NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Tamu Tak Diundang

"Dia datang sendirian, tetapi sudah menjatuhkan enam orang penjaga," lapor pria itu sambil mengusap keringat di dahinya.

Ruangan langsung membeku, tidak ada yang berbicara selama beberapa detik karena semua orang memahami arti laporan tersebut. Jika benar hanya ada satu orang yang mampu menembus pengamanan rumah persembunyian Viktor, kemungkinan orang itu hanya satu.

"Ezra?" tanya Rania sambil menatap Viktor.

"Aku harap bukan." Viktor mengembuskan napas panjang sambil mengambil pistol dari laci meja.

"Itu jawaban yang sangat tidak meyakinkan," ujar Bintang sambil mengokang senjatanya.

"Aku memang tidak sedang mencoba meyakinkan siapa pun." Viktor menatap pintu ruangan. "Semua orang tetap di dalam."

"Jangan bercanda." Bintang menggeleng pelan. "Kalau itu Ezra, aku ingin bertemu dengannya."

"Itulah yang dia inginkan."

"Bagus."

"Aku mulai mengerti kenapa semua orang di sekitarmu cepat tua." Viktor memijat pelipisnya.

"Itu bukan salahku." Bintang mengangkat bahu.

"Sebagian besar memang salahmu," sahut Rangga sambil mendengus pelan.

"Tutup semua akses masuk!" perintah Viktor sambil melangkah keluar ruangan. "Jangan ada yang bergerak sendiri."

"Perintah itu sudah terlambat," ujar Leonard sambil mengikuti dari belakang.

Mereka segera menuju ruang pemantauan yang berada di lantai bawah, belasan layar monitor menampilkan berbagai sudut rumah dan area luar bangunan. Beberapa penjaga terlihat terbaring di tanah, sedangkan yang lain masih bergerak sambil berusaha mencari posisi penyerang.

"Tampilkan kamera gerbang depan," perintah Septian sambil menyilangkan tangan.

Operator segera mengganti tampilan layar, semua orang langsung menatap monitor terbesar namun tidak ada siapa pun di sana.

"Hilang?" tanya Damar sambil mengernyit.

"Itu tidak mungkin." Viktor mendekat ke layar.

"Kamera samping," ujar Leonard sambil menunjuk monitor lain.

Tampilan berpindah, tapi tetap kosong.

"Kamera belakang," perintah Septian.

Monitor kembali berubah dan kali ini seseorang terlihat, pria itu berdiri santai di halaman belakang sambil menatap langsung ke arah kamera. Ia mengenakan jaket hitam, celana gelap, dan sarung tangan kulit. Wajahnya terlihat jelas namun pria itu bukan Ezra.

"Siapa dia?" tanya Rania sambil membelalak.

"Tidak tahu." Viktor menggeleng pelan.

Pria dalam layar itu tersenyum tipis, kemudian ia mengangkat tangan dan melambai ke arah kamera.

"Sial." gumam Leonard sambil kehilangan senyumnya.

"Itu bukan perilaku orang normal." ujar Rangga sambil mengangkat alis.

"Aku belum pernah bertemu orang normal dalam cerita ini." balas Bintang sambil menghela napas panjang.

"Tuan!" seru salah satu penjaga melalui radio.

"Ada apa?" tanya Viktor cepat.

"Dia masuk ke dalam rumah!"

Semua orang langsung menoleh.

"Bagaimana bisa?" bentak Viktor.

"Tidak ada yang bisa menghentikannya!"

Suara gaduh terdengar dari radio lalu sambungan terputus.

"Sial!" umpat Viktor sambil berlari keluar ruang pemantauan.

Yang lain segera mengikuti, langkah kaki mereka menggema di lorong rumah yang panjang. Beberapa penjaga berlari dari arah berlawanan dengan wajah tegang, sedangkan alarm masih berbunyi tanpa henti.

"Arah mana?" tanya Bintang sambil mempercepat langkah.

"Ruang tengah!" jawab salah satu penjaga.

Mereka segera berbelok ke arah ruang tengah dan saat sampai di sana... semua orang langsung berhenti, pria itu sudah duduk di sofa dengan santai, dengan kaki menyilang dan secangkir kopi di tangannya.

"Jujur saja, keamanan tempat ini mengecewakan," ujar pria itu sambil menyesap kopinya.

Tidak ada yang menjawab karena tidak ada seorang pun yang memahami bagaimana dia bisa sampai di sana.

