NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Suasana di lorong sekolah yang tadinya hening seketika pecah oleh derap langkah sepatu bot yang berat dan berirama tegas.

Empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap, dipimpin oleh seorang detektif berpakaian sipil, berjalan lurus menuju area ruang kepala sekolah.

Rendi, yang sedari tadi bersembunyi di balik pilar dekat kantin bersama komplotannya, merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Wajahnya yang biasanya angkuh kini sepucat kertas.

"Ren, itu... itu polisi, Ren!" bisik teman di sebelahnya, suaranya bergetar hebat. "Mereka benar-benar datang!"

Rendi mencoba mengatur napasnya yang memburu, namun tangannya tidak bisa berhenti gemetar. "Diam kamu! Jangan panik, papa pasti sudah urus semuanya. Tidak mungkin mereka berani tangkap aku!"

Namun, ucapan Rendi terpatahkan ketika detektif itu berhenti tepat di depan pintu ruang rapat dan berpapasan dengan Pak Baskoro serta Ibu Rendi yang baru saja keluar dengan wajah berang.

"Pak Baskoro?" tanya detektif itu sambil menunjukkan lencana. "Kami dari Unit PPA. Kami memiliki surat perintah untuk membawa putra Anda, Rendi, guna pemeriksaan lebih lanjut terkait laporan tindakan kekerasan seksual dan penganiayaan."

Ibu Rendi berteriak histeris, "Apa-apaan ini?! Lepaskan! Suami saya sudah bicara dengan atasan kalian!"

"Hukum tetap berjalan, Bu," jawab detektif itu dingin. "Di mana Rendi?"

Mendengar namanya disebut dalam konteks penangkapan, nyali Rendi ciut seketika. Ia berbalik dan mencoba melarikan diri lewat jalur belakang kantin, diikuti oleh dua temannya yang juga terlibat semalam.

"Heii! Berhenti!" teriak salah seorang polisi yang melihat pergerakan mencurigakan di ujung lorong.

Aksi kejar-kejaran singkat pun terjadi. Rendi berlari membabi buta, menabrak meja dan kursi, namun langkahnya terhenti di gerbang samping yang ternyata sudah dijaga oleh petugas lain. Ia terkepung. Teman-temannya langsung mengangkat tangan, jatuh terduduk di lantai sambil menangis ketakutan.

"Jangan sentuh saya! Kalian tahu siapa saya?!" Rendi masih mencoba menggertak saat seorang petugas memegang lengannya, namun suaranya kini melengking ketakutan.

"Rendi, kamu berhak diam. Segala sesuatu yang kamu ucapkan bisa digunakan melawanmu di pengadilan," ucap petugas itu sambil memborgol kedua tangan Rendi di belakang punggung.

Klik.

Bunyi logam yang mengunci itu terdengar begitu nyaring di telinga Rendi. Ia melihat ke arah kerumunan siswa yang menonton dari kejauhan. Di sana, ia melihat Dara, Gavin, dan Dafa menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara benci dan kepuasan melihat keadilan ditegakkan.

Ibu Rendi berlari mendekat, mencoba menarik tangan polisi, namun Pak Baskoro hanya berdiri mematung.

Setelah mobil polisi yang membawa Rendi menghilang dari gerbang sekolah, suasana di lorong tidak lantas menjadi tenang. Pak Baskoro berbalik dengan mata yang berkilat penuh dendam, sementara Ibu Rendi masih terisak yang dengan cepat berubah menjadi teriakan kemarahan.

Ibu Rendi melesat maju, hampir menabrak Pak Fajar yang sigap menghalangi jalan, demi bisa menunjuk wajah Raisa yang masih berdiri tenang di depan ruang rapat.

"Puas kamu sekarang, hah?!" teriak Ibu Rendi, suaranya melengking memicu gema di lorong sekolah. "Kamu sudah menghancurkan masa depan anak saya! Kamu cuma guru rendahan yang tidak tahu diri! Kamu pikir ini sudah selesai? Kamu salah besar!"

Pak Baskoro melangkah maju, mendorong istrinya sedikit ke belakang untuk mengambil alih intimidasi. Ia menatap Raisa dengan pandangan yang jauh lebih berbahaya, dingin dan penuh perhitungan.

"Bu Raisa," ucap Pak Baskoro dengan nada rendah yang mengancam. "Kamu mungkin merasa menang hari ini karena polisi itu datang. Tapi ingat, hukum itu punya banyak pintu, dan uang saya bisa membuka pintu mana pun. Saya pastikan karir kamu tamat hari ini. Tidak akan ada satu pun sekolah di negeri ini yang mau menerima guru pembangkang dan tukang fitnah seperti kamu."

Ia melirik Pak Surya dan Pak Fajar dengan jijik. "Dan untuk kalian berdua, jangan harap yayasan akan tinggal diam. Saya akan gunakan seluruh pengaruh saya untuk mencabut lisensi sekolah ini jika perlu. Kalian sudah memilih sisi yang salah."

Ibu Rendi menimpali dengan sinis, "Nikmati sisa waktu kamu di sekolah ini, Raisa. Besok, saya pastikan kamu akan merangkak memohon ampun di depan rumah saya saat kamu sadar bahwa hidup kamu sudah hancur total. Kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu lawan!"

