Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Waktu sudah menunjukkan jam 16.00 Wib, sudah waktu nya para karyawan pulang dari kantor nya. Tidak terkecuali Maira, dia pun segera membereskan meja nya. Maira segera turun ke lobi, dia akan menunggu suami nya datang menjemput.
"Belum datang suami mu, Mai?" Tanya Arini yang kebetulan juga ingin pulang.
"Belum Rin, mungkin sebentar lagi!" Jawab Maira sambil tersenyum.
"Ya udah deh, barengan aku aja. Aku anter kamu sampai rumah!" Arin menawarkan batuan nya pada Maira.
"Gak usah kok Rin, makasih ya. Aku tunggu mas Azam saja!" Tolak Maira dengan lembut.
"Ini udah sore loh Mai, yakin kamu mau nunggu?" Tanya Arini lagi.
"Yakin kok, udah deh pulang sana!" Usir Maira sambil bercanda.
"Ya udah, aku pulang. Bye,,,!" Gadis bertubuh ramping itu melambai kan tangan nya pada sang sahabat.
Maira duduk sendirian di lobi, satu persatu para karyawan sudah pulang. Tinggal OB dan OG yang tengah membersihkan kantor dan satpam yang berjaga di depan. Sudah hampir setengah jam Maira menunggu, tapi tidak ada tanda - tanda bahwa Azam akan datang menjemput nya.
Maira mengeluarkan ponsel nya, dia menghubungi Azam. Tapi tidak tersambung, berulang kali dia menelepon tapi yang terdengar hanyalah suara operator saja.
"Kemana sih mas Azam? Udah sore gini!" Maira kesal sendiri.
Maira mengirim kan pesan pada suami nya, tapi hanya centang satu berwarna abu- abu. Maira masih tetap menunggu suami nya datang menjemput nya, tapi hingga lebih dari satu jam Azam tidak kunjung datang.
Maira segera memsan taksi online dari ponsel nya, dia tidak bisa menunggu lagi tanpa kepastian seperti ini. Tidak berselang lama, taksi online yang di pesan oleh Maira datang. Maira langsung pulang ke rumah nya.
Taksi itu berhenti di depan rumah, Maira segera turun dan dia melihat tidak ada mobil nya di halaman rumah. Rumah juga dalam keadaan sepi, seperti nya tidak ada orang di rumah.
Maira langsung membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia bawa, benar saja dugaan Maira, mereka semua tidak ada du rumah.
"Astagfirullah hal adzim, bisa - bisa nya ibu membiarkan rumah berantakan seperti ini!" Guman Maira sambil mengusap dada nya sendiri.
Keadaan rumah seperti kapal pecah, sampah bungkus cemilan berserakan diatas meja dan sofa ruang tamu. Begitu pula dengan remahan cemilan yang bertaburan di mana- mana, pemandangan yang menjijikkan menurut Maira.
Maira langsung mengganti pakaian nya dengan pakaian rumahan, dia tidak bisa melihat rumah nya dalam keadaan seperti ini. Rumah ini masih dalam proses kredit, baru berjalam 3 tahun. Maira lah yang membayar uang muka dan membayar cicilan nya selama 3 tahun ini, tapi Mama Wina menganggap ini adalah rumah putra nya.
Setelah selesai membereskan ruang tamu, Maira langsung beranjak ke dapur. Keadaan dapur dan ruang tamu tidak jauh berbeda, piring kotor menumpuk di wastafel. Tidak ada yang mau mencuci nya, kecuali Maira sendiri.
Mau tidak mau, Maira sendiri yang membereskan semua nya. Setelah selesai mencuci piring, Maira bergegas mandi dan sholat magrib. Karena saat ini memang sudah memasuki waktu sholat magrib, tapi Azam dan yang lain nya belum ada tanda - tanda mau pulang.
"Kemana mas Azam dan yang lain nya? Di hubungi juga tidak bisa!" Maira berkata pada diri nya sendiri.
