NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

BAB 17: PERCAKAPAN TANPA SUARA

"Kata-kata hanyalah suara yang bisa dibohongi, tapi mata adalah jendela yang tak bisa menutup rapat. Di antara tatapan yang bertemu, di jarak yang terpisah tembok, terjadilah percakapan yang paling jujur—tanpa suara, namun maknanya tajam menembus sampai ke tulang sumsum."

Di dalam ruang tengah vila yang hangat dan penuh aroma kemewahan itu, waktu seolah berjalan lambat. Musik klasik mengalun pelan dari piringan hitam di sudut ruangan, mengisi kekosongan di antara percakapan yang berat dan penuh intrik. Adrian Mahesa kembali duduk santai di sofa kulit besar, satu kakinya menyilang di atas kaki lainnya, sambil memutar cerutu di jari-jarinya dengan gerakan yang penuh gaya dan kekuasaan.

Di sebelahnya, Claire Nathania berdiri di dekat jendela besar yang tertutup tirai beludru tebal. Punggungnya menghadap ke dalam ruangan, wajahnya menghadap ke kaca bening yang memisahkannya dari kegelapan malam di luar sana. Di dalam saku gaun hitamnya, botol kaca kecil berisi cairan bening itu terasa semakin dingin, seolah es yang mencair perlahan dan membekukan jantungnya.

Pikirannya kacau. Sangat kacau.

Di satu sisi, ada Adrian—pria yang mengangkatnya dari penderitaan, pria yang memberinya mimpi besar, pria yang mengajarkannya cara bertahan hidup di dunia yang kejam. Adrian adalah segalanya baginya. Tanpa Adrian, dia hanyalah sampah yang dibuang keluarga Wijaya, mati kelaparan di sudut jalan atau bekerja keras seumur hidup tanpa arti. Adrian adalah tuan, guru, kekasih, dan masa depannya.

Namun di sisi lain, ada bayangan wajah Arka. Wajah yang tulus, polos, dan penuh kasih sayang. Wajah yang setiap hari menatapnya dengan kekaguman, seolah dia adalah makhluk paling suci di muka bumi. Wajah yang tidak pernah melihat masa lalunya yang kotor, tidak pernah menilai dosa-dosanya, tidak pernah meminta apa pun selain kehadirannya.

Dan saat ini, Claire tahu persis di mana Arka berada.

Dia tahu suaminya ada di luar sana. Di balik tirai tebal ini, di balik kaca bening ini, di balik kabut dan semak belukar itu... Arka sedang berdiri. Mengawasi. Menunggu.

Claire perlahan mengangkat tangannya, jari-jarinya menyentuh kain beludru tebal itu, lalu perlahan menarik sedikit ujungnya ke samping. Hanya celah kecil. Cukup untuk mengintip.

Dan di detik itu, napasnya tertahan.

Di kejauhan, di balik rimbunan daun basah yang berkilau terkena cahaya remang lampu taman, dia melihatnya.

Arka.

Wajah itu jelas terlihat meski jarak memisahkan. Wajah yang dia cium pagi tadi dengan ciuman palsu, wajah yang dia tinggalkan dengan janji akan pulang, wajah yang kini menatap tepat ke arahnya, menembus kegelapan, menembus kaca, menembus tirai yang dia pegang.

Mata mereka bertemu.

Tak ada suara. Tak ada teriakan. Tak ada panggilan nama. Hanya diam. Hanya tatapan yang saling mengunci erat, seolah ada tali tak kasat mata yang mengikat kedua pasang mata itu menjadi satu simpul yang tak terputuskan.

Dan di sanalah percakapan itu dimulai. Percakapan tanpa suara.

Melalui tatapan itu, Claire membaca segalanya dari mata Arka. Dia tidak melihat amarah. Dia tidak melihat kebencian. Dia tidak melihat keinginan balas dendam.

Yang dia lihat hanyalah rasa sakit. Rasa sakit yang begitu dalam hingga matanya Arka terlihat kering, tanpa air mata, namun lebih menyedihkan dari apa pun. Melalui tatapan itu, Arka seolah berteriak tanpa suara:

"Aku sudah tahu semuanya, Le. Aku sudah tahu siapa dirimu. Aku sudah tahu apa yang kau lakukan. Aku sudah tahu bahwa aku hanyalah bagian dari rencana kotormu. Tapi kenapa, Le? Kenapa di antara semua kebohongan itu... aku masih merasakan sesuatu yang nyata? Kenapa aku masih merasa kau terjebak? Kenapa aku masih ingin menyelamatkanmu, meski aku tahu kau datang ke sini untuk membunuhku?"

Claire merasakan dadanya sesak. Tangannya yang memegang tirai itu bergetar hebat. Dia ingin menjauh. Dia ingin melepaskan pegangan itu dan berbalik badan, berpura-pura tidak melihat apa-apa. Tapi dia tak bisa. Tatapan Arka menahannya di tempat, menembus pertahanan dirinya yang paling kuat.

Dan sebagai jawaban, Claire mengirimkan pesannya balik lewat sorot matanya sendiri. Pesan yang penuh kepedihan, ketakutan, dan permohonan maaf yang tak pernah terucap.

"Pergilah, Mas. Tolong pergilah. Kau tidak seharusnya ada di sini. Kau tidak tahu bahaya apa yang menunggumu. Kau pikir kau datang untuk menyelamatkanku? Kau salah. Akulah yang akan menghancurkanmu. Akulah yang memegang kematianmu di saku bajuku. Pergilah selagi kau masih bisa lari. Jangan ikuti aku lebih jauh lagi, karena semakin kau mendekat... semakin kau akan tenggelam dalam dosa yang sama besarnya denganku."

