NovelToon NovelToon
Istri Rampasan Mafia Dingin

Istri Rampasan Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Pengantin Pengganti
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nona Lemah Yang Melawan

T-Tuan... jangan seperti ini. Geli..." ucap Sonya dengan suara yang teramat pelan, memalingkan wajahnya yang sudah merona merah karena menahan malu di depan para pelayan.

​Batara tidak mengindahkan protes kecil itu. Tangan kanannya bergerak santai mengambil sebutir buah anggur merah yang segar dari mangkuk kristal di atas meja. Bukannya menyuapi Sonya menggunakan tangan, Batara justru memasukkan buah anggur itu ke dalam mulutnya sendiri, menahan separuh bagian anggur itu di antara deretan giginya yang tajam.

​"Makan!" perintah Batara dari sela-sela giginya, matanya yang sehitam malam menatap tajam ke arah bibir Sonya.

​Sonya tersentak, secara refleks berusaha menarik tubuhnya mundur untuk menjauhkan wajahnya. Namun, kedua mata Batara mendadak melotot tajam, memancarkan aura dominasi yang mutlak dan mengancam. Tatapan itu seketika membuat Sonya membeku di tempat, persis seperti seekor kelinci kecil yang ketakutan di depan Raja Singa.

​Dengan tubuh yang bergetar pelan, Sonya terpaksa memajukan wajahnya mendekati wajah Batara. Dia membuka mulutnya sedikit, menggigit separuh bagian anggur yang tersisa di mulut suaminya. Saat buah anggur itu pecah dan menyemburkan cairan manis di dalam mulut mereka, bibir mereka pun tak terhindarkan untuk saling menempel dan bergesekan erat, menciptakan kecupan basah yang intim di tengah ruangan.

​"Good!" ucap Batara pelan setelah melepaskan tautan bibir mereka. Tangan kirinya bergerak mengelus rambut panjang Sonya yang halus dengan gerakan konstan, sementara wajah Sonya sudah memerah sempurna menahan malu yang luar biasa. Terlebih lagi, salah satu tangan besar Batara kini memeluk dan meremas pinggang ramping Sonya dengan sangat erat, seolah menegaskan kepemilikan yang mutlak di depan dunia.

​Kehangatan intim itu mendadak terganggu ketika suara derit pintu depan dibuka kasar. Jevan melangkah masuk terlebih dahulu, diikuti oleh dua anak buahnya yang membawa Talitha.

​Talitha datang sambil terus meronta-ronta dengan sisa tenaga yang dimilikinya untuk dilepaskan. Tubuhnya kini memang sudah bersih dari kotoran dan mengenakan gaun pelayan yang sederhana, namun rambutnya yang basah acak-acakan dan wajahnya dipenuhi kemerahan akibat gosokan kasar para pelayan tadi. Mulutnya tidak berhenti mengeluarkan hujatan, makian, dan hinaan kepada semua orang yang menyentuhnya.

​"Lepaskan aku, anjing-anjing bodoh!" teriak Talitha.

​Dengan satu sentakan kasar, anak buah yang memegang tangan Talitha mendorong tubuh wanita itu ke depan hingga Talitha jatuh tersungkur dan terpaksa berlutut di atas lantai marmer yang dingin, tepat beberapa meter di depan sofa tempat Batara dan Sonya berada.

​Talitha yang kesakitan segera mendongakkan kepalanya. Namun, pemandangan yang tersaji di depannya seketika membuat dadanya seperti dihantam godam besar. Mata Talitha semakin memanas, dipenuhi oleh rasa iri dan api cemburu yang membakar ubun-ubunnya saat melihat dengan kepala kepala sendiri bagaimana Sonya, kakak tirinya yang selalu dianggap sampah sedang duduk dengan tenang dan nyaman di atas pangkuan kebesaran Batara Moretti.

​Rasa frustrasinya semakin memuncak ketika Batara, secara terang-terangan di depan matanya, kembali memajukan wajah dan mencium leher jenjang Sonya dengan gigitan-gigitan kecil yang disengaja, meninggalkan beberapa bekas kemerahan yang kontras di kulit putih Sonya seolah ingin memamerkannya pada Talitha.

​"Dasar jalang sialan!!!" Teriak Talitha histeris, air matanya menetes karena rasa hina yang luar biasa. "Tuan Batara! Jangan biarkan dirimu dikelabui olehnya! Dia hanyalah wanita jalang murahan! Jangan tertipu oleh tubuhnya, Tuan! Dia hanya wanita penyakitan, anak haram pembawa sial yang tidak memiliki masa depan!"

