Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Seperti Ada Yang Hilang
"Papa kemana sih ma? Kok dari kemarin gak pulang-pulang?" Tanya Rindiani.
"Papa sudah punya rumah sendiri nak, jadi gak akan pulang kesini lagi" Jawab Renata.
Dia sengaja berkata jujur agar putri kesayangannya tidak terus-terusan menunggu sang papa pulang kerumah ini.
Renata memang sudah kembali kerumahnya setelah Raditya dipecat dari perusahaan, begitu juga dengan mobil milik Raditya sudah dijual dan uangnya di masukkan ke dalam rekening milik Rindiani.
"Kenapa ma?" Tanyanya dengan polos.
"Karena mama dan papa sudah tidak bisa bersama lagi, tapi Rindiani tenang saja. Kami akan selalu ada waktu buat kamu sayang, kalau Rindiani rindu bilang sama mama yah nanti kita hubungi papa" Ucap Renata.
"Iya ma, Rindiani memang rindu sama papa apalagi papa dari kemarin tidak menepati janjinya" Ucap Rindiani dengan sendu.
"Rindiani mau telepon papa sekarang?" Tanya Renata yang dijawab gelengan kepala oleh putrinya.
"Kenapa nak?"
"Gak apa ma, kalau papa rindu pasti akan datang menemui Rindiani" Jawabnya dengan polos.
Renata langsung memeluk anaknya dengan erat, putrinya yang masih kecil harus merasakan perpisahan orangtuanya.
"Maafkan mama nak, karena keegoisan mama dan papa. Kamu yang jadi korbannya" Ucap Renata sambil memeluk anaknya.
"Mama kenapa nangis?" Tanya Rindiani melihat sang mama menitikkan air mata saat memeluknya.
"Mama gak apa-apa kok sayang, kamu lapar nggak? Mama masakin nasi goreng mau?" Tawar Renata.
"Mau ma, kakak temani mama masak ya?"
"Emangnya kakak bisa?"
"Bisa ma, kan cuma menemani saja sambil bawa sisil" Jawabnya dengan menunjuk boneka barbie kesayangannya.
"Oke deh, lets go kita masak-masak" Ajak Renata dengan riang agar sang anak tak kembali sedih memikirkan sang papa.
Kini dia mulai memakai celemek dan membuatkan nasi goreng kesukaan putrinya, sebenarnya ini juga nasi goreng favorit Raditya.
Memasak menu ini mengingatkan dirinya pada belahan jiwanya yang dengan tegas mengkhianati dirinya dan menghancurkan pernikahan yang dibangun dengan susah payah karena harus meyakinkan sang papa dulu untuk meminta restu.
Tak butuh waktu lama kini Renata sudah selesai membuat nasi goreng seafood spesial dua porsi saja, hampir saja tadi dia membuat tiga porsi dan langsung ingat jika Raditya sudah pergi dari hidupnya.
"Sayang, udah beres ini ayok kita makan dulu" ajak Renata pada putri kesayangannya yang masih memainkan boneka barbie.
"Iya ma" Jawabnya
Mereka makan dalam diam hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring saja.
"Maaa..., minggu depan papa datang kan ke ulang tahun kakak?" Tanyanya.
"Insyaallah ya nak, nanti mama akan ngomong sama papa. Oh ya kakak mau dibuatkan pesta tema apa?"
"Mau dibuat tema barbie aja ma, boleh?" Tanyanya.
"Okee tuan putri semua akan siap dihari ulang tahunmu" Ucap Renata dan berdiri membawa piring kotor bekas makan mereka ke dapur.
****************
Di tempat lain kini Raditya tengah merayu Ratih untuk membantunya membayar hutang ke perusahaan.
"Ayolah sayang, berlian kamu kan masih banyak. Yang pernah aku belikan beberapa bulan lalu saja, bukan yang baru" Ucap Raditya dengan memegang lengan sang istri.
"Tapi mas..! Itu punya aku, kamu kan udah belikan buat aku" jawab Ratih.
"Berarti kamu lebih pilih suamimu ini dipengaruhi?"
"Ya bukan gitu maksudku, emang kurang berapa sih?"
"Kurangnya masih satu milyar lagi sayangku, tadi mas sudah minta bantuan ke mama dan hanya dikasih perhiasan satu kotak, sudah aku jual tadi laku seratus empat puluh lima juta saja" jawab Raditya.
"Hmm baiklah aku kasih pinjam kamu berlian satu set seharga empat ratus juta bagaimana? Tapi kamu janji kalau kamu udah dapat kerjaan balikin tiga kali lipat..!" Ucap Ratih.
"Iya sayang aku janji, yang penting uang perusahaan segera ku kembalikan dari pada aku mendekam dipenjara" Ucap Raditya.
Dengan segera Ratih masuk ke dalam kamar mengambil tas tangan miliknya.