Mendengar ancaman yang begitu kasar, Pak Fajar hendak melangkah maju, namun Raisa menyentuh lengan rekan kerjanya itu, memberi isyarat bahwa ia bisa menanganinya sendiri. Raisa menatap Pak Baskoro dan istrinya bergantian tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Pak, Bu," suara Raisa terdengar sangat stabil.

"Ancaman Anda tidak akan bisa mengubah apa yang sudah terjadi pada Vina. Jika Anda ingin menghancurkan karir saya, silakan. Saya menjadi guru bukan untuk jabatan atau uang Anda, tapi untuk melindungi murid-murid saya. Jika untuk membela kebenaran saya harus kehilangan pekerjaan, maka saya akan pergi dengan kepala tegak."

Raisa memberikan jeda, menatap lurus ke mata Pak Baskoro. "Namun, sebelum Anda mencoba menghancurkan hidup saya, saya sarankan Anda fokus pada putra Anda. Karena di penjara nanti, uang Anda tidak akan bisa menggantikan kehadiran orang tua yang gagal mengajarkan moral dan rasa tanggung jawab."

Wajah Pak Baskoro mengeras, rahangnya terkatup rapat. Tanpa sepatah kata lagi, ia menarik tangan istrinya dan berjalan pergi meninggalkan sekolah dengan langkah lebar, meninggalkan aura kebencian yang masih terasa pekat di udara.

Pak Surya menghela napas panjang, tampak letih namun lega. "Jangan khawatir, Bu Raisa. Sekolah dan yayasan pusat akan menjamin keselamatan dan posisi Anda. Kita sudah melakukan hal yang benar."

Di sudut lorong, Dara dan teman-temannya saling berpandangan. Mereka baru saja belajar satu pelajaran yang tidak ada di buku teks, bahwa integritas memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada tumpukan uang dan gertakan kekuasaan.

Langkah kaki Pak Baskoro yang gontai menuju mobilnya tidak lantas menghilangkan awan mendung di wajah Raisa. Meskipun kebenaran mulai menang, kata-kata tajam tentang "harga diri" dan ancaman kehancuran karier itu masih terngiang-ngiang di telinganya

Dara, Gavin, Aldi, Dafa, dan Rian segera melangkah mendekat. Mereka melingkari guru favorit mereka itu, mencoba memberikan kehangatan di tengah dinginnya sisa-sisa konflik di ruangan tersebut.

"Bu Raisa," panggil Dara lembut sambil menyentuh pundak Raisa. "Ibu hebat sekali tadi. Jangan didengarkan omongan orang seperti itu. Kami semua tahu siapa Ibu yang sebenarnya."

"Iya, Bu," timpal Aldi dengan nada bersemangat yang dipaksakan untuk menghibur. "Ibu tidak perlu takut kehilangan pekerjaan. Kalau sekolah ini sampai macam-macam, kami semua yang akan protes paling depan!"

Gavin menatap Raisa dengan penuh rasa hormat. "Bu, orang seperti Pak Baskoro hanya tahu cara mengukur segala sesuatu dengan uang. Dia tidak sadar kalau ada hal-hal yang nilainya jauh melampaui seluruh hartanya. Contohnya, integritas Ibu."

Raisa mencoba tersenyum, namun matanya masih menyiratkan kegelisahan. Ia menghela napas panjang dan duduk perlahan di kursi kayu koridor.

"Terima kasih, anak-anak," suara Raisa terdengar agak parau. "Ibu tidak takut kalau harus kehilangan pekerjaan ini. Bagi Ibu, mengajar bukan sekadar mencari gaji. Ini hobi Ibu, panggilan jiwa Ibu. Uang bisa dicari di mana saja, tapi melihat kalian tumbuh menjadi orang yang punya nurani... itu yang tidak bisa dibeli."

Ia terdiam sejenak, menatap jemarinya yang masih sedikit bergetar. "Ibu hanya terpikir... bagaimana bisa seorang orang tua begitu yakin bahwa uang bisa menggantikan rasa sakit seorang anak seperti Vina? Kata-kata Pak Baskoro tadi... dia benar-benar menganggap integritas kita bisa dibeli sepuluh kali lipat. Itu yang membuat hati Ibu sesak."

Dafa, yang biasanya paling tenang, ikut angkat bicara. "Justru karena itu Ibu harus tetap di sini. Kalau guru-guru seperti Ibu menyerah dan pergi, maka sekolah ini hanya akan diisi oleh orang-orang yang bisa dibeli. Kami butuh Ibu untuk tetap berdiri tegak."

Rian menambahkan dengan nada santai namun tulus, "Tenang saja, Bu. Dunia itu berputar. Orang yang sombong dengan hartanya biasanya jatuh karena hartanya sendiri. Lihat saja, sebentar lagi mungkin dia yang akan bingung mencari uang."

Melihat dukungan yang begitu tulus dari murid-muridnya, beban di pundak Raisa terasa sedikit terangkat. Ia menyadari bahwa meskipun Pak Baskoro punya kuasa untuk memutus kontrak kerja, pria itu tidak akan pernah bisa memutus ikatan batin dan rasa hormat yang telah ia tanam di hati murid-muridnya.

"Kalian benar," ujar Raisa akhirnya, kali ini dengan senyum yang lebih tulus. "Ibu tidak boleh kalah oleh kata-kata orang yang bahkan tidak paham arti kehormatan. Selama Ibu masih bisa mengajar kalian, Ibu akan tetap di sini."

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!