Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Lembah
Ketiga penjaga batu itu tetap berlutut.
Tubuh mereka yang terbuat dari batu hitam pekat—dipenuhi ukiran formasi kuno yang sekarang berkedip-kedip tidak menentu—bergetar hebat. Mata merah mereka yang tadinya menyala seperti api sekarang meredup, berkedip-kedip seperti lilin yang hampir padam. Debu berjatuhan dari sendi-sendi batu mereka, menciptakan kabut tipis di sekitar platform.
Wei Ling masih berdiri dengan pedang Bulan Sabit di tangannya, napasnya memburu. Lin Yao sudah dalam posisi siap bertarung, lututnya sedikit ditekuk, pedang kayunya—yang sekarang sudah diganti dengan Artefak Fana tingkat Tinggi—berkilau di bawah cahaya kristal. Xu Mei membeku di tempat, satu tangannya terangkat membentuk segel yang belum selesai.
Tapi tidak ada yang menyerang.
"Kenapa... kenapa mereka berlutut?" bisik Xu Mei, suaranya hampir tidak terdengar di tengah dengungan kristal.
Xiao Chen tidak langsung menjawab. Dia berjalan perlahan ke arah para penjaga batu, langkahnya ringan di atas lantai lembah yang dipenuhi kristal. Setiap langkahnya bergema pelan, dan para penjaga batu semakin merunduk.
"Aku bisa merasakannya," katanya akhirnya. "Mereka bukan musuh. Mereka adalah pelayan."
"Pelayan?" Wei Ling menurunkan pedangnya sedikit. "Siapa yang mereka layani?"
"Aku."
Satu kata itu terdengar aneh—bukan karena sombong, tapi karena Xiao Chen mengatakannya dengan nada yang berbeda. Bukan kebanggaan. Bukan keangkuhan. Hanya... pengakuan. Seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu yang selama ini terlupakan.
Dia berhenti di depan penjaga batu pertama—yang terbesar, dengan ukiran formasi paling rumit. "Berdiri."
Penjaga batu itu berdiri perlahan, gerakannya kaku seperti mesin kuno yang baru dihidupkan. Tingginya yang sepuluh meter menjulang di atas Xiao Chen, tapi entah kenapa, justru sang penjaga yang terlihat kecil di hadapannya.
"Kau sudah menungguku," kata Xiao Chen. Itu bukan pertanyaan.
Kepala batu itu mengangguk pelan. Suara batu bergesekan dengan batu menciptakan bunyi seperti gemuruh rendah. "Tu...an."
Suara itu dalam, bergema, dan jelas bukan suara manusia. Tapi mengandung sesuatu yang nyaris seperti... kerinduan.
Lin Yao menurunkan pedangnya sepenuhnya. "Apa yang terjadi? Kenapa dia memanggilmu 'Tuan'?"
"Aku tidak tahu." Xiao Chen menyentuh permukaan batu penjaga itu. Sentuhannya ringan, tapi di titik sentuhannya, ukiran formasi kuno di tubuh penjaga itu mulai bersinar lebih terang—tidak lagi merah, tapi keemasan. "Tapi aku merasa... aku pernah di sini sebelumnya. Atau mungkin... bagian dari diriku yang lain."
"Bagian dari dirimu yang lain?" Xu Mei melangkah maju, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. "Maksudmu... reinkarnasi?"
"Bukan reinkarnasi." Xiao Chen menggeleng. "Lebih seperti... sesuatu yang terpecah. Dan sekarang, perlahan-lahan, pecahan-pecahan itu mulai bersatu kembali."
Dia menatap tangannya sendiri, lalu menatap platform di tengah lembah di mana potongan kain emas ketiga melayang di bawah bola energi.
"Ayo. Jawabannya ada di sana."
—
Platform batu kuno itu dikelilingi oleh lingkaran kristal-kristal kecil yang bersinar dalam tujuh warna berbeda. Formasi di lantainya—meski sudah sangat tua, mungkin puluhan ribu tahun—masih aktif. Garis-garis energi mengalir dari kristal-kristal itu ke pusat platform, di mana bola energi berputar perlahan.
