NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.17 proyek luar kota

Pagi ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Dari arah koridor kantor yang menuju ke ruangan Dimas terlihat Bu Bella sedang berjalan tergopoh-gopoh menuju ke ruang kantor Dimas.

Cindy yang berpapasan dengan Bu Bella tadi sempat menghentikan langkahnya sejenak melihat Bu Bella yang berjalan terburu-buru.

"Kenapa sih Bu Bella kok kayaknya ada sesuatu yang gawat gitu," Cindy mengerutkan alisnya melihat Bu Bella yang sudah sampai di depan pintu ruang kantor Dimas.

"Tok tok tok...," Bu Bella mengetuk pintu Dimas dengan cemas berharap Dimas segera menyuruhnya masuk ke dalam.

"Masuk!" terdengar suara Dimas dari dalam ruang kantornya.

Dengan segera Bu Bella menyerbu masuk ke dalam ruangan Dimas.

"Ada apa Bu Bella?" tanya Dimas heran karena dia tidak merasa memanggil Bu Bella tadi.

"Em begini pak, Pak Regan akan mengadakan rapat hari ini juga sehubungan dengan proyek baru yang akan kita kerjakan pak," Bu Bella menjelaskan pada Dimas.

"Sepertinya rapatnya tidak ada di schedule saya hari ini," Dimas menegaskan pada Bu Bella.

"Memang benar pak. Hari ini tidak ada jadwal rapat untuk bapak."

"Lantas?" Dimas mengerutkan keningnya menatap ke arah Bu Bella yang berdiri di hadapan meja kerjanya.

"Tadi Pak Regan menelpon saya dan tiba-tiba mengatakan kalau hari ini akan mengadakan rapat di sini. Saya tadi sudah bilang kalau hari ini Pak Dimas ada pertemuan dengan salah satu kolega bapak, tapi Pak Regan memaksa untuk mengadakan rapat hari ini juga. Maaf pak saya tidak bisa mencegah Pak Regan karena dia orang yang sangat berpengaruh juga di perusahaan ini dari dulu," Bu Bella menundukkan kepalanya merasa bersalah.

"Tidak apa-apa Bu Bella kita turuti saja permintaan Pak Regan, nanti saya akan cancel pertemuan dengan Pak Sanjaya," Dimas menenangkan Bu Bella yang terlihat takut.

"Baik pak. Sekali lagi maaf pak," Bu Bella menganggukkan kepalanya pelan pada Dimas.

"Ya."

"Saya permisi pak."

"Hmm."

Bu Bella keluar dari ruangan Dimas dengan perasaan lega karena Dimas tidak memarahinya tadi.

Dimas terpekur sendiri setelah Bu Bella keluar dari ruang kantornya. " Kenapa Regan mendadak mengadakan rapat ?" Dimas bermonolog.

...----------------...

Tepat pukul sepuluh pagi ini di dalam ruang rapat yang sangat dingin terlihat Regan sudah duduk di ujung meja rapat yang panjang dan lebar itu sementara Dimas duduk di kursi sebelah kanan berdampingan dengan Bu Bella dan Ratih dan beberapa staff kantor yang lain.

Rapat pun di mulai. Dimas mulai menyampaikan beberapa wacananya tentang proyek baru yang akan di jalankan. Tapi semua rencana-rencana teknis yang di sampaikan Dimas dengan sengaja di mentahkan terus oleh Regan.

Regan tidak senang dengan penjelasan teknis yang sudah di sampaikan Dimas.

Dimas merasa kesal pada Regan karena sesekali Regan melirik ke arah jam tangan mewahnya saat Dimas sedang menyampaikan beberapa rencana teknisnya tadi seolah-olah waktu Dimas sangat tidak berharga sekali. Hati Dimas panas melihat kelakuan Regan yang tidak menghargai dirinya.

Namun panas di hati Dimas tiba-tiba menurun seketika saat dia mendengar Regan menyampaikan sesuatu yang kemungkinan ada hubungannya dengan Ratih.

"Begini kalau menurut saya rencana-rencana teknis yang sudah di rancang oleh Pak Dimas sepetinya tidak akan berjalan dengan mulus Jiak tidak ada donatur yang membantu," Regan tersenyum sinis menatap Dimas.

Ratih merasakan adanya ketegangan antara Regan dan Dimas, Ratih hanya berdoa supaya kedua orang itu tidak sampai terlibat konflik yang memanas akibat dari argumen yang sudah tidak sejalan.

"Dulu saya pernah membantu mitra bisnis saya. Regan menyebutkan nama perusahaan milik ayahnya Ratih " Perusahaannya waktu itu sudah hampir bangkrut. Untungnya saya masih berbaik hati dengan memberikan suntikan dana yang di jumlahnya lumayan besar dan akhirnya perusahaannya tertolong dan bisa lanjut lagi sampai detik ini," Regan menjelaskan dengan nada congkak merasa dia sudah menjadi malaikat penyelamat.

