NovelToon NovelToon
Kembar Beda Sifat

Kembar Beda Sifat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / CEO
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ropha M.P

Eliza Mahendra adalah seorang gadis dengan julukan "Gadis Berhati Dingin" atau "Kulkas Berjalan" di sekolah elitnya, SMA Nusa Bangsa. Sebagai Ketua OSIS, ia menjalankan tugasnya dengan kedisiplinan tanpa kompromi, dihormati sekaligus ditakuti karena sifatnya yang misterius, irit bicara, dan tatapan tajamnya. Kehidupannya yang teratur dan dingin berbanding terbalik dengan kembarannya, Elzia, yang dua jam lebih muda. Meskipun memiliki wajah yang serupa, Elzia memancarkan kehangatan dan dikenal sebagai gadis yang lebih "bar-bar" dari gadis seusianya, bahkan diam-diam menyandang gelar "Queen Racing" di dunia balap.

Cerita ini mengandung unsur kekerasan, konflik mafia, dan ****** ******. Harap bijak dalam membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropha M.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Usang

Malam pun tiba Arkana dan teman-temannya sedang berada di ruang makan bersama para tetua lainnya,

" Apakah kalian sudah menemukan tanda-tanda? " Tanya martin pada Arkana dkk

"Belum dad " Jawab mereka sembari menggelengkan kepalanya

" Malam ini kami akan berangkat dad" Ucap Arkana yang sedari tadi diam

Sedangkan para tetua lainnya hanya mengangguk saja sebagai jawaban

_________________________________________

Malam yang cukup mencekam Arkana dan yang lainnya sudah sampai di tempat tujuan

"Ar apakah kita akan masuk? " Tanya Deon mewakili yang lainnya

"Hm" Dehem Arkana dan berjalan menuju Apartemen yang sudah usang tersebut dan di ikuti oleh sahabat nya dari belakang

"Mencar " Titah Arkana dengan suara datarnya dan di angguki yang lainnya

Arkana berjalan menuju lantai dua ia berjalan dengan sangat hati-hati karena ia merasakan bahwa ada orang lain, tidak tau itu orang yang seperti mereka atau orang jahat.

Arkana memasuki ruang kerja yang sudah usang tersebut ia mulai membuka setiap laci siapa tau ada barang yang mencurigakan.

Sedangkan disisi lain Dimas berjalan menusuri Ruangan aneh tersebut. Meskipun ada rasa takut dalam dirinya namun ia tetap menyusuri Ruangan itu, ketika ia melihat-lihat sekeliling ia tak sengaja melihat foto-foto didinding sebelah kanan.

Dimas berjalan menuju foto tersebut.

"Astaga ternyata disini dihuni psikopat" Gumannya ketika melihat difoto tersebut banyak yang dicoret

Ia pun mengambil semua foto-foto tersebut tanpa ada yang tersisa.

Ketika hendak keluar dari Ruangan tersebut tiba-tiba saja ia mendengar suara langkah kaki sambil menyeret sesuatu yang cukup berat, ia bisa menebak bahwa itu bukan para sahabatnya

Dimas pun mencari tempat persembunyian

'Sial' Batinnya

Ceklek

Suara pintu tersebut terbuka lebar dan menampak seseorang yang memakai jaket hitam sambil menyeret seseorang yang di dalam karung

Beruntung nya Dimas bersembunyi di balik gorden dekat ruangan entahlah dia tak tau ini Ruangan apa yang ia masuki.

Orang yang di dalam karung tersebut bergerak mencoba keluar dari dalam karung tersebut

'Jika begini terus aku bisa ketahuan ' batin Dimas sambil melihat sekeliling untuk mencari jalan keluar, ia bukannya tak berani untuk melawan orang yang sedang duduk tersebut, hanya saja ia khawatir bahwa orang itu memiliki kemampuan yang cukup stabil dan setara dengan Arkana.

"Sepertinya ada orang yang memasuki Ruangan ini " Ucap Orang itu ketika tak melihat foto-foto yang ia Tempel.

Orang itu mulai mengedarkan pandangannya untuk mencari orang yang berani memasuki Ruangan nya

Sedangkan Dimas cukup Terkejut ternyata psikopat itu adalah perempuan.

