NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemiripan Yang Menarik Perhatian

Pasar Cihampelas sudah ramai seperti biasa ketika Ridwan membuka lapaknya di sudut pasar yang telah disewakannya secara permanen. Tempat tersebut lebih luas dan teduh dari lokasi semula, dengan meja kayu kecil dan beberapa kursi yang dia sediakan untuk pembeli yang ingin berbicara dengannya lebih lama. Dia telah membuat lebih banyak ramuan obat tradisional dari sebelumnya, dengan variasi yang lebih banyak berdasarkan resep dari buku-buku ibunya.

Hari ini, dia mengenakan baju lengan panjang berwarna hijau tua dengan sabuk rotan di pinggangnya. Cincin warisan keluarga tetap disembunyikan di bawah lengan bajunya, tapi buku-buku pengobatan milik ibunya tersusun rapi di atas meja sebagai bukti keahliannya. Sudah seminggu sejak dia mulai berjualan di sini, dan nama baiknya sebagai pedagang obat tradisional yang terampil dan jujur sudah mulai dikenal oleh banyak orang di sekitar pasar.

Setelah melayani beberapa pembeli biasa, seorang wanita muda dengan penampilan rapi mengenakan jas hitam dan rok kain coklat mendekatinya. Wajahnya tampak pucat dan lelah, dengan mata yang sedikit kemerahan akibat kurang tidur. Dia mendekat dengan langkah yang lambat, seperti sedang merasakan rasa sakit yang tidak tertahankan.

“Pak, apakah ada ramuan untuk mengobati sakit kepala kronis dan kelelahan yang tidak kunjung sembuh?” tanya wanita tersebut dengan suara yang lemah namun jelas. “Aku sudah minum banyak obat dari dokter, tapi hanya bisa meredakan sementara saja. Aku bekerja sebagai karyawan hukum di sebuah perusahaan besar dan sering harus bekerja hingga larut malam.”

Ridwan segera berdiri dengan sopan, mengamati kondisi wanita tersebut dengan cermat. Dia melihat warna kulitnya yang tidak sehat, lidahnya yang kering, dan bagaimana dia sering menggosok dahinya karena rasa sakit. “Ibu sudah merasakan ini sejak kapan ya?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan perhatian.

“Sudah hampir tiga bulan, mas,” jawab wanita tersebut dengan mengerutkan dahi. “Awalnya hanya muncul ketika aku bekerja terlalu keras, tapi sekarang sudah muncul hampir setiap hari bahkan ketika aku sudah beristirahat.”

Ridwan mengambil satu wadah kecil berisi ramuan bubuk berwarna hijau muda dari atas mejanya. “Ini ramuan dari daun sirih merah, akar pegagan, dan bunga melati yang telah dikeringkan,” katanya dengan suara yang jelas dan penuh dengan keyakinan. “Saya membuatnya dengan resep khusus dari buku pengobatan tradisional milik ibuku. Cara penggunaannya sangat mudah—seduh satu sendok makan ramuan ini dengan air panas dan minum setiap pagi sebelum makan dan setiap malam sebelum tidur. Selain itu, saya sarankan Ibu untuk mengonsumsi lebih banyak buah dan sayuran segar serta menghindari makanan pedas dan terlalu banyak kopi.”

Wanita tersebut melihat ramuan tersebut dengan rasa ingin tahu, kemudian melihat ke arah buku-buku pengobatan yang tersusun di atas meja. “Buku-buku ini tampak sangat tua dan berharga, mas,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kagum. “Apakah ini milik keluarga Anda?”

“Ya, Ibu,” jawab Ridwan dengan senyum lembut. “Ini adalah warisan dari ibuku yang sudah meninggal. Dia adalah ahli pengobatan tradisional yang sangat berbakat dan selalu membantu orang lain yang membutuhkan.”

Wanita tersebut mengangguk perlahan, kemudian melihat wajah Ridwan dengan seksama. Ada sesuatu yang membuatnya merasa akrab dengan wajah muda ini—seperti melihat seseorang yang pernah dia kenal namun tidak bisa ingat dengan jelas. “Nama saya Mira,” katanya dengan senyum ramah. “Aku bekerja di PT. Dewi Santoso sebagai staf hukum. Apakah Anda pernah mendengar nama perusahaan tersebut?”

