NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan
Popularitas:69.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Mama, tolong panggil Kanaya!"

Suara Arkana terdengar begitu keras dari layar ponsel hingga membuat Bu Winda refleks menjauhkan telepon. Wanita itu mengernyit heran.

Selama ini Arkana dikenal sebagai sosok yang tenang, sulit panik, dan hampir tidak pernah meninggikan suara. Bahkan saat menghadapi masalah besar dalam bisnis, putranya selalu terlihat mampu mengendalikan diri. Namun, malam ini berbeda, wajah Arkana tampak tegang. Sorot matanya dipenuhi kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.

"Eh, kamu kenapa, sih, teriak-teriak gitu?!" tegur Bu Winda.

"Ma, aku mohon!" Arkana sampai menangkup kedua tangannya di depan kamera. "Aku mau lihat wanita bercadar itu."

Bu Winda semakin bingung. "Memangnya kamu kenal sama Kanaya?"

Pertanyaan itu membuat Arkana terdiam sepersekian detik. Dadanya terasa sesak. Nama itu sudah lima tahun hidup di dalam kepalanya. Lima tahun menjadi penyesalan yang tidak pernah berhenti menghantuinya.

"Iya, Ma. Iya!" jawabnya cepat. "Tolong panggil dia. Jangan sampai dia pergi."

Bu Winda menatap wajah putranya dengan penuh rasa penasaran. Selama ini ia tahu Arkana sedang mencari seorang wanita yang sangat dicintainya. Karena wanita itu, Arkana menolak setiap perempuan yang berusaha mendekat. Berkali-kali dijodohkan, berkali-kali pula ditolak mentah-mentah.

Namun Bu Winda tidak pernah menyangka reaksinya akan sedrastis ini. "Ya sudah. Mama carikan dulu."

Mendengar itu, Arkana mengembuskan napas lega. Harapan yang sudah lama mati perlahan menyala kembali.

Baru beberapa langkah Bu Winda berjalan meninggalkan meja, ponselnya kembali berdering. Kali ini nama Aruna muncul di layar. Bu Winda langsung mengangkatnya.

"Aruna, ada apa?"

Suara tangis terdengar dari seberang. "Mama ...."

Wajah Bu Winda langsung berubah pucat. "Aruna! Kamu kenapa?"

"Aku jatuh di toilet. Kakiku sakit sekali, Ma ...!" Suara gadis itu terdengar menahan sakit.

Belum sempat Aruna menjelaskan lebih banyak, seorang wanita mengambil alih telepon.

"Bu, saya petugas hotel. Putri Ibu saat ini sedang di toilet. Kakinya terkilir dan mengalami luka cukup dalam di bagian betis. Darahnya lumayan banyak keluar."

Tubuh Bu Winda langsung lemas. "Ya Tuhan!"

Di layar ponsel, Arkana yang masih terhubung melalui video call ikut berdiri dari kursinya.

"Mama! Ada apa?"

"Aruna kecelakaan."

Arkana langsung terdiam. "Bagaimana kondisinya?"

"Mama harus ke rumah sakit sekarang."

Pikiran Bu Winda seketika kacau. Ia sama sekali melupakan Kanaya. "Mama tutup dulu."

"Ma! Tunggu!" Sambungan pun langsung terputus.

Di ibukota, Arkana menatap layar ponselnya yang menggelap. Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ia merasa benar-benar dekat dengan Kanaya. Namun, kesempatan itu kembali terputus sebelum sempat ia raih.

Arkana mencoba menunggu. Satu jam, tidak ada kabar. Ia mulai menelepon ibunya, tetap tidak dijawab.

Arkana mengacak rambutnya frustrasi. "Ayolah, Ma ... angkat teleponnya!"

Arkana berjalan mondar-mandir di kamarnya seperti orang kehilangan arah. Jantungnya tidak bisa tenang. Perasaannya terus berteriak bahwa ia harus melakukan sesuatu. Kalau tidak ia akan kehilangan Kanaya lagi.

Tanpa berpikir panjang, Arkana langsung mengambil kunci mobil. Ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian, cuma pakai kaos polos dan training. Yang ada di pikirannya hanya satu, mencari Kanaya. Dia pun pergi ke kota sebelah mencari cintanya yang selama lima tahun terakhir terus dikejarnya.