Di luar sana, Arka tidak bergerak. Dia tetap berdiri tegak, menatap istrinya lewat celah kecil di tirai itu. Dia membaca ketakutan di mata Claire. Dia membaca rasa bersalah yang besar. Dia membaca bahwa di balik wajah dingin Claire Nathania itu, masih ada sisa-sisa jiwa Elena Wijaya yang dulu dia cintai. Jiwa yang menangis diam-diam, terperangkap di dalam sangkar emas yang dibangunnya sendiri.

Dan Arka menjawab lewat tatapan yang semakin lembut namun semakin tegas.

"Aku tidak akan pergi, Le. Aku tidak peduli siapa namamu sebenarnya. Aku tidak peduli apa masa lalumu. Aku tidak peduli berapa banyak dosa yang ada di tanganmu. Aku datang ke sini bukan untuk menghakimimu. Aku datang ke sini karena aku percaya... di dalam sana, masih ada wanita yang pernah mencintaiku, walau hanya sedikit. Dan aku rela mati seribu kali asal aku bisa mengeluarkan wanita itu dari penjara ini."

Air mata perlahan menggenang di mata Claire, namun dia menahannya agar tidak jatuh. Dia tidak boleh menangis. Di sini, dia harus kuat. Di sini, dia harus kejam. Adrian tidak boleh curiga. Adrian tidak boleh tahu bahwa hatinya mulai retak hanya karena satu tatapan mata dari suami yang dianggapnya alat.

"Siapa yang kau ajak bicara di sana, Sayang?"

Suara berat Adrian terdengar tiba-tiba tepat di samping telinga Claire.

Claire tersentak hebat, tangan kecilnya melepaskan tirai yang kembali menutup rapat, memutuskan hubungan mata itu seketika. Dia berbalik badan dengan napas yang sedikit terengah, berusaha menyembunyikan kepanikan yang meluap di wajahnya.

Adrian berdiri di sana, hanya berjarak satu langkah, menatapnya dengan senyum miring yang curiga. Matanya yang tajam mengamati setiap perubahan kecil di wajah kekasihnya itu.

"Ti... tidak ada," jawab Claire, berusaha tersenyum wajar, berusaha mengembalikan topeng dinginnya. "Hanya... aku merasa ada sesuatu di luar sana. Bayangan pohon mungkin. Kabut malam ini tebal sekali, sampai terlihat seperti ada orang yang berdiri diam."

Adrian tertawa kecil, langkahnya maju mendekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. Dia mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi Claire dengan ujung jari yang kasar namun lembut.

"Kau ketakutan, Claire? Kau takut hantu keluargamu yang kau bakar itu datang menagih hutang?" suaranya rendah, berbisik, namun penuh ancaman terselubung.

Claire menegakkan kepalanya, menatap balik dengan keberanian yang dipaksakan. Dia harus kembali menjadi Claire yang kejam. Dia harus kembali menjadi kekasih Adrian yang tak punya hati.

"Aku tidak takut apa pun, Adrian. Apalagi hantu yang sudah kusiapkan tempatnya di neraka. Aku hanya... waspada. Seperti yang kau ajarkan padaku. Selalu waspada."

Adrian tersenyum puas, lalu mengecup kening kekasihnya itu sekilas.

"Bagus. Karena bahaya terbesar kita bukanlah hantu masa lalu. Tapi manusia yang hidup dan bernapas, yang saat ini mungkin sedang mengintai kita dari kegelapan. Suamimu yang polos itu... dia mungkin lebih pintar dari yang kita duga."

Adrian berjalan mundur, kembali ke meja minuman, menuangkan dua gelas lagi cairan emas itu.

"Kalau dia benar-benar cukup bodoh untuk menyusulmu ke sini... kita harus menyambutnya dengan hangat, bukan? Kita harus pastikan dia merasa sangat disayang, sangat aman, dan sangat dihargai... sebelum kita memberinya istirahat abadi."

Claire berdiri diam di dekat jendela yang kini tertutup rapat itu. Di dalam saku gaunnya, botol racun itu terasa semakin berat. Di dadanya, percakapan tanpa suara tadi masih bergema keras, lebih nyata dari kata-kata Adrian yang manis namun beracun.

Dia tahu Arka masih ada di luar sana.

Dia tahu Arka melihatnya.

Dia tahu Arka siap mati demi dia.

Dan pengetahuan itulah yang membuat semuanya menjadi sangat rumit, sangat menyakitkan, dan sangat berbahaya. Karena di antara dua pria yang berdiri di dua sisi dunia yang berlawanan itu... Claire harus memilih.

Memilih untuk menjadi monster yang selamat bersama kekayaan, atau menjadi manusia yang hancur bersama kebenaran.

Dan di balik tirai tebal itu, Arka masih berdiri diam. Matanya masih terpaku pada tempat di mana wajah Claire sempat muncul sebentar. Dia tahu percakapan itu didengar. Dia tahu pesan itu diterima.

Dan dia tahu satu hal pasti: Wanita itu tidak sepenuhnya hilang. Masih ada bagian dari dirinya yang tersisa. Bagian yang berteriak minta tolong lewat diam. Bagian yang akan dia selamatkan, meskipun dia harus berjalan masuk ke dalam mulut neraka itu sendiri.

Malam masih panjang.

Dan saat tirai itu terbuka lagi, kali ini bukan hanya mata mereka yang akan bertemu.

Mereka akan berhadapan langsung.

Dan kebenaran yang tak bersuara itu akhirnya akan berteriak sekeras-kerasnya.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!