Di dalam bola itu, potongan kain emas ketiga melayang.
Begitu Xiao Chen menginjakkan kaki di platform, kedua potongan kain di balik jubahnya merespons dengan keras. Cahaya keemasan menembus kain jubahnya, dan bola energi di depannya mulai bergetar. Resonansi di antara ketiganya menciptakan gelombang yang bisa dirasakan bahkan oleh Wei Ling, Lin Yao, dan Xu Mei yang berdiri di tepi platform.
"Aku bisa merasakannya di dadaku," bisik Wei Ling, tangannya menyentuh dada. "Seperti... detak jantung."
"Aku juga," kata Lin Yao.
Xu Mei tidak bicara, tapi matanya terpaku pada Xiao Chen.
Xiao Chen mengangkat tangannya, dan bola energi di depannya perlahan membuka—seperti bunga yang mekar, kelopak-kelopak energinya terbuka satu per satu. Potongan kain emas ketiga melayang turun, dan ketika menyentuh telapak tangannya, ketiga potongan itu langsung menyatu.
Cahaya memenuhi lembah.
Bukan cahaya biasa—ini adalah cahaya yang mengandung gambar. Gambar-gambar yang berkedip cepat seperti kilatan memori. Sebuah kota di langit. Istana-istana mengambang. Sosok-sosok agung berjubah putih—mirip dengan jubah Xiao Chen. Dan di tengah mereka semua, sebuah tahta. Tahta kosong.
Menunggu.
Gambar-gambar itu menghilang secepat kemunculannya. Cahaya meredup. Lembah kembali sunyi.
"Apa... apa itu tadi?" tanya Wei Ling.
Xiao Chen menatap ketiga potong kain yang sekarang menyatu menjadi satu bagian lebih besar—sekitar setengah dari kain utuh. Pola-pola formasi di atasnya sudah lebih jelas sekarang: sebuah peta. Peta yang menunjukkan sembilan titik di Alam Fana, sembilan titik di Alam Immortal, dan satu titik besar yang berdenyut di... Alam Dewa.
"Itu adalah asalku," kata Xiao Chen pelan. "Atau setidaknya... bagian darinya."
"Kau berasal dari Alam Dewa," kata Xu Mei. Itu bukan pertanyaan.
"Sepertinya begitu."
Lin Yao menyimpan pedangnya dan berjalan mendekat. "Jadi kau adalah dewa?"
"Aku... tidak tahu. Mungkin. Mungkin lebih dari itu. Mungkin kurang." Xiao Chen menatap kain itu. "Yang kutahu, ada delapan belas titik lagi yang harus kutemukan. Sembilan di Alam Fana, sembilan di Alam Immortal. Dan kemudian..."
"Satu di Alam Dewa," selesaikan Wei Ling.
Keheningan turun di antara mereka.
"Aku akan ikut," kata Wei Ling tiba-tiba. "Ke mana pun kau pergi. Alam Immortal, Alam Dewa, semuanya."
"Aku juga," tambah Lin Yao.
Xu Mei menarik napas panjang. "Aku sudah bilang tadi malam. Aku akan ikut."
Xiao Chen menatap mereka bertiga. Wei Ling dengan mata penuh tekad yang sama seperti saat dia pertama kali membelanya di depan Wei Zhen. Lin Yao dengan ekspresi keras kepala yang tidak akan menerima penolakan. Xu Mei dengan ketenangan profesionalnya yang sekarang retak, memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam.
"Kalian tidak akan bisa mengimbangi kultivasiku," katanya pelan. "Karena aku tidak punya kultivasi."
"Itu tidak penting," kata Wei Ling.
"Kalian tidak akan bisa hidup selama aku."
"Itu juga tidak penting." Kali ini Lin Yao yang bicara. "Aku lebih memilih hidup singkat di sisimu daripada hidup selamanya tanpamu."
Xu Mei mengangguk setuju. "Lagipula, kau bisa membantu kultivasi kami. Kau sudah melakukannya."