​Batara seolah-olah tidak mendengar jeritan histeris itu. Wajahnya tetap tenang, sedingin es. Dia justru kembali mengambil sebutir anggur merah, melakukan kegiatan yang sama seperti sebelumnya. Namun kali ini, setelah Sonya menggigit anggur tersebut, Batara tidak langsung melepaskannya. Pria itu justru langsung melumat dan mencium bibir Sonya dengan sangat dalam, memperdalam ciumannya hingga suara kecupan basah terdengar jelas di keheningan ruang tengah.

​Sonya yang terkejut hanya bisa pasrah, memejamkan matanya erat-erat sambil menahan rasa malu segenap jiwanya di hadapan adik tirinya sendiri.

​Setelah beberapa saat, Batara menyudahi ciuman panas itu. Ibu jarinya yang kasar bergerak perlahan mengusap sisa air liur yang membasahi bibir ranum Sonya yang tampak bengkak. Pemandangan intim itu membuat Talitha semakin emosi dan kehilangan akal sehatnya. Sumpah serapah dan kata-kata kotor terus mengalir deras dari mulutnya yang mulai berdarah karena bibirnya kembali pecah akibat berteriak terlalu keras.

​"Tuan Batara! Lihat aku! Aku ini calon istrimu yang seharusnya berada di sana! Bukan wanita cacat yang tak lama lagi akan mati membusuk itu! Aku jauh lebih unggul, aku juga bisa memuaskan nafsu dan keinginanmu, Tuan Batara! Tubuhku jauh lebih berisi, seksi, dan sempurna dibandingkan dengan wanita kurus kering penuh penyakit itu!" Teriak Talitha memohon-mohon dengan pandangan liar.

​Mendengar kalimat terakhir Talitha, atmosfer di ruang tengah mendadak berubah menjadi sangat mencekam. Batara secara perlahan berdiri dari duduknya. Namun, dia tidak melepaskan Sonya, tangan kekarnya tetap memeluk erat pinggang mungil istrinya, membawa tubuh lemas Sonya ikut berdiri dan berjalan bersamanya mendekati posisi Talitha yang sedang berlutut ketakutan di lantai.

​Batara menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di depan wajah Talitha. Mata hitamnya yang tajam beralih menatap wajah Sonya yang berada di pelukannya.

"Adik..." lirih Sonya terdengar prihatin.

​"Tampar!" ucap Batara dengan nada suara yang tegas, pendek, dan sarat akan perintah mutlak.

​Sonya seketika bingung dan menatap wajah suaminya dengan pandangan tidak percaya. "T-Tuan...?"

​"Tampar, Sonya!" Kali ini, volume suara Batara sedikit lebih keras dan dalam, memberikan getaran intimidasi yang membuat seluruh ruangan seolah bergetar. Bentakan halus itu membuat Sonya terkejut setengah mati hingga air matanya mulai luruh membasahi pipinya.

​Sonya menggenggam erat kedua tangannya sendiri yang gematukan di depan dada. "Tidak, Tuan! Saya... saya mohon tidak... Saya tidak mau menyakiti siapapun..." lirih Sonya menyedihkan. Meskipun selama hidupnya di Laviata dia selalu dihina, dipukuli, dan ditindas oleh Talitha, namun sifat dasarnya yang lembut membuat dia tidak tega untuk membalas dendam dengan kekerasan.

​Batara tidak suka mendengar penolakan. Tangan kanannya bergerak ke belakang pinggangnya, menarik sebuah pistol hitam jenis Baretta miliknya yang dingin, lalu mengarahkannya tepat ke pelipis kepala Talitha.

​"Tampar, atau peluru ini akan menembus dan meledakkan isi kepalanya sekarang juga," ancam Batara dingin tanpa keraguan sedikit pun.

​Mendengar ancaman pembunuhan yang begitu nyata, baik Talitha maupun Sonya sama-sama dicekam ketakutan yang luar biasa. Talitha yang melihat moncong senjata api berada di depan matanya langsung menangis histeris, kehilangan seluruh keangkuhannya. "Tuan... Tuan Batara aku mohon! Jangan bunuh aku! Sonya, cepat tampar aku! Aku mohon cepat lakukan!" Teriak Talitha meratap di atas lantai.

​"Sonya, tampar!" Batara kembali menegaskan perintahnya, matanya menatap tajam ke arah istrinya yang terus menangis. "Jangan membuat aku harus berbicara panjang lebar untuk hal yang tidak berguna."

​Tubuh Sonya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dengan air mata yang terus luruh membasahi pakaian katunnya, dia perlahan mengulurkan tangan kanannya yang masih terasa agak kaku karena bekas infus. Dia menatap wajah adik tirinya yang kini memasang wajah memohon yang menyedihkan, sebuah posisi yang belum pernah terjadi seumur hidup mereka. Sonya menarik napas dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya, lalu mengayunkan tangannya ke depan.

​Plakk!

​Suara tamparan itu terdengar, namun dampaknya tidak terlalu besar. Pipi Talitha hanya tergeser sedikit ke samping karena tenaga Sonya yang terlalu lemah.

