NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buronan di Tanah Sendiri

Angin di atas tebing berhembus kencang, menerbangkan helai rambut dan membawa serta debu halus dari dasar lembah. Pesan singkat di layar ponsel itu seolah menjadi palu godam yang menghantam kenyataan. Putra dan Citra kini tidak hanya diburu secara diam-diam, melainkan telah dinyatakan sebagai penjahat buronan yang dicari secara resmi.

“Makar dan pencurian aset negara?” ulang Putra dengan nada tak percaya, namun matanya menyala menahan amarah. “Wiratama benar-benar tidak segan memutarbalikkan fakta. Ia menggunakan kekuasaannya untuk menutupi kejahatannya sendiri.”

Citra menggenggam map dokumen dan surat peninggalan ayahnya lebih erat di dadanya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut semata, melainkan karena menyadari betapa besarnya kekuatan yang mereka hadapi. Sebagai dokter, ia terbiasa berhadapan dengan nyawa dan ketidakpastian, namun situasi ini terasa berbeda mereka harus berjuang melawan sistem yang seharusnya melindungi keadilan.

“Kita tidak bisa kembali ke tempat persembunyian sebelumnya,” ucap Citra dengan suara tenang namun tegas. “Jika ada perintah penangkapan, tempat itu pasti sudah diawasi. Mereka tahu kita mungkin akan kembali untuk mengambil orang tua angkatku dan Andi.”

Putra mengangguk setuju. Sebagai tentara terlatih, ia dengan cepat menganalisis situasi sekelilingnya. Dari tempat mereka berdiri, terlihat jelas jalan setapak yang mengarah keluar dari kawasan hutan, namun juga terlihat pos-pos penjagaan yang mulai dipasang di jarak tertentu. Wiratama benar-benar ingin memastikan tidak ada jalan keluar bagi mereka.

“Kita harus bergerak ke arah berlawanan,” putus Putra sambil menunjuk jalur sempit yang menanjak ke arah pegunungan yang lebih tinggi. “Di sana ada desa terpencil yang jarang diketahui orang. Teman lamaku pernah tinggal di sana. Kita bisa mencari perlindungan sementara sambil menghubungi Kolonel Bayu melalui saluran rahasia agar tidak terlacak.”

Tanpa membuang waktu, mereka segera bergerak. Lorong rahasia yang membawa mereka ke tebing itu kini tertutup rapat, menyembunyikan jejak mereka. Perjalanan menanjak terasa berat, melewati bebatuan tajam dan semak belukar yang lebat. Namun, di tengah kelelahan itu, kehadiran satu sama lain menjadi kekuatan terbesar.

Sesekali, Citra tergelincir, namun tangan Putra selalu siap menahan dan menopangnya. Tatapan mereka sering kali bertemu, menyampaikan rasa percaya dan ketenangan yang tak terucapkan. Awalnya hubungan ini dibangun atas dasar perjodohan yang dipaksa, namun kini, di tengah ancaman maut, ikatan mereka telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat cinta yang ditempa dalam bahaya.

“Kau tidak menyesal telah terlibat dalam semua ini?” tanya Citra pelan saat mereka berhenti sejenak di bawah naungan pohon besar untuk beristirahat. “Kau bisa saja hidup tenang dengan karirmu yang cemerlang, jauh dari masalah keluarga ini.”

Putra tersenyum tipis, lalu mengusap lembut pipi istrinya. “Jika aku bisa memilih kembali, aku tetap akan memilih jalan ini. Bukan hanya karena ini adalah perintah yang dulu harus aku patuhi, tapi karena kini aku mengerti. Kau adalah bagian dari hidupku, Citra. Masalahmu adalah masalahku. Dan kebenaran ini harus terungkap, apa pun risikonya.”

Kata-kata itu menghangatkan hati Citra. Ia meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. “Terima kasih. Bersamamu, aku merasa tidak sendirian.”

Setelah berjalan selama hampir empat jam, mereka tiba di sebuah dataran tinggi yang dihuni oleh beberapa rumah panggung sederhana. Suasana di sana tenang dan damai, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar. Seorang pria paruh baya yang sedang memperbaiki jala ikan di depan rumahnya menoleh curiga saat melihat kedatangan mereka, namun tatapannya berubah ramah begitu mendengar kode yang disampaikan Putra.