Xiao Chen menatap mereka lama. Lalu dia tersenyum—bukan senyum nakal yang biasa, tapi senyum hangat. Senyum yang langka.
"Baiklah. Kalian akan ikut."
—
Mereka meninggalkan Lembah Seribu Bintang saat matahari mulai terbenam.
Para penjaga batu kembali ke posisi mereka, tapi kali ini, mata mereka bersinar keemasan—bukan merah. Xiao Chen telah menyentuh mereka, dan sesuatu dalam diri mereka telah berubah. Mereka bukan lagi penjaga, melainkan pelayan yang menunggu perintah.
Wei Zhen, Feng Mo, dan Zhang Yuan menunggu di mulut lembah dengan cemas. Begitu melihat rombongan keluar dengan selamat—dan dengan potongan kain ketiga di tangan Xiao Chen—mereka menghela napas lega.
"Kalian berhasil!" Zhang Yuan hampir melompat.
"Tentu saja kami berhasil," kata Lin Yao datar.
"Apa yang terjadi di dalam?" tanya Feng Mo.
"Banyak hal," jawab Wei Ling, melirik Xiao Chen. "Terlalu banyak untuk diceritakan sekarang."
Malam itu, mereka berkemah di padang bunga lagi. Tapi kali ini, suasananya berbeda. Bukan karena ada bahaya, tapi karena ada pemahaman baru. Xiao Chen bukan hanya pemuda misterius yang muncul dari retakan ruang. Dia adalah... sesuatu yang lebih. Sesuatu yang terkait dengan Alam Dewa. Sesuatu yang sedang mengumpulkan pecahan-pecahan dirinya.
Dan mereka semua, entah bagaimana, telah menjadi bagian dari perjalanan itu.
—
Setelah makan malam, Xu Mei menarik Xiao Chen ke samping.
"Aku perlu bicara," katanya, suaranya rendah.
Mereka berjalan menjauh dari api unggun, ke arah bukit kecil yang sama di mana mereka berciuman semalam. Bunga-bunga Ingatan masih bersinar, menciptakan lautan biru di sekitar mereka.
"Apa yang terjadi di dalam lembah..." Xu Mei memulai, lalu berhenti. "Aku sudah bekerja untuk Paviliun selama delapan puluh tahun. Aku sudah melihat banyak hal. Tapi apa yang kulihat hari ini... itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan oleh pengetahuan Alam Fana."
"Aku tahu."
"Dan kau benar-benar tidak ingat apa pun? Tentang kota di langit itu? Tentang tahta kosong itu?"
Xiao Chen menggeleng. "Hanya kilatan. Seperti mimpi yang setengah terlupakan."
Xu Mei mengangguk pelan. Lalu, dengan gerakan yang mengejutkan dirinya sendiri, dia meraih tangan Xiao Chen. "Aku bilang aku akan ikut. Dan aku bersungguh-sungguh. Tapi aku juga... aku juga ingin sesuatu yang lain."
"Apa?"
"Aku ingin menjadi milikmu." Suara Xu Mei bergetar, tapi dia terus menatap Xiao Chen. "Bukan hanya sebagai pemandu. Bukan hanya sebagai teman. Aku ingin menjadi bagian dari haremmu. Aku sudah melihat bagaimana kau bersama Wei Ling dan Lin Yao, dan aku..." Dia berhenti. "Aku cemburu. Setiap malam. Setiap kali aku mendengar suara dari kamarmu. Setiap kali kau mencium mereka di depanku. Aku tidak tahan lagi."
Xiao Chen menatapnya. Air mata kecil menggenang di sudut mata Xu Mei—bukan air mata kesedihan, tapi air mata frustrasi karena menahan diri terlalu lama. Wanita yang biasanya begitu profesional, begitu tenang, begitu terkendali... sekarang berdiri di depannya, rapuh dan telanjang secara emosional.
"Kau yakin?" tanya Xiao Chen.
"Aku belum pernah lebih yakin dalam hidupku."