Ridwan merasa jantungnya berdebar kencang mendengar nama perusahaan tersebut, tapi dia tetap tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun. “Ya, Ibu,” jawabnya dengan suara yang tetap stabil. “Saya pernah melihat iklan mereka di sekitar kota. Mereka menjual obat-obatan dan kosmetik alami yang cukup terkenal.”

Mira mengangguk, kemudian membayar untuk ramuan tersebut dan menyimpannya dengan hati-hati di dalam tasnya. “Terima kasih banyak, mas,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Aku akan mencoba ramuan ini dan akan datang kembali jika ada perubahan pada kondisiku.”

Sebelum dia pergi, Ridwan mengambil selembar kertas kecil dan menuliskan beberapa resep minuman kesehatan lainnya. “Ini adalah resep untuk teh herbal yang bisa membantu Ibu rileks dan tidur lebih nyenyak,” katanya sambil memberikan kertas tersebut kepada Mira. “Sangat mudah dibuat dan tidak memiliki efek samping apapun.”

Mira menerima kertas tersebut dengan rasa syukur yang mendalam. Dia melihat wajah Ridwan sekali lagi, merasa semakin yakin bahwa ada sesuatu yang membuatnya mirip dengan seseorang yang pernah dia kenal di perusahaan. “Apakah Anda memiliki hubungan keluarga dengan Bu Dewi Wijaya—pendiri PT. Dewi Santoso?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan rasa ingin tahu.

Ridwan merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut, tapi dia tetap menjawab dengan tenang. “Maaf, Ibu,” jawabnya dengan sopan. “Saya tidak tahu siapa Bu Dewi Wijaya dan tidak memiliki hubungan keluarga dengan orang tersebut. Mungkin hanya kemiripan wajah semata saja.”

Mira mengangguk perlahan, seolah masih ragu namun tidak ingin memaksakan pertanyaan lebih lanjut. “Baiklah, mas,” katanya dengan senyum lembut. “Jika ramuan ini efektif, aku akan merekomendasikannya kepada teman-teman dan rekan kerja ku di perusahaan. Semoga sukses untuk usaha Anda.”

Setelah Mira pergi, Ridwan merasa sedikit lega namun juga penasaran. Ini adalah kedua kalinya seseorang mengatakan bahwa dia mirip dengan ibunya—pertama kali adalah Pak Joko, dan sekarang adalah Mira yang bekerja di perusahaan ibunya sendiri. Dia tahu bahwa ini bisa menjadi kesempatan untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang perusahaan, tapi dia juga harus sangat berhati-hati agar tidak terbongkar identitasnya sebelum waktunya tiba.

Setelah beberapa jam kemudian, Mira kembali ke lapak Ridwan dengan wajah yang jauh lebih cerah dan segar. Mata nya sudah tidak lagi kemerahan, dan wajahnya yang tadinya pucat kini tampak lebih bersinar. “Alhamdulillah, mas!” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kegembiraan. “Setelah minum ramuan yang Anda berikan pagi ini, rasa sakit kepalaku sudah hilang dan aku merasa jauh lebih segar. Aku bahkan bisa makan dengan lahap setelah sekian lama merasa tidak nafsu makan.”

Ridwan merasa sangat senang mendengar kabar baik tersebut. “Sangat baik, Ibu,” katanya dengan senyum puas. “Itu artinya ramuan tersebut sangat cocok dengan tubuh Ibu. Saya sarankan untuk terus mengkonsumsinya selama satu bulan lagi agar kondisi Ibu benar-benar pulih total.”

Mira mengangguk dengan antusias, kemudian mengambil uang dari dompetnya untuk membeli lebih banyak ramuan. “Aku ingin membeli ramuan untuk satu bulan ke depan, mas,” katanya dengan suara yang jelas. “Selain itu, aku juga ingin memesan ramuan untuk beberapa teman kerja ku yang juga memiliki masalah kesehatan serupa.”

Setelah melakukan transaksi, Mira duduk di salah satu kursi yang disediakan Ridwan. Dia melihat buku-buku pengobatan di atas meja dengan rasa kagum yang semakin dalam. “Pengetahuan Anda tentang pengobatan tradisional sungguh luar biasa, mas,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Aku pernah membaca bahwa pendiri PT. Dewi Santoso—Bu Dewi Wijaya—juga memiliki pengetahuan yang sangat mendalam tentang pengobatan tradisional. Bahkan banyak produk perusahaan kami yang berasal dari resep tradisional yang dia kembangkan.”