"Mana kunci mobil mas" Ucap Ratih dengan menengadahkan tangannya pada Raditya.
"Kamu mau kemana?"
"Mau ambil berlian di apartemenku, kan aku simpan disana" jawab Ratih.
"Dianterin gak?" Tawar Raditya.
"Gak usah..! Aku berangkat sendiri saja, sekalian aku jualkan nanti uangnya aku transfer ke kamu" Ucap Ratih dan berlalu meninggalkan Raditya diapartemen.
Ratih segera melajukan mobilnya ke apartemen miliknya, sebenarnya dia tak ingin menjual berlian miliknya.
Dia akan mentransfer Raditya dengan uang yang berada di tabungan miliknya, uang jajan yang selama ini yang diberikan oleh Raditya.
Tak butuh waktu lama kini mobil yang dikendarai oleh Ratih sudah sampai di apartemen miliknya, apartemen ini memang tidak semewah dan se elit milik Raditya. Tapi termasuk apartemen kalangan atas juga, hanya beda kelas.
Ratih segera masuk kedalam apartemen miliknya dan membuka brangkas yang berada dikamar.
Dengan sekali memasukkan kode brangkas tersebut langsung terbuka dengan mudahnya, didalamnya ada beberapa surat penting, uang tunai dan juga beberapa set berlian dan perhiasan emas.
"Banyak juga aset milikku, jangan sampai mas Raditya tahu semua ini. Nanti bisa diambil olehnya" Gumam Ratih.
Dia segera memindahkan brangkas miliknya ketempat yang lebih aman, untung ukuran brangkas miliknya tidak terlalu besar jadi Ratih bisa memindahkannya sendiri.
"Hmm mending aku tidur dulu disini, nanti sejam lagi baru aku transfer uangnya" gumam Ratih dan merebahkan dirinya di ranjang.
Raditya yang menunggunya diapartemen tengah ketar-ketir, apa iya Ratih dengan mudahnya meminjamkan berlian untuk membayar hutangnya?
Sudah hampir satu jam Raditya menunggu tapi tak ada notifikasi uang masuk pada rekening miliknya.
Beberapa kali Raditya mencoba menelepon Ratih tapi tak diangkat olehnya, ya bagaimana mau diangkat.
Ratih saja masih terbuai di alam mimpi.
"Kemana sih dia, kok susah sekali dihubungi" Gerutu Raditya.
"Huuh mana lapar lagi..!" Lanjut Raditya dan merebahkan tubuhnya disofa sambil memainkan ponsel.
Saat dia memainkan ponsel, Renata memanggil lewat video call.
"Ngapain sih dia pakai vidcall segala" Gumam Raditya dan mengangkat panggilan dari Renata.
Saat panggilan sudah tersambung langsung muncul wajah sang putri yang terlihat menggemaskan.
[papaaaa...]
panggilnya dengan tersenyum manis.
[Halo anak papa yang cantik, lagi apa sayang?] Tanya Raditya.
[kakak lagi main pa, papa dimana kok belum pulang?] Ucap Rindiani.
[papa lagi dirumah papa ini nak, kapan-kapan kakak main kesini mau ya?"] Tawar Raditya.
[kenapa gak pulang kesini aja pa?"] Tanya Rindiani dengan wajah polos.
[maafin papa nak, papa belum bisa pulang kesana. Oh yaa anak papa ini sudah makan apa belum?]
[sudah pa, tadi mama masak nasi goreng seafood enak banget loh. Papa juga suka kan nasi goreng seafood buatan mama?]
[Iya sayang, mama mana?] Tanya Raditya, karena dari tadi dia tak melihat Renata.
[mama lagi nonton tv pa, oh ya minggu depan kakak ulang. Papa gak lupa kan?] Ucap Rindiani mengingatkan sang papa.
[tentu saja papa gak akan lupa sayang, mau kado apa dari papa?]
[mau boneka barbie yang banyak ya pa, yang ada rumahnya juga] Jawab Rindiani.
[oke sayang nanti papa belikan ya? Ada lagi?] Tanya Raditya.
[ada..! Papa harus datang ke acara kakak ya jangan sampai lupa]
[Iya sayang papa gak akan lupa, yaudah kakak baik-baik sama mama di rumah yaah. Jangan lupa belajar harus giat]
[siap papa, yaudah kakak mau main lagi. Assalamualaikum]
[Iya nak, Waalaikumsalam]
Raditya segera mematikan panggilannya dan langsung membuka aplikasi g*food, Raditya berniat memesan nasi goreng seafood spesial.
Mendengar cerita sang anak tadi dia jadi ingin makan nasi goreng seafood favoritnya.
Seketika Raditya jadi rindu dengan keluarga kecilnya, dia merasa ada yang hilang dalam hidupnya.
Karena biasanya di jam segini dia sedang bermain dengan putri kecilnya, sedangkan sang istri memasak makanan untuk mereka dan menyiapkan cemilan.