Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 SWMU
Nadia berdiri di depan cermin besar kamarnya, menatap pantulan dirinya yang kini terasa asing. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis yatim piatu yang malang dan penuh ketakutan. Di depannya kini berdiri seorang wanita yang telah memahami bahwa kecantikan dan kerapuhan bisa menjadi racun yang paling mematikan. Kejadian di kolam renang kemarin telah memberinya sebuah pencerahan yang pahit: Bramantya Mahendra bukan lagi sekadar pelindung atau penculik, pria itu adalah seorang pecandu. Dan Nadia adalah dosis yang sangat ia butuhkan.
"Jika dia ingin aku menjadi bayangan dan pengganti ibuku, maka aku akan menjadi bayangan yang menariknya ke neraka," bisik Nadia pada bayangannya sendiri.
Ia mulai merias wajahnya. Bukan riasan yang tebal, melainkan sentuhan halus yang menonjolkan pucat kulitnya dan merah bibirnya—menciptakan kesan tragis namun menggoda. Ia memilih sebuah gaun malam berbahan sutra tipis berwarna merah marun yang jatuh pas di lekuk tubuhnya. Gaun itu memiliki belahan yang cukup tinggi, memperlihatkan jenjang kakinya setiap kali ia melangkah. Ia sengaja tidak mengenakan perhiasan apa pun, kecuali liontin gembok emas yang masih melingkar di lehernya, sebagai pengingat akan statusnya sebagai "milik" Bramantya.
Malam itu, jamuan makan malam berlangsung dalam keheningan yang berbeda. Tidak ada lagi suara denting sendok yang cemas. Nadia duduk dengan anggun, sesekali menyesap anggur merahnya sambil menatap Bramantya dengan tatapan yang berani—sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Bramantya tampak gelisah. Pria yang biasanya sangat terkontrol itu sesekali salah memegang pisau atau kehilangan fokus pada makanannya. Matanya terus-menerus melirik ke arah belahan gaun Nadia dan pundaknya yang terekspos.
"Kau tampak berbeda malam ini, Nadia," ucap Bramantya, suaranya sedikit serak.
Nadia tersenyum, sebuah senyuman yang dirancang untuk memikat sekaligus menghancurkan. "Bukankah Paman bilang aku harus mulai terbiasa dengan hidup di sini? Aku hanya mencoba menikmati apa yang sudah Paman sediakan untukku."
Setelah makan malam, Nadia tidak segera kembali ke kamarnya. Ia berjalan menuju ruang perpustakaan, tempat di mana Bramantya biasanya menghabiskan waktu sebelum tidur. Ia tahu Bramantya akan mengikutinya. Pria itu selalu mengikutinya, seperti bayangan yang haus akan cahaya.
Nadia berdiri di depan rak buku tinggi, pura-pura mencari sesuatu. Ia sengaja menjinjitkan kakinya, membuat gaun sutranya terangkat sedikit dan memperlihatkan bagian belakang tubuhnya yang melengkung sempurna. Ia bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat, pelan dan berat.
Bramantya berhenti tepat di belakangnya. Aroma cendana dan tembakau itu kembali hadir, namun kali ini Nadia tidak menarik napasnya dalam ketakutan. Ia justru berbalik perlahan, membiarkan tubuhnya nyaris bersentuhan dengan dada bidang Bramantya.
"Paman, bisakah kau membantuku mengambilkan buku itu?" tanya Nadia dengan suara yang lirih, hampir berupa bisikan di depan bibir Bramantya.
Bramantya tidak melihat ke arah buku yang ditunjuk Nadia. Matanya terkunci pada bibir Nadia yang sedikit terbuka. "Kau sedang bermain api, Nadia," bisik Bramantya, tangannya mendarat di pinggang Nadia, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
"Bukannya Paman yang menyalakan apinya?" sahut Nadia, tangannya mulai merayap naik ke dada Bramantya, mempermainkan kancing kemejanya. "Aku hanya memastikan api itu tidak padam."
Bramantya kehilangan akal sehatnya. Ia mencengkeram rahang Nadia dan menciumnya dengan gairah yang meledak-ledak.
Cup.
Kali ini, Nadia tidak diam seperti boneka. Ia membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, memainkan perannya sebagai wanita yang mulai "takluk" namun penuh rahasia. Ia bisa merasakan jantung Bramantya yang berdetak liar—detak jantung seorang pria yang sudah benar-benar masuk ke dalam jebakan.
Di atas sofa kulit yang gelap di perpustakaan itu, Nadia membiarkan Bramantya kembali memiliki tubuhnya. Namun kali ini, ada perbedaan besar. Nadia menggunakan setiap sentuhannya untuk membuat Bramantya merasa bahwa ia sedang menguasai dunia, padahal sebenarnya, dialah yang sedang dikuasai.
