Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 - MHB
Apartemen yang biasanya sunyi di pagi hari setelah drama demam semalam tiba-tiba dikejutkan oleh bel pintu yang berbunyi dengan irama yang sangat agresif. Maya, yang baru saja pulih dan sedang menyesap teh hangatnya di meja makan, berjengit kaget. Arka, dengan rambut yang masih berantakan karena begadang menjaga Maya, berjalan gontai membukakan pintu.
"Surprise!"
Seorang wanita elegan dengan tas Hermès dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepala menerjang masuk. Ibu Arka, Mama Rosa, hadir dengan aroma parfum floral yang mahal dan energi yang mampu memenuhi seluruh ruangan.
"Mama?" Arka mengerjap-erjap, mencoba mengumpulkan nyawanya. "Kok nggak kasih kabar dulu?"
"Kalau kasih kabar namanya bukan inspeksi mendadak, Sayang," Mama Rosa melepaskan kacamata hitamnya, matanya langsung berpendar layaknya radar pemindai, mencari tanda-tanda kehidupan rumah tangga yang harmonis. Pandangannya jatuh pada Maya yang masih mengenakan piyama satin biru gelap.
"Maya! Menantuku yang cantik! Duh, kenapa pucat begitu? Arka, kamu nggak kasih makan istrimu ya?" Mama Rosa langsung menghampiri Maya dan memeluknya erat, bahkan sebelum Maya sempat berdiri tegak.
"Pagi, Ma. Maya... Maya kemarin cuma sedikit kurang enak badan saja," jawab Maya dengan senyum yang dipaksakan. Ia melirik Arka dengan tatapan yang berteriak, 'Lakukan sesuatu!'
Mama Rosa melepaskan pelukannya dan menatap mereka berdua bergantian dengan curiga. "Kurang enak badan? Atau... jangan-jangan sudah ada 'isi'?"
Maya tersedak tehnya sendiri. Arka tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya. "Belum, Ma. Baru juga berapa minggu."
"Justru itu! Mama datang ke sini mau memastikan kalian itu benar-benar tinggal sebagai suami istri, bukan sebagai penghuni kos-kosan yang kebetulan satu alamat," Mama Rosa mulai berjalan mengitari apartemen. Ia memeriksa dapur (yang syukur sudah bersih berkat usaha keras Arka), lalu matanya tertuju pada dua pintu kamar yang tertutup.
"Kenapa pintu kamarnya ada dua yang tertutup rapi begini? Jangan bilang kalian tidur pisah ya?"
Maya membeku. Jantungnya berdegup kencang. Aturan nomor satu: Kamar terpisah. Itu adalah benteng terakhir pertahanannya. Jika Mama Rosa tahu, ia pasti akan segera melapor pada ayahnya, dan karier Maya di kantor akan kembali terancam.
"Nggak mungkinlah, Ma," Arka tiba-tiba melangkah maju. Dengan gerakan yang sangat natural, seolah sudah melakukannya ribuan kali, ia merangkul pinggang Maya dan menarik tubuh wanita itu merapat ke sampingnya.
Maya tersentak. Tangannya refleks ingin mendorong Arka, namun ia melihat mata Mama Rosa yang menyipit curiga. Maya terpaksa membiarkan tangan besar Arka mendekap pinggangnya erat.
"Kamar yang satu itu cuma buat simpan buku-buku kuliah Arka yang berantakan, Ma. Biar nggak mengganggu pemandangan di kamar utama," Arka menjelaskan dengan suara baritonnya yang tenang. Ia menunduk, menatap Maya dengan binar mata yang terlihat sangat... penuh kasih. "Iya kan, Sayang?"
Sayang?
Darah Maya terasa berdesir hingga ke wajah. Pipinya memanas, memerah padam dalam hitungan detik. Ia tidak tahu harus marah karena Arka berani melanggar aturan nomor enam, atau malu karena panggilan itu terdengar sangat pas saat diucapkan oleh bibir pemuda itu.
"I-iya, Ma. Arka kalau belajar memang berantakan sekali," timpal Maya, suaranya naik satu oktaf karena gugup.
Mama Rosa tersenyum lebar melihat rona merah di pipi Maya. "Aduh, lihat itu! Maya malu-malu begitu kalau dipanggil Sayang. Lucu sekali sih kalian ini. Mama jadi tenang kalau lihat kalian lengket begini."
Penyiksaan itu belum berakhir. Mama Rosa memutuskan untuk menghabiskan waktu dua jam di sana untuk "mengobrol." Selama dua jam itu, Arka benar-benar totalitas dalam aktingnya. Ia terus menempel pada Maya seolah-olah mereka adalah pasangan pengantin baru yang paling kasmaran di dunia.
Saat duduk di sofa, Arka tidak duduk di kursi terpisah. Ia duduk tepat di samping Maya, lengannya diletakkan di sandaran kursi di belakang leher Maya, sesekali jemarinya memainkan ujung rambut Maya.
