Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membongkar Korupsi Mantan Bos
Malam merayap turun dengan tergesa-gesa di langit Jakarta, membawa serta udara gerah yang melekat di kulit. Berita tentang kaburnya Pak Johan bergaung laksana genta peringatan bahaya di teras indekos yang remang. Pria berjaket ojek online itu masih terengah-engah, memegangi lututnya yang gemetar setelah berlari dari ujung gang.
Lina meremas kertas cek di tangannya. Haru yang baru saja mekar di dadanya seketika layu, digantikan oleh rasa cemas yang kembali membebani pikirannya. Ia menoleh cepat ke arah Dika. “Dik, lo denger kan? Bos korup lo itu kabur! Orang kayak gitu kalau udah nekat bisa ngelakuin apa aja. Lo harus sembunyi sekarang!”
Dika tidak bergemih. Sepasang matanya menatap lurus ke kegelapan gang, sementara tangan kirinya perlahan merapikan kaos biru pudarnya yang sempat longgar. Di balik ketenangan wajahnya yang sekeras karang kuno, sepasang iris matanya kembali memancarkan pendar emas yang tipis—Mata Takdirnya telah aktif sepenuhnya.
Dunia monokrom kembali terhampar di benak Dika. Namun kali ini, ia tidak menatap benang takdir orang-orang di sekitarnya. Ia memfokuskan sisa energi spiritual spiritualnya untuk melacak sisa aura hitam dari "benang karma" Pak Johan yang sempat terikat dengannya di kantor tadi siang. Di dalam benak Dika, sebuah garis hitam vertikal yang meliuk-liuk mendadak muncul di atas aspal, menjalar keluar dari gang, menembus kemacetan jalan raya, dan berujung di sebuah gudang tua terbengkalai di dekat kawasan pelabuhan darat, hanya berjarak dua kilometer dari posisi mereka.
“Tikus tak berotak,” dengus batin Dika di dalam keheningan jiwanya. Suara batin itu bergetar penuh penghinaan agung khas penguasa jagat raya. “Dia mengira jeruji fana adalah satu-satunya penjara di bentala ini. Dia tidak tahu bahwa sejak dia berani menjebakku, namanya telah tertulis di dalam kitab kematian spiritualku. Bersembunyi? Di bawah kolong langit ini, tidak ada satu jengkal tanah pun yang bisa menyembunyikan jiwanya dari tatapanku.”
Namun, keagungan batin itu mendadak terinterupsi oleh rasa linu yang amat sangat di punggung bawahnya.
“Aduh, aduh, aduh... pinggang gue mendadak encok! Sialan, efek samping make Mata Takdir dua kali sehari di tubuh fana yang kurang gizi ini ternyata berat banget. Mana perut gue udah mulai ngajak ribut lagi, efek telur dadar semalam beneran udah punah total. Tolong jangan sampai gue pingsan estetik di depan si Lina, bisa jatuh wibawa kaisar naga gue!”
Lina yang mendengar keluhan encok dan perut keroncongan Dika langsung menepuk dahinya sendiri. Rasa paniknya seketika buyar berganti rasa gemas yang tak terbendung. Orang ini beneran titisan dewa atau manula yang salah casing sih?! batin Lina menjerit sebal.
“Gue nggak bakal sembunyi, Lina,” ucap Dika lantang, suaranya sengaja dibuat berat dan penuh penekanan misterius. “Seorang praktisi sejati tidak pernah membiarkan duri tetap berada di dalam daging. Aku akan mendatangi sarang tikus itu dan menyelesaikan karma ini sebelum fajar menyingsing.”
Dika berbalik lambat, berniat melangkah keluar dari pekarangan kos. Namun, lengannya mendadak ditahan oleh cengkeraman tangan Lina yang erat.
“Gue ikut!” tegas Lina, matanya menatap Dika dengan pandangan keras kepala yang tidak bisa dibantah.
Dika mengernyitkan alis. “Tempat itu penuh dengan marabahaya, Anak Hawa. Urusan ini terlalu berat untuk pundak fana sepertimu.”
