Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Kedua Sumur Janji
Air hitam di dasar Sumur Janji tiba-tiba berhenti berputar.
Seolah-olah seseorang di dalamnya menahan napas.
Lin Xiurong berdiri di tepi sumur dengan jubah merah-hitamnya berkibar pelan. Bayangan Putri Ming baru saja lenyap dari hadapan mereka, tetapi rasa sakitnya masih tinggal di udara. Bau hujan istana manusia, darah di ruang hukuman, dan suara Yao Tian muda yang memanggil namanya masih seperti duri yang tertinggal di telinga.
Lalu cahaya merah tua muncul di permukaan air.
Bukan pintu kayu. Bukan gerbang batu. Hanya lingkaran tipis seperti luka yang dibuka kembali. Dari dalamnya terdengar lonceng pernikahan, tangisan bayi, derap pasukan, juga bisikan orang-orang mati yang mengulang satu kalimat: kembalikan janjimu.
Qi An langsung mencabut pedang.
"Tidak."
Lin Xiurong menoleh. "Aku belum berkata apa pun."
"Wajah Yang Mulia sudah berkata lebih dari cukup." Qi An berdiri di antara dirinya dan sumur. Racun hitam merayap di sepanjang bilah pedangnya. "Kita tidak masuk ke lubang yang dibuka oleh sumur tua, apalagi setelah nama Mo Yan muncul di mana-mana seperti kecoak surgawi."
Song Xiaolian yang sedang membaca ukiran di bibir sumur hampir tersedak. "Qi An, jangan samakan Mo Yan dengan kecoak."
"Kau membela Mo Yan?"
"Aku membela kecoak. Mereka tidak sejahat itu."
Dalam suasana lain, Lin Xiurong mungkin tertawa. Kali ini bibirnya hanya bergerak sedikit. Kecil sekali, tetapi cukup membuat Song Xiaolian bernapas lega.
Yao Tian berdiri beberapa langkah di belakang. Sejak bayangan masa lalu memperlihatkan pengadilan Putri Ming, ia belum banyak bicara. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang sedang memegang pecahan dirinya sendiri dan tidak tahu bagian mana yang harus diselamatkan lebih dulu.
"Apa tulisan itu?" tanya Lin Xiurong.
Song Xiaolian menyentuh ukiran tua dengan ujung jarinya. Huruf-hurufnya menyala, lalu berubah menjadi bahasa yang dapat mereka pahami.
"Ruang Penimbang Sumpah," bacanya pelan. "Hanya dua pemilik sumpah yang boleh masuk. Pendamping, pelayan, prajurit, bahkan dewa tidak dapat mengikuti jika nama mereka tidak tertulis. Di dalamnya, masa lalu tidak hanya dilihat, tetapi dialami ulang. Bedanya..."
Ia berhenti.
Qi An meliriknya tajam. "Bedanya apa?"
"Bedanya, hati mereka membawa ingatan saat ini."
Sunyi turun.
Angin dari dalam sumur meniup rambut Lin Xiurong. Ia menatap lingkaran merah itu lama, seolah sedang melihat seseorang yang sudah ribuan tahun berdiri di balik pintu.
Yao Tian akhirnya berkata, "Kau tidak harus masuk."
Lin Xiurong menoleh perlahan. "Sungguh murah hati. Aku hampir lupa sejak kapan kau menjadi penjaga pintuku."
"Aku tidak bermaksud memberi perintah."
"Bagus. Karena aku tidak menerimanya."
"Xiurong."
Nama itu jatuh pelan, tetapi efeknya tajam. Qi An langsung mengangkat pedang setengah inci.
"Jaga mulutmu," desisnya. "Nama itu bukan milikmu lagi."
Yao Tian tidak membalas. Tatapannya tetap pada Lin Xiurong. "Aku hanya tidak ingin kau dipaksa mati untuk kedua kalinya."
Lin Xiurong mendekat satu langkah. Api Phoenix muncul di sekitar pergelangan tangannya, menyala seperti gelang hidup.
"Dulu kau tidak percaya saat aku berkata aku tidak mengkhianatimu," katanya. "Sekarang kau ingin aku percaya saat kau berkata ingin melindungiku?"
Yao Tian menerima kalimat itu seperti menerima tamparan. Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan.
"Tidak," jawabnya. "Kau tidak wajib percaya. Aku hanya akan tetap berdiri di sini sampai kau menyuruhku pergi."
"Kalau aku menyuruhmu mati?"
"Aku akan bertanya apakah kematianku berguna. Kalau tidak, aku akan menolak."
