Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Dukungan dr. Hendra
Pukul 10.26 WIB. Klinik Aditya Medika.
"Dok... Dok Clara galak, tapi... kok adem ya lihatnya?" Mbak Sari bisik-bisik sambil gendong anak tadi.
Alvian tersenyum, balas berbisik. "Cuma di luar aja Mbak galaknya. Di dalam mah sebenarnya peduli."
Clarissa tidak merespon. Matanya fokus ke layar HP, menemukan 41 missed call dari rumah sakit, dari Humas, bahkan dari Papa-nya.
Dia juga menerima sebuah tautan, yang terhubung ke sebuah postingan. “Anak Direktur RS Sentral Membela Klinik Suami, Sebut Pasien Akting”.
Kolom komentar pecah menjadi dua. Kubu "Queen Clara" vs kubu "Nepotisme Dokter".
Clarissa menyipitkan mata tanpa berkata, mematikan HP, memasukkannya ke dalam tas. "Aku harus ke rumah sakit. Klinik kamu ini, baiknya tutup aja hari ini. Biar tidak ada drama lagi."
Alvian ikut berdiri, mengikuti Clarissa.
Hal itu membuat Clarissa berhenti dan menatapnya. "Apa?"
"Makasih buat yang tadi... dan buat martabak yang semalam."
"Papa yang minta antar martabak. Bukan aku, jadi jangan ge-er." Pintu dibuka. "Dan satu lagi, stok NaCl di gudang rumah sakit expired 2 bulan lagi. Daripada dibuang, ambil aja untuk jaga-jaga di sini."
"Siap, Bu Direktur." Alvian hormat dengan senyum ala-alanya. Membuat Clarissa memutar mata sembari melangkahkan kakinya.
"Dok... itu tadi... Dok Clara nyuruh kita ambil infus gratis?" tanya Mbak Sari, mendekat.
Alvian ketawa kecil. "Iya. Baik, kan, istri saya? Sudah cantik, baik lagi."
___
Pukul 21.00 WIB. Rumah Besar Keluarga Amartya.
Ruang kerja dr. Hendra dipenuhi asap cerutu yang tipis. Di depannya, tiga layar monitor menampilkan siaran berita yang berbeda, tapi membahas satu topik yang sama. Amartya.
Di MetroTV, mereka membuat tag-line “Saham RS Sentral Turun 2,3% Pasca Kasus Klinik Menantu Direktur”
KompasTV tak ketinggalan. “Analis: Klarifikasi Keluarga Amartya Ditunggu Publik”
Bahkan di Twitter, tagar "#NepotismeDokter" naik menjadi yang teratas.
Pintu diketuk dua kali. Clarissa yang sudah ganti baju, mengenakan kemeja putih polos, celana bahan, masuk dengan wajah tanpa ekspresi.
Di belakangnya, Bu Diany menyusul sambil membawa nampan berisi teh melati dan buah. Diletakkannya di meja, lalu duduk di samping suaminya.
“Duduk,” kata dr. Hendra. Dia mematikan ketiga monitor sekaligus, lalu menancapkan cerutu nya ke dasar asbak.
Clarissa duduk tegap. Kedua tangannya di atas paha.
“Papa sudah lihat beritanya,” Prof. Hendra membuka suara. “Saham rumah sakit kita turun. Bahkan komisaris telepon dari siang karena media-media yang menulis seolah-olah kamu dan Alvian yang produksi obat palsu.”
Clarissa menunduk. "Ini salah Clara karena kurang berhati-hati."
Clarissa bahkan sudah bersiap meminta maaf saat dr. Hendra kemudian tertawa di sela keheningan.
"Tidak apa. Lagipula jika Papa di situasi yang sama pasti juga akan melakukan seperti yang kamu lakukan. Saham turun bisa naik lagi, tapi masalah nyawa selalu menjadi yang utama. Bukankah itu tujuan seorang dokter?" tanya dr. Hendra di akhir kalimatnya, membuat Clarissa terdiam.
"..."
"Selain itu, untuk masalah berita-berita ngawur itu, serahkan saja ke Papa. Dalam waktu satu jam, Papa bisa buat mereka hapus semuanya." Dokter Hendra sedikit menyombong. Tapi bukan sekadar omong kosong, Clarissa tahu papanya memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Dokter Hendra melakukan sebuah panggilan telepon. Dia tampak bicara dengan ekspresi yang tenang, tetapi setiap kata mengandung ancaman yang tak terbantahkan.
Lima menit. Dokter Hendra akhirnya menutup panggilan, meletakkan ponselnya.
"Sudah. Kamu bisa langsung pulang. Suami kamu pasti sudah menunggu di rumah."
Clarissa bangun dari kursi, berjalan ke pintu. Saat itu dr. Hendra kembali berkata, "Papa lihat hubungan kalian semakin membaik. Kamu bahkan membelanya di depan banyak orang. Bagaimana jika mempertimbangkan untuk mendapatkan momongan? Papa pikir, di usia seperti jika ada cucu yang menemani akan sangat baik."
Clarissa berhenti. Dan telinganya memerah saat mendengar ucapan papanya. "Pa! Apa yang Papa bicarakan?! Aku saat itu membelanya karena takut nama rumah sakit akan terseret. Tidak ada hal lain. Lagipula, jika Papa ingin ada yang menemani, kenapa tidak pelihara kucing saja di rumah. Lima, atau bahkan sepuluh jika perlu."
Clarissa pergi. Sedangkan dr. Hendra hanya bisa menggelengkan kepala mendapatkan jawaban tersebut.
"Haish anak ini... Padahal menurutku Alvian itu lumayan."
Bu Diany memijat bahu dr. Hendra dan ikut berkata, "Clara memang seperti itu Pa. Biarkan saja dia membuat pilihannya."
"Tentu saja memang dia yang buat pilihan. Tapi jangan sampai menyesal jika nanti sudah hilang."
___
Pukul 23.00 WIB. SCBD. Apartemen Lantai 55.
BRAK!
Sebelumnya gelas kristal. Sekarang rak buku hancur oleh tongkat tenis.
"Tidak sampai satu jam, semua media menarik berita. Jika bukan Hendra Amartya, aku yakin tidak ada orang lain." Tuan Keempat berdiri, dan nafasnya terdengar berat.
Padahal dia sudah mengarahkan banyak sekali buzzer untuk menguatkan opini. Tapi tetap saja, di bawah pengaruh Keluarga Amartya, semua langsung lenyap tak bersisa.
Pras, orang kepercayaan tuan keempat yang dari tadi menunduk, akhirnya bersuara. “Perintah selanjutnya, Tuan?”
Tuan Keempat masih diam, hanya memutar scalpel di tangannya. Mata melirik ke meja di mana di sana ada foto seorang pria mengenakan jas dokter lusuh yang berdiri di depan Klinik Aditya Medika.
“Cara halus tidak berhasil, kita gunakan cara keras.” Dia menempelkan scalpel ke foto tersebut. Menusuknya, merobek hingga terbelah menjadi dua.
"Lakukan. Aku menginginkan tangannya... Untuk memberi peringatan ke Hendra Amartya."