Langkah kaki perempuan itu terdengar pelan namun konstan saat memasuki ruangan kedua. Atmosfer di dalam sana mendadak terasa mencekam. Ia mengedarkan pandangan tajam, sangat yakin bahwa ada seekor tikus kecil yang tengah bersembunyi di ruangan ini.

Di balik gorden tebal, Dimas membeku. Ia membekap mulutnya sendiri, berusaha memotong pasokan udara agar suara napasnya tidak terdengar. Jantungnya bertalu hebat, memukul dadanya dengan brutal.

Tanpa peringatan, perempuan itu merogoh sesuatu di balik jaketnya.

Wusshh!

Sebuah kilatan perak melesat membelah kegelapan. Desingan anginnya terdengar begitu dekat, disusul suara hantaman keras yang solid.

Jlebbb!

Sebilah belati menancap dalam-dalam di dinding kayu, tepat di titik tempat Dimas seharusnya berdiri. Perempuan itu melangkah maju dengan senyum kemenangan, namun senyumnya seketika luntur saat memeriksa sudut tersebut. Kosong. Targetnya sudah berhasil lolos dari maut dengan berpindah tempat beberapa detik sebelumnya.

" Apakah kemampuan ku sudah berkurang? " Guman perempuan itu dan masih melihat sekeliling

Sedangkan disisi Dimas ia tak sendirian melainkan ada orang lain yang bersembunyi. Ketika belati itu hampir mengenai Dimas tiba-tiba saja ada tangan yang menariknya dan membekap mulutnya

Sehingga belati tadi tidak mengenainya

Ketika Dimas berusaha untuk melepaskan diri ia terkesiap mendengar suara orang yang dibelakangnya

"Diam" Dingin seorang gadis yang tak lain adalah Eliza Namun Eliza mengubah sedikit suara agar tak diketahui oleh Dimas

Sedangkan Disisi lain Arkana dan yang lainnya sudah berkumpul dan menunggu kedatangan Dimas

"Dimana Dia? " Tanya Rayyan yang sedikit khawatir meskipun ia dingin orang nya namun jika menyangkut sahabat nya mana ia juga akan khawatir begitu juga dengan Arkana yang sama seperti Rayyan namun khawatir nya tidak menampak karena wajah datarnya

"Lacak keberadaan nya" Titah Arkana pada Deon yang mulai mengotak atik laptopnya

Setiap anggota inti mereka semua mempunyai alat pelacak untuk mencari keberadaan jika salah satu dari mereka lambat berkumpul contohnya seperti Dimas sekarang ini

"Ketemu" Seru Deon dan memperlihatkan laptopnya sekarang mereka berada di luar apartemen dan bersembunyi di tempat yang aman

" Sialan Dia tak sendiri " Seru Dava ketika melihat titik lain berada di sana

" Sepertinya didekat Dimas bukan orang yang berbahaya juga " Ucap Rayyan mengamati titik tempat Dimas berdiri

"Dari mana kau tau? " Tanya Dava heran

"Coba cek kamera tersembunyi yang berada diruangan itu dan jangan lupa aktifkan peredam suara yang sudah dipasang di Ruangan itu " Ucap Arkana panjang lebar dan diangguki oleh Deon yang mulai mengotak atik laptop lainya

Setelah ketemu Deon mulai menyodorkan laptopnya dan terlihat lah se isi Ruangan tersebut

Arkana dan yang lainnya mulai fokus melihat layar laptop yang ada di hadapan mereka.

Sedangkan Ruangan yang di awasi kamera tersebut perempuan tadi mulai membuka karung yang terus bergerak kesana kemari

"Hmmffffhhh.... Hhmmffhhh... "

Seorang gadis terikat dari dalam karung tersebut ia terus berontak, tubuhnya bergetar ketakutan andai ia mendengar ucapan orang tuanya tadi mungkin Ia tak akan berada disini

'Kak tolong Rara' batin gadis terikat itu tubuhnya di penuhi luka lebam

"Berhentilah berontak gadis kecil mari kita bermain pasti sangat seru" Ucap perempuan itu mengambil belati dari atas meja. Gadis terikat itu terus mundur ketakutan ia benar-benar takut sekarang

"Hmmffhhh" Gadis terikat itu bergumam tak jelas karena mulutnya diikat

Sedangkan Dimas bergerak gelisah ketika perempuan itu mulai mendekati gadis terikat itu