Lin Xiurong menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka keluar dari bayangan Putri Ming, amarahnya tidak langsung menemukan sasaran. Jawaban itu terlalu jujur untuk disebut rayuan, terlalu pahit untuk disebut lelucon.
Qi An tidak suka melihat jeda itu.
"Yang Mulia," katanya lebih keras. "Aku tahu Anda tidak takut mati. Itu justru masalahnya. Orang yang tidak takut mati sering lupa bahwa masih ada orang yang takut kehilangan dia."
Song Xiaolian menunduk. Matanya basah, tetapi suaranya stabil. "Aku setuju dengan Qi An, meskipun aku benci mengakuinya."
"Kau selalu setuju denganku saat situasi buruk," gumam Qi An.
"Karena kau hanya benar saat situasi buruk."
Lin Xiurong memandang mereka berdua. Dua pelayan itu berdiri di sisi yang berbeda, tetapi hatinya tahu mereka menjaga hal yang sama. Qi An menjaga dirinya dengan kemarahan. Song Xiaolian menjaga dirinya dengan kelembutan. Dua-duanya melelahkan. Dua-duanya membuatnya sulit berpura-pura bahwa ia tidak memiliki apa pun untuk pulang.
"Jika aku tidak keluar," kata Lin Xiurong akhirnya, "kalian kembali ke istana. Tutup Gerbang Merah. Jangan serang Surga sebelum ada perintahku."
Qi An membuka mulut.
"Itu titah."
Wajah Qi An memucat. Ia bisa melawan pasukan langit. Ia bisa menantang iblis tua. Ia bahkan bisa menaruh pedang di leher Yao Tian tanpa gemetar. Namun ia tidak pernah belajar melawan titah perempuan yang baginya lebih berarti daripada takhta mana pun.
"Aku membenci titah itu," katanya.
"Aku tahu."
"Aku akan tetap mematuhinya."
"Aku juga tahu."
Song Xiaolian menggenggam lengan Lin Xiurong. "Yang Mulia harus kembali."
"Aku masih punya terlalu banyak orang untuk kuhukum," jawab Lin Xiurong.
Song Xiaolian tertawa kecil di antara air mata. "Itu janji paling mengerikan yang pernah membuatku tenang."
Lin Xiurong lalu menatap Yao Tian. "Masuklah. Jangan berjalan di depanku."
"Aku tahu."
"Jangan menyentuhku kecuali aku jatuh."
"Aku tahu."
"Dan jangan mengatakan maaf setiap kali melihat sesuatu yang tidak sanggup kau tahan."
Yao Tian menunduk. "Aku akan mencoba."
"Bukan mencoba. Lakukan."
"Baik."
Mereka melangkah ke lingkaran cahaya bersama.
Begitu kaki menyentuh air, dunia terbalik.
Sumur, lapangan batu, Qi An, Song Xiaolian, dan Hantu Hitam lenyap. Lin Xiurong tidak jatuh; ia seperti ditarik oleh luka yang mengenali pemiliknya. Ketika matanya terbuka, ia berdiri di ruang putih tanpa batas. Tidak ada langit, tidak ada tanah, hanya garis merah panjang yang mengikat pergelangan tangannya dengan pergelangan tangan Yao Tian.
Garis itu bukan benang cinta.
Ia lebih mirip luka yang dijahit paksa.
Di depan mereka berdiri timbangan raksasa. Satu sisinya memuat pedang Yao Tian dari masa lalu. Sisi lainnya memuat mahkota iblis Lin Xiurong. Di tengahnya, seekor phoenix hitam tidur dengan sayap terbakar. Setiap napas burung itu membuat ruangan bergetar.
Suara tanpa tubuh menggema.
"Sumpah lama tidak dapat dibatalkan tanpa harga."
Lin Xiurong menyilangkan tangan. "Di tiga alam ini, adakah satu tempat yang tidak meminta harga? Aku mulai bosan dengan etika perdagangan kalian."
Yao Tian hampir tersenyum, tetapi senyum itu mati sebelum lahir.
Suara itu melanjutkan, "Salah satu dari kalian harus menyerahkan satu hal. Ingatan. Kekuatan. Cinta. Atau dendam. Hanya satu yang dapat dibawa keluar utuh."
"Ambil kekuatanku," kata Yao Tian seketika.
Lin Xiurong menoleh cepat. "Jangan sok mulia."
"Aku tidak sedang mulia. Aku sedang terlambat."
