Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adrian yang Semakin Brutal
Di sekolah, Adrian semakin brutal.
Senior kelas dua belas itu... kayak dapet pembenaran. Rumor tentang Aruna bikin dia merasa... dia berhak nyakitin Aruna lebih parah lagi.
Dan... nggak ada yang ngelarang.
Guru-guru tutup mata. Temen-temennya malah support. Dan Aruna... cuma bisa diam.
---
Hari itu, jam istirahat kedua.
Aruna jalan pelan di koridor. Sendirian. Kepala nunduk. Peluk tas di depan dada.
Dia mau ke perpustakaan. Tempat yang... agak aman. Agak sepi.
Tapi...
"Wih, si pembohong lewat."
Suara Adrian.
Aruna... berhenti. Tubuhnya menegang.
Dia noleh pelan.
Adrian berdiri di tengah koridor bareng gengnya. Empat cowok. Budi, Reza, Fajar, sama satu lagi yang Aruna nggak tau namanya.
Mereka... senyum. Senyum yang... jahat.
"Mau kemana?" tanya Adrian sambil jalan mendekat. Langkahnya... santai. Tapi mengancam.
Aruna... mundur pelan. "A-aku... aku mau ke perpustakaan..."
Suaranya hampir nggak kedengeran. Gemetar parah.
"Perpustakaan?" Adrian nyengir. "Mau baca buku apa? 'Cara Jadi Cewek Jujur 101'?"
Temen-temennya ketawa. Keras. Nyaring.
Budi nambah sambil tepuk tangan pelan, "Atau mau baca 'Cara Main Dua Kaki Tanpa Ketauan'? Wah, best seller tuh kayaknya!"
Mereka ketawa lagi. Makin keras.
Aruna... nggak ngomong apa-apa. Cuma... nunduk. Peluk tasnya lebih erat.
Adrian... melangkah lebih deket. Sampe jarak cuma satu meter.
"Eh, gue belum selesai ngomong. Lu mau kemana?" katanya sambil menghalangi jalan Aruna.
Aruna... mencoba menghindar. Jalan ke kanan.
Tapi Adrian ikut ke kanan.
Aruna jalan ke kiri.
Adrian ikut ke kiri.
Kayak... kayak kucing lagi main sama tikus.
"A-aku... kumohon... aku cuma mau lewat..." suara Aruna nyaris putus.
"Oh, mau lewat? Ya udah... tapi... tapi bayar dulu," kata Adrian sambil nyodorin tangan. "Bayar pake... hmm... tas lu aja deh."
Aruna... memeluk tasnya lebih erat. "Nggak... kumohon jangan..."
"Kasih aja!" Adrian narik tas Aruna. Keras.
Aruna... berusaha nahan tapi tenaganya nggak cukup.
Tas lepas.
Adrian buka tasnya. Ngeluarin isi satu per satu. Buku tulis. Kotak pensil. Botol minum.
Terus...
Dia nemu sesuatu.
Jurnal cokelat.
Jurnal yang... paling berharga buat Aruna.
Adrian... senyum lebar. Senyum yang... mengerikan.
"Wah, buku harian. Pasti isinya curhat-curhat cengeng, kan?" katanya sambil ngangkat jurnal itu tinggi-tinggi.
Aruna... langsung panik. "Kembalikan... kumohon... kembalikan..."
Dia nyoba meraih jurnalnya tapi Adrian ngangkat lebih tinggi. Aruna loncat-loncat tapi... nggak sampe.
"Kenapa? Takut ketauan rahasianya? Atau takut ketauan bohongnya?" Adrian mulai buka jurnal itu. Pelan. Sengaja.
"JANGAN!" Aruna berteriak.
Untuk pertama kalinya... dia berteriak.
Tapi... suaranya malah ngundang perhatian lebih banyak siswa.
Anak-anak mulai mengerumuninya. Ngeliat. Bisik-bisik. Ada yang ngerekam pake hape.
Adrian... buka halaman random. Mulai baca. Keras. Supaya semua orang denger.
"Aku tahu ini bodoh. Aku tahu ini mustahil. Tapi aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda setiap kali dia dekat..."
Budi ketawa. "Cieee... si Aruna jatuh cinta! Sama siapa tuh? Cowok yang di foto itu?"
Aruna... nangis. Air matanya jatuh. "KEMBALIKAN! KUMOHON!"
Tapi Adrian... lanjut baca. Halaman lain.
"Dhira... kamu terlalu terang untuk dunia dinginku. Tapi aku ingin percaya, meski hanya sesaat..."
Adrian berhenti. Ngeliat Aruna dengan senyum... senyum yang makin jahat.
"Oh... jadi lu suka Dhira? Makanya lu rela bohong? Makanya lu main dua kaki?" katanya sambil ketawa.
Temen-temennya ikutan ketawa.
"Kasian Dhira... hampir dibohongi sama cewek kayak gini," kata Reza sambil geleng-geleng kepala.
Aruna... mencoba merebut jurnalnya lagi. Loncat. Raih. Tapi Adrian terus ngangkat lebih tinggi.
"KEMBALIKAN! KUMOHON! ITU... ITU PUNYAKU!" teriak Aruna sambil nangis keras.