"Apa kau tak ingin menolong gadis terikat itu? " Tanya Dimas dengan suara kecil yang masih didengar oleh Eliza

"Terserah mu" Ucap Eliza yang masih mengubah nada suara nya meskipun datar nan dingin

Dimas mendengus ia pun mulai keluar dari persembunyian nya dan menuju perempuan psikopat itu yang setia berjalan menghampiri gadis terikat itu

"Jangan takut gadis kecil aku hanya ingin bermain dengan dirimu hihihi" Ucap perempuan itu sambil tertawa menyeramkan

Tepat di saat perempuan itu hendak menggoreskan ujung senjatanya ke pipi mulus korbannya, sebuah hantaman keras tiba-tiba bersarang telak di punggungnya dari belakang.

Bughh!

Tubuh perempuan itu terdorong ke depan. "SIALAN!" teriaknya murka karena acara bermainnya diganggu. Namun, begitu ia menoleh ke belakang dan melihat siapa yang datang, seringai manis yang mengerikan terukir di wajahnya.

"Ah... rupanya teman bermainku bertambah, hihihi," kekehnya manja. Tanpa aba-aba, ia merogoh saku dan melemparkan sebuah pisau lipat dengan kecepatan tinggi ke arah Dimas.

Wushhhhh... Jlebb!

Saking cepatnya, Dimas bahkan belum sempat berkedip. Beruntung, sebuah tangan kokoh menarik kerah jaketnya Dengan kasar ke samping, membuat pisau lipat itu melesat meleset dan menancap kuat di batang pohon hias.

Jantung Dimas berdegup dua kali lebih cepat. Ia buru-buru menoleh ke arah penolongnya. Lagi? Orang misterius bertopeng ini lagi yang menyelamatkannya? Baru saja Dimas ingin berterima kasih dalam hati, sebuah suara dingin memutus dramatisasi momen tersebut.

"Kau bodoh sekali," desis Eliza tajam dari balik topengnya.

Detik itu juga, rasa syukur Dimas menguap ke udara. Matanya langsung melotot tak terima. Heh, haruskah mengatai bodoh di saat nyawanya baru saja hampir melayang?!

'Orang ini pedas sekali jika bicara' batin Dimas mendengus sebal

"Wahhh ternyata bertambah satu lagi mainan ku hihihi" Ucap Perempuan itu mulai mengambil pisau lipat lagi di sakunya dan langsung melempar pisau lipat itu ke arah Eliza dan Dimas, Eliza dengan cepat menarik kerah baju Dimas kesamping untuk menghindari lemparan pisau lipat tersebut

"Bisakah kau tidak menarik kerah bajuku?!" protes Dimas setengah berbisik, wajahnya memerah menahan dongkol. Tangannya sibuk melonggarkan kausnya yang mendadak melar. "Aku bisa saja mati tercekik karena tarikan mautmu itu!"

Dimas benar-benar tidak habis pikir. Menolong sih menolong, tapi tidak perlu membuat saluran pernapasannya tersumbat juga, 'kan?

"Dia menyerang dari jarak jauh. Seharusnya kau lebih waspada," sahut Eliza mutlak. Ia bahkan tidak sudi melirik Dimas, pandangannYa tetap terkunci lurus pada musuh di depan mereka. Komentar frustrasi Dimas dianggapnya seperti angin lalu.

Dimas mendengus keras, melayangkan tatapan sinis pada profil samping wajah bertopeng Eliza. Meski harga dirinya terluka dan hatinya dongkol setengah mati, ia terpaksa menelan kembali sumpah serapahnya. Gadis menyebalkan di sampingnya ini benar. Perempuan psikopat di hadapan mereka memiliki akurasi serangan jarak jauh yang mematikan. Dimas pun kembali memasang posisi siaga, merapatkan barisan dengan tubuh yang masih diselimuti rasa kesal.

1
Salwa Blora
kak lanjut semangat terus kak 😁😁
Ropha M.P: terimakasih kak telah menyempatkan diri membaca cerita aku, jangan lupa di like ya kak biar makin semangat nih buat cerita nya😍
total 1 replies
anggita
like👍 iklan☝, tiap bab cukup panjang juga🤔.👌oke lah😊.
Ropha M.P: hehe Terima kasih Kak, jangan lupa like ya kak biar makin semangat aku Update😍🙏
total 1 replies
Evi 060989
up lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!