NovelToon NovelToon
I Hired A Billionaire

I Hired A Billionaire

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Patahhati
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.

Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.

Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.

Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.

Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.

Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.

~~~~~~

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#18

Tepat setelah Shireen meninggalkan pintu kamar tidur utama itu dan suara langkah kakinya memudar di koridor luar, keheningan yang teramat pekat langsung menyergap ruangan.

Kamar bernuansa abu-abu dan putih itu mendadak terasa seperti ruang interogasi yang menyesakkan.

Alceena menurunkan pandangannya, menatap sepasang tangan kekar yang masih melingkar erat di pinggangnya.

Kulit tangan Xander yang sedikit kecokelatan tampak begitu kontras di atas kain sutra hitam jubah mandinya.

Menyadari tatapan dingin dan napas Alceena yang masih memburu karena sisa amarah, Xander perlahan-lahan menarik dirinya. Pria itu tidak ingin membuat Alceena merasa semakin terintimidasi.

Dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian, Xander bergeser ke depan Alceena.

Dia menurunkan tubuh tegapnya hingga duduk bersila di atas karpet bulu, tepat di hadapan Alceena yang masih berdiri kaku.

Xander mendongak, menatap wajah sang diva dengan sepasang mata heterochromia-nya yang kini sepenuhnya melunak, memancarkan kepasrahan yang mutlak.

Namun sebelum dia berbicara, pandangan Xander tak sengaja turun ke arah kerah jubah mandi Alceena yang sedikit tersingkap akibat pemberontakan wanita itu tadi.

Di sana, di atas kulit putih mulus tulang selangkanya, jejak-jejak kemerahan yang dia tinggalkan semalam tampak mencolok—sebuah tanda kepemilikan yang kini justru terasa seperti tamparan dosa bagi Xander.

Xander mengulurkan tangannya yang gemetar halus.

Dengan ibu jari dan telunjuknya, dia meraih tepi kerah bathrobe sutra itu, membetulkannya perlahan, dan menutup tanda kemerahan tersebut agar tersembunyi kembali.

Gerakannya begitu lembut, seolah-olah dia sedang menyentuh barang porselen yang paling rapuh di dunia.

Setelah memastikan pakaian Alceena kembali rapi, Xander kembali mendongak. Dia diam membatu, menunggu apa pun perkataan yang akan keluar dari mulut wanita di depannya.

Dia sudah bersiap menerima makian, tamparan, atau bahkan kutukan paling serapah sekalipun.

Alceena menarik napas panjang hingga dadanya membusung tinggi. Oksigen yang dia hirup seolah menjadi bahan bakar baru bagi harga dirinya yang sempat goyah.

Dan benar saja…… kata-katanya meledak seketika, memecah kesunyian kamar dengan dentuman amarah yang luar biasa.

"Hey, bajingan Senin, Selasa, Kamis! Semoga kau membusuk di neraka, Xander Hayes-Stone!" teriak Alceena, suaranya melengking tajam, menumpahkan seluruh rasa terhina yang menyumbat dadanya sejak pagi.

"Kau pikir kau siapa, hah?! Kau hanya pria sampah payah yang kutampung dua hari di rumahku karena rasa kasihan! Jangan pernah berpikir aku akan memaafkanmu, Brengsek! Menghilang dari hidupku sekarang juga, Bajingan!"

Deg.

Kata-kata 'pria sampah payah' dan kutukan 'membusuk di neraka' itu menghantam pendengaran Xander dengan telak.

Namun, bukannya marah atau membalas dengan keangkuhan khas Stone yang biasanya menyala jika diinjak-injak, Xander justru tetap bergeming di posisinya.

Wajah tampannya tidak mengeras sama sekali.

Dia justru mengembus napas pendek, lalu menatap Alceena dengan tatapan yang teramat tenang—bahkan cenderung pasrah.