​Talitha yang menyadari tamparan itu lemah langsung mendongak dengan tatapan penuh dendam yang tersisa. "Sonya, kau—"

​"Lagi!" potong Batara dingin, tidak puas dengan hasil kerja istrinya.

​Sonya menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya semakin deras. "Tidak mau, Tuan... sudah cukup..."

​Melihat penolakan itu, jari telunjuk Batara yang berada di pelatuk pistol secara perlahan bergerak mundur, bersiap untuk menarik pelatuk tersebut dan mengakhiri nyawa Talitha di tempat. Suara klik kecil dari senjata itu terdengar sangat mengerikan.

​Merasakan bahaya kematian yang mendekat pada adiknya, dan tekanan dari suaminya, Sonya yang panik langsung memejamkan mata dan mengayunkan tangannya kembali untuk kedua kalinya dengan tenaga yang sedikit lebih besar.

​Plak!

Tamparan kedua mendarat, namun di mata Batara, itu masih merupakan tamparan yang sangat lemah dan tidak bertenaga seperti belaian.

​"Cih," Batara berdecih pelan, menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan pada kelemahan istrinya.

​Tanpa membuang waktu, tangan kanan Batara yang tidak memegang pistol langsung bergerak maju, menggenggam erat pergelangan tangan kanan Sonya dengan cengkeraman besinya. Dia mengunci tangan Sonya, lalu menggunakan kekuatannya sendiri untuk menggerakkan dan mengayunkan tangan Sonya secara paksa dengan kecepatan dan tenaga yang luar biasa besar ke arah wajah Talitha.

​PLAKKK!!!!!!

​Suara hantaman yang luar biasa keras bergema di seluruh penjuru ruang tengah mansion. Tamparan yang digerakkan oleh kekuatan tangan Batara itu begitu kuat hingga tubuh Talitha seketika terlempar ke samping dan nyaris terpental di atas lantai marmer jika kedua lengan kekar anak buah Batara tidak dengan cepat menangkap dan menahan tubuhnya agar tetap berada dalam posisi berlutut.

​Sonya menangis hebat, rasa perih dan sakit yang menjalar di telapak tangannya akibat hantaman keras itu terasa sangat menyiksa. Namun, di balik rasa sakit fisik dan air mata yang mengalir, ada sesuatu yang aneh yang mendadak melegakan di dalam lubuk hati Sonya, sebuah perasaan puas dan kebebasan yang selama belasan tahun ini selalu dia tahan dan pendam setiap kali dia menjadi korban penindasan keluarga Munic. Untuk pertama kalinya, dia berhasil membalas perbuatan orang yang menghancurkan hidupnya.

​"Lagi!" perintah Batara lagi, melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Sonya, membiarkan istrinya bergerak sendiri.

​Kali ini, Sonya tidak lagi menolak. Didorong oleh rasa lega yang baru saja dirasakannya dan keinginan untuk melindungi dirinya sendiri di masa depan, Sonya mengangkat tangannya sendiri tanpa paksaan. Dengan segenap sisa tenaga yang dimilikinya, dia mengayunkan telapak tangannya sekuat mungkin ke arah pipi kiri Talitha.

​PLAKKK!

​Tamparan mandiri dari Sonya itu mendarat dengan sangat kuat dan presisi. Kekuatan tamparan itu sukses membuat sudut bibir kiri Talitha seketika sobek parah, mengeluarkan aliran darah segar yang mengalir deras membasahi dagu dan gaun pelayan yang dikenakannya.

​"Kau... dasar anak haram..." desis Talitha dengan suara parau sebelum kepalanya terkulai lemas karena pusing yang luar biasa akibat hantaman bertubi-tubi.

​"Sangat bagus, Manis," ucap Batara dengan nada suara yang sedikit melunak, sebuah pujian yang sangat langka keluar dari mulutnya.

​Tangan besarnya bergerak maju, mencubit lembut dagu lentik istrinya untuk memaksa Sonya menatapnya. Tanpa membuang waktu, Batara langsung memajukan wajahnya dan mencium bibir Sonya dengan lembut dan penuh afeksi di depan semua orang. Kali ini, sebuah perubahan besar terjadi, Sonya tidak lagi bersikap pasif atau menolak. Wanita itu justru mulai membalas ciuman suaminya dengan perlahan, seolah menerima penuh bahwa dirinya kini telah menjadi bagian dari dunia gelap pria di depannya.

​Setelah menyudahi ciuman itu, Batara menatap lekat-lekat mata sayu Sonya yang kini memancarkan kilatan ketegasan yang baru.