Dengan mencoba menepis rasa malu,Nadia membuka pakaian dalamnya hingga dia polos. Mata Bram memandangi Nadia tanpa kedip.Lalu Bram mengukung tubuh wanita itu. Tangannya mulai nakal bermain di tubuh Nadia.
Nadia tiba-tiba teringat rencananya. Saat ini dia harus mengambil alih agar rencananya tidak gagal.Dia harus melayani Bram dengan baik agar pria itu ingat,terjerat,dan semakin kecanduan akan tubuhnya. Tangan Nadia merayap ke bagian inti pria itu. Mengelusnya agar segera bangun. Bram merasakan sensasi yang sangat menyenangkan sehingga matanya merem melek menikmati.
Tidak tahan dengan perlakuan Nadia. Bram membalikkan badan Nadia. Tanpa menunggu lagi, Bram langsung memasuki bagian inti tubuh Nadia dan melakukan penyatuan.
"Ah..."
"Maafkan aku ibu, ayah. Aku terpaksa seperti ini demi bisa pergi dari pria predator ini." Batin Nadia dalam hati.
Lalu, Nadia membisikkan kata-kata yang memuji kekuatan Bramantya, membuat ego pria itu melambung tinggi ke langit-langit mansion.
Dalam momen yang penuh gairah itu, Nadia menyadari satu hal: tubuhnya adalah senjata yang jauh lebih tajam daripada belati mana pun. Semakin ia memberikan apa yang diinginkan Bramantya, Nadia yakin semakin lemah pertahanan pria itu.Dan pasti, Bramantya mulai terbuka dengan menceritakan hal-hal yang biasanya ia rahasiakan—tentang bisnisnya, tentang musuh-musuhnya, bahkan tentang kode brankas pribadinya yang ia sebutkan secara tidak sadar dalam bisikan di tengah malam.
Bramantya telah menjadi tawanan dari hasratnya sendiri. Ia merasa telah menjinakkan Nadia, tanpa menyadari bahwa Nadia sedang membangun penjara yang jauh lebih kuat untuknya—sebuah penjara psikologis yang terbuat dari candu dan ketergantungan fisik.
Beberapa jam kemudian, saat Bramantya tertidur karena kelelahan di sofa, Nadia bangkit dan merapikan gaunnya. Ia menatap pria yang selama ini ia takuti itu dengan tatapan yang penuh kebencian sekaligus kemenangan. Bramantya tampak sangat rapuh saat tidur, tidak ada lagi aura penguasa yang biasanya ia tunjukkan.
Nadia berjalan menuju meja kerja Bramantya. Ia melihat tablet digital pria itu tergeletak begitu saja. Dengan tangan yang tenang, ia mencoba memasukkan deretan angka yang tadi dibisikkan Bramantya.
Klik.
Layar itu terbuka.
Nadia dengan cepat mencari data-data legalitas mansion dan catatan keuangan tersembunyi. Ia mengirimkan beberapa dokumen penting ke sebuah alamat email rahasia yang ia buat sebelumnya. Tangannya tidak bergetar. Hatinya tidak ragu.
"Kau bilang aku harus belajar mencintaimu, Paman," bisik Nadia sambil menatap sosok Bramantya yang masih terlelap. "Dan inilah caraku mencintaimu: dengan memastikan kau kehilangan segala yang kau miliki, persis seperti kau merampas segalanya dariku."
Nadia kembali ke kamarnya dengan langkah yang ringan. Efek susu hangat yang biasanya diberikan Bi Inah kini tidak lagi berpengaruh padanya karena ia sudah mulai menukar isi botolnya dengan air biasa setiap kali ada kesempatan. Ia harus tetap sadar. Ia harus tetap tajam.
Kini, setiap kali Bramantya menyentuhnya, Nadia tidak lagi merasa kotor. Ia merasa sedang mengasah senjatanya. Ia membiarkan Bramantya kecanduan pada kulitnya, pada suaranya, dan pada kehadirannya. Ia akan menjadi udara bagi Bramantya—udara yang perlahan-lahan mengandung racun yang akan melumpuhkannya dari dalam.
Mansion Mahendra tetap sunyi di bawah cahaya bulan, namun di dalamnya, dinamika kekuasaan telah bergeser sepenuhnya. Sang pemilik kunci kini tidak menyadari bahwa gembok yang ia pasang di leher Nadia tidak lagi mengunci gadis itu, melainkan mengunci dirinya sendiri dalam obsesi yang mematikan.
Nadia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menatap liontin emasnya. "Sedikit lagi," gumamnya. "Sedikit lagi, dan kunci ini akan benar-benar ada di tanganku."
Ia memejamkan mata dengan senyum yang akhirnya terasa tulus—senyum kemenangan dari seorang tawanan yang telah berhasil menaklukkan sang penculik dengan senjata yang paling tidak terduga: dirinya sendiri.