Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Bayangan Dendam
...Selamat membaca semuanya.. ...
"Bagaimana rasanya, Ris?" Victor menggoda Boris saat mereka sedang berjalan beriringan paling belakang.
Matanya memandangi tubuh Rania dari belakang, tatapannya berubah teduh. "Aku hampir kehilangannya saat di Hotel. Ada sniper yang mengincarnya dari awal, jika dia terlambat menyadari-" hembusan napas berat dari Boris memancing reaksi Victor ikut melihat Rania. "Mungkin aku sudah kehilangannya, dan tidak lama setelah itu aku pasti akan menyusul dengan cara yang berbeda," lanjutnya.
"Kamu sudah menyelidikinya?" Pertanyaan mengundang gelak tawa miris dari Boris.
Boris mengangguk, "tapi dia juga ikut menyelidikinya, dia sempat mengetesku. Wanita itu hebat sekali, Vic. Aku merasa belum pantas menjadi pendampingnya." Obrolan itu semakin terdengar dalam, Victor memberikan tepukan pelan untuk menguatkan sahabatnya itu.
"Kamu pantas. Jangan lari, Ris. Kamu sudah menodai bibirnya dua kali," alis pria itu terangkat beberapa kali diiringi senyuman lebar menggoda sahabatnya itu.
"Sialan! Mau aku penggal lehermu, Vic? Sini!" Mendengar Boris berteriak Rania menoleh ke belakang melihat Boris yang sudah di posisi mengunci pergerakan Victor dengan lengan yang berada pada leher lawannya.
"Mereka seperti anak kecil, Tante." Perkataan Noah mengundang gelak tawa Rania, Lily, dan Justin.
"Hei, dirimu juga anak kecil!" Seru Justin mendapat ledekan dari Noah yang menjulurkan lidah kepadanya.
"Kami lusa pulang. Ada masalah di sini, jadi harus segera pulang." Lily mengernyitkan keningnya mendengar Boris dan Rania akan segera pulang.
"Lalu bagaimana dengan Kim Do Woo? Aku belum sempat bertemu dengannya, Ran?" Rengekan kencang Lily dengan respon Rania yang berubah datar, memancing atensi Boris.
"Dia sudah menyelesaikan kontrak kerja dengan Perusahaan kami," bohong Boris menjawab pertanyaan tersebut dengan tegas, Rania malas membahas mengenai pria brengsek itu.
"Kenapa? Katanya satu bulan? Ini kan baru sepekan lebih?" Lily yang sama mengagumi Kim Do Woo terlalu kecewa karena mendapat kabar tidak bagus.
"Lain kali aku akan bercerita, tapi tidak sekarang. Nanti saja jika kita sudah di kandang sendiri." Rania mengedikkan bahunya memutar bola mata serta menghembuskan napas panjang.
Semua menyadari keanehan tersebut, karena dari awal yang mereka tau bahwa Rania mengagumi Kim Do Woo. Tapi, melihat responnya hari ini ada yang berbeda dengan wanita tersebut.
...--------------...
Di dalam kamar hotel, sepasang bola mata memandang kosong ke luar jendela kamar. Berdiri seorang pria di sampingnya dengan tatapan ikut sedih.
"Sedang memikirkan apa, Nona?"
Bola mata tersebut masih memandang kosong di depannya, bayangan kejadian di studio bersama pria brengsek itu terlintas.
"Apa aku bikin mati saja dia ya, Ris?"
Ketegasan dari cara bicara Rania seolah mengatakan bahwa dia sedang memendam luka yang belum sembuh.
"Jangan pernah mengotori tangan, Nona."
Suara lembut itu mengintruksi Rania untuk memandang ke arahnya, menatap dalam manik mata yang ikut memerah bersamanya.
"Biarkan saya yang menyelesaikan semuanya. Tapi saya butuh waktu, Nona" anggukkan kecil dengan helaan napas berat keluar dibarengi dengan senyuman tipis.
"Kamu sudah siap untuk kuajari seluk beluk Perusahaan terdalam tidak, Ris?"
Boris mengernyitkan keningnya, seringaian tipis yang beradu dengan bola mata berair, tersirat penuh dendam dan siap diluapkan oleh wanita di hadapannya sekarang.
"Kamu akan masuk ke dalam babak gelap di Perusahaan. Pasar kita memang kalangan atas, tapi tidak semua halus dan suci. Dunia gelap ikut meraja lela masuk menarik kita untuk bergabung dalam kalangan mereka." Penjelasan yang rumit dan terlalu berbelit-belit didengar oleh Boris.
"Saya tidak paham maksud, Nona."
Kekehan kecil terdengar seperti bukan orang baik, Boris membulatkan matanya saat pikirannya tertuju pada sesuatu yang bukan ranah dia pelajari.
"Bisnis kita memang besar dan terkenal, tapi kita juga menghabisi sampah-sampah yang berani menipu kami." Mereka saling berpandangan, "bukan tanganku, tapi tangan yang lain. Tenang saja.." Hembusan napas panjang Boris merasa lega, calon istrinya masih bersih.
"Saya bisa ikut masuk dalam ranah tersebut, tapi jika itu Nona- saya tidak setuju." Rania mengedipkan beberapa kali matanya, "Saya tidak mau tangan Nona ternodai dengan sampah." Mulutnya mengulum senyum yang tertahan.
"Apasih Boris! Mirip monyet!" ejeknya meninggalkan Boris yang berdecak kesal mendengar itu. Karena waktu itu, dia mendengar dari mulut Rania langsung kalau dirinya itu tampan.
"Nona Rania mirip bebek!" dengan suara lirihnya dia membalas ejekan Rania.
......Bersambung........
Terima kasih sudah mampir semuanya, jangan lupa like dan komen ya. Maaf hari ini upload bab ini dulu, beberapa hari emosiku nggak stabil. Banyak beban pikiran yang menumpuk. 🤗☺