Malam semakin larut ketika mobil Arkana melaju di jalan tol. Lampu-lampu kendaraan berpendar di kejauhan. Jarum speedometer bergerak jauh di atas batas normal.

Jika orang lain melihatnya, mereka mungkin akan mengatakan Arkana mengemudi seperti orang dikejar setan. Namun bagi Arkana, waktu terasa jauh lebih lambat. Ia takut sampai terlambat. Takut Kanaya pergi lagi. Takut kehilangan kesempatan terakhir yang diberikan Tuhan kepadanya.

Sepanjang perjalanan, wajah Kanaya terus muncul di dalam pikiran Arkana. Tangisan perempuan itu, lima tahun lalu. Tatapan kecewa yang tidak pernah bisa ia lupakan. Kalimat perpisahan yang masih terdengar jelas sampai hari ini.

"Selamat tinggal, Mas. Semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi."

Kalimat itu kembali menusuk dadanya.

"Kanaya ...." Suara Arkana terdengar serak. "Kali ini jangan menghilang lagi."

Tepat tiga jam kemudian, mobil Arkana memasuki halaman Hotel Khatulistiwa.

Pria itu turun terburu-buru. Ia hampir berlari memasuki lobby. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika melihat para petugas sedang membereskan dekorasi.

Ballroom sudah kosong. Musik sudah tidak terdengar. Pesta sudah selesai.

Wajah Arkana langsung pucat. Ia menghampiri seorang petugas.

"Ini tempat acara pesta Pak Haris digelar, kan?"

"Iya, tapi sudah selesai, Pak."

"Kapan?"

"Kurang lebih satu jam yang lalu."

Dunia Arkana seperti runtuh saat itu juga. Ia terlambat satu jam dan membuatnya tidak bisa bertemu dengan Kanaya.

"Kalau tim katering BUNDA AYA masih ada di dalam?"

Petugas itu mengangguk. "Sudah pulang juga, Pak."

Arkana menutup wajahnya. Seluruh tubuhnya bergetar. Lima tahun mencari keberadaannya dan rasa penyesalan. Saat kesempatan itu muncul dia kembali terlambat.

"Brengsek!" teriakan Arkana menggema di lobby hotel.

Beberapa orang menoleh. Namun, Arkana tidak peduli. Air mata yang selama ini ia tahan perlahan memenuhi pelupuk matanya.

"Aku cuma ingin bertemu dengan dia lagi."

Sementara itu, Bu Winda baru sempat membuka ponselnya setelah Aruna selesai mendapatkan perawatan. Kaki gadis itu diperban setelah lukanya dibersihkan. Kini Aruna tertidur karena pengaruh obat penghilang nyeri.

Saat melihat layar ponselnya, Bu Winda langsung terkejut. Puluhan panggilan tak terjawab dari Arkana. Ia segera menelepon balik putranya. Kurang dari satu dering, panggilan langsung tersambung.

"Mama!" Nada suara Arkana terdengar penuh kecemasan. "Kenapa tidak angkat panggilan dariku? Bagaimana keadaan Aruna?"

Bu Winda segera menjelaskan keadaan Aruna. Setelah mengetahui adiknya baik-baik saja, Arkana akhirnya sedikit tenang.

"Ma ... mengenai Kanaya."

Nama itu kembali disebut. Bu Winda menghela napas pelan. Lalu ia mulai menceritakan bagaimana dirinya bertemu Kanaya di mall. Tentang sosok Kanaya yang pekerja keras dan tentang dua anak kembar yang sangat cerdas serta menggemaskan.

"Dia punya dua anak?" tanya Arkana.

"Iya. Sepasang anak kembar."

"Kembar?"

"Iya."

"Usianya berapa?"

"Kurang lebih lima tahun."

Mendadak Arkana terdiam cukup lama. Harapan yang sempat tumbuh kembali perlahan meredup. Ia menggeleng pelan.

"Ternyata bukan dia."

Bu Winda mengernyit. "Kenapa kamu bicara begitu? Apa wanita yang kamu cari itu mirip Kanaya?"