Adrian... masih ketawa. "Mau? Ambil dong!"
Dia lempar jurnal itu ke Budi.
Budi tangkap. Terus lempar ke Reza.
Reza tangkap. Lempar ke Fajar.
Mereka main lempar-lemparan. Kayak main bola.
Sementara Aruna... lari kesana-kemari nyoba nangkep. Nangis. Teriak.
Tapi... nggak bisa.
Anak-anak lain... cuma nonton. Ada yang ketawa. Ada yang ngerekam. Nggak ada yang nolongin.
Sampai...
Seseorang... ngerebut jurnal itu dari tangan Fajar.
Cepat.
Semua orang... terdiam.
Ngeliat siapa yang ngerebut.
Elang.
Cowok berkacamata tebal itu berdiri di situ. Napasnya ngos-ngosan. Wajahnya... merah padam. Bukan karena capek. Tapi... karena marah.
Marah yang... nggak pernah ada orang liat sebelumnya.
"LU UDAH GILA, YA?!" teriak Elang sambil ngeliat Adrian dengan tatapan... penuh amarah.
Adrian... nyengir. "Oh, si culun dateng. Mau jadi pahlawan? Mau belain pacar orang?"
"DIA BUKAN PACAR ORANG! DAN LU... LU NGGAK BERHAK NYAKITIN DIA!" Elang melangkah maju. Dorong bahu Adrian. Keras.
Adrian... terkejut. Nggak nyangka Elang berani.
"Lu... lu berani dorong gue?" Adrian melangkah maju. Lebih tinggi. Lebih besar dari Elang.
Tapi Elang... nggak mundur. Meskipun tangannya gemetar. Meskipun kakinya lemes.
"GUE BERANI! KARENA LU... LU UDAH KELEWATAN!" bentak Elang.
Adrian... senyum sinis. "Kelewatan? Gue cuma ngajarin dia buat tau diri. Cewek kayak dia... nggak pantas ada di sekolah ini."
"LU YANG NGGAK PANTAS!" Elang nyaris teriak habis-habisan. "LU YANG... YANG SAMPAH! LU YANG NGGAK PUNYA HATI!"
Adrian... marah sekarang. Beneran marah.
Dia narik kerah baju Elang. Angkat cowok itu sampe jinjit.
"Lu ngomong apa barusan?" tanya Adrian dengan suara rendah. Mengancam.
Elang... napasnya sesak. Tapi dia tetep ngeliat mata Adrian. "Gue bilang... lu... lu sampah..."
BUGH!
Pukulan keras mendarat di pipi Elang.
Cowok itu jatuh ke lantai. Kacamatanya lepas. Jatuh. Retak.
Aruna... teriak. "ELANG!"
Tapi Adrian... belum selesai. Dia tendang perut Elang. Keras.
Elang meringis kesakitan.
"Lu pikir lu siapa?! Lu pikir lu bisa lawan gue?!" Adrian tendang lagi.
Elang... nggak bisa apa-apa. Cuma... melindungi perutnya dengan tangan.
Aruna... lari. Coba melindungi Elang.
"HENTIKAN! KUMOHON! JANGAN SAKITI DIA!" teriak Aruna sambil nangis.
Tapi Adrian dorong Aruna. Keras. Aruna jatuh.
"LU DIEM AJA DI SANA!" bentak Adrian.
Dia mau mukul Elang lagi...
Tapi...
"ADRIAN! HENTIKAN!"
Suara keras dari ujung koridor.
Semua orang noleh.
Pak Budi. Guru olahraga. Jalan cepet mendekat dengan wajah marah.
Adrian... berhenti. Napasnya ngos-ngosan.
Pak Budi sampe. Ngeliat Elang yang tergeletak. Ngeliat Aruna yang nangis. Ngeliat jurnal yang jatuh di lantai.
"Adrian. Ke ruang kepala sekolah. Sekarang," kata Pak Budi dengan nada... nggak bisa ditawar.
Adrian... masih napas berat. Tapi akhirnya... dia jalan pergi. Gengnya ngikutin.
Pak Budi nolongin Elang berdiri. "Kamu oke?"
Elang... ngangguk pelan meskipun wajahnya udah bengkak. Bibirnya berdarah.
Aruna... ngambil jurnalnya dari lantai. Peluk erat di dada. Terus... ngeliat Elang dengan mata penuh air mata.
"Elang... maafkan aku... maafkan aku..." bisiknya.
Elang... tersenyum tipis. Senyum yang... sakit tapi... tulus.
"Nggak... nggak apa-apa... aku... aku cuma... cuma nggak mau liat kamu... disakitin..." katanya pelan.
Dan Aruna... nangis lebih keras.
Karena dia sadar...
Elang... yang dia tolak...
Elang... yang patah hati karena dia...
Elang... yang melindungi dia... meskipun tau... dia nggak akan pernah jadi miliknya.
---
Kadang, cinta terbesar ditunjukkan bukan dengan kata-kata, tapi dengan keberanian melindungi.
Meskipun kamu tahu kamu akan kalah.
Meskipun kamu tahu dia tidak akan pernah jadi milikmu.
Tapi kamu tetep... melindungi.
Karena kamu... mencintainya.
Lebih dari dirimu sendiri.
---