Kalimat itu membuat ruang putih terasa lebih sunyi. Lin Xiurong membenci bagian dirinya yang memahami kalimat itu. Yao Tian memang terlambat. Terlambat percaya. Terlambat ingat. Terlambat kembali. Namun kali ini ia datang dengan kesadaran bahwa keterlambatan bukan alasan untuk memaksa pintu tetap terbuka.
"Menyerahkan kekuatanmu tidak menyelesaikan apa pun," kata Lin Xiurong. "Mo Yan masih ada. Surga masih menutup mata. Alam Bawah masih menjadi kambing hitam yang terlalu mudah dibakar."
"Kalau begitu ingatanku."
"Lebih buruk."
"Kenapa?"
Mata Lin Xiurong menajam. "Karena kau akan bebas dari rasa bersalah, sementara aku kembali menjadi satu-satunya orang yang membawa seluruh kebenaran. Itu bukan penebusan. Itu pelarian yang dipoles emas."
Yao Tian terdiam.
Timbangan bergerak. Pedang naik, mahkota turun. Phoenix hitam membuka satu mata.
Ruang putih berubah.
Mereka berdiri kembali di ruang hukuman malam kematian pertama. Lilin-lilin manusia menyala dengan cahaya kuning sakit. Lin Xiurong muda berlutut di tengah ruangan, rambutnya acak-acakan, pipinya berdarah. Yao Tian muda berdiri di depannya dengan pedang terangkat dan mata penuh keyakinan yang salah.
Di balik tirai, Mo Yan muda tersenyum samar. Jari-jarinya bergerak, mengendalikan benang tak kasatmata.
Yao Tian dewasa melihatnya.
Lin Xiurong juga melihatnya.
Suara sumur berbisik, "Jika Mo Yan dibunuh dalam kenangan ini, kalian keluar dengan dendam utuh. Jika Lin Xiurong menyelamatkan dirinya, kalian keluar dengan cinta utuh. Jika peristiwa dibiarkan terjadi, kalian keluar dengan kebenaran utuh. Pilih."
Yao Tian bergerak lebih dulu. "Tidak."
Lin Xiurong menahan lengannya. "Diam di tempat."
"Aku tidak akan melihatmu mati lagi."
"Kau akan melihat."
"Xiurong—"
"Kau akan melihat," ulangnya, kali ini lebih rendah. "Karena dulu kau tidak melihat apa pun."
Yao Tian membeku.
Lin Xiurong memandang dirinya yang muda. Gadis itu masih berharap Yao Tian akan percaya. Masih berharap cinta cukup kuat untuk mengenali kebohongan. Masih terlalu manusia untuk memahami bahwa orang yang terluka sering lebih mudah mempercayai fitnah daripada memercayai orang yang ia cintai.
"Aku tidak menyerahkan cinta," kata Lin Xiurong kepada ruang putih yang bersembunyi di balik ruang hukuman. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak untuk membiarkan benda tua mengambil satu-satunya bukti bahwa aku pernah menjadi manusia."
Phoenix hitam mengepakkan sayap.
"Aku juga tidak menyerahkan dendam. Dendamku bukan racun semata. Ia api yang membuatku tidak mati ketika semua orang menginginkanku lenyap."
Timbangan berhenti.
Yao Tian berbisik, "Lalu apa yang kau pilih?"
Lin Xiurong menatap pedang masa lalu yang mulai turun ke dada gadis muda itu.
"Kebenaran," jawabnya. "Biar kali ini kematianku bukan akhir cerita. Biar ia menjadi bukti."
Yao Tian menatapnya seperti orang yang baru saja dijatuhi hukuman dan masih ingin meminta bagian hukuman itu untuk dirinya sendiri.
"Biarkan aku berdiri di sampingmu," katanya.
"Di sampingku berarti melihat, bukan menyelamatkan," jawab Lin Xiurong. "Tidak boleh menutup mata. Tidak boleh berteriak seolah rasa sakitku milikmu. Tidak boleh menjadikan kematianku panggung penebusanmu."
"Apa yang boleh kulakukan?"
Lin Xiurong menatap bayangan dirinya yang muda. "Ingat. Untuk kali ini, cukup ingat dengan benar."
Di luar sumur, air hitam berubah merah.
Qi An melihatnya dan seluruh wajahnya kehilangan warna.
"Tidak," bisiknya.
Song Xiaolian menggenggam tangannya, tetapi Qi An tidak merasakannya. Di dalam sumur, Lin Xiurong sedang ditusuk untuk kedua kalinya. Dan kali ini, ia memilihnya sendiri.