NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

***

Malam itu, badai salju menderu di luar Istana Sayap Timur, menciptakan suara siulan mengerikan yang menembus jeruji besi balkon. Di dalam kamar, hanya ada keheningan yang menyesakkan, ditemani cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip gelisah. Lilianne, dengan perutnya yang kian berat di usia tujuh bulan, duduk di tepi ranjang. Ia baru saja menyelesaikan putaran jalan kecilnya di dalam kamar untuk menjaga kekuatan kakinya.

Tiba-tiba, suara yang paling ia takuti memecah malam.

BRAK!

Gerendel pintu luar terbuka dengan kasar. Suara kunci yang diputar tiga kali terdengar terburu-buru, disusul oleh hantaman pintu kayu jati yang menghantam dinding marmer. Lilianne tersentak, tangannya secara insting melindungi perutnya.

Sesosok pria jangkung limbung masuk ke dalam kamar. Itu Arthur. Namun, ia tidak datang dengan langkah tegap sang pemenang yang arogan. Ia datang seperti iblis yang baru saja merangkak keluar dari neraka. Baju zirahnya yang hitam legam kini retak di bagian bahu, dipenuhi bercak darah kering dan lumpur beku. Aroma besi, mesiu, dan bau kematian menyeruak masuk bersamanya.

"Lili..." gumamnya parau.

Arthur mencoba melangkah, namun kakinya menyeret. Luka gores di pipinya masih basah, mengeluarkan darah segar yang mengalir hingga ke lehernya. Belum sempat Lilianne merespons, tubuh besar itu ambruk. Arthur jatuh berlutut, lalu terjerembab di lantai marmer yang dingin tepat di depan kaki Lilianne.

Lilianne gemetar. Melihat Arthur dalam kondisi tak berdaya seharusnya menjadi kesempatannya. Ia bisa saja membiarkannya, atau mencari kunci di pinggang pria itu.

Namun, pemandangan suaminya yang bersimbah darah membangkitkan sisi kemanusiaan yang sulit ia tekan. Di usianya yang baru lima belas tahun, Lilianne masih memiliki hati yang belum sepenuhnya membatu.

"Yang Mulia!" serunya tertahan.

Dengan susah payah, Lilianne turun dari ranjang. Perutnya yang besar membuatnya harus bergerak miring. Ia berlutut di samping Arthur, merasakan hawa dingin yang menguar dari baju zirah pria itu.

"Yang mulia! Bangun!" Lilianne mengguncang bahu suaminya.

Arthur mengerang, matanya setengah terbuka, memerah karena kelelahan dan demam. "Jangan... jangan pergi..." racunya pelan.

Lilianne menyadari ia tidak bisa membiarkan Arthur di lantai. Dengan seluruh tenaga yang tersisa, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di punggung bawahnya, Lilianne merangkul bahu Arthur. Ia mengerahkan segala kekuatannya, menyeret tubuh suaminya yang berat itu menuju ranjang.

Napas Lilianne tersengal, peluh dingin bercucuran di pelipisnya saat ia berhasil membaringkan kepala Arthur di atas bantal.

Lilianne segera mengambil baskom berisi air hangat dan kain bersih. Dengan tangan gemetar, ia mulai melepas kaitan baju zirah Arthur yang rusak. Saat kemeja linen di bawah zirah itu dilepaskan, pemandangan di depannya membuat Lilianne membeku.

Di punggung dan dada Arthur, terdapat luka-luka baru yang menganga akibat tebasan pedang. Namun, yang membuat jantung Lilianne berdegup liar adalah saat ia melihat bekas luka lama luka operasi yang memanjang di punggung kiri bawah, tempat di mana catatan medis yang ia temukan menyebutkan tentang penghapusan tanda lahir. Luka lama itu kini bersinggungan dengan luka baru, menciptakan peta penderitaan yang mengerikan.

Lilianne mulai membasuh luka di pipi Arthur. Saat kain basah menyentuh kulitnya, Arthur tersentak. Matanya terbuka lebar, menatap Lilianne dengan intensitas yang menakutkan sebuah tatapan liar yang perlahan berubah menjadi sayu.

"Apakah kau takut... melihatku seperti ini, Lili?" tanya Arthur, suaranya pecah dan lemah.

Lilianne terdiam, terus mengusap darah di wajah suaminya. "Diamlah, Yang Mulia. Luka Anda sangat dalam. Anda kehilangan banyak darah."

"Jawab aku!" Arthur mencengkeram pergelangan tangan Lilianne. Pegangannya tidak sekuat biasanya, namun jemarinya yang berlumuran darah meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih Lilianne. "Apakah kau takut memiliki suami seorang monster? Seorang penipu yang tubuhnya dipenuhi jahitan?"

Lilianne menatap mata biru gelap itu. Ia bisa merasakan kesedihan yang amat dalam, sebuah rasa tidak aman yang disembunyikan di balik kekejaman selama ini.

"Saya lebih takut jika Anda mati di sini dan membiarkan saya membusuk sendirian di kamar ini tanpa kunci," jawab Lilianne dingin, meski tangannya gemetar.