Xiao Chen menciumnya.
Kali ini bukan ciuman ringan. Ini ciuman yang dalam, penuh gairah, penuh semua hal yang tidak terucapkan di antara mereka. Lidah mereka bertemu, tangan Xu Mei naik ke rambut putih Xiao Chen, mencengkeram lembut helaiannya yang halus. Tubuh mereka saling menekan, dan Xiao Chen bisa merasakan setiap kurva di tubuh Xu Mei melalui jubahnya.
"Aku ingin malam ini," bisik Xu Mei di antara ciuman. "Di sini. Sekarang."
"Di sini? Di padang bunga?"
"Ya. Di bawah bintang-bintang."
Xiao Chen membaringkannya di atas rumput lembut yang dikelilingi Bunga Ingatan. Cahaya biru dari bunga-bunga itu menciptakan kanopi alami di atas mereka, sementara bintang-bintang sejati berkelap-kelip di langit. Udara malam yang dingin kontras dengan panasnya tubuh mereka.
Dia membuka jubah Xu Mei perlahan—berbeda dengan Wei Ling yang pemalu atau Lin Yao yang agresif, Xu Mei adalah campuran yang menarik. Dia pemalu tapi penuh hasrat, ragu-ragu tapi sangat menginginkan. Tubuhnya yang tersembunyi di balik jubah profesional selama ini ternyata luar biasa—kulit putih halus, payudara yang lebih penuh dari yang terlihat, pinggang ramping, dan pinggul melengkung sempurna.
"Kau menyembunyikan ini selama ini," bisik Xiao Chen, mencium lehernya.
"Seragam Paviliun... tidak dirancang untuk memperlihatkan bentuk tubuh."
"Sayang sekali."
Dia mencium turun, ke tulang selangkanya, ke atas payudaranya. Xu Mei mendesah saat mulutnya menemukan putingnya—pertama satu, lalu yang lain. Lidahnya berputar, menghisap, sementara tangannya yang lain memainkan pasangannya. Xu Mei mencengkeram rumput, matanya terpejam, bibirnya mengerang tanpa suara.
"Xiao Chen..." bisiknya. "Aku sudah membayangkan ini. Setiap malam. Sejak kau menciumku di balkon."
"Setiap malam?"
"Setiap malam. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku benci betapa kau membuatku seperti ini."
"Itu bukan kebencian."
"Itu..." Xiao Chen memasukkan satu jari ke dalam dirinya, dan Xu Mei melengkungkan punggungnya. "...oh, langit..."
Dia sudah basah—sangat basah. Jari-jari Xiao Chen bergerak masuk dan keluar, menciptakan suara basah yang terdengar jelas di keheningan malam. Xu Mei menutupi mulutnya dengan tangan, mencoba menahan suara, tapi Xiao Chen menarik tangan itu.
"Jangan. Aku ingin mendengarmu."
"Tapi—yang lain—"
"Mereka sudah tahu. Biarkan."
Xu Mei melepaskan. Erangannya panjang, dalam, penuh kenikmatan yang terpendam selama berminggu-minggu. Dia merentangkan tangannya di atas kepala, mencengkeram rumput, saat Xiao Chen menambahkan jari kedua dan ketiga.
"Aku—aku akan—"
"Belum." Xiao Chen menarik jarinya, dan Xu Mei mengerang frustrasi. "Aku ingin di dalammu saat kau mencapai puncak."
Dia memposisikan dirinya di antara kaki Xu Mei. Wanita itu menatapnya dengan mata setengah terpejam, bibirnya sedikit terbuka, rambutnya tergerai di atas rumput. Dia adalah pemandangan paling indah di tengah padang bunga.
Satu dorongan, dan Xu Mei menjerit pelan.
Xiao Chen mulai bergerak—perlahan pada awalnya, membiarkannya menyesuaikan diri. Tapi Xu Mei, yang sudah sangat basah dan sangat siap, menariknya lebih cepat. "Lebih cepat. Tolong."