“Hah?! Ngapain cewek galak ini mau ikut segala sih?! Mau jadi pemandu sorak atau gimana? Malah bikin repot aja! Nanti kalau di sana ada baku hantam beneran, terus celana kombor gue melorot lagi, siapa yang mau megangin?! Jangan ikut please, di rumah aja bikin teh anget!” jerit batin Dika yang kian histeris di dalam kepala Lina.
Lina menahan senyum kuat-kuat, matanya melotot tajam menantang tatapan Dika. “Nggak ada penolakan! Lo itu jalan aja masih pincang gara-gara telunjuk kesleo dan pinggang encok, sok-sokan mau nyerbu markas penjahat sendirian! Kalau lo pingsan di jalan, siapa yang mau gotong tubuh kurus lo itu? Pokoknya gue ikut!”
Dika tertegun, kehilangan kata-kata karena isi hatinya ternyata ditelanjangi mentah-mentah oleh gadis di depannya. Akhirnya, dengan helaan napas panjang yang sarat akan kepasrahan, sang mantan dewa terpaksa mengangguk pelan.
Tiga puluh menit kemudian, sebuah taksi tua berhenti di pinggiran kawasan industri kelam yang sepi. Udara di tempat itu berbau anyir besi berkarat dan oli bekas. Dika dan Lina melangkah menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi ilalang setinggi dada, menuju sebuah gudang beratap seng yang lampunya tampak remang-berkedip.
Mata Takdir Dika terus berdenyut. Di pintu masuk gudang, ia tidak hanya melihat benang hitam samar milik Pak Johan, melainkan sebuah untaian benang merah tua yang tebal dan tajam—simbol dari energi bela diri yang murni. Ada seorang praktisi belajadi tangguh yang sedang menjaga Pak Johan di dalam sana.
Dika mendorong pintu besi gudang yang tidak terkunci hingga mengeluarkan suara decitan panjang yang memotong keheningan malam.
Di dalam ruangan yang luas dan dipenuhi tumpukan ban bekas itu, Pak Johan sedang duduk di atas kursi plastik sembari memegang segelas air. Wajahnya yang bengkak langsung menegang begitu melihat sosok Dika masuk, disusul oleh Lina di belakangnya.
“D-Dika?! Bagaimana bisa lo tahu gue di sini?!” pekik Johan, suaranya bergetar antara syok dan amarah yang meluap. Ia buru-buru berdiri, melangkah mundur ke balik punggung seorang pria paruh baya bertubuh tegap yang sejak tadi berdiri diam di kegelapan.
Pria itu mengenakan pangsi hitam khas pendekar tradisional, dengan sepasang tangan yang dipenuhi kapalan tebal. Begitu matanya yang tajam menatap Dika, aura dingin yang menekan langsung menguar dari tubuhnya. Dia adalah Ki bersam, pendekar bayaran yang disewa Johan menggunakan sisa uang simpanannya.
“Oho, jadi bocah kurus ini yang sudah menghancurkan bisnismu, Johan?” ucap Ki Bersam dengan suara berat yang bergetar rendah di udara. Ia melangkah maju, membuat ubin semen di bawah kakinya seolah bergetar tipis akibat aliran tenaga dalam fana yang ia miliki.
Dika menghentikan langkahnya tiga meter di depan sang pendekar. Ia melipat tangan di dada dengan sikap angkuh, menatap Ki Bersam dengan pandangan meremehkan yang amat natural. “Tenaga dalammu cukup stabil untuk ukuran manusia bumi, Pak Tua. Namun di hadapan takdir, jurus-jurusmu tidak lebih dari sekadar tarian monyet yang jenaka.”
“Waduh, gila! Ini orang auranya serem banget, lengannya segede pohon pisang! Kayaknya dia beneran bisa mecahin kemiri pake jidat! Aduh Dika, lo jangan blunder... sisa energi spiritual lo cuma tinggal lima belas persen. Kalau ketukan jari lo tadi nggak tembus ke baju pangsi tebalnya, tamat sudah riwayat kegantengan gue malam ini!” batin Dika mulai meratap cemas, membuat Lina yang berdiri di belakangnya menahan napas antara tegang dan gemas.
Ki Bersam merasa dihina oleh ucapan lantang Dika. Wajahnya mengeras, dan dengan satu sentakan cepat, ia menerjang maju laksana macan kelaparan, mengayunkan pukulan tapak bertenaga penuh lurus ke arah dada Dika!