NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17.

"Mbak , makan dulu, yuk. Aku belum sarapan." kata Anisa memecah kesunyian sepanjang perjalanan pulang.

Arista mengangguk pelan. Kebetulan tak jauh dari jalan yang di lewati ada kedai ayam bakar. Arista memasuki kedai dan memarkir mobilnya.

Arista mengambil alih Hanif dan berjalan mendahului Anisa yang sedang mengambil tas perlengkapan Hanif.

Arista mencari tempat yang nyaman , yang sekiranya bisa untuk menidurkan Hanif. Setelah mendapat tempat ,Anisa menyusul.

Seorang pelayan datang dan menyodorkan buku menu.

" Mau makan apa, Nis. Mbak sebenarnya udah sarapan tadi, tapi mbak pesan soto aja kali ya, biar kamu nggak makan sendirian." kata Arista.

" Aku ayam bakar , sama air jeruk panas aja, mbak. Sana udang rambutan dan dim sum masing-masing satu porsi." ujar Anisa.

" Wahh...habis nggak tuh, mbak juga pesan air jeruk panas aja. Kayaknya cocok sama soto ayam satu porsi." Anisa ikut memesan.

" Hidup itu jalan terus mbak. Rugi kita mbak , kalau tetap berkutat dengan apa yang sedang kita alami. Sedih boleh, putus asa jangan."

" Sadar nggak, kita yang mikirin , rela nggak makan, meratapi nasib. Tapi apa? Orang yang kita ratapi apa pernah berbalik simpatik sama kita. Dia aja santai, bisa makan dengan enak, tidur dengan nyenyak, bahkan bisa main sana sini tanpa beban." Anisa ngomong panjang lebar.

" Makanya sekarang lepaskan , mbak. Belajar nggak peduli , nanti lama-lama terbiasa. Percaya deh, kalau apa-apa bisa melakukan sendiri, nggak akan takut resiko kehilangan."

Arista menatap adiknya tak berkedip. Apa yang di katakannya memang benar. Dia yang terlalu bodoh, terlalu meratapi nasibnya. Arista menatap Hanif yang tidur pulas di sampingnya.

Putra ke empatnya terlihat sehat, tak kurang suatu apa. Adiknya merawatnya dengan baik. Apa yang harus di khawatirkan. Dia bisa kapan saja menengok dan mengajaknya

 bermain.

Anisa dan Restu memberi kebebasan waktu. Ke tiga putranya juga sekarang tampaknya sudah mulai belajar menerima. Terutama Dirga , walaupun sekarang sering menghabiskan waktu di dalam kamar. Tapi sudah ada sedikit interaksi dengan Pram.

" Kamu benar,Nis. Makasih ya, udah menyemangati, mbak. Mulai sekarang mbak , mau mikirin buat kebahagiaan buat diri sendiri. Kalau mbak terpuruk , pasti ada yang merasa senang."

"Naah...gitu dong, mbak. Sekarang makan yang banyak, sayang punya duit nggak di nikmati. Nanti kalau kita kenapa-kenapa yang nikmatin orang lain." celetuk Anisa enteng.

" Maksudnya?" tanya Anisa.

" Kalau sampai mbak sakit, yang nikmati uang mbak siapa? Pasti keluarga mas Pram."

" Enak aja. Mulai sekarang mbak mau mengawasi semua pengeluaran keuangan keluarga."

"Bagus itu." kata Anisa sambil mengacungkan jempol.

       ***********

Di kantor

Pram mengacak rambutnya dengan ke dua tangannya. Kepala dia sandarkan ke kursi , matanya terpejam.

Tok..tok..

Pintu ruangan di ketuk dari luar. Pram membuka matanya, memperbaiki posisi duduknya dan merapikan rambut dengan jari tangan.

Tangan kanan memegang pulpen, seolah tengah mengerjakan sesuatu.

Sosok yang sangat dia kenal memasuki ruangannya dengan langkah tegas dan tatapan dingin. Jantung Pram berdesir.

Dirga..

Yah...putra sulungnya mendatanginya di kantor.

" Wahh...anak ayah tumben mampir ke kantor. Ini masih jam kuliah, ada apa. Mau ngajakin ayah ngopi bareng." tanya Pram sambil tersenyum lebar. Mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup.

Namun yang di sapa tak bereaksi. Duduk di kursi yang sudah di sediakan di depan meja Pram.

"Aku cuma mengingatkan, satu pekan lagi umur anakmu 19 tahun. Aku harap tidak pura-pura lupa, Terima kasih."

Setelah mengatakan kalimat itu, Dirga membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan Pram.

Pram mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Wajahnya menegang. Tak di sangka putra sulungnya yang selama ini di kenal agak pendiam,berani mengancamnya.

Yahh...bagi Pram itu adalah ancaman, bukan mengingatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!