Dimas mendengarkan dengan seksama apa yang sudah di sampaikan Regan tadi, di sini dia sudah bisa memegang pointnya dan itu sudah dia simpan baik-baik di dalam kepalanya.

"Sayang. Tolong kamu duduk di sebelah ku sini dan tolong kamu carikan dokumen yang berisi tentang rancangan proyek baru kita," tiba-tiba saja Regan memanggil Ratih.

Ratih merasa sangat risih dengan panggilan sayang yang di lontarkan Regan padanya tadi. Dia merasa tidak enak pada Dimas tapi dia harus berusaha tegar di depan Dimas.

Ratih bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Regan.

"Duduk sini," Regan menunjuk ke sebuah kursi yang ada di samping kirinya.

Ratih duduk di atas kursi tersebut tapi sebelumnya dia menggeser kursi itu agar tidak berdempetan dengan kursi Regan. Tapi buru-buru Regan menarik kembali kursi itu agar mendekat dengan dirinya.

Ratih tidak bisa berbuat banyak dia mendiamkan saja Regan yang menarik kursinya. Lalu dengan sengaja Regan mengusap punggung tangan Ratih yang sedang memegang pulpen itu secara berulang-ulang.

Dimas melihat Ratih tidak membalas sedikitpun sentuhan tangan Regan, jari jemari tangan Ratih malah tampak memucat karena memegang pulpen yang terlalu erat.

"Kalau dia benar-benar merasa bahagia karena Regan sudah meratukan dan memberikan segalanya padanya tapi kenapa sepertinya dia tampak sedang menahan nafas saat Regan menyentuhya," batin Dimas.

Dari sini Dimas sudah bisa menyimpulkan kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan hubungan antara Ratih dan Regan.

Setelah rapat bubar dan Ratih diminta keluar duluan, Regan menahan Dimas sebentar. "Pak Dimas, karya Anda bagus. Tapi ingat, di dunia nyata, estetika kalah oleh otoritas. Ratih mungkin pernah menyukai desain lama yang sederhana, tapi sekarang dia sudah terbiasa dengan kemewahan yang hanya bisa saya berikan. Jangan coba-coba menawarkan 'kenangan' lagi padanya, karena harganya tidak sebanding dengan apa yang sudah saya bayar untuk dia."

Setelah Regan pergi dari ruang rapat itu, Dimas pun kembali ke ruang kantornya. Dimas duduk di sebuah kursi sofa panjang yang terletak di sudut ruang kantornya. Dia sandarkan kepalnya yang terasa agak pening karena dia berusaha untuk mencerna satu persatu kata-kata yang sudah di lontarkan oleh Regan padanya saat di ruang rapat tadi.

Tiba-tiba saja Dimas teringat dengan kata-kata ' bayar ' yang di ucapkan Regan tadi. Dimas langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja kerjanya, dengan gerakan tangan yang sangat cepat Dimas menyambar laptop yang ada di hadapannya itu dan segera mencari berita lama di internet tentang perusahaan ayah Ratih beberapa tahun yang lalu.

Akhirnya Dimas menemukan berita yang mengatakan kalau beberapa tahun lalu perusahaan ayah Ratih mengalami masalah finansial yang akhirnya menyebabkan kebangkrutan dan kehancuran perusahan itu tepat sebelum pengumuman pertunangan antara Regan dan Ratih muncul.

Dimas menutup laptopnya agak kasar lalu dia menyadarkan kepalanya ke punggung kursi kerjanya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya ," Kamu tidak 'jijik' padaku Rat, hanya saja kamu sedang di penjara. Kamu sengaja membangun tembok pertahanan agar aku tidak mencari tahu tentang hal ini," kecemburuan Dimas kini berubah menjadi amarah yang bertujuan. Dimas bertekad untuk mencari tahu seberapa besar hutang Budi atau hutang uang ayah Ratih pada Regan.

Dimas meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja kerjanya itu lalu dia menghubungi seseorang yang sudah lama tidak dia hubungi.

" Ken tolong bantu aku," ucap Dimas saat teman lamanya itu sudah mengangkat panggilan telepon darinya.

"Hai Dim, tumben kamu telpon aku. Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Kenzo dengan nada serius.

"Tolong kamu cari info tentang laporan audit keuangan perusahaan Regan dua tahun terakhir yang ada hubungannya dengan perusahaan ayahnya Ratih, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres di sana," nada suara Dimas terdengar sangat serius.

"Hmmm masih seputar Ratih ini," seloroh Kenzo yang sepertinya sudah tahu siapa Ratih.

"Ya. Ini sangat penting Ken, aku benar-benar minta tolong sama kamu."

"Oke segera akan aku cari infonya," ucap Kenzo membuat Dimas lega.

"Thank you ya Ken,"

"Sama-sama Dim."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!