Setelah menyelesaikan 3 rakaat nya, Maira merasa lapar. Membereskan seluruh kekacauan di rumah nya telah menguras banyak energi nya, tapi dia merasa sangat lelah sehingga dia malas untuk memasak.
"Badan ku rasa nya lelah sekali, aku pesan saja makanan dari luar. Mereka juga tidak tahu kapan pulang, aku pesan untuk diri ku sendiri saja. Nanti jika mereka pulang, baru pesan lagi!" Maira bermonolog pada diri nya sendiri.
Maira langsung memesan makanan secara daring, dia berselancar di dunia maya sambil menunggu pesanan nya datang. Tapi tanpa di sengaja, di beranda nya muncul postingan Nia, sebuah foto di mana mereka semua sedang makan di sebuah restoran.
"Jadi mereka semua ada di sini, mereka keluar tanpa mengajak ku!" Maira mengelus dada nya sendiri.
Ada satu foto yang membuat dada Maira terasa sesak, sebuah foto di mana Nia dan Azam sedang mengapit Ayu di tengah nya. Caption yang di tuliskan oleh Nia benar - benar membuat darah nya mendidih.
'Terima kasih untuk hari ini, sudah mau mengusahakan aku dan Ayu, semoga tetap seperti ini selama nya' Begitu lah bunyi caption yang di tulis oleh Nia.
Orang yang tidak tahu hubungan mereka, akan menilai bahwa mereka adalah keluarga bahagia. Mereka pasti mengira bahwa Azam adalah suami nya Nia. Ada banyak komentar di dalam unggahan tersebut, rata - rata dari mereka mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang serasi, keluarga yang bahagia.
Tapi ada satu komentar yang memuat Maira semakin geram, komentar itu datang dari Mama Wina, ibu mertua nya.
'Semoga kalian bahagia selama nya, akan tetap seperti ini ke depan nya!' Tulis Mama Wina di kolom komentar.
"Apa - apaan Mama ini, kenapa dia bisa bicara seperti itu!" Maira menghela nafas berat.
Orang lain yang melihat nya akan menyangka bahwa Nia dan Azam adalah pasangan suami istri, padahal sebenar nya mereka adalah saudara ipar. Nia Adalah istri dari Damar, kakak nya Azam yang sudah meninggal dunia.
Suara bel berbunyi, makanan pesanan Maira sudah datang. Bergegas Maira mengambil nya, dan dia pun makan sendirian.
"Aku baru ingat, hari ini mas Azam kan gajian!" Tiba - tiba Maira teringat hari ini adalah tanggal gajian nya Azam.
"Setelah gajian, mas Azam berfoya - foya bersama mereka. Setelah ini mas Azam akan meminta uang pada ku untuk memenuhi semua kebutuhan nya, termasuk uang bulanan untuk Mama Wina, Lara, dan juga Nia. Sedang kan aku sendiri tidak pernah tahu sepeser pun gaji suami ku!" Maira bermonolog sendirian.
Azam sendiri tidak tahu jika Maira adalah seorang manager, dia tidak perduli dari mana Maira mendapat kan uang untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga nya. Yang terpenting, semua keinginan keluarga nya di turuti, itu sudah cukup.
"Tega sekali kamu mas, kamu dan keluarga nu sibuk makan - makan di luar tanpa mengajak ku. Setelah ini aku juga yang harus memenuhi semua kebutuhan kalian semua, keterlaluan kau mas!" Maira tidak bisa membendung air mata nya.
Maira menangis terisak sendirian, kesabaran atas pengabdian nya selama ini mulai goyah. Sedikit demi sedikit logika nya mulai berjalan, bukan lagi hati yang bicara.
"Baik lah mas, jika kau bisa seperti ini pada ku, maka aku pun bisa. Kita akan lihat seperti apa kau tanpa dukungan dari ku!" Guman Maira sambil menghapus sisa air mata nya.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH