Jiwa seorang ilmuwan dunia modern terjebak pada tubuh pemuda lemah di Dunia Para Abadi. Chen Lian yang terjebak pada tubuh Xu Yin dan dianggap pecundang, berusaha mencapai Puncak Keabadian dan membuat Surgawi Berlutut di bawah telapak kakinya!
Namun, bukan tanpa rintangan. Dunia Abadi dimana yang lemah ditindas dan yang kuat disembah. Perjalanan Chen Lian akan mengorbankan banyak darah…
**
WARNING!
Bab 1 - 22 pengembangan diri MC, ritme lambat & membosankan.
Bab 23+ mulai perjalanan MC, penderitaan dan pengkhianatan tiada akhir demi mencapai Puncak Keabadian!
Update bab setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almeira Seika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18—Memenuhi Target
Tetua Qian memejamkan mata sebentar, lalu menghela napas. "Mereka ditugaskan oleh Ketua Sekte untuk urusan besar. Tugas yang mungkin memakan lebih dari satu dekade."
Mata Xu Yin membulat, lalu ia lanjut bertanya lagi. "Tugas apa, Guru? Membutuhkan waktu hingga satu dekade?”
Tetua Qian segera menatap sinis ke arah Xu Yin. "Satu dekade itu termasuk waktu yang singkat, bahkan ada Tetua sebelumnya yang mendapat tugas hingga satu abad. Lagipula, anak kecil sepertimu tidak perlu tahu. Kau harus fokus dengan kultivasimu."
Xu Yin terdiam lama, jantungnya mulai berdebar. Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan kecil yang timbul dari trauma masa lalunya saat kehilangan kedua sahabatnya. "Apa mereka... masih hidup?"
"Tentu." Tetua Qian menatapnya. "Jangan khawatir. Orang sekuat mereka tak akan mati semudah itu. Tapi... kau harus menunjukkan peningkatan saat mereka kembali."
Xu Yin mengepalkan tinjunya, kedua alisnya mengerut ke tengah. Ia bertekad kali ini. "Aku akan menjadi lebih kuat. Sampai mereka kembali, dan bisa bangga padaku."
Tetua Qian tersenyum puas, lalu melanjutkan penjelasan. "Jika kau berhasil mencapai Qi Awakening 6 dengan cara yang tepat, aku akan memberimu teknik langka yang kutemukan saat menjelajahi labirin samudra abadi. Teknik ini tidak pernah diajarkan pada siapa pun."
Xu Yin terkejut hingga membuat mulutnya menganga. "Benarkah, Guru?"
"Aku tak akan mengucapkannya jika itu bukan kenyataan." Balas Tetua Qian dengan serius.
Xu Yin membungkuk dalam-dalam dan menangkupkan tangannya. "Saya tidak akan mengecewakanmu, Guru."
Tetua Qian membalas dengan senyuman ringan, lalu mengusap kepala muridnya dengan lembut. Perasaan Xu Yin menjadi lebih hangat dari sebelumnya, posisi Tetua Qian kini bahkan sejajar dengan kedua sahabatnya. Dengan kehangatannya, Tetua Qian mampu menembus hati Xu Yin yang telah lama membeku.
Sesaat setelah momen hangat itu berlangsung, Tetua Qian pun meninggalkan Xu Yin yang tengah mulai bertapa di goa.
Beberapa hari berlalu, goa meditasi tempat Xu Yin berada kini tertutup rapat oleh Formasi Penyekat Empat Arah yang dipasang langsung oleh Tetua Qian. Formasi ini menolak semua makhluk hidup yang tidak memiliki segel milik Tetua Qian, membuat area sekitar goa tertasa sunyi dan aman. Hanya gemuruh lembut dari aliran Qi spiritual yang terdengar samar, mengisi rongga goa dengan keheningan yang suci.
Di dalam goa, Xu Yin duduk bersila di atas pelataran meditasi, napasnya perlahan dan stabil. Wajahnya tenang, seperti air tanpa riak, namun dalam dadanya, sebuah badai keheningan sedang berputar, Qi spiritual dari alam perlahan-lahan masuk dan mulai memperbaiki stabilitas jalur meridiannya yang dulu pernah rusak.
Xu Yin masih berada di tahap awal Qi Awakening, namun kali ini dia tidak terburu-buru. Dengan bimbingan teknik pernapasan dari Tetua Qian, ia mempelajari cara menyelaraskan pikirannya dengan aliran Qi.
"Jangan menyerap Qi secara paksa. Biarkan ia mendatangimu seperti embun yang jatuh perlahan di pagi hari.” Itulah kata-kata Tetua Qian yang terus terngiang di kepalanya.
Perlahan, meridian yang dulu nyaris remuk akibat penyerapan brutal kini menunjukkan stabilitas. Di akhir bulan pertama, sebuah ledakan hangat kecil menyebar dari titik tengah dadanya.
Qi Awakening 2.
Tubuhnya tak bergetar hebat seperti sebelumnya. Tidak ada gejolak dramatis. Tapi tubuhnya terasa lebih ringan, pikirannya lebih fokus, dan suhu di sekeliling tubuhnya menjadi lebih selaras.
Xu Yin mulai memahami bagaimana cara mengarahkan Qi masuk dari titik-titik langit dan bumi. Setiap malam, ia memusatkan meditasinya pada dua jalur meridian utama, Jalur Langit Tengah dan Jalur Tanah dari dalam inti bumi.
Dia mengulang latihan siklus Langit dan Bumi selama seratus delapan kali dalam sehari, sebuah teknik dasar yang ia temukan dari kepingan giok yang diberikan khusus untuk Murid Inti, sederhana tapi membutuhkan kontrol tinggi.
Di hari ke lima puluh delapan, ia akhirnya mencapai Qi Awakening 3.
Tubuhnya terasa lebih kokoh. Kulitnya sedikit lebih pucat dan keras, mampu menahan panas dan dingin lebih baik daripada sebelumnya. Jantungnya mulai berdetak lebih seirama dengan aliran Qi di dalam meridian.
Hari-hari berikutnya, goa terasa lebih dingin dari biasanya. Aura spiritual mulai menguji daya tahan mental Xu Yin. Ia mulai mendengar bisikan-bisikan yang entah datang dari entitas macam apa dan anehnya, bisikan-bisikan itu menggema dari dalam dinding goa.
Di tengah bulan ketiga, Xu Yin mengalami sebuah hambatan. Jalur Qi-nya tersumbat oleh serpihan Qi lama yang tidak mengalir sempurna. Rasa nyeri menjalar dari leher ke dada setiap kali ia mencoba menyerap Qi.
Namun, dengan latihan Mantra Pernafasan Lima Arah yang juga dipelajari dari kepingan Giok Murid Inti, ia berhasil membuka kembali jalur tersebut.
Di hari ke delapan puluh tujuh, ia naik ke Qi Awakening 4. Peningkatan ini terlalu cepat, tidak seperti yang ia janjikan pada Tetua Qian. Namun, ia tidak terlalu peduli. Yang ia pedulikan hanyalah fokus pada meditasi.
Kini, Xu Yin tak hanya bertapa. Ia mulai menyeimbangkan fisik dan mental. Kadang, dengan tubuh yang masih duduk bersila dan mata terpejam. Ia berlatih untuk mempertahan jiwa, dengan cara berimajinasi, menyelaraskan tubuhnya dengan Qi pertahanan. Hal itu sangat efektif untuk berlatih teknik tanpa harus mengganggu waktu untuk bermeditasi.
Qi dalam tubuhnya mulai mengalir dengan sangat teratur. Seperti air sungai yang sudah dibersihkan, tak lagi keruh.
Di penghujung bulan keempat, dia mencapai Qi Awakening 5.
Xu Yin merasakan Qi mulai menolak untuk masuk ke dalam dentian melalui meridian. Seolah-olah, alam sedang mengujinya dan berkata ‘Apakah kau layak masuk ke tahap selanjutnya?’
Ia memfokuskan seluruh pikirannya pada teknik dasar praktisi Qi Awekening, yang berfungsi sebagai serangan. Walau belum bisa digunakan secara nyata, teknik ini membantunya menyatukan elemen-elemen panas dan lembut dalam aliran Qi-nya.
Setelah menjalani meditasi selama tiga ratus lima puluh satu hari, Xu Yin mencapai Qi Awekening 11. Ia benar-benar melanggar janjinya dengan Tetua Qian. Lonjakan peningkatan ini bukannya disengaja olehnya, melainkan, reaksi alam terhadap Void Primordial miliknya. Tentu, Xu Yin tidak ingin ini terjadi, tapi... semuanya adalah kehendak alam.
Dua minggu terakhir menjadi yang paling menantang. Setiap malam, tubuhnya diguncang oleh penolakan Qi. Namun Xu Yin tidak menyerah. Usahanya selama dua belas bulan untuk mengunci dirinya dalam Siklus Langit dan Bumi, tanpa makan dan minum, hanya fokus menyerap Qi.
Pada hari ke tiga ratus enam puluh lima hari sejak ia mulai...
Xu Yin mencapai Qi Awekening 12. Aliran energi dalam tubuhnya berubah tajam dan stabil. Kabut spiritual di sekitarnya tersedot masuk ke dalam tubuhnya, namun dengan aliran yang lebih indah dan lembut.