​"Dengar baik-baik, Sonya," ucap Batara, suaranya terdengar sangat dalam, tegas, dan bergema penuh wibawa di keheningan ruangan. "Kamu adalah istri sah dari Batara Moretti, sang penguasa tertinggi klan mafia The Inferno. Di wilayah kekuasaanku, di dunia ini, kamu tidak boleh menjadi wanita yang lemah. Kamu tidak boleh hanya diam dan menerima penindasan dari siapa pun!"

​Batara mengelus pipi Sonya yang memerah dengan jemarinya. "Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang boleh menghina atau merendahkan martabatmu sebagai Nyonya Moretti! Jika ada semut-semut tidak berguna atau tikus kotor yang berani mengeluarkan kata-kata kotor atau mengusik ketenanganmu seperti yang dilakukan wanita ini..." Batara menunjuk Talitha dengan dagunya. "...maka kamu memiliki hak penuh untuk langsung membalasnya, menyiksanya, atau bahkan..."

​Batara membalikkan tangan kanannya yang memegang pistol hitam jenis Baretta miliknya, lalu menyerahkan gagang senjata api yang dingin itu secara langsung ke dalam genggaman tangan mungil Sonya. Dia menuntun tangan Sonya, mengangkatnya ke depan, dan mengarahkan moncong pistol tersebut tepat berada satu senti di depan dahi kepala Talitha yang sedang menunduk lemas.

​"...atau kamu bisa langsung menarik pelatuk ini dan menghabisinya dengan tanganmu sendiri untuk membersihkan kotoran dari jalanmu," lanjut Batara dengan nada suara yang sangat dingin dan datar seolah sedang mengajarkan cara memotong daging. "Pilihlah, Sonya. Tembak dia jika itu bisa membuat hatimu tenang."

​Sonya menatap pistol berat di tangannya, lalu menatap dahi adik tirinya yang kini bergetar hebat ketakutan setengah mati di bawah ancaman maut. Dengan napas yang mulai teratur dan pandangan mata yang mantap, Sonya menurunkan pistol itu sedikit, lalu menatap wajah suaminya dengan kepatuhan yang baru.

​"Ba-baik, Tuan... saya mengerti," jawab Sonya dengan suara yang kini terdengar lebih tenang dan tegas, menerima pelajaran hidup di dunia mafia yang diajarkan oleh suaminya.

...****************...

...Guys... Untuk sementara, kisah Batara-Sonya slow update ya.. Karena satu dan lain hal, hanya bisa terkontrak minggu depan. But, aku bakalan update isinya lebih padat dan penuh, seperti bab ini 2000++ kata 🤧. Semoga kalian puas ya. Setelah Minggu depan akan update normal ya. Love you all 😘...

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
oh ternyata Ibu Yooka yang menjadi pengasuh Batar, pantes aja jalau dia paham sama sifat Batara
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Astaga Batara kamu tega banget sih jadi cowok mentang2 di takuti seenaknya ajs sama perempuan, apa kamu gak kasihan sama Sonya yang ketakutan
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
pantes aja si Jenna kasar banget ternyata dia punya obsesi terhadap bosnya sendiri
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Talitha harusnya kamu tuh berfikir kenapa orang memilih Sonya, harusnya kanu jadikan pelajaran bukan malah hidup dengan kedengkian
Muft Smoker
kak jgn sampe deeh si batara tdur sama thalita ,,
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: 😭😭😭😭😭😭
total 3 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
ladalah Jenna masih ada disana kirain sudah dibuang jauh jauh dan ini Sonya kau terlalu lemah sekali kapan kau jadi kuat dan berani 🤔😔😔
SENJA
yaelaaah lemah banget lu kan isteri mafia, hadeeeh berubah dikit kek
SENJA
kirain jena udah dipecat hadeeh
SENJA
jangan terpedaya batara si lacur lagi sandiwara
SENJA
lacur emang lah kau sampah 😤
RANDI Satriandi
tuhh kan.. bener plot twist. ternyata Sonya udh duluan donor darah
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: 🤣🤣🤣🤣 tau aja
total 1 replies
RANDI Satriandi
kok curiga saya.. Sonya abis donorkan darah untuk jevan diam².. biasanya othor yang satu ini bikin plot twist/Applaud//Applaud/
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/iya gitu
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
berani bersikap kurang ajar seperti ini, karena iri hati kah 😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
air mata buaya Betina 😑 penuh kepalsuan
Muft Smoker
kak bikin aj dstu mati lampu ,, ad sosok penjaga yg postur tubuh ny sama dg batara ,, yg masuk menggantikn batara ,, pas udh beres lampu nyalah ,, syik syak syok gx tuh si thalita ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😑 masa pakai darah Thalita, nnti makin besar kepala diaa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
harusnya gak perlu panggil tuan 🤭🤭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
gak perlu takut lagii, kmu istri Batara, harusnya mreka yg takut sama kamuu
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
pantas saja ada musuh di balikk selimut 😑
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Batara kena jebakan kahh ini? 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!