NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit 3

Gerhana Sembilan Langit 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Menjadi NPC / Fantasi Timur
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)

Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.

Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.

Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Bintang

Fajar tiba di Kota Gerbang Astral, tetapi cahaya matahari yang biasanya keemasan dan penuh energi spiritual kini terasa... hampa.

Bagi jutaan penduduk fana dan kultivator kelas bawah di Distrik Tikus, pagi ini terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Namun, bagi para ahli Jiwa Baru Lahir di Kota Atas, perubahan ini adalah sebuah teror kosmik.

Kabut energi spiritual yang selalu menyelimuti menara-menara giok putih perlahan memudar. Formasi raksasa yang melindungi seluruh kota dari badai Lautan Tak Berujung mulai berkedip-kedip, seolah kehabisan napas, sebelum akhirnya padam dengan suara dengung yang menyedihkan.

Di Kediaman Utama Klan Bintang Jatuh, kepanikan telah melampaui batas kewarasan.

Tetua Agung Klan Bintang Jatuh, didampingi puluhan pengawal elit, berdiri di depan pintu baja Kubah Inti. Tangan sang Tetua gemetar hebat memegang Pelita Jiwa milik Patriark yang baru saja retak dan padam sepuluh menit yang lalu.

"Bongkar pintunya! BONGKAR SEKARANG!" raung Tetua Agung, matanya memerah.

BLAAARR!

Pintu baja itu dihancurkan dengan paksa. Para Tetua berhamburan masuk menuruni tangga pualam menuju dasar kawah bawah tanah.

Namun, saat mereka tiba di balkon observasi, pemandangan di bawah sana membuat lutut mereka lemas.

Sungai cahaya keemasan dari Nadi Bintang Meteorit—jantung kehidupan kota dan sumber kekayaan klan mereka selama ribuan tahun—kini telah kering kerontang. Hanya menyisakan parit batu hitam yang retak dan berdebu.

Di tengah parit itu, di atas platform obsidian, tidak ada Patriark yang sedang bermeditasi.

Yang ada hanyalah tumpukan debu es berwarna hitam-emas yang berserakan, dan sebuah jubah kebesaran klan yang membeku kaku di lantai.

"T-Tidak mungkin..." Tetua Agung jatuh berlutut, meraup debu es itu dengan tangan gemetar. "Nadi Bintang kita... dihisap habis? Patriark... dibekukan dari dalam?!"

Seorang Penilai Formasi klan berlari mendekat, wajahnya seputih kertas. "Tetua Agung! Segel formasi luar tidak pernah ditembus dengan paksa! Seseorang... seseorang menggunakan darah mendiang Tuan Muda Yan untuk membuka pintu ini dari luar, lalu menyelinap masuk!"

Tetua Agung mendongak, matanya memancarkan keputusasaan yang absolut.

"Kita sudah tamat," bisiknya hancur. "Tanpa Nadi Bintang, formasi kota mati. Tanpa Patriark, kita tidak memiliki pelindung. Faksi-faksi bayaran di kota bawah... mereka akan tahu. Mereka akan datang untuk mencabik-cabik kita hari ini juga."

Klan Bintang Jatuh, penguasa absolut Kota Gerbang Astral, telah runtuh hanya dalam waktu satu malam, dibunuh dalam diam oleh tiga hantu yang menyusup ke ruang bawah tanah mereka.

Distrik Tikus - Kedai Panci Hitam.

Jauh di bawah tanah yang kumuh, Han Luo (dalam wujud Xie Yan) sedang duduk santai di sudut kedai, meniup uap dari cangkir teh murahan.

Di seberang mejanya, Long Tian (Hei Mian) duduk tegak dengan tangan terlipat di dada. Di pangkuan Han Luo, Xue'er (gadis Roh Es) sedang tertidur lelap, menyerap sisa-sisa hawa dingin yang memancar dari tubuh Han Luo.

"Uhuk... uhuk..." Han Luo terbatuk pelan, memainkan peran pemuda sakit-sakitannya dengan sempurna di depan beberapa kuli pelabuhan yang kebetulan lewat.

Namun di dalam Dantian-nya, sebuah badai kosmik sedang terjadi.

Energi Nadi Bintang yang dia curi semalam begitu masif hingga Inti Emas Gerhana-nya kini memancarkan pendaran cahaya keemasan di balik kegelapan hampa. Han Luo merasa kekuatannya meronta-ronta, namun dia menekannya dengan paksa.