Ridwan mendengarkan dengan sangat cermat, tidak ingin melewatkan satu kata pun dari apa yang dikatakan Mira. Ini adalah kesempatan baginya untuk mendapatkan informasi tentang perusahaan dan tentang apa yang terjadi setelah ibunya tiada. “Apakah masih banyak karyawan lama yang bekerja di perusahaan tersebut yang mengenal Bu Dewi dengan baik?” tanya dia dengan suara yang tampak tidak sengaja.

Mira mengangguk perlahan, ekspresi wajahnya menjadi sedikit serius. “Ada beberapa saja, mas,” jawabnya dengan suara yang pelan. “Sebagian besar sudah dipecat atau memilih untuk keluar setelah Bu Dewi meninggal dan perusahaan diambil alih oleh Ibu Ratna dan Bapak Budi. Mereka banyak yang tidak setuju dengan cara pengelolaan perusahaan yang sekarang lebih fokus pada keuntungan daripada kualitas produk dan kesejahteraan masyarakat.”

Dia kemudian melihat ke sekeliling pasar dengan cermat untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka. “Sebagai staf hukum perusahaan, aku sering menemukan dokumen-dokumen yang mencurigakan,” ujarnya dengan suara yang sangat rendah. “Ada banyak transaksi keuangan yang tidak jelas, kontrak-kontrak yang tidak sesuai dengan standar hukum, dan bahkan bukti bahwa beberapa resep asli Bu Dewi diubah tanpa izin untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.”

Ridwan merasa darahnya mulai mendidih dengan kemarahan mendengar kata-kata tersebut, tapi dia tetap tenang dan menunjukkan ekspresi yang hanya penuh dengan rasa ingin tahu. “Apakah Anda tidak bisa melaporkan hal ini ke pihak berwenang atau ke keluarga Bu Dewi?” tanya dia dengan suara yang lembut.

Mira menggeleng-geleng kepala dengan penuh kesedihan. “Aku ingin melakukannya, mas,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran. “Tapi aku takut akan keselamatan diriku dan keluargaku. Ibu Ratna memiliki hubungan dengan banyak orang yang tidak bertanggung jawab, dan mereka tidak akan ragu melakukan apa saja untuk melindungi diri mereka dan kekuasaan yang mereka miliki.”

Dia kemudian mengambil selembar kartu nama dari tasnya dan memberikannya kepada Ridwan. “Jika Anda mengetahui sesuatu tentang keluarga Bu Dewi atau memiliki informasi yang bisa membantu mengungkap kebenaran tentang apa yang terjadi pada perusahaan, silakan hubungi aku,” katanya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Aku akan bersedia membantu sebanyak mungkin, bahkan jika itu berarti harus mengambil risiko besar.”

Ridwan menerima kartu nama tersebut dengan hati-hati, menyimpannya dengan aman di dalam tasnya. “Terima kasih banyak untuk informasi ini, Ibu Mira,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. “Saya akan menghubungi Anda jika ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membantu.”

Matahari mulai berpindah ke sisi lain pasar, menunjukkan bahwa sudah hampir waktu tutup. Mira berdiri dari kursinya dan mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum pergi dengan langkah yang jauh lebih ringan dan ceria dari sebelumnya. Ridwan melihatnya pergi dengan hati yang penuh dengan harapan dan tekad yang semakin kuat.

Dia tahu bahwa pertemuan dengan Mira ini bukanlah kebetulan semata—ini adalah langkah penting dalam perjalanannya untuk mendapatkan keadilan bagi ibunya. Dengan bantuan Mira sebagai staf hukum perusahaan, dia akan bisa mendapatkan bukti-bukti hukum yang lebih kuat untuk membawa Ratna dan Budi ke pengadilan dan mengambil kembali perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya.

Di bawah sinar matahari sore yang hangat, Ridwan mulai membersihkan mejanya dan menyimpan ramuan obat yang tersisa. Di hatinya, dia berjanji kepada ibunya bahwa dia akan terus bekerja keras untuk mengungkap kebenaran dan memastikan bahwa nama ibunya akan selalu dikenang sebagai orang yang benar-benar peduli dengan kualitas produk dan kesejahteraan masyarakat. Besok pagi, dia akan pergi menemui keluarga Wijaya dan mulai mengambil langkah-langkah penting untuk menyelesaikan semua ini sekali dan untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!