“Masuklah,” ajak pria itu singkat namun sopan. “Namaku Karto. Kolonel Bayu pernah mengirim pesan bahwa mungkin ada tamu yang membutuhkan tempat berteduh.”

Di dalam rumah sederhana itu, mereka akhirnya bisa bernapas lega untuk sementara waktu. Karto memberikan makanan dan minuman, serta memastikan pintu dan jendela terkunci rapat. Begitu keadaan aman, Putra segera menyalakan perangkat komunikasi khusus yang terenkripsi untuk menghubungi Kolonel Bayu.

Suara Kolonel Bayu terdengar tegas namun penuh kekhawatiran dari seberang sana. “Syukurlah kalian selamat. Kami sudah mendengar kabar penangkapan itu. Wiratama bergerak sangat cepat. Ia telah mengubah laporan kejadian di gudang arsip, menyatakan bahwa kalian menyerang pasukan dan mencuri dokumen negara yang rahasia.”

“Dia yang mencuri, Kolonel,” sahut Putra tegas. “Kami menemukan surat dari ayah kandung Citra. Ada sesuatu yang sangat berharga di tambang itu sesuatu yang bahkan tidak diketahui oleh publik secara luas. Wiratama bekerja sama dengan pihak asing untuk memindahkannya.”

“Apakah ada petunjuk lebih jelas apa benda itu?” tanya Kolonel Bayu.

Putra menoleh ke Citra, yang segera membuka surat itu kembali dan melanjutkan membaca bagian yang sempat terpotong tadi:

“Sesuatu yang ia cari di tambang itu adalah sumber daya alam langka yang memiliki nilai strategis sangat tinggi. Jika jatuh ke tangan yang salah, ia bisa digunakan untuk kepentingan militer yang berbahaya. Aku menyembunyikan sebagian data lokasi aslinya di tempat yang aman, terpecah menjadi dua bagian. Satu bagian ada di surat ini, dan bagian lainnya aku titipkan kepada seseorang yang kupercaya sepenuhnya sahabatku satu-satunya, yang kini hidup menyamar demi keamanan. Citra, kunci untuk menghentikan semua ini ada padamu. Temukan orang yang memakai medali yang sama persis dengan yang ada di kotak ini. Hanya dia yang bisa menyatukan kebenaran.”

Citra mengangkat medali kecil yang mereka temukan tadi. Medali itu berbentuk bintang dengan ukiran daun di tengahnya, sangat unik dan sulit ditemukan duplikatnya.

“Jadi ada orang lain yang memegang separuh rahasia ini?” gumam Citra. “Tapi siapa? Dan di mana kami bisa menemukannya di tengah situasi seperti ini?”

“Sementara itu, kami punya masalah lain,” sambung Kolonel Bayu dengan nada berat. “Bibi Sari dikabarkan telah kembali ke markas dan memberikan kesaksian palsu. Ia juga mengancam keselamatan orang tua angkatmu dan Andi. Kami berhasil memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman, namun kami tidak bisa menyembunyikannya selamanya. Wiratama memiliki mata-mata di mana-mana.”

Percakapan terputus seketika saat listrik di rumah itu padam secara tiba-tiba, diikuti suara langkah kaki yang cepat mendekat dari luar. Karto segera berdiri dan mengambil sebilah parang dari sudut ruangan.

“Mereka sudah menemukan jejak kalian!” bisik Karto. “Cepat, ada jalan keluar rahasia di balik dinding kamar tidur belakang. Ikuti aliran sungai kecil, ia akan membawa kalian turun gunung.”

Putra segera memasukkan semua dokumen dan medali ke dalam tas kecil, lalu menggenggam tangan Citra. Sebelum mereka sempat bergerak, suara pintu didobrak terbuka. Beberapa pria berseragam militer masuk dengan senjata teracung, dipimpin oleh seorang perwira muda yang wajahnya tampak dingin dan tanpa belas kasihan.

“Tidak ada tempat untuk lari lagi, Letnan Putra,” ucap perwira itu. “Serahkan diri dan dokumen yang kalian curi, mungkin kami akan mempertimbangkan untuk tidak menggunakan kekerasan.”

“Kami tidak mencuri apa pun,” balas Putra sambil berdiri tegak di depan Citra, melindungi istrinya di belakangnya. “Kami hanya mencari kebenaran. Dan kalian semua sedang diperalat oleh orang yang berniat menjual aset berharga negara ini kepada pihak asing.”