"Kak Maya itu kalau sakit memang sedikit manja, Ma," ucap Arka sambil mencubit pelan pipi Maya di depan ibunya. "Semalam saja aku nggak boleh lepas pegangan tangannya."
Maya mencubit paha Arka di bawah meja dengan sekuat tenaga. Arka meringis sedikit, namun tetap mempertahankan senyum tampannya.
"Oalah, manja ya? Baguslah. Memang istri itu harus manja sama suaminya," Mama Rosa mengangguk puas. "Arka, kamu juga harus sering-sering ajak Maya liburan. Jangan kuliah terus yang dipikirkan."
"Pasti, Ma. Rencananya setelah ujian semester ini selesai, aku mau ajak Sayang-ku ini staycation," jawab Arka sambil mengecup pelipis Maya dengan cepat.
Maya benar-benar ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ciuman itu singkat, namun hangatnya membekas cukup lama. Ia merasa seperti sedang berada di dalam oven—panas, sesak, tapi entah kenapa ia tidak bisa beranjak.
Setelah Mama Rosa akhirnya pamit pulang dengan perasaan lega dan bahagia, pintu apartemen tertutup. Keheningan yang sangat canggung segera mengambil alih.
Maya segera melepaskan diri dari rangkulan Arka seolah-olah pria itu adalah bara api. Ia melangkah mundur tiga langkah, mengatur napasnya yang tidak beraturan, dan menatap Arka dengan tatapan menusuk yang dipaksakan.
"Arka Pradipta! Apa-apaan tadi itu?!" seru Maya, suaranya sedikit bergetar.
Arka menyandarkan punggungnya di pintu, menyilangkan tangan di dada, dan menatap Maya dengan cengiran nakal yang sudah kembali sepenuhnya. "Tadi itu namanya menyelamatkan kariermu, Sayang."
"Jangan panggil aku begitu! Kita sedang tidak di depan ibumu!"
"Tapi efeknya masih ada, tuh. Lihat, pipimu masih semerah tomat," goda Arka, melangkah mendekat perlahan.
Maya mundur hingga punggungnya membentur meja makan. "Itu... itu karena aku marah! Kamu melanggar banyak aturan hari ini. Merangkul, mencubit pipi, bahkan... mengecup pelipisku!"
Arka berhenti tepat di hadapan Maya, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja, mengunci Maya di antaranya. Maya bisa mencium aroma sisa teh dan parfum maskulin yang kini terasa sangat mengintimidasi.
"Aturan nomor enam: Jangan menyentuh tanpa izin. Tapi dalam kondisi darurat, aturan bisa ditangguhkan, kan? Kamu sendiri yang bilang waktu listrik padam," bisik Arka. Suaranya rendah, membuat bulu kuduk Maya meremang.
"Ini bukan darurat!"
"Oh ya? Kalau Mama lapor ke Papa kalau kita tidur pisah, itu bukan darurat namanya? Kariermu bisa tamat besok pagi, Kak."
Maya kehilangan kata-kata. Logika Arka selalu tepat sasaran, dan itu membuatnya semakin kesal. Ia benci fakta bahwa ia bergantung pada pemuda ini untuk menjaga rahasianya.
"Tapi tidak perlu sampai memanggil 'Sayang' berkali-kali, kan?" gumam Maya, berusaha menghindari kontak mata dengan menatap kancing kemeja Arka.
Arka tertawa kecil, suara tawanya terasa bergetar di dada yang berada tepat di depan mata Maya. "Jujur saja, Kak. Kamu nggak benci-benci amat kan dipanggil begitu? Wajahmu nggak bisa bohong. Kamu nggak marah, kamu cuma... malu."
Arka mengangkat tangannya, menyelipkan anak rambut Maya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut.
"Aku cuma melakukan apa yang harus dilakukan sebagai suami. Meskipun cuma akting di depan Mama, tapi bagiku... setiap kata 'Sayang' tadi itu ada benarnya," ujar Arka dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat serius.
Maya mendongak, menatap mata Arka. Untuk sesaat, ia tidak melihat "adik tingkat" yang nakal. Ia melihat seorang pria yang benar-benar peduli padanya. Keheningan itu terasa sangat intens, seolah-olah jika ada satu orang saja yang bergerak, seluruh aturan yang mereka buat akan hancur lebur saat itu juga.
Ting!
Suara notifikasi email di ponsel Maya memecah suasana. Maya tersentak dan segera mendorong bahu Arka, menyelinap keluar dari kuncian tangan pria itu.
"Aku... aku harus kerja. Banyak laporan yang belum selesai," ucap Maya cepat-cepat sambil menyambar laptopnya dan berlari masuk ke kamarnya.
Arka berdiri diam di dapur, menatap pintu kamar Maya yang tertutup dengan senyum kemenangan. Ia tahu, meskipun Maya masih bersikap kaku, benteng es itu sudah mulai retak.
Di dalam kamar, Maya menyandarkan punggungnya di pintu, memegang jantungnya yang berdegup liar. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Pipinya benar-benar merah padam.
"Sialan kamu, Arka..." bisiknya pada diri sendiri.
Bersambung.....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