"Kau siapa?" tanya Viktor sambil mengarahkan pistol.

Pria itu meletakkan cangkirnya.

"Aku sering mendapat pertanyaan itu." Ia tersenyum tipis.

"Aku tidak suka mengulang pertanyaan." Bintang melangkah maju sambil menyipitkan mata.

"Aku juga tidak suka mengulang jawaban." Pria itu berdiri perlahan.

Tingginya hampir sama dengan Bintang, usianya mungkin sekitar tiga puluh lima tahun, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya membuat suasana terasa tidak nyaman.

"Aku datang bukan untuk bertarung." Ia mengangkat kedua tangannya.

"Kalimat itu selalu diucapkan orang yang akan membuat masalah." ujar Leonard sambil mendengus.

"Benar juga." Pria itu tertawa kecil.

Rania memperhatikan wajahnya dengan saksama, ada sesuatu yang terasa aneh seolah pria itu datang dengan tujuan yang sangat spesifik.

"Kau belum menjawab pertanyaannya," ujar Septian sambil menatap tajam.

"Namaku Gavin." Pria itu akhirnya mengangguk pelan.

Semua orang saling berpandangan, nama itu tidak terdengar familiar.

"Kami seharusnya mengenalmu?" tanya Damar sambil mengangkat alis.

"Tidak." Gavin menggeleng pelan. "Tapi kalian mengenal orang yang mengirimku."

Suasana langsung berubah.

"Ezra?" tanya Viktor sambil mengernyit.

"Sayangnya bukan."

"Kalau begitu siapa?" tanya Bintang sambil melangkah maju.

"Orang yang selama ini kalian cari." Gavin tersenyum tipis.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik karena kalimat itu jauh lebih mengejutkan daripada kedatangannya.

"Maksudmu pemimpin organisasi itu?" tanya Rania sambil menatapnya.

"Ya." Gavin mengangguk.

"Dia masih hidup?" tanya Leonard sambil menyipitkan mata.

"Lebih hidup daripada kalian."

"Itu tidak lucu." ujar Septian dengan wajah dingin.

"Aku tidak sedang bercanda." Gavin memasukkan tangan ke dalam saku jaketnya.

Beberapa orang langsung mengangkat senjata.

"Tenang." Ia menggeleng pelan. "Kalau aku ingin membunuh kalian, aku tidak akan datang sendirian."

"Aku hanya membawa pesan." Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

"Pesan dari siapa?" tanya Bintang sambil tetap waspada.

"Dari pria yang mengambil salah satu dari tiga bayi malam itu."

Jantung Rania langsung berdegup lebih cepat, sedangkan Arsen dan Raka saling berpandangan.

"Berikan." Viktor mengulurkan tangan.

"Bukan untukmu." Gavin menggeleng pelan.

"Lalu untuk siapa?" tanya Viktor.

Gavin menoleh perlahan, tatapannya berhenti pada Bintang.

"Untuk dia."

Bintang menerima amplop itu tanpa melepaskan pandangan dari Gavin, suasana di dalam ruangan terasa semakin berat saat ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya.

Hanya ada satu lembar foto, foto lama, foto yang sama seperti sebelumnya namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Pada bagian belakang foto terdapat tulisan tangan yang mulai memudar dimakan usia.

Bintang membacanya perlahan dan wajahnya langsung berubah.

"Ada apa?" tanya Rania sambil mendekat.

Bintang tidak menjawab, tangannya yang memegang foto terlihat sedikit bergetar.

"Bintang?" tanya Viktor sambil mengernyit.

Pria itu akhirnya mengangkat kepalanya, tatapannya beralih kepada Rania kemudian kepada Raka lalu kepada Arsen.

"Aku tahu siapa bayi ketiga itu," ujarnya pelan sambil menggenggam foto tersebut.

Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berbicara karena semua orang menunggu jawaban yang sama.

"Siapa?" tanya Rania sambil menahan napas.

Bintang menelan ludah, kemudian membaca tulisan yang ada di belakang foto itu.

"'Rania, Raka, dan Bima.'" Suaranya terdengar berat. "'Tiga anak yang harus dilindungi dengan nyawa kita.'"

Suasana langsung membeku karena tidak ada seorang pun bernama Bima di ruangan itu dan itu berarti... salah satu dari mereka masih belum mengetahui identitas aslinya.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!