Arthur tertawa kecil, suara yang terdengar seperti rintihan. Ia melepaskan tangan Lilianne, lalu jemarinya yang kasar merayap naik, mengelus rambut perak panjang Lilianne yang tergerai. Darah dari tangan Arthur kini mengotori helai rambut perak itu, mengubahnya menjadi kemerahan yang mengerikan di bawah cahaya obor.

"Luka ini..." Arthur berbisik, matanya menerawang ke langit-langit. "Sudah biasa aku dapatkan sejak aku dipaksa mengisi tahta ini. Tahta yang bukan milikku."

Arthur mulai meracau, kesadarannya timbul tenggelam akibat demam yang mulai menyerang tubuhnya. Lilianne terus membasuh luka-lukanya, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir suaminya.

"Lili... apakah kau tahu sebuah kisah?" gumam Arthur. "Tentang seorang pangeran yang terbuang... yang harus menanggung segalanya. Bahkan kematian orang lain."

Lilianne menghentikan gerakannya, menatap wajah Arthur yang pucat.

"Dirinyalah yang harus menanggung semuanya," lanjut Arthur, suaranya makin serak. "Dia dipaksa memakai topeng saudaranya. Dia tidak diberi waktu untuk bernapas, tidak diberi jeda untuk sekadar berbicara atau memilih hidupnya sendiri. Jika dia gagal, maka dia adalah sampah. Jika dia berhasil, maka pujian itu bukan untuknya, tapi untuk nama orang mati yang ia sandang."

Arthur menoleh, menatap perut besar Lilianne. "Aku takut... jika kau melahirkan nanti, kau akan melihat anak itu dan menyadari bahwa ayahnya hanyalah sebuah bayangan. Bahwa tidak ada yang asli dariku kecuali luka-luka ini."

Lilianne merasakan dadanya sesak. Untuk sesaat, ia tidak melihat Arthur sebagai monster yang mengurungnya, melainkan sebagai anak kecil yang ketakutan yang dipaksa menjadi pedang oleh ayahnya yang kejam.

"Apakah itu sebabnya Anda mengurung saya?" tanya Lilianne lembut. "Karena Anda takut dunia melihat Anda bukan sebagai Putra Mahkota Arthemus?"

Arthur menutup matanya, setetes air mata jatuh bersatu dengan darah di pipinya. "Aku mengurungmu karena hanya di sini, di dalam kegelapan ini, aku bisa menjadi Arthur. Dan aku takut jika kau keluar, kau akan menyadari bahwa ada pria yang lebih baik daripada bayangan sepertiku."

Lilianne tidak menjawab. Ia menyelesaikan tugasnya, membalut luka-luka Arthur dengan kain bersih. Ia memberikan ramuan penenang yang tersisa di meja untuk membantu suaminya tertidur.

Setelah beberapa saat, napas Arthur mulai teratur. Ia jatuh terlelap dalam tidur yang gelisah. Lilianne duduk di kursi samping ranjang, memegangi perutnya yang kembali terasa kencang. Ia mengusap keringat dingin di dahi Arthur dengan kain lembut.

"Berapa banyak kisah... yang harus saya tahu, Yang Mulia?" bisik Lilianne pada kesunyian malam. "Berapa banyak rahasia yang Anda kubur sampai saya benar-benar tahu siapa pria yang berdiri di hadapan saya?"

Ia menatap rambut peraknya yang kini bernoda darah Arthur. Ia teringat sumpah yang ia buat sendiri saat Arthur pergi: bahwa ia akan menjadi badai jika janin ini adalah seorang putri. Namun melihat Arthur yang hancur seperti ini, Lilianne merasa dunianya makin rumit.

"Kau ingin aku menjadi cahayamu, Arthur," gumamnya pelan. "Tapi cahaya tidak bisa hidup jika terus dikurung dalam botol obsidian. Kau akan memadamkanku sebelum kau sempat melihatku bersinar."

Lilianne bangkit, berjalan menuju jendela balkon yang berjeruji. Ia melihat salju yang kian tebal menutup bumi. Di dalam rahimnya, sang 'bintang kecil' memberikan tendangan pelan, seolah memberi kekuatan.

"Kita akan bertahan," bisik Lilianne pada dirinya sendiri dan anaknya. "Meski aku harus belajar mencintai bayangan ini untuk bisa menghancurkannya, kita akan tetap bertahan."

Lilianne kembali ke sisi ranjang, memperhatikan wajah suaminya yang tampak lebih muda saat tidur tanpa amarah, tanpa obsesi. Ia menyadari satu hal: Arthur adalah tawanan takhta, sama seperti dirinya adalah tawanan Arthur. Mereka berdua terikat dalam rantai tak terlihat yang ditempa oleh darah dan kebohongan kekaisaran Valerieth.

Malam itu, Lilianne tertidur sambil memegang tangan kasar Arthur, menanti fajar yang mungkin akan membawa lebih banyak badai atau justru sebuah celah kecil menuju kebebasan.

****

Bersambung...

1
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!