Xu Yin berdiri pelan. Ia merasakan kekuatan baru. Tubuhnya tidak hanya kuat, tapi juga penuh kontrol. Ia telah menaklukkan dirinya sendiri, dan itu jauh lebih sulit daripada menaklukkan orang lain.
Bukan dia ingin melanggar janji, tapi karena, janjinya adalah bermeditasi selama dua belas bulan atau satu tahun. Ia tidak berjanji untuk 'hanya' mencapai Qi Awekening 6. Kenyataannya, kekuatan Void Primordial yang mampu menyerap Qi seperti gravitasi, memaksanya mencapai satu tingkat setiap bulan.
Hari itu, langig pagi terlihat cerah, Tetua Qian tampak berdiri tegak di punggung Yinglong, makhluk naga dengan dua sayap yang bersinar dengan warna merah menyala. Tubuh naga itu berkilauan seperti api neraka saat ia terbang di atas awan.
Dalam sekejap, Yinglong menyemburkan angin yang kuat dan meluncur maju, mengiris udara dengan kecepatan luar biasa. Kedua sayapnya yang bercahaya membentang lebar, menciptakan semburan angin lembut yang membuat awan terbelah di sekitarnya.
Tetua Qian menatap lurus ke depan, wajahnya tenang dan penuh fokus. Di bawahnya, pemandangan dunia tampak begitu kecil, namun ia tak terganggu, melanjutkan perjalanannya dengan keyakinan penuh. Sesekali, Yinglong berputar melintasi awan putih, tubuhnya menari dengan elegan.
Di kejauhan, sebuah gunung yang tinggi menjulang, dengan jalur berbatu dan berliku yang menuju ke sebuah gua tersembunyi di lereng terdalam. Goa itu adalah tempat di mana Xu Yin tengah bermeditasi.
Yinglong melintas menuju tujuan dengan kecepatan yang tak tertandingi, seolah mengerti bahwa perjalanan ini adalah bagian penting dari takdir yang lebih besar.
Saat mereka semakin dekat dengan gua, awan-awan di sekitarnya seolah menghindar, memberikan jalan bagi Yinglong untuk mendarat dengan halus. Dengan sebuah gerakan yang anggun, naga itu mendarat dengan kaki-kaki yang memancarkan aura Qi yang kuat, menurunkan Tetua Qian dengan lembut di depan mulut gua meditasi.
Tetua Qian melompat turun dari punggung Yinglong, langkahnya tenang namun aura Qi-nya begitu kuat. Pandangannya berfokus pada gua yang berada di hadapannya, sementara Yinglong berbaring menyamping di sekitar, tubuhnya berkilauan di bawah sinar matahari yang lembut.
Tetua Qian berdiri diam, lalu mengangkat tangan dan mengetukkan jari tiga kali ke arah formasi yang dibuatnya.
DUM. DUM. DUM.
Getaran spiritual dari ketukannya menyebar ke seluruh formasi pelindung yang menyebar, bahkan getaran itu sampai masuk ke dalam gua seperti gema ringan. Tetua Qian berteportasi untuk masuk ke dalam Goa.
CLING!
Di dalam goa yang gelap, terlihat seorang pemuda yang duduk bersila di atas pelatan rendah. Xu Yin membuka matanya perlahan, jubah birunya sedikit lusuh namun bersih, rambut hitamnya lebih panjang dan terikat ke belakang dengan ikat kain sederhana.
Tatapan matanya telah berubah.
Jika sebelumnya matanya memancarkan penderitaan dan kesedihan yang dalam, kini ada ketenangan, seperti danau dalam yang tak mudah diguncang.
Ia turun dari batu, bersimpuh di hadapan Tetua Qian dan menunduk dalam-dalam sambil menangkupkan tangannya di depan dada. “Murid… telah memenuhi target.”
LANJUTIN!!!
BUAT SEMUA ORANG YANG NGEHINA, NGEKHIANATIN, MAU NGERUSAK XU YIN,
GUE MAU MEREKA DIBANTAI, DIPATAHIN, DIKULITI, DISERET KE DIMENSI PENDERITAAN ABADI, ANJINGGGG!!!!
BTW KOPI UDAH GW KIRIM Y TORRRR JGN NGAMBEK UPDTE SEBIJI DOANK APAAN DAH?? GW NUNGGU XU YIN JD BRUTALLLL
EMG BENER” OTAK BINATANG!!!
JUJUR APAANN LO SM AJA SMPAHNYA BGO!!
TLONGLAHH KOK GK AD YG BAIK DAH?? PNGHIANAT SMUA ANJGGG
LU GURU MCEM AP LO ANJGGG???
dh psti nanti dpukuli rame2
QIAN GOBL00K MALAH CURIGA2 SEGALA!! PADAHAL ABIS BUNUH ORANG BARENG MASIH G PERCAYA SATU SAMA LAEN