Dia mematuhi. Gerakannya semakin cepat, semakin dalam, dan setiap dorongan membuat Xu Mei mengerang lebih keras. Dia tidak lagi peduli siapa yang mendengar. Yang ada hanyalah Xiao Chen—di dalam dirinya, di atasnya, memenuhi setiap bagian dari dirinya.
"Kau—kau sangat dalam—"
"Kau suka?"
"Aku—aku—" Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena orgasme menghantamnya. Tubuhnya melengkung, otot-ototnya menegang, dan dia meneriakkan nama Xiao Chen ke langit malam. Gemetarannya kuat, berkepanjangan, dan Xiao Chen terus bergerak memperpanjangnya.
Ketika dia mencapai puncaknya sendiri, dia melepaskan ke dalam dirinya dengan erangan rendah, wajahnya dibenamkan di leher Xu Mei.
Mereka berbaring di atas rumput, napas tersengal. Bunga-bunga Ingatan di sekitar mereka bersinar lebih terang, seolah merespons energi yang baru saja dilepaskan.
"Itu..." Xu Mei mencari kata-kata. "...lebih baik dari semua bayanganku."
"Aku senang."
"Jangan sombong."
"Aku tidak sombong." Xiao Chen mencium bahunya. "Aku hanya senang kau akhirnya jujur pada dirimu sendiri."
Xu Mei menoleh, menatapnya. "Kau benar-benar tidak bisa diperbaiki."
"Tapi kau tetap menginginkanku."
"Ya." Xu Mei tersenyum—senyum yang berbeda dari senyum profesionalnya. Senyum yang tulus, rentan, dan penuh cinta. "Aku menginginkanmu. Dan aku tidak akan mundur lagi."
—
Di perkemahan, Wei Ling dan Lin Yao duduk di dekat api unggun yang mulai meredup. Suara dari padang bunga sudah berhenti.
"Dia bersama Xu Mei sekarang," kata Wei Ling pelan.
"Aku tahu."
"Kau tidak cemburu?"
Lin Yao menatap api. "Aku cemburu. Tapi aku juga mengerti. Dia tidak seperti pria lain. Dia tidak bisa dimiliki oleh satu orang saja. Dan entah kenapa... itu tidak apa-apa."
Wei Ling merenungkan kata-kata itu. Lalu dia mengangguk. "Aku juga merasa begitu. Aneh, ya."
"Mungkin." Lin Yao berdiri. "Aku akan tidur. Besok perjalanan masih panjang."
"Lin Yao."
Dia berhenti.
"Aku senang kita bersama dalam hal ini. Kau... kau seperti saudara."
Lin Yao menoleh, dan untuk pertama kalinya, dia tersenyum pada Wei Ling—bukan senyum sinis atau senyum kompetitif, tapi senyum yang hangat. "Aku juga."
—
Keesokan paginya, mereka berangkat kembali ke utara.
Kain emas sekarang memiliki tiga potong, dan petanya lebih jelas. Titik keempat ada di Benua Selatan—tapi jauh di selatan, di sebuah tempat bernama Kota Seribu Pilar. Sambil menuju ke sana, mereka akan melewati Ibukota Benua Selatan, tempat Paviliun Harta Surgawi pusat berada.
Xu Mei duduk di kudanya, posturnya profesional seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda—cahaya di matanya, ketenangan di wajahnya. Dan ketika Xiao Chen meliriknya, dia tidak memalingkan wajah seperti dulu. Dia balas menatapnya, dan sudut bibirnya terangkat dalam senyum kecil.
"Tujuan berikutnya?" tanya Wei Zhen dari depan.
"Kota Seribu Pilar," jawab Xiao Chen. "Tapi kita akan mampir ke Ibukota Benua dulu. Xu Mei perlu melapor."
"Dan mungkin mencari informasi tentang titik-titik lainnya," tambah Xu Mei.
Perjalanan masih panjang. Tapi untuk pertama kalinya sejak kemunculannya, Xiao Chen merasa bahwa dia sedang bergerak ke arah yang benar.
—
Bersambung ke episode 8...