"Aku tidak bisa menerobos di kota kecil ini," batin Han Luo. "Jika aku melepaskan Kesengsaraan Petir di sini, seluruh Utusan dari Daratan Utama akan menyadari kehadiranku. Aku butuh tempat yang lebih terisolasi, atau perlindungan artefak tingkat tinggi."

Pintu kedai terbuka dengan kasar.

Zhuo Mang (mantan bos Geng Laba-laba Besi yang kini menjadi boneka Han Luo) berlari masuk dengan napas tersengal. Dia langsung menuju meja Han Luo dan berlutut.

"T-Tuan Besar!" bisik Zhuo Mang dengan suara bergetar, matanya memancarkan campuran antara teror dan kekaguman. "Kota Atas gila! Formasi pelindung kota mati total! Kabar burung mengatakan bahwa Patriark Klan Bintang Jatuh tewas karena penyimpangan Qi dan Nadi Bintang mereka hancur!"

Zhuo Mang menelan ludah, menatap Han Luo dengan ngeri. Dia tahu persis ke mana bosnya ini pergi semalam.

"Saat ini," lanjut Zhuo Mang, "Geng Ular Laut dan faksi-faksi pemberontak lainnya mulai mengangkat senjata. Mereka berencana menyerbu Kota Atas untuk menjarah harta Klan Bintang Jatuh selagi mereka lemah. Kota ini akan menjadi medan perang berdarah siang ini!"

Han Luo menyesap tehnya dengan tenang.

"Itu hukum alam, Zhuo Mang. Saat singa mati, anjing-anjing liar akan berpesta," Han Luo meletakkan cangkirnya. "Biarkan mereka saling menggigit. Kita sudah mendapatkan daging utamanya."

Han Luo menoleh ke arah Long Tian.

"Hei Mian. Bersiaplah. Kita tidak akan tinggal di kota ini lebih lama lagi."

"Kita akan menyewa kapal ke Daratan Utama?" tanya Long Tian melalui transmisi suara.

"Menyewa kapal biasa terlalu lambat dan berbahaya," Han Luo berdiri, dengan lembut mengangkat Xue'er dan meletakkannya di punggung Long Tian. "Lautan di depan sana dikuasai oleh faksi-faksi raksasa. Kita butuh tiket resmi."

Han Luo menatap Zhuo Mang.

"Zhuo Mang. Apa ada Kapal Lintas Astral milik faksi besar yang sedang berlabuh di kota ini?"

"A-Ada, Tuan!" Zhuo Mang mengangguk cepat. "Sebuah Kapal Besar Penembus Bintang milik Persekutuan Dagang Sembilan Langit sedang bersandar di pelabuhan luar. Mereka sedang mengisi perbekalan air tawar sebelum melanjutkan perjalanan ke jantung Cakrawala Suci. Tapi tiket mereka sangat mahal, dan hanya bangsawan yang diizinkan naik!"

Han Luo menyeringai tipis di balik saputangannya.

"Sempurna. Bangsawan di kota ini sedang sibuk mengemasi barang untuk kabur dari perang saudara. Ini adalah saat terbaik untuk membeli kursi mereka yang kosong."

Han Luo melangkah keluar dari kedai.

Di luar, suara ledakan mulai terdengar dari arah Kota Atas. Asap hitam mengepul ke langit emas. Pemberontakan telah dimulai. Para preman di Distrik Tikus berlarian dengan senjata terhunus, bersiap ikut serta dalam penjarahan terbesar abad ini.

"Jaga selokan ini baik-baik, Zhuo Mang," pesan Han Luo tanpa menoleh. "Terus kumpulkan informasi. Suatu hari nanti, Aliansi Gerhana mungkin butuh pelabuhan di wilayah ini."

"H-Hamba mengerti, Tuan Besar! Hamba akan menjaga wilayah ini dengan nyawa hamba!" Zhuo Mang bersujud di tanah berlumpur.

Han Luo dan Long Tian berjalan melawan arus massa yang sedang histeris. Mereka berjalan lurus menuju pelabuhan luar.

Satu Jam Kemudian - Pelabuhan Luar Kota Gerbang Astral.

Suasana di pelabuhan sangat kacau. Ratusan pedagang kaya dan bangsawan kecil yang ketakutan mencoba menyuap jalan mereka untuk naik ke kapal-kapal yang akan berangkat, melarikan diri dari perang kota yang sedang meletus.

Namun, di ujung dermaga yang paling eksklusif, bersandarlah sebuah kapal raksasa yang besarnya tiga kali lipat dari Leviathan Emas. Kapal itu terbuat dari kayu giok putih, memancarkan aura formasi pelindung setingkat Pemutus Roh.