Arkana tersenyum pahit. "Ya. Wanita lemah lembut yang menutupi kecantikannya dengan cadar. Dan saat kita berpisah dia tidak sedang hamil."

Kalimat itu terdengar tenang. Namun, di dalamnya tersimpan luka yang begitu dalam.

Bu Winda tidak melanjutkan pertanyaan. Ia bisa merasakan kesedihan yang kembali memenuhi hati putranya.

Keesokan harinya, Kanaya mendengar kabar bahwa Aruna mengalami kecelakaan kecil dan dirawat di rumah sakit. Wanita itu merasa khawatir dan ingin menjenguknya. Sebagai bentuk perhatian, Kanaya menyiapkan salad buah dan puding buah buatan sendiri.

Abinaya dan Anaya bahkan ikut membantu menghias kemasannya.

"Bunda, Kak Aruna itu orang yang baik, ya?" tanya Anaya.

Kanaya tersenyum, "Iya.

"Makanya Bunda mau menjenguk?" tanya Abinya.

"Iya," jawab Kanaya sambil mengusap kepala putranya.

Abinaya mengangguk setuju. "Semoga Kak Aruna cepat sembuh."

Kanaya tersenyum bangga melihat kedua anaknya. Ia lalu membawa bingkisan itu menuju rumah sakit. Tanpa pernah menyadari bahwa di rumah sakit itu ada seorang pria yang mencarinya selama ini.

1
SasSya
ada cara yg ampuh meredakan panas demam
skin to skin Ar,itu bisa Kamu lakukan
SasSya
paling bingung kalo bocil sakit tapi gak mau minum obat
serasa mau nangis, menjerit 😬😬😬
SasSya
eeeeeee
anak kicik cantik tepat nembaknyaa
tau bahasa cemburu 😃
Sugiharti Rusli
perlahan tapi pasti semoga apa yang kamu impikan bersama keluarga kecil kalian yang utuh bisa segera terwujud yah Ar,,,
Sugiharti Rusli
tapi melihat ketulusan Arkana menjaganya bersama sang bunda semalaman, akhirnya pertahanannya runtuh juga,,,
Sugiharti Rusli
mungkin selama ini sejatinya Abi juga merindukan sosok yang ingin dia panggil ayah, tapi masih menahan dirinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata benar yah ikatan emosional itu sangat penting disamping kedekatan fisik
Sugiharti Rusli
ah ikutan melow bacanya sih😪😪😪
Sugiharti Rusli
apalagi di saat sekarang putra mereka sakit dan ternyata ga suka minum obat jadi proses pemulihannya jadi ga mudah,,,
Sugiharti Rusli
intinya si Arkana memang sabar saja nunggu proses Kanaya mau menerima diri nya lagi seutuhnya yah,,,
Sugiharti Rusli
etapi si Kanaya saat Arka panggil sayang dia reflek langsung menyahut donk😝😝😝
Sugiharti Rusli
Aya kamu peka dan jujur sekali sih bilang kalo ayahnya cemburu😅😅😅
Sugiharti Rusli
wah ternyata ada salah satu klien katering Kanaya yang menyapa mereka rupanya,,,
Sugiharti Rusli
Arkana juga bisa menjaga batasannya dan dia ga mau terlihat mendominasi yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang paling terpenting Kanaya tidak membatasi anak" saat akan menghabiskan bersama kedua buah hatinya dan dia tidak merasa insecure perhatian mereka jadi berat sebelah,,,
ken darsihk
Alhamdulillah Abi sudah membaik dan bisa menerima Arkana sebagai ayah nya 😍😍
Sugiharti Rusli
tapi membangun kedekatan itu bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional dan itu ga bisa dipupuk dalam waktu singkat
Sugiharti Rusli
biar kembar, mereka punya kehendak masing" sih dan Arkana ga mau memaksakan putranya juga langsung jadi dekat,,,
Sugiharti Rusli
kalo diperhatiakn Anaya memang tipikal yang ekspresif yah, jadi paling tidak Arkana lebih mudah jadi dekat sama sang putri
Sugiharti Rusli
bahagia itu memang sederhana sih asal bersama orang" yang kita sayangi,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!