Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Tawaran Rendra
Sreeek!
Pintu perlahan dibuka Surti. Dia lebih dulu melangkah masuk, diikuti Razna yang masih gugup karena harus berhadapan dengan tuan rumah yang bukan orang biasa.
Aroma ruangan itu terasa menenangkan, harum bunga lavender menguar lembut di udara. Namun wangi tersebut tak mampu meredam degup jantung Razna saat ini.
Di balik meja kerja, Rendra duduk dengan sikap tegap. Tatapannya langsung tertuju pada Razna, disertai senyum tipis seolah ingin mencairkan suasana.
Sementara di samping meja tampak Danara yang sedang berdiri dengan melipat kedua tangannya. Gayanya yang angkuh jelas terlihat dari wajahnya yang dingin saat menatap Razna.
"Silakan duduk!" ucap Rendra singkat.
Surti memberi isyarat pelan pada Razna, mereka duduk di sofa.
Tangan Razna saling menggenggam di pangkuannya, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Beberapa detik kemudian dia mencoba mengangkat wajahnya, tak disangka tatapannya bersirobok dengan mata Rendra. Menyadari hal itu, Razna segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
Rendra tersenyum melihat wajah Razna yang gugup. Dia menyandarkan punggungnya, lalu menghela nafas pelan.
Danara menyentuh bahu Rendra, menyakinkan kakak iparnya tentang pembahasan yang baru saja diperdebatkan.
"Kak...tolong pertimbangkan saranku barusan. Jangan sampe kakak menyesal sudah mengambil keputusan yang asal-asalan," ujar Danara dengan suara tertahan namun tegas, seraya melirik tidak suka dengan kehadiran Razna.
Danara tidak ingin kakak iparnya mengambil pengasuh yang tidak dikenal. Khawatir akan memberi pengaruh buruk pada kedua keponakannya, Moana dan Finza.
"Aku tahu yang terbaik buat anak-anakku. Danara sebaiknya kamu keluar dulu, aku mau bicara dengan Razna. Dan...Surti tolong siap kan Moana, aku mau mengajaknya jalan-jalan. Mumpung hari ini libur," jelas Rendra yang tidak lepas pandangannya dari Razna.
"Baik Tuan...saya permisi!" pamit Surti sambil sedikit menunduk, lalu keluar dari ruangan.
"Danara, tolong ya," ucap Rendra dengan suara rendah, mengingatkan Danara agar secepatnya keluar dari ruangannya.
Danara menghela nafas dengan kasar. Tatapannya sempat kembali tertuju pada Razna, tajam dan penuh ketidaksukaan. Namun akhirnya dia keluar ruangan tanpa sepatah kata pun.
Pintu tertutup pelan, menyisakan keheningan yang terasa canggung.
Rendra bangkit dari kursinya, berjalan pelan mendekati sofa, tempat Razna duduk. Langkahnya tenang, namun justru membuat degup jantung Razna semakin cepat.
"Tidak usah tegang gitu. Rileks saja. Aku bukan monster. Lagi pula kita sudah pernah bertemu," jelas Rendra santai.
Razna mengerutkan keningnya, dia sama sekali tidak mengingat pertemuannya dengan sosok yang kini berada di hadapannya.
"Maaf Tuan, memang kita pernah bertemu di mana ya?"
Rendra tersenyum tipis enggan menjawab. Seolah dia sengaja agar Razna bisa mengingatnya sendiri. Rendra beranjak dari tempat duduknya lalu membuatkan teh manis hangat, yang berada di dekat sofa. Tidak lama kemudian, dia kembali lagi dengan menyodorkan minuman buatannya.
"Diminum dulu...ini bisa menenangkanmu,"
"Terima kasih, Tuan,"
Razna menerima secangkir teh manis hangat yang sengaja dibuat Rendra barusan.
"Bagaimana kondisimu, sudah membaik?" tanyanya perhatian.
Razna mengangguk cepat, "Alhamdulillah sudah, Tuan. Terima kasih."
Rendra memperhatikan wajah Razna sejenak untuk memastikan sendiri jawabannya.
"Bagus. Untuk mendapatkan ASI yang berkualitas memang membutuhkan kondisi tubuh yang sehat, tanpa beban pikiran, serta asupan makanan yang bergizi. Saya harap, kamu tidak membawa masalah pribadi di rumah ini. Dan makanlah secara teratur sesuai menu yang sudah disediakan,"
Razna tercenung, ucapan Rendra terdengar tidak hanya seperti sebuah nasehat namun sebuah aturan yang harus ia pegang untuk menata kehidupan ke depannya. Sudah saatnya dia harus melupakan masa lalu.
"Terima kasih, Tuan. Maaf sudah merepotkan Tuan, sampai saya dibawa ke rumah ini walaupun dalam keadaan pingsan,"
Rendra menganggukkan kepalanya, "Santai saja. Itu sudah kewajiban saya sebagai manusia biasa untuk menolong siapa pun yang membutuhkan,"
"Sekali lagi terima kasih. Saya tidak bisa memberikan balasan apa pun. Saya..." suaranya tercekat di tenggorokan.