“Omong kosong!” bentak perwira itu. “Tahan mereka!”

Saat para prajurit itu bergerak maju, tiba-tiba terdengar suara tembakan peringatan dari arah luar, disusul suara teriakan yang membingungkan. Beberapa sosok berpakaian warga desa muncul dari balik pepohonan, melempar batu dan menciptakan kekacauan. Ternyata, warga desa yang mengetahui niat jahat kelompok itu memilih membantu.

“Cepat, lewat belakang!” teriak Karto sambil menahan serangan salah satu prajurit.

Putra menarik Citra masuk ke ruangan belakang dan mendorong dinding kayu yang bergerak. Sebuah lorong gelap terbuka. Mereka masuk dan berlari secepat mungkin, sementara suara keributan di belakang mereka semakin menjauh.

Setelah berjalan cukup jauh di dalam kegelapan, mereka akhirnya melihat cahaya di ujung lorong. Begitu keluar, mereka mendapati diri berada di tepi sungai kecil yang airnya jernih dan mengalir deras. Namun, napas mereka terhenti seketika.

Di seberang sungai, berdiri sosok yang tidak mereka duga Mayor Jenderal Wiratama sendiri. Ia tidak membawa senjata, namun tatapan matanya tajam dan penuh ambisi, seolah tahu persis bahwa mereka akan keluar di tempat itu. Di sampingnya berdiri Bibi Sari yang tersenyum sinis.

“Perjalanan yang melelahkan, bukan?” ucap Wiratama dengan nada tenang namun menekan. “Sudahlah, hentikan perlawanan sia-sia ini. Serahkan dokumen dan medali itu. Aku bisa menjanjikan kalian hidup yang nyaman, jauh dari sini. Atau... kalian bisa memilih untuk menghilang selamanya seperti ayahmu.”

Citra menatap pria itu dengan penuh kebencian namun juga rasa ingin tahu yang besar. “Mengapa, Pak Jenderal? Apa yang membuat Anda rela mengkhianati sahabat sendiri, merusak nyawa banyak orang, dan bahkan berani mengkhianati negara? Apakah benda di tambang itu seberharga itu?”

Wiratama tertawa pelan, suara itu bergema di lembah. “Kalian masih terlalu muda untuk mengerti kekuasaan. Benda itu bukan sekadar emas atau batu biasa. Ia bisa mengubah perekonomian, bisa membuat seseorang memiliki pengaruh tak terbatas. Selama puluhan tahun aku menunggu kesempatan ini. Dan aku tidak akan membiarkan seorang dokter dan tentara rendahan menghancurkan rencana seumur hidupku.”

Ia memberi isyarat, dan puluhan pria bersenjata muncul dari balik semak di kedua sisi sungai, mengepung mereka sepenuhnya. Jalan keluar terputus.

Namun, di tengah keputusasaan itu, Putra merasakan benda keras di dalam saku jaketnya perangkat komunikasi yang masih terhubung, dan ia berhasil mengaktifkan mode siaran langsung sebelum melarikan diri. Kolonel Bayu pasti sudah mendengar semuanya.

Tiba-tiba, angin berhembus lebih kencang, membawa suara lain yang perlahan terdengar jelas—suara deru mesin kendaraan militer yang mendekat, namun arahnya tidak dari posisi Wiratama, melainkan dari arah lain.

Wajah Wiratama sedikit berubah. “Apa ini?”

Belum ada yang sempat menjawab, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Putra dari Kolonel Bayu: “Bantuan dalam 5 menit. Bertahanlah. Dan periksa medali itu lagi ada bagian yang tersembunyi.”

Putra dengan cepat mengeluarkan medali itu dan memeriksanya. Di bawah cahaya matahari yang tembus celah pohon, ia melihat ada celah halus di sisi medali. Saat disentuh dengan tepat, medali itu terbelah menjadi dua, memperlihatkan selembar kertas tipis yang tergulung rapat di dalamnya.

Citra membukanya dengan tangan gemetar. Isinya bukan tulisan, melainkan sebuah peta kecil dan satu nama: Bapak Wira, Penjaga Gunung.

Saat mereka berusaha memahami maksudnya, suara teriakan Wiratama memecah konsentrasi: “Ambil medali itu! Jangan biarkan mereka membawanya pergi!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!