Kapal Penembus Bintang.

Puluhan penjaga berzirah perak dari Persekutuan Dagang menahan massa yang mencoba memaksa naik.

"Mundur! Kapal ini hanya untuk penumpang khusus! Tidak ada tiket yang dijual di tempat!" teriak Kapten Penjaga dengan aura Jiwa Baru Lahir Awal.

Han Luo (Xie Yan) berjalan terseret-seret melewati kerumunan yang putus asa, terbatuk-batuk pelan dengan saputangan di mulutnya. Long Tian berjalan di belakangnya, wajahnya datar, menggendong Xue'er yang tertutup tudung.

"M-Minggir..." suara parau Han Luo membuat beberapa orang secara refleks menyingkir.

Saat Han Luo mendekati barisan penjaga, dua ujung tombak perak langsung bersilang di depan dadanya.

"Kubilang mundur, Kakek Tua!" bentak penjaga itu.

Han Luo tidak marah. Dia hanya menatap Kapten Penjaga yang berdiri di belakang barisan itu.

"Tuan Kapten," suara Han Luo lemah namun jelas. "Saya mendengar bahwa Tuan Muda Yan dari Klan Bintang Jatuh memesan sebuah Kabin VIP Tertinggi di kapal ini untuk perjalanannya ke Daratan Utama hari ini."

Kapten Penjaga mengerutkan kening. "Benar. Tapi kudengar anak itu sudah mati. Dan klannya sedang terbakar. Kami akan berangkat kosong."

"Sayang sekali jika kamar semewah itu dibiarkan kosong," Han Luo memasukkan tangannya ke dalam jubahnya.

Dia mengeluarkan sebuah Cincin Penyimpanan perak. Itu adalah cincin milik Utusan Matahari Suci (Zhong Ye) yang telah dia bunuh di tengah laut tempo hari.

"Orang tua ini kebetulan sedang mencari udara segar untuk menyembuhkan penyakit. Bagaimana jika saya... 'menggantikan' posisi Tuan Muda Yan?"

Han Luo melemparkan cincin itu ke tangan sang Kapten.

Kapten itu menangkapnya, dan dengan sedikit Indra Spiritual, dia memeriksa isinya.

Seketika, mata sang Kapten hampir melompat keluar dari rongganya.

Di dalam cincin itu, terdapat Satu Juta Batu Kristal Suci Murni. Itu adalah jumlah yang tidak masuk akal, bahkan untuk ukuran bangsawan Daratan Utama. (Han Luo sengaja memindahkan sebagian kecil hartanya ke cincin itu sebagai alat suap).

"I-Ini..." Kapten itu menelan ludah, menatap Kakek penyakitan di depannya dengan pandangan yang berubah 180 derajat.

Di Cakrawala Suci, orang yang bisa membuang satu juta kristal tanpa berkedip bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah Naga yang sedang menyamar.

Kapten itu segera menendang tombak anak buahnya ke samping.

"Turunkan senjata kalian, bodoh! Kalian menghalangi jalan Tuan Besar!"

Kapten itu membungkuk dalam-dalam, menyodorkan sebuah token giok berwarna ungu kepada Han Luo.

"Selamat datang di Kapal Penembus Bintang, Yang Mulia. Kabin khusus Tertinggi Nomor Satu adalah milik Anda. Perjalanan menuju Pusat Cakrawala Suci akan memakan waktu satu bulan, dan kami menjamin keamanan Anda sepenuhnya."

"Terima kasih, Kapten," Han Luo tersenyum tipis di balik saputangannya. "Pelayanan yang sangat cepat."

Han Luo dan Long Tian melangkah naik ke jembatan kapal berbahan giok tersebut, meninggalkan ratusan bangsawan lokal yang menjerit iri dan marah di belakang mereka.

Saat Han Luo berdiri di anjungan kapal raksasa itu, dia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.

Kota Gerbang Astral sedang terbakar. Asap hitam membumbung tinggi, menutupi langit keemasan. Sebuah peradaban kecil telah hancur, dikorbankan murni untuk mengisi ulang baterai Sang Dalang dan mengalihkan perhatian dunia darinya.

"Sekarang, mari kita bermain di liga utama."

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Mamat Stone
/Smirk/💥
Mamat Stone
/Joyful/💥
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
👻🤣
Mamat Stone
🤣👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Joyful/
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
senggol tabok 👊💥
Mamat Stone
senggol bacok /Cleaver/💥
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!