"Sudah?" tanya Xander dengan suara baritonnya yang rendah dan halus. "Sudah marahnya?"

Alceena terbelalak, tidak percaya dengan respons luar biasa santai dari pria yang tadi pagi membentaknya seperti monster.

Xander perlahan bangkit berdiri, menepuk celana jins hitamnya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah meja lipat yang dipenuhi makanan sarapan porsi besar milik Alceena.

"Baik... kalau sudah selesai memaki, aku temani kau makan. Kau butuh energi setelah berteriak sekeras itu." Xander melangkah mendekati meja lipat, lalu menunjuk beberapa piring di sana dengan jarinya.

"Yang mana? Kau mau makan yang ini? Atau yang ini?"

"Berhenti membual dan keluar dari sini, Brengsek!" sentak Alceena, giginya mengatup rapat karena merasa tingkat kemarahannya sama sekali tidak dihargai. "Aku tidak sedang bercanda denganmu, Xander!"

"Aku juga tidak sedang bercanda, Alceena," sahut Xander, dia berbalik dan menatap Alceena lurus-lurus. "Aku tidak akan keluar dari sini sebelum kau benar-benar tenang. Kau majikanku sekarang, dan aku adalah simpananmu. Bukankah itu yang kau katakan pada asistenmu tadi? Aku akan menepati peran itu."

Alceena tertawa hambar, sebuah tawa sarkastik yang dipenuhi rasa tidak percaya.

"Apa? Kau masih menganggap dirimu simpananku? Setelah kau memaki dan menuduhku seperti jalang licik tadi pagi?!"

Xander mengangguk mantap, tidak ada keraguan di sepasang matanya yang berbeda warna itu. "Ya, aku simpananmu. Mulai detik ini, kau bisa memakai aku sesukamu. Kau bisa memperlakukan aku seperti apa saja untuk membalas rasa sakit hatimu."

"Kau pikir aku perempuan apa, hah?!" suara Alceena kembali meninggi, air mata frustrasi mulai menggenang di sudut matanya. "Kau pikir aku perempuan gila yang haus sentuhan pria sampai harus memelihara simpanan berengsek sepertimu?! Kau merendahkanku, Xander!"

Xander langsung maju selangkah, wajahnya panik mendengarkan salah paham itu. "Bukan... bukan begitu maksudku, Alceena—"

"Lalu apa?! Apa maksudmu, hah?!" potong Alceena kejam, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya yang kemerahan.

"Semalaman penuh kau memujaku di atas ranjang itu! Kau menyentuhku seolah-olah aku adalah hal paling berharga dalam hidupmu, kau membuatku percaya bahwa kita bisa saling menyembuhkan! Dan pagi harinya... hanya karena satu telepon dari Chicago, kau membuangku seperti sampah, Xander! Kau menuduhku licik, kau mengatakan aku merencanakan konspirasi murahan! Kau lupa dengan mulut bajinganmu yang berteriak di depan wajahku tadi pagi?! Kau lupa?!"

"Ceena... maafkan aku. Kumohon, aku minta maaf," Xander berbisik parau, dadanya terasa sesak melihat air mata Alceena yang mengalir karena kesalahannya.

Dia ingin meraih wanita itu ke dalam pelukannya, namun dia tahu dia tidak pantas melakukannya saat ini.

"Aku tahu aku salah. Aku benar-benar minta maaf..."

Alceena menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Kilatan gila mendadak muncul di sepasang mata indahnya.

Rasa sakit hati yang bercampur dengan ego seorang diva papan atas melahirkan sebuah keputusan impulsif yang sangat nekat di dalam kepalanya.

Jika pria ini benar-benar menyerahkan dirinya untuk dihukum, jika pria ini menganggap dirinya sebagai simpanan yang bisa dipakai sesuka hati, maka Alceena akan membuktikannya.

Dia akan menguji sampai di mana batas kepasrahan seorang Xander Hayes-Stone.

