menjadi sunyi senyap. Stela mengulang nama itu dengan nada datar, seolah sedang menggali ingatan lama. "Weidenfeller?"
Aris dan Axel langsung menatap ke arah Liora, lalu beralih ke Stela. Aris menoleh ke arah Liora dengan tatapan penuh tanya, baru menyadari bahwa ia sendiri tidak pernah tahu nama belakang Liora.
"Kenapa?" tanya Liora bingung melihat reaksi semua orang.
Stellla kembali mengambil pisaunya dan menjawab singkat, "Tidak ada. Silakan lanjutkan makan kalian."
Mereka semua kembali makan dalam keheningan yang lebih berat dari sebelumnya. Aris bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Liora, atau setidaknya, ada hubungan masa lalu antara nama keluarga Liora dengan Dr. Stela yang sedang mereka hadapi saat ini.
...****************...