Rendra menghela napas pelan, lalu menatap Razna dengan sorot mata yang dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang akan ia putuskan.
"Kamu ingin balas budi?"
Untuk beberapa saat Razna terdiam, lalu dia menjawab dengan gugup.
"Ya...kalau berupa uang tentu saya tidak mampu Tuan. Tapi kalau hal lain, saya akan coba,"
Rendra tersenyum tipis.
"Kamu tahu sejak pertama kali bertemu, saya terus memikirkanmu..." jelas Rendra menggantungkan kalimatnya.
Deg
Deg
Jantung Razna kembali berdegup kencang.
"Tapi jangan salah paham dulu," lanjut Rendra cepat. Dia tidak mau ada salah paham diantara mereka.
"Pertemuanku denganmu untuk yang kedua kalinya, seolah menjadi jalan untuk putraku mendapatkan sumber kehidupan,"
Razna kembali mengerutkan keningnya, mencerna ucapan Rendra.
"Saya tidak ingin bertele-tele, ketika saya menyelamatkanmu dari jalanan, ada satu hal yang saya pikirkan," ujar Rendra akhirnya mulai menceritakan alasan dia menyelamatkan Razna.
Razna memperbaiki posisi duduknya, kembali merasa gugup, merasa belum memahami ucapan Rendra.
"Apa itu, Tuan?"
Rendra tidak langsung menjawab. Dia berjalan beberapa langkah untuk menghilangkan rasa canggungnya, lalu langkahnya berhenti tepat di depan jendela. Kedua tangannya masuk ke saku celananya, wajahnya tampak berpikir.
"Bayi yang tadi kamu susui adalah Finza anakku. Dia lahir tanpa pernah melihat ibunya. Saya harap ASI yang kau berikan tidak hanya sekali, namun sampai usianya dua tahun. Saya ingin anakku mendapatkan ASI eksklusif walupun itu dari orang lain," jelasnya.
Razna terdiam. Tangannya refleks mencengkeram ujung bajunya sendiri. Ada kehangatan ketika mendengar ucapan Rendra. Sesuai harapannya, dia sangat ingin berada di dekat bayi itu untuk mengobati rasa kehilangan anaknya sendiri.
"Saya hanya berharap kamu mau menerima tawaran ini. Finza tidak mungkin mendapatkan ASI dari ibunya sendiri, karena ibunya pergi tak akan pernah bisa kembali ke dunia ini," lanjut Rendra, suaranya sedikit lebih berat. Matanya terpejam sejenak, ada bulir bening yang tak terelakkan keluar dari kelopak matanya. Sungguh Rendra sangat kehilangan sosok yang sangat dicintainya.
Suasana hening beberapa saat. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar teratur.
Rendra lalu berbalik menatap langsung ke arah Razna.
"Saya ingin kamu menjadi ibu susu untuk anakku, Finza."
Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Rendra, lugas tanpa basa-basi. Dengan penuh harapan. Dia merasa, seolah tidak ada lagi yang bisa menolong anaknya selain wanita yang ada di hadapannya.
Razna terhenyak. Jantungnya seolah berhenti sesaat, rasanya dia ingin berteriak kencang saat itu. Ada rasa senang, bangga dan takut.
"Bagaimana? Saya harap tidak ada penolakan darimu."
"Saya..." suaranya tercekat, nyaris tak terdengar.
"Saya sudah mempertimbangkan segala sesuatunya . Walaupun saya tidak menemukanmu dalam keadaan pingsan semalam, saya tetap akan mencarimu demi anak saya, Finza. Kondisimu sehat dan kamu sedang dalam fase yang memungkinkan untuk memberi ASI."
Razna menelan salivanya dengan susah payah. Pikirannya langsung dipenuhi berbagai hal yang sudah menimpanya. Dia harus bangkit dari keterpurukannya. Dia ingin membuktikan pada mantan suaminya, bahwa dia bisa hidup tanpa suami.
"Ini bukan keputusan yang ringan," lanjut Rendra dengan ragu. "Kamu berhak untuk menolaknya jika merasa tidak sanggup. Karena saya pun menyadari kamu masih punya suami untuk dijadikan prioritas dalam hidupmu. Tapi kalau kamu bersedia dan suamimu setuju, saya akan memastikan semua kebutuhan hidupmu terpenuhi. Kesehatanmu, kenyamananmu semua akan menjadi prioritas utama, demi anakku,"
"Sa...saya...." Razna menunduk dalam. Jari-jarinya saling bertautan, mencoba menahan gejolak dalam dirinya. Dia harus memutuskan tanpa persetujuan dari mantan suaminya.
"Jadi gimana?" tanya Rendra ingin segera tahu jawabannya.
"Maaf Tuan, tapi saya...."
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...