"Kau simpananku, bukan?" ucap Alceena dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi dingin, datar, namun teramat menantang.

Xander terdiam, menatap Alceena dengan kening berkerut halus.

Tanpa memberikan jeda bagi Xander untuk berpikir, tangan Alceena bergerak cepat ke pinggangnya.

Dengan satu sentakan kasar, dia membuka ikatan jubah mandi sutra hitamnya.

Kain satin mewah itu meluncur jatuh begitu saja ke atas lantai karpet, mengeposkan tubuhnya yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun di bawah paparan cahaya pagi yang tembus dari celah gorden.

Alceena tidak segan menampilkan bentuk tubuhnya yang molek sempurna, yang di beberapa bagian masih dihiasi oleh bercak kemerahan pekat—bukti dari pertempuran gairah mereka malam tadi.

Dengan keangkuhan seorang ratu, Alceena melangkah mundur, lalu merebahkan tubuh polosnya di atas ranjang king size yang masih acak-acakan.

Dia menopang kepalanya dengan satu tangan, menatap Xander dengan pandangan menantang yang sangat provokatif.

"Apa yang kau lakukan, Ceena?" tanya Xander, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.

Pandangannya terpaku pada pemandangan indah sekaligus menakutkan di atas ranjang itu.

Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

"Lakukanlah!" seru Alceena, suaranya parau namun penuh penekanan yang mutlak.

"Kau simpananku, bukan?! Puaskan aku pagi ini! Tunjukkan padaku bagaimana seorang simpanan melayani majikannya yang haus sentuhan ini!"

Xander terdiam membatu di tempatnya berdiri.

Sepasang matanya menggelap, kilatan gairah yang purba dengan cepat menguasai kesadarannya saat menatap setiap lekuk tubuh Alceena yang begitu memikat, berpadu dengan jejak-jejak buatannya sendiri yang masih tercetak jelas di sana.

Ego maskulinnya sempat berontak karena diperlakukan seperti komoditas, namun rasa bersalahnya yang teramat dalam pada wanita ini menuntut kepatuhan.

Dia telah berjanji untuk menerima hukuman apa pun.

⚠️ _alarm berbunyi_ 21+ Konten Dewasa Terdeteksi ⚠️ ┏( ͡° ͜ʖ ͡°)┛ 21+ Boleh skip aja yaa!

Tanpa mengucapkan satu kata pun lagi, Xander menjangkau bagian bawah kaus hitamnya.

Dengan satu gerakan cepat, dia melepas kaus tersebut dan melemparnya sembarang ke lantai, mengeposkan dada bidangnya yang kokoh dan berotot.

Dengan langkah yang mantap dan teramat dominan, Xander melangkah mendekati ranjang, naik ke atas kasur, dan langsung mengurung tubuh Alceena di bawah kungkungan tubuh besarnya.

Sebelum Alceena sempat mengucapkan kata makian lagi, Xander menundukkan kepalanya dan langsung mencium bibir ranum Alceena dengan saksama.

Ciuman itu tidak dimulai dengan kelembutan; itu adalah ciuman yang sarat akan rasa bersalah, kepemilikan, dan gairah yang menuntut penebusan dosa.

Xander melumat bibir Alceena dengan intensitas yang tinggi, menghisapnya dalam-dalam seolah mencoba menyerap seluruh kemarahan wanita itu ke dalam dirinya sendiri.

Alceena berniat mempertahankan tatapan dinginnya, namun tubuhnya kembali mengkhianati logikanya sendiri.

Begitu kulit telanjang mereka saling bersentuhan, kehangatan tubuh Xander langsung meruntuhkan seluruh pertahanan egonya. Alceena mendesak laksana orang gila di bawah kukungan Xander.

Suara desahan erotis yang parau mulai lolos dari tenggorokannya saat jemari kekar Xander mulai menjelajahi bagian sensitif tubuhnya dengan keahlian yang mematikan.

Tanpa membuang waktu untuk pemanasan yang lama, karena keduanya sudah sama-sama terbakar oleh sisa gairah semalam yang belum tuntas, Xander memacu tubuhnya di atas Alceena.

Gerakannya teramat bertenaga, dalam, dan ritmis—seolah-olah dia sedang menyalurkan seluruh rasa frustrasinya atas pengkhianatan Nora dan rasa bersalahnya pada Alceena ke dalam setiap hentakan yang dia berikan.

Kamar tidur itu kembali dipenuhi oleh suara deru napas yang memburu dan desahan intim yang bersahut-saksama.

Alceena mencengkeram bahu kokoh Xander dengan kuat, kuku-kukunya menancap di kulit punggung pria itu hingga meninggalkan bekas goresan merah.

Dia mendesak gila-gilaan, kepalanya bergerak gelisah di atas bantal, sepenuhnya tenggelam dalam lautan kenikmatan fisik yang sengaja diciptakan Xander untuknya.

Di sela-sela pacuan tubuhnya yang semakin intens dan cepat, Xander menundukkan wajahnya, menatap mata Alceena yang tampak sayu karena pelepasan yang sudah di ambang mata.

"Terima kasih... terima kasih sudah memaafkanku, Alceena," bisik Xander dengan napas yang terengah-engah, suaranya terdengar begitu seksi dan penuh rasa syukur di telinga Alceena.

Namun, Alceena tidak menjawab perkataan itu sama sekali. Dia menolak memberikan validasi bahwa ini adalah bentuk pengampunan.

Dia mengencangkan cengkeraman tangannya di bahu Xander, menarik pria itu lebih dekat hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.

Beberapa saat kemudian, ketegangan di antara keduanya mencapai titik puncak.

Tubuh Alceena menegang hebat disusul oleh erangan panjang yang keluar dari bibirnya, sementara Xander memberikan satu hentakan terdalamnya sebelum ikut melepaskan seluruh cairannya di dalam rahim Alceena, menyatukan mereka kembali dalam kelelahan yang nikmat.

Xander mengempaskan tubuhnya sejenak di samping Alceena, napasnya memburu teratur, mencoba menetralisir detak jantungnya yang berdegup kencang.

Setelah beberapa menit keheningan berlalu, Xander perlahan bergerak, berniat menarik dirinya keluar dari kungkungan ranjang untuk membersihkan tubuh mereka.

Namun, tepat saat Xander baru saja menggeser tubuhnya setengah, sebuah tangan ramping yang dingin mendadak mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.

Xander menoleh, menatap Alceena. Wanita itu masih berbaring di atas bantal dengan rambut panjangnya yang berantakan di sekitar wajahnya.

Tatapan matanya tidak lagi sayu; sebaliknya, mata itu memancarkan kilatan dingin yang teramat menantang, dipadu dengan senyuman tipis yang sarat akan dominasi.

"Aku belum puas," ucap Alceena dengan suara yang teramat parau, habis karena terlalu banyak mendesah tadi. Dia menatap Xander lurus-lurus tanpa ada rasa malu sedikit pun.

"Kau simpananku, bukan?"

Deg.

Xander terpaku di tempatnya. Jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang aneh.

"Alceena—"

"Kau harus puaskan aku lagi pagi ini. Bukankah itu kesepakatan kita? Hm?" potong Alceena, suaranya terdengar seperti bisikan ratu yang menuntut kepatuhan mutlak dari budaknya.

Dia sengaja menggunakan status 'simpanan' yang tadi diakui Xander untuk menekan pria itu, menguji sejauh mana stamina dan harga diri seorang Stone bisa dia kendalikan.

Xander menatap wajah Alceena dengan pandangan tidak percaya. "Kau... kau masih marah padaku?" tanya Xander dengan nada yang terdengar agak gila.

Dia menyadari bahwa wanita di hadapannya ini tidak sedang bercinta karena cinta atau nafsu belaka, melainkan sedang menggunakan tubuhnya sendiri sebagai alat untuk menghukum dan menjinakkan egonya.

Alceena tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung.

Dia melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Xander, lalu melipat kedua tangannya di atas dada polosnya, menatap Xander dengan senyuman meremehkan yang sangat memprovokasi harga diri pria itu.

"Kalau kau sudah lelah dan tidak bisa melakukannya lagi... maka keluarlah dari rumahku sekarang juga, Pria Chicago," tantang Alceena dengan nada merendahkan yang sengaja ditekan tajam.

"Berarti ucapanmu tentang siap menjadi simpanan tadi hanyalah bualan murahan."

Mendengar tantangan yang meremehkan kemampuan maskulinnya dari wanita yang baru saja dia buat mendesah pasrah, darah Stone di dalam tubuh Xander seketika mendidih kembali.

Rasa lelah yang sempat menghampiri tubuhnya menguap dalam sekejap, digantikan oleh gairah baru yang jauh lebih menuntut dan berbahaya.

Xander menyeringai tipis, sebuah seringai dominan yang kembali muncul di wajah tampannya.

Dia merangkak kembali ke atas tubuh Alceena, mengunci kedua tangan wanita itu di atas kepala dengan satu tangan kekarnya, lalu berbisik tepat di depan bibir Alceena yang sedikit bengkak.

"Tidak... aku bisa melakukannya sepanjang hari jika itu yang kau minta, Alceena," ucap Xander dengan suara berat yang teramat seksi, sebelum kembali membungkam bibir Alceena dan memulai pembuktian stamina yang tertunda.

1
ida wati
ombak pun menggulung mendengar suara cempreng Alceena 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati: 😄🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
ida wati
langsung kicep 😄🤣
Ros 🌷🦋: wkkwwk🥰
total 1 replies
ida wati
auman singa betina 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
ida wati
udah diperingatin sm asisten nyaaa, huhhh jd rempeyek kan luu 😏
Ros 🌷🦋: Digeprek 🤭🤣
total 1 replies
ida wati
ayolooo......kabur sono masuk ke laut 🤣
Ros 🌷🦋: Sampe lupa author bikin dia kecebur dilaut 🤣
total 1 replies
winpar
cerita ini seru bgt kk 🥰
Ros 🌷🦋: Huhuhu Ma'aciww banget ka🫶🥰
total 1 replies
ida wati
Xander said : hei hei hei kutil dino......akulah yg sudah unboxing Alceena jd singkirkan gossip murahanmu itu 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkkw🤣🤭
total 3 replies
ida wati
dah lah cari aman aja daripada daripada yekaannn 😄😄😄😄😄
Ros 🌷🦋: iya dong🤭
total 1 replies
ida wati
HA HA HA HA HA #ketawajahat
ida wati
mana ada adegan pemersatu bangsa cuma 10 menit 🫣🫣🫣
Ros 🌷🦋: hahaha lawak 🤣🤣
total 1 replies
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
si modus 🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan author 🤣
total 1 replies
ida wati
Xander ini manusia atau semacam tembok berlin? 😄🤣
Ros 🌷🦋: Haha Ngakak saya🤣
total 1 replies
ida wati
kalo pilem ultramen pasti ada sinar laser dari mata nya 🤣🤣🤣
♔, Seleneᥫ᭡𐂅◇☆, ꧁
Luar biasa
ida wati
wkwkwkwk akoh kira udh 20an 🤣 ternyatahh mabelastaon 🤣
Ros 🌷🦋: Haha berondong 🤣
total 1 replies
ida wati
kurang 2 kata mutlak nya thor 🤣
Ros 🌷🦋: typo kak🤭🤣
total 1 replies
ida wati
waduh basah kuyup 🤣 lanjutkan 🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita xander sama alceena seruu😍
Ros 🌷🦋: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh cerita xander😍
Ros 